"Aku berterimakasih karena Ibu sudah hadir ditengah-tengah keluarga ini saat Aku merindukan sosok Ibu Ku. Ku ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya. Terimakasih sudah menjadi Ibu sambung yang baik untuk Ku."
"Tapi sekarang keadaan sudah berbeda, Ayah sudah tiada. Silahkan Ibu melanjutkan hidup, tanpa nama Ayah Ku." kata Aaron dengan berat hati, meskipun ia menyayangi Lusy namun tetap saja pada akhirnya ungkapan itu harus keluar dari mulut Aaron.
Selama ini Lusy hanyalah Ibu sambung alias Ibu tiri Aaron, Lusy menikah dengan Ayah Aaron saat Aaron masih berusia sepuluh tahun. Saat itu Lusy masih muda masih berusia 17 tahun, wajar saja jika saat ini Lusy masih begitu segar dan cantik.
"Kau mau memutus hubungan keluarga dengan Ibu, Aaron ?" kata Lusy dengan suara bergetar, Lusy tak menyangka jika Aaron akan berkata demikian padanya.
"Aku tidak memutus hubungan, Ku harap Ibu bisa mengerti apa yang Aku bicarakan !" kata Aaron dengan lembut.
Lusy meneguk air putih yang ada di gelasnya, kemudian ia meletakkan gelas tersebut di atas meja.
"Sama saja, apa bedanya !" kata Lusy memberatkan suaranya.
"Aku hanya mengingatkan untuk memahami batasan Ibu !" kata Aaron pelan
Lusy mengalihkan pandangannya ke arah lain, mendadak wajahnya menjadi panas dan tentu saja tidak enak hati atas apa yang dikatakan oleh Aaron barusan.
"Mulai saat ini Ibu tidak perlu mencampuri urusan Ku, rumah tangga Ku, dan juga keluarga ini. Karena Keluarga ini Aku yang akan mengurusnya !" kata Aaron dengan tegas, telah begitu banyak aduan dari orang-orang kepercayaan Aaron jika selama ini Lusy selalu bertindak semena-mena, hanya karena Lusy adalah Ibu Aaron, padahal Lusy hanyalah Ibu tiri.
"Tapi Aaron !" Lusy sampai ternganga mendengarnya, hati Lusy bak ditikam ribuan jarum kala Aaron semakin mantap mengatakan hal demikian padanya.
"Besok pagi, pengacara akan membacakan surat wasiat yang ditulis oleh Ayah beberapa jam sebelum ia meninggal. Kita akan mendengarkan sendiri seperti apa wasiat yang ditinggalkan oleh Ayah." kata Aaron ia kemudian berdiri dari duduknya dan mengajak Dilara untuk kembali ke kamar.
"Untuk apa Ibu mendengarkan isi wasiat itu ?" tanya Lusy pelan namun penuh arti.
Aaron menoleh ke arah Lusy, ia tahu ini mungkin berat bagi Ibu tirinya itu menerima kenyataan yang ada.
"Ayah Ku pasti begitu mencintai Ibu, hingga ia mau menikahi Ibu. Aku pikir pasti Ayah sudah menuliskan pembagian harta untuk Ibu." kata Aaron dengan pelan.
Lusy membuang nafasnya, mendengar kata pembagian harta membuat Lusy terdiam seribu bahasa bahkan ia termenung seorang diri setelah kepergian Aaron ke kamarnya menatap hidangan makanan yang masih banyak tersedia diatas meja makan. Mata Lusy berubah merah dan berkaca-kaca, pada akhirnya apa yang ia impikan dalam hidupnya dan telah ia raih harus hilang dan sirna begitu saja.
Begitu Aaron masuk ke dalam kamarnya bersama Dilara. Dilara langsung memberikan Aaron pertanyaan yang membuat Aaron merasa aneh.
"Jadi Anda sudah menikah ? Lantas mengapa Anda menjadikan Ku istri ?!" kata Dilara dengan nafas yang naik turun.
"Memangnya apa pentingnya untuk Mu ? Kau tahu Aku menikahi Mu karena Kau telah membunuh Ayah Ku, Aku akan pasti kan Kau mendapatkan hukuman atas perbuatan Mu !" kata Aaron dengan suara beratnya, dan membuat Dilara memundurkan langkah kakinya.
Semakin Dilara mundur ke belakang, Aaron semakin melangkah kan kakinya maju ke depan. Hingga pada akhirnya Dilara tersandung dan jatuh ke atas ranjang dengan posisi terlentang.
Aaron menarik sudut bibirnya membentuk senyuman , ia kemudian membuka pakaiannya dan mengungkung tubuh Dilara, sontak Dilara langsung memberontak namun percuma tenaganya tak sebanding dengan Aaron.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Amilia Indriyanti
Jian goblogke Ra angger....
kenapa tokoh perempuan selalu dibikin goblog ya
padahal banyak penulisnya perempuan juga
2025-01-22
1
Amilia Indriyanti
lemah fisik bukan berarti lemah di akal
2025-01-22
1
Sani Srimulyani
selalu saja yg berkuasa akan berlaku seenaknya.
2024-01-18
2