*****ZC*****
"Semangat kerjanya entar malam ya, Ziziv." Ucapnya dengan senyuman
"Oke, thank you." Sahut gue membalas senyuman dia itu
Vian pun pergi dari kosan gue, dan saat ini Vian yang lebih dulu tahu dari pada Scarlett. Gue hanya memandang laptop milik Vian. Apakah dia sengaja ngelakuin ini biar gue lebih mudah. Tapi, gimana caranya buat gue berterimakasih ke dia.
Gue istirahat sejenak, kemudian kembali mengerjakan tugas gue. Dan gue inisiatif mengetik juga tugasnya Vian. Gue langsung chat dia, dan benar aja dia masih belum selesai. Mungkin, dengan gue bantu dia sedikit. Bisa mengurangi rasa terimakasihnya gue ke dia.
"Vian, gimana cara gue biar elo kagak demen sama gue."
"Kenapa ngomong sendiri, dek?" Tanya kak Intan
"Eh, kakak. Kagak, cuman sebel dikit aja." Sahut gue terkekeh
"Ngerjain tugas ya. Udah ada laptop, selamat ya." Ucapnya
"Minjam, kak." Sahut gue nyengir
Kak Intan tersenyum dan duduk memerhatikan gue ang ngerjain tugas ini. Dia terus fokus, tanpa bertanya apa yang gue lakuin.
"Dulu, pengen banget kuliah. Tapi keadaan tidak memungkinkan. Terpaksa berhenti, dan nyari uang sendiri buat kehidupan keluarga." Jelasnya
Gue memandang kak Intan dengan serius. Mendengarkan kisah hidup dia yang jauh lebih buruk dari gue. Ternyata, ada yang jauh lebih susah hidupnya dari pada gue. Kak Intan terpaksa menukar hidupnya demi membiayai orang tuanya yang sakit parah. Kasian sih menurut gue
"Jadi, kakak seorang diri saat ini?" Tanya gue
"Berdua bareng Abang. Tapi dia sudah punya istri, dan gak mungkin berharap sama dia kan?" Tanyanya balik
"Ternyata, kehidupan itu semuanya beda ya kak. Hidup setiap orang banyak cerita, dan banyak kisah masing-masing." Jelas gue
"Ya gitu deh. Makanya, kamu, harus semangat buat bantu orang tua." Ucap ya menasehati gue
Kami pun bercerita banyak hal, menemani gue yang buat tugas. Sampai gue selesai, begitu pun dengan tugas Vian. Vian juga berterimakasih sama gue, padahal dia kagak nyuruh gue buat nyelesain tugasnya dia.
Via pesan
“Baik banget sih, kenapa di kerjain juga punya akunya. Oh iya, itu laptop jangan di balikin ya. Sayang juga di rumah kagak di pakek.“
Gue membaca pesan singkat dari Vian. Dan gue semakin terjebak disini. Apa lagi yang harus gue lakuin sekarang?kak Indah mandangi wajah bingung gue. Bertanya dan gue pun cerita sema masalah gue saat ini.
Gue bingung dengan semuanya, apa lagi keadaan gue membuat suasana semakin tidak memungkinkan begini.
"Coba dulu deh, mana tahu hati, kamu, juga bakal berlabuh di dia. Dari pada berusaha sama yang belum pasti." Ucap kak Intan sama percis seperti ucapan Scarlett
"Gimana ya, kak, beda banget hati ini soalnya." Jelas gue
"Gini ya, dek. Setidaknya, kamu, mau berusaha buat Nerima dia. Kalau di akhir nanti, kamu, tetap tidak bisa. Yasudah, cerita baik-baik sama si Vian. Gak enak juga kan kalau udah begini masalahnya. Nanti yang ada, kamu, bakal merasa gak enakan terus sepanjang hari. Percaya deh sama kakak."
Kak Intan mencoba menjelaskan lagi ke gue, dan kayaknya memang benar juga sih. Gue bakal nyoba dulu buat nerima Vian. Sementara waktu, bye dulu deh om duda. Hem, sakit banget hati gue sumpah.
Kami bercerita sampai sore, dan kami berdua langsung bersiap-siap untuk kerja di cafe. Kak Intan sendiri, kerja lain di waktu lagi dan siang. Semua dia kerjain asal dapat uang. Salut banget dah gue sama kak Intan ini.
Karena cafe tidak terlalu jauh, kami berdua berjalan kaki. Ya, kira-kira jalan sepuluh menitan lah. Dan gak buat capek juga sih. Tapi, keadaan malam yang terkadang membuat gue sedikit takut.
"Zivanna." Panggil seorang pria dewasa yang merupakan bos kami
"Iya, pak." Sahut gue seraya mendekati Bos ini
"Siapkan pesanan ini, dan bawa ke ruang VIP ya." Ucapnya seraya memberikan nota.
Gue menerima nota itu dan langsung membawanya ke dapur. Gue menunggu beberapa menit sampai pesanan itu selesai. Gue pun memasuki ruang VIP yang belum pernah gue masukin itu. Karena, biasanya itu akan di sewa beberapa orang besar doang. Dan jarang banget juga ada yang mesen, kecuali keisengan anak-anak muda zaman sekarang.
"Dek, mau kemana?" Tanya kak Intan
"Ke ruang VIP." Jelas gue
"Loh, apa Riko tidak ada?" Tanya kak Intan dengan wajah heran
"Gak tahu, kak. Buru-buru nih." Ucap gue yang langsung melangkah meninggalkan kak Intan
"Dek." Teriaknya
Gue pun tidak menghiraukan panggilan kak Intan. Melainkan mengantarkan pesanan beberapa bos di ruang VIP itu. Dengan langkah berani gue mengetuk pintu terlebih dulu. Kemudian kembali mendorong meja yang berusia beberapa makanan dan hanya ada satu jus saja.
"Permisi." Ucap gue dengan ramah
Gue terbelalak saat melihat mereka yang sedang meminum minuman keras. Apakah cafe ini memang sudah memiliki ijin untuk itu? Gue menajdi sedikit agak tidak enak kali ini. Dan yang membuat gue kaget lagi adalah, ada om duda juga di sana. Dia sibuk dengan handphonenya itu.
"Pintar sekali mereka mencari pelayan." Ucap seorang pria dewasa itu
Gue menoleh sekilas om duda yang ternyata mesan jus itu. Gue memberikan jusnya. Berusaha untuk tetap profesional dalam bekerja. Memerhatikan sikap om duda berbeda dari beberapa temannya itu. Mereka sedikit mabuk, dan om duda tidak. Tapi entahlah, gue juga tidak terlalu faham soal itu.
"Hey, siapa nama, kamu?" Tanya salah satu teman om duda
"Zivanna, Om." Ucap gue dengan ramah
Setelah selesai membereskan pesanan mereka. Gue langsung pergi. Tetapi salah satu dari mereka menarik tangan gue. Gue menatap pria dewasa itu.
"Maaf, apa ada yang kurang, om." Tanya gue dengan serius dan masih sopan dengan mereka
"Kurang, kurang teman. Kamu, bisa temani kami disini. Nanti akan ada tip buat, kamu." Jelasnya
Sontak gue terbelalak, mereka mabuk dan minta di temani sama gue? Emang gue sepolos itu kah? Gue mencoba melepas genggaman tangan pria dewasa itu di pergelangan tangan gue.
"Maaf, Om. Itu bukan tugas saya." Ucap gue yang berusaha untuk tetap tenang
"Kamu, mau berapa?" Tanya seorang pria lainnya
Gila! Memang gila mereka ini, apa gue terlihat seperti cewek murahan kah? Apa penampilan gue seperti cewek pendamping om-om yang sedang mabuk?
"Maaf ya, Om. Saya masih bocah, tugas saya sebagai pengantar pesanan doang, gak lebih." Ucap gue lagi
Gue sekilas memerhatikan om duda yang memerhatikan kami. Lebih tepatnya, gue yang sedang di godain om-om ganjen ini.
"Bocah?" Mereka semua tertawa. "Justru bocah lebih menarik." Mereka kembali tertawa tanpa perduli dengan perasaan gue ini
Wah, parah banget dah ini om-om ganjen. Kalau gue kagak takut kehilangan pekerjaan ini, udah gue tonjok om-om ini semua. Gak tau diri banget dah, udah tua juga.
"Sudah-sudah. Ini bukan tempat seperti itu." Ucap om duda yang dari tadi hanya diam aja ngeliat gue yang di godain ini.
"Aaaa ...." Gue berteriak dan langsung berdiri untuk mencoba buat menjauhi mereka. Seenaknya mereka narik gue dan hampir gue terlentang ke atas sofa yang mereka duduki.
"Stop!" Om duda menarik gue juga
Oke, kali ini gue udah terjebak. Gue malah jadi rebutan para om-om disini. "Lepasin, om!" Ketus gue yang menjauhi om duda juga. Walau pun gue demen, ya kali gue ikhlas di nodai begini
"Keluar." Ucapnya lirih
Gue memandang om duda sekilas dan langsung melangkah pergi. Namun mereka terus menghalangi gue, dan itu membuat gue ingin memukul mereka satu persatu.
"Sudah, jangan kasar dengan anak kecil." Ucap om duda yang menarik gue untuk menjauh dari mereka
Om duda membawa gue keluar dari ruangan itu. Walau pun gue bisa dengar kalau mereka adu mulut di sana. Kagak terima kalau gue di bawa kabur sama om duda.
"Om, gak ada adab banget sih temannya. Udah tua juga, kagak malu apa kayak gitu. Kagak malu gitu, godain bocah kayak gini. Pakek maksa segala lagi-"
"Maaf."
Belum selesai gue berbicara, om duda udah minta maaf ke gue. Gue hanya terdiam mandangi wajah tampannya dia itu. "Gak terima saya, Om." Tegas gue lagi
"Mereka memang begitu. Kamu, kerja di cafe ini?" Tanya om duda lagi
Gue mengangguk. "Iya, Om. Buat biaya sekolah." Jelas gue yang masih kesal ini
"Zivanna!" Teriak seorang pria yang merupakan bos gue
"Iya, pak?" Sahut gue
Bos gue terlihat sangat kesal dengan gue, emang gue punya salah apa gitu. Heran dah gue sama tatapan mengerikan bisa gue ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments