Setelah beberapa saat dia terus menangis, suara isakan nya perlahan memudar lalu tubuh nya terasa memberat dan lemah, hingga akhirnya dia terkulai lemas dalam dekapan ku.
Alex datang di waktu yang tepat, dia segera datang dan menghampiri kami untuk membantu.
Elea segera di bawa ke rumah sakit tanpa sepengetahuan siapapun untuk mencegah rumor yang akan tersebar jika ada orang luar tahu kejadian ini.
" Orang yang menyuruh nya melakukan ini pasti ibu nya, dia memang ibu yang biadab !" Gerutu Alex saat kami berdua menunggu di depan ruang perawatan.
Aku yang masih merasa syok lebih banyak diam meski sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya.
Dalam benak ku berkecamuk tentang hal yang harus aku lakukan saat menghadapi Elea nanti. Dengan semua kebingungan itu pada akhirnya aku hanya bisa menghela nafas kasar.
" Kenapa ? Kamu juga sakit ?" Tanya Alex.
" Tidak ! aku baik baik saja ." Aku beranjak dari tempat duduk lalu berjalan ke arah pintu kamar perawatan yang masih tertutup.
Pada saat yang sama seorang dokter dan perawat nya keluar dari dalam sana.
" Dia mengalami stres berat, untuk beberapa hari dia harus istirahat total dulu ." Ujar sang dokter.
Aku dan alex mengangguk mengerti dan meminta ijin untuk melihat keadaan nya.
" Apa perlu kita memberitahu pak Genta ?" Tanya ku.
" Jangan ! Maksud ku tidak perlu, kalau beliau tahu keadaan nya bakalan semakin rumit ." Jawab Alex cepat, aku mengangguk mengerti.
" Kenapa ibu nya melakukan hal seperti ini ?" Pada akhirnya aku mengutarakan rasa penasaran ku. Alex menghela nafas panjang lalu dia berjalan menjauh dari ranjang tempat Elea berbaring.
pandangan ku mengikutinya sampai dia duduk di kursi panjang yang berjarak dari ranjang, aku pun melangkah ke tempat yang sama dengan nya.
" Bu vera ibu nya Elea, sejak awal tidak menginginkan Elea lahir karena itu kehadiran nya di anggap sebagai pembawa sial oleh ibu nya,terlebih saat ayah nya berencana untuk mewariskan semua warisan nya kepada Elea semakin membuat bu vera membenci nya ." Jelas Alex.
Dengan tatapan dingin aku melirik Elea yang masih terbaring lemah dengan sebuah selang infus tertancap di pergelangan tangan nya.
" Apapun alasan nya seorang ibu tidak pantas melakukan hal seperti ini, mau menyangkal sekuat apapun dia tetap lah anak nya ." Tukas ku.
" Itu baru ibu nya, belum ayah nya, dia lebih seperti air yang tenang namun ternyata ada buaya di dalam nya, kita tidak akan tahu apa yang akan dia lakukan kalau kita berurusan dengan nya ." Alex kembali menceritakan sisi lain keluarga konglomerat ini.
Aku menatap serius ke arah nya, menunggu kelanjutan nya.
dia memberitahu ku semua rahasia umum dari keluarga ini bahwa sejak awal pernikahan ayah dan ibu Elea hanya sekedar pernikahan bisnis, namun penyatuan bisnis itu tidak berjalan lancar dan malah menyalakan api perang di antara keduanya.
Setelah menikah mereka tidak pernah sekalipun tidur satu ranjang, mereka justru mempunyai kekasih gelap masing-masing yang di rahasiakan dari siapapun.
Elea ada hanya untuk formalitas saja di hadapan publik bahwa mereka adalah suami istri, namun di balik itu semua Elea tidak pernah di inginkan kehadiran nya sama sekali baik oleh ayah atau pun ibu nya.
Mereka tidak peduli dengan cinta, kasih sayang atau pun simpati, yang mereka tahu hanya bagaimana menjadi yang terbaik dari yang paling baik dalam bisnis mereka.
Mengumpulkan kekayaan, memiliki saham paling banyak, mengakuisisi banyak perusahaan adalah ambisi mereka, dengan cara apapun jika mereka ingin maka mereka akan mendapat kan nya.
Alex yang serba tahu seluk beluk dari keluarga besar Elea memberi julukan pada ayah dan ibu Elea sebagai para pemburu yang berada pada puncak rantai makanan.
" Aku ingat perkataan Elea saat dia memutuskan untuk jadi aktris, waktu itu usia nya baru 13 tahun, dia bilang kalau jadi aktris akan banyak orang yang menyukai dan menyayangi nya, dia akan selalu di perhatikan dan akan banyak orang yang menyanjung nya, selama bertahun-tahun harapan nya berjalan lancar sampai skandal itu terjadi dan kamu tahu lah bagaimana keadaan karir nya sampai dia memutuskan menikahi mu." tutur nya lagi.
" Jadi dia jadi aktris hanya untuk melampiaskan kehausan nya dengan perhatian yang gak dia terima dari orang tua nya?" Alex mengangguk mantap.
" Setidak nya dia tidak kesepian meski tidak semua orang menyukai nya." tukas alex.
Aku kembali merenung, rasa bersalah kini merasuki perasaan ku. Selama ini aku menganggap dia hanya wanita angkuh yang ambisius dan menyebalkan saja.
*.·:·.✧.·:·.*
Sepanjang malam aku terjaga untuk mengawasi keadaan nya, sementara Alex dia yang bilang akan ikut berjaga sudah pulas tertidur di atas kursi panjang di sebelah tempat tidur.
Sesekali aku memandangi wajah Elea yang masih memerah karena tangisannya, aku sempat berpikir bagaimana kalau tadi aku tidak sempat datang, akan kah raga yang terbaring sekarang sudah terkujur kaku dan dingin.
Perlahan aku menyentuh jemari ramping milik nya yang tergeletak lemas di samping badan yang tertidur pulas.
" Hangat." Gumam ku, entah kenapa memikirkan kejadian tadi membuat ku sangat takut, takut kalau saja dia benar-benar mengakhiri hidup nya sendiri, itu akan sangat mengerikan.
Kejadian tadi adalah kejadian yang sangat buruk yang pernah aku alami dan akan membekas sebagai kenangan paling buruk yang pernah aku alami seumur hidup ku, aku harap tidak akan pernah mengalaminya lagi.
Sedang tenggelam dalam lamunan ku sendiri, Elea mulai terbangun. Tangan nya bergerak menuju ke kepalanya.
Aku memiringkan kepala sambil menyaksikan nya dengan pandangan datar.
" Kepala mu sakit ?" Tanya ku, Elea mendongak ke arah ku dengan cepat.
" Kenapa kau disini ?" Tanya nya dengan suara yang sengau dan pandangan yang menyipit berusaha untuk memfokuskan pandangan nya.
" Memang harus nya dimana ?" Tanya ku balik seraya menegakkan posisi duduk ku dan menyilang kan kedua tangan di dada.
Dengan wajah kebingungan Elea menatap ke sekitar nya, lalu dia kembali di buat bingung saat melihat Alex tidur tak jauh dari tempat tidur nya dan infusan yang terhubung dengan nya.
Wajah nya sangat polos seperti anak hilang, sambil celingukan untuk mengenali keadaan sekitar nya.
" Kamu di rumah sakit ." Ujar ku memberitahu nya singkat.
" Oh." Singkat nya. Dia berhenti bingung lalu di berbalik posisi memunggungi aku yang masih duduk di kursi di sebelah nya.
Aku balik bingung melihat sikap nya itu, aku kembali bersandar di kursi dengan pandangan yang kini tertuju pada punggung nya.
" Jangan lakukan hal seperti tadi lagi ! Siapapun yang menyuruhnya jangan di dengar !" Ucap ku memecah keheningan, tapi tidak ada respon apapun dari nya.
" Aku tahu kamu tidak tidur, Elea !" Tegur ku, namun Elea masih tidak memberikan respon apapun.
Aku memeriksa jam di tangan ku, jam sudah menunjukan pukul 05.00.
" Mau lihat matahari terbit ?" ujar ku setelah beberapa saat membiarkan suasana hening. kali ini dia sangat cepat merespon dengan mendongak menatap wajah ku.
Aku pun mengajak nya naik ke roof top rumah sakit yang cukup tinggi dimana pemandangan sekitar dengan jelas terlihat.
Udara pagi yang sejuk, bagus untuk memulihkan pikiran yang stres dan tertekan.
Langit gelap perlahan menjadi terang dengan rona jingga di sekitar nya, seperti biasa nya Elea tersenyum mengagumi apa yang di lihat nya sekarang.
warna langit menuju sore atau pun menuju pagi hampir tidak ada bedanya, hanya udara yang mengelilingi nya saja yang membedakan mereka, saat senja udara hangat berubah jadi dingin sementara saat pagi udara dingin berubah jadi hangat, mereka layak nya saudara dan Elea sepertinya menyukai kedua nya.
Mata nya tak berhenti fokus menatap timbul nya mentari yang malu malu muncul di upuk timur.
Lega rasanya Inisiatif ku bisa berhasil membuat perasaan nya sedikit membaik, meskipun ke khawatir yang besar akan kelanjutannya masih ada mengganggu pikiran ku.
Perlahan sinar mentari yang hangat mulai menyentuh badan kami, memberi warna cokelat terang di rambut nya yang berantakan tertiup angin.
Aku yang sejak tadi berdiri di belakang nya tak sadar kini sudah berdiri dekat di samping nya.
Pandangan kami berdua pun bertemu saat itu, mata nya yang sembab berbinar terkena pantulan cahaya mentari pagi.
Menatap ku tanpa arti yang mendalam, kulit putih pucat nya perlahan berona merah lalu di mengalihkan pandangan nya kembali ke hamparan laut yang masih terlihat dalam jarak beberapa kilo meter dari pantai.
Dan tiba-tiba rasa malu menghampiriku saat itu, kedua telinga ku jadi terasa panas, dengan gerakan refleks aku menggigit ujung bibi bawah ku.
Untuk merilekskan pikiran aku menghela nafas panjang lalu menyisir rambut ku yang berantakan tertiup angin, sesekali dia melirik ku dengan canggung.
" Kita harus kembali, sebelum banyak orang yang melihat kamu dengan infusan di tangan ." Ajak ku.
Tanpa banyak bicara, Elea mengangguk setuju.
*.·:·.✧.·:·.*
Siang hari nya aku dan Elea kembali ke hotel untuk berkemas untuk segera pulang kembali ke rumah kami.
Sebenar nya Elea masih perlu perawatan lebih lanjut, namun Elea menginginkan perawatan di rumah saja, meski agak khawatir dengan keadaan nya namun tempat ini memang sangat jauh dari rumah, lagi pula pekerjaan ku disini sudah selesai jadi aku memutus kan untuk membawa nya pulang juga.
Sepanjang jalan Elea terus tertidur, sempat membuat aku dan Alex khawatir karena sejak keluar dari rumah sakit suhu badan nya kembali panas.
Terlebih dia juga tidak mau makan sedikit pun semakin menambah ke khawatiran kami.
" Apa dia sering seperti ini ?" Tanya ku pada Alex yang sedang fokus menyetir.
" Sebelum nya tidak sampai seperti sekarang, paling hanya mengurung diri seharian Setelah itu dia akan kembali baik baik saja." Jawab nya.
" Sebaik nya kita bergegas, sepertinya suhu badan nya semakin tinggi !" Seru ku seraya terus memeriksa keadaan nya.
" Sebaiknya biarkan dia berbaring !" Saran nya.
" Berbaring gimana maksud nya ?"
" Biarin dia tidur di paha kamu, kasian kalau dia sambil duduk seperti itu, pasti gak nyaman ." Tambah nya.
" Tapi ..."
" Udah lah gak usah jaga image dalam keadaan begini !" Omel Alex, walau pun agak canggung tapi benar kata Alex posisi nya pasti tidak nyaman.
Perlahan aku menarik nya untuk berbaring di paha ku, mata nya terbuka sesaat saat merasakan tubuh nya berpindah.
Tapi setelah itu dia kembali tertidur, keringat dingin nya terasa membasahi celana ku dan suhu badan nya ikut membuat badan ku kepanasan juga.
Melihat dia sakit dan lemah seperti ini aku jadi merasa kasihan, ucapan yang dia dengar dari ibu nya apapun itu pasti sangat menyakiti dan membebaninya sampai dia kehilangan akal sehat nya seperti ini.
Elea yang malang...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments