*****ZC*****
Lama juga ternyata om duda di rumah gue. Alhasil, gue di suruh emak buatin minuman buat om duda ini. Dengan senang hati lah gue buatin teh hangat buat om duda.
Gue melangkah memerhatikan kedua manusia yang luar biasa menurut gue. Yang satu ayah gue sendiri, dan yang satunya om duda tampan bin ganteng itu.
"Minum teh, om." Ucap gue seraya meletakkan secangkir teh di hadapannya
"Terimakasih." Ucapnya tanpa tersenyum sedikit pun
Gue kembali pergi ninggalin ayah berduaan sama om duda. Entahlah apa yang mereka obrolkan di depan sana. Gue cuman bisa menunggu waktu yang menjawab. Tidur manis di pangkuan Abang gue dan melupakan sejenak kalau gue udah mau dewasa. Walau pun di mata orang gue masih aja bocil. Hem, sudahlah.
Dan tanpa gue sadari, gue tertidur nyenyak. Dengan kepala yang masih setia di elus terus sama Abang gue, walau pun pandangannya masih di handphone. Sedangkan emak gue asik nonton drama yang dramatis di tv. Hah entahlah
******
Gue terbangun dengan tubuh yang berada segar. Baru gue sadari, kalau gue gak mimpi. Gue udah di kamar aja tanpa gue sadari. Mungkin Abang gue yang mindahin, ya kali ayah. Bisa encok dia gendong gue.
Biasanya juga kalau gue ketiduran di depan tv, malah di tepuk pipi gue sama emak. Berarti emang Abang gue nih yang mindahin.
Gue coba bangun, tidak lupa menggeliat manjah. Hem, begitulah kira-kira. Gue memandangi jam di dinding, selanjutnya bersiap siap ke sekolah. Seperti biasanya.
"Ayah, jadi hari ini gimana? Kita naik angkot kah?" Tanya gue dengan suara serak akibat mengunyah sambil berbicara
"Kebiasaan, Lo. Habisin dulu itu makanan di dalam mulut, baru bicara."ketus Abang gue
"Iya iya." Sahut gue dengan sedikit kesal
"Selalu di ingatkan, tersedak itu sakit. Susah banget dah bilangin bocil satu ini." Ucapnya lagi
Gue hanya mengejek dengan wajah jelek gue. Abang gue cuman menggelengkan kepalanya. Sudah faham lah dengan sikap dan kelakuan gue kalau di rumah kek gimana.
"Ayah." Gue kembali manggil ayah gue yang asik dengan kopinya
"Naik angkot." Sahutnya dengan santai
"Yaelah, capek banget dah jalan ke depan." Gue pun menjadi lemas, berasa tidak bertulang untuk kali ini
Pagi-pagi mau ke sekolah harus jalan dulu, keringatan dulu, dan bau dulu baru sampai ke sekolah. Bisa-bisa gue di katain jorok dah hari ini. Hemm, nasib gue hari ini kok apes banget dah
Selesai sarapan, gue dan ayah jalan kaki. Terpaksa deh jalan dulu, buat nunggu angkot. Ya semoga aja gitu, gue kagak telat masuk sekolah. Apa lagi kalau sampai macet, selesai dah gue hari ini.
"Cepatan, Ziv." Ucap ayah gue
Gue terus berlari dan menggandeng tangan ayah gue sampai ke depan komplek. Lumayan juga jalan lima belas menit dari rumah. Lumayan berkeringat maksudnya.
"Kamu, naik angkot sendirian ya. Ayah di susul teman, udah siang banget ini. Bos juga mau mantau nanti, bisa bahaya ayah." Jelas ayah gue panjang lebar
Gue cuman manggut-manggut doang, mau nolak juga gak tega sama ayah gue. Walau pun terkadang ayah gue ini absurd banget, tapi gue tetap sayang sama dia. Yah, hitung-hitung gak termasuk anak durhaka lah lebih tepatnya. Semoga aja ya.
Beberapa menit menunggu, teman ayah datang. Dengan motor bebek itu mereka boncengan berdua dan ninggalin gue sendirian disini. Gue cuman berharap ada angkot, karena hari semakin siang. Gak lucu kalau gue harus di hukum di sekolah hanya karena gue telat datang!
Tin!
Suara klakson mobil yang berhenti di hadapan gue. Mobil yang sepertinya gue kenali beberapa hari ini. Kaca mobil itu terbuka dan memperlihatkan siapa yang ada di dalam mobil itu
"Mau ke sekolah? Ayo, nanti telat." Ucapnya
Gue cuman melongo dan melongo kayak orang bego. Om duda buka pintu mobilnya dari dalam, mempersilahkan buat gue masuk. Dan gue ... Cuman bengong.
"Hey, Zivanna. Hellow." Ucapnya seraya melambaikan tangannya
"Ha?"
"Ayo buruan, sudah siang." Ucapnya lagi
Gue yang masih bengong mencoba untuk kembali sadar. Sadar jika gue kembali berduaan bersama om duda tampan idola gue. Asek banget hari ini ya Tuhanku.
"Gak repot, om?" Tanya gue dengan ramah
"Sekalian jalan." Sahutnya dengan pandangan lurus memerhatikan jalanan yang mulai ramai dan padat ini
Gue kembali diam, menunggu sampai ke sekolah. Gue cuman bisa pasrah kalau nanti gue di hukum. Menerima semuanya dengan lapang dada. Walau pun sebenarnya sangatlah berat. Apa lagi ini semua terjadi karena ulah om duda ini.
Seandainya kami tidak tabrakan, mungkin gue selamat di sekolah nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments