"Siapa yang mau nyulik, elo. Rugi amat dah orang yang demen nyulik bocah absurd kayak, elo." Sahut ayah gue yang melangkah mendekati gue
Keren banget dah ini ayah gue, bisa - bisanya ngatain anaknya sendiri. "Gitu banget sih, yah. Tega deh sama anak sendiri, di katain absurd." Sahut gue mengerucutkan bibir
"Bibir di kondisikan, jangan sampai jadi kayak bebek, Lo. Kan kasian gue yang udah tua ini, ketawa terus ngeliat, elo." Teriak ayah gue seraya terkekeh
Ampun dah, kalau udah berhadapan sama ayah gue. Bisa - bisa gue berubah jadi anak Sholehah. Ya kali gue doain diri sendiri jadi malin Kundang. Kan kagak lucu yak!
"Mak." Teriak gue
"Apaan, gak sopan teriak - teriak manggil orang tua." Sahut emak gue
"Ayah noh, hobi banget dah ngatain anak sendiri." Ucap gue yang kesal
"Ya terus, gue harus jungkir balik gitu?" Sahut emak gue
Gue membelalakkan mata mendengar jawaban dari emak gue. Memang dah, ayah sama emak gue ini sama aja. Dimanakah gue bisa mendapatkan keadilan? Dimana?
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh."
"Hello, mom and dad." Teriak Abang gue
"Eh, kapan balik?" Emak gue bertanya seraya memeluk Abang gue yang tunggal ini
"Surprise." Teriaknya dengan senyum nyengir mengagetkan kami semua
"Yaelah, bang. Surprise tuh bawa sesuatu kek." Sahut gue
"Eh, adik, gue yang paling absurd. Sini - sini, peluk dulu dah. Kangen juga Abang sama, elo."
Abang gue merentangkan kedua tangannya berharap gue yang memeluknya lebih dulu. Sebagai adik yang baik, gue pun langsung menerimanya. Memeluknya dengan hangat, karena rasa rindu yang teramat dalam ini. Asek!
"Kaget ayah, kirain kurir paketan, Ziziv. Ternyata, anak sendiri." Ucap ayah gue yang di akhiri gelak tawa
"Haha ... Maaf, yah. Sengaja emang buat ayah kaget, sesekali pulang bikin heboh kan yak." Sahut Abang gue yang satu ini
Setelah merasa puas membahas Abang gue ini, gue dan emak kembali fokus di catering. Hingga waktu semakin sore, dan giliran gue juga buat ngantar itu catering ke suatu tempat. Lebih tepatnya, ke panti jompo.
Gue bersiap- siap terlebih dulu, walaupun tidak terlalu cantik tapi cukuplah dengan kata rapi. Ya, walaupun kata rapi di kamus gue itu adalah sisiran dan pakai baju yang tidak kusut. Yaelah!
"Hati - hati, Lo. Jangan ngebut, ntar isinya nyampur semua jadi kagak enak." Jelas emak gue seperti biasanya
"Oke, Mak." Sahut gue dengan semangat
Tidak lupa memakai helm terlebih dulu, barulah gue melajukan motor matic ayah gue ini. Dengan beberapa kotak yang di susun rapi di dalam keranjang paketan. Lo pada tahu kan, gaya gue saat ini udah sama seperti kurir paket. Hanya saja, gue kurir makanan catering. Cielah!
Bremm!
Motor matic yang masih berusia lima tahun ini memang sudah tidak terlihat menarik lagi. Tapi, ini sih motor bersejarah buat gue. Sebab, ayah gue kerja menggunakan ini. Kalau tidak ada ini motor, ayah gue akan kesulitan pergi kerja dan gue bakal sering telat ke sekolah karena gak di antar pakai ini motor.
Gue memandang lurus jalanan yang tidak terlalu ramai ini. Karena memang gue gak lewat jalanan kota, melainkan lewat perkomplekan doang. Takut juga gue kan, kalau harus lewat jalan besar. Banyak mobil gede dan motor - motor lainnya. Nyali gue sih ada, cuman umur gue takut di permasalahkan walaupun sebentar lagi usia gue udah delapan belas tahun sih.
"Eh ... Eh ... Eh ...."
Brak!
"Astaga! Astaghfirullah!" Teriak gue kaget
Gue tersungkur di atas aspal, lantaran motor gue hampir nabrak mobil yang tiba - tiba berhenti di hadapan gue. Alhasil, gue menghindar dan menabrak pohon yang tidak terlalu gede ini. Sial!
"Wah, sial banget gue hari ini." Gue mencoba bangun, walaupun gue bisa sadar kalau siku gue udah licet
"Kamu, gak apa - apa?" Ucap seseorang pemilik mobil itu
"Kagak!" Ketus gue yang menatapnya, dan seketika itu pula gue kaget. Ternyata itu orang tetangga baru gue, yang merupakan seorang duda keren yang gue demen
"Eh, om." Ucap gue nyengir. "Lain kali, jangan ngerem mendadak kenapa. Kan jatuh jadinya, sampai catering saya-" gue membelalakkan mata saat sadar kalau catering gue udah berantakan
"Oh tuhan!" Teriak gue yang langsung membereskan catering yang sudah tidak bisa di makan itu
"Huaaa ... Catering gue hancur!" Teriak gue yang terduduk selonjoran di aspal. Gue menatap sedih catering yang tidak bernyawa itu. Gimana nasib gue setelah ini? Gimana itu nenek - nenek mau makan malam? Cateringnya udah tidak layak untuk di makan lagi.
"Astaghfirullah. Maaf, saya tidak sengaja." Ucap om duda yang menghampiri gue
Gue hanya terdiam, termenung menatapi catering gue ini. Gue juga bingung, mau marah atau bagaimana? Gue udah putus asa saat ini, apa yang harus gue jelaskan sama emak nanti di rumah. Bisa - bisa gue kena omelan super, kan gak lucu!
"Hey, hallo!" Om duda melambaikan tangannya di hadapan gue. Gue menatap wajah tampannya yang luar biasa ini. Syukur tampan, kalau tidak mungkin gue udah ngamuk nih!
"Maaf, Ziv ... Zivanna?" Ucapnya dengan gaya yang mencoba berpikir. "Saya tidak fokus nyetir, gak sadar kalau ada, kamu, di belakang saya." Jelasnya
"Oke, oke." Sahut gue yang menghela nafas kasar. "Biarkan saya sendiri, om. Saya belum puas merenungi nasib catering saya ini." Ucap gue lirih
"Saya akan tanggung jawab, saya ganti semuanya ya." Ucapnya dengan sigap
"Mau di ganti gimana, om? Percuma juga di ganti, gak bakal sempet lagi emak masak segini banyak. Bisa - bisa keburu malam, itu nenek - nenek panti keburu kelaparan." Jelas gue
"Oke, kita pesan makanan lain. Soal kekacauan ini, nanti saya yang bicara langsung sama orang tua, kamu." Ucapnya dengan serius
Gue hanya mendengarkan ucapannya dengan menatap serius wajah tua yang tampan itu. Rasanya hati gue meleleh mendengar suara collnya itu. Oh my God! Kalau boleh, apakah boleh gue menciumnya saat ini? Oh tidak! Gue harus sadar diri!
"Gimana baiknya aja deh, om." Sahut gue tersenyum
Gue membereskan kekacauan ini, terutama soal motor matic ayah gue yang udah tak berdaya itu. Gue takut, motornya kagak mau hidup. Bisa gawat! Naik apa ayah gue kerja besok?
Om duda ini membantu gue membereskan catering gue. Kami berdua bekerja sama, rasanya hati gue mendadak bahagia. Walaupun gue sempet kesel, tapi karena dia bertanggung jawab gue jadi luluh.
"Sepertinya motor, kamu, di bawa ke bengkel aja." Ucap om duda yang mencoba menghidupkan mesin motor ayah gue
"Waduh, bisa berabe nih." Sahut gue menggaruk kepala
"Sebaiknya kita langsung nyari warung. Takutnya keburu malam." Ucapnya
"Motor gimana?"
"Tinggal aja, nanti ada orang yang bawa ke bengkel." Sahutnya
Gue melangkah mengikuti langkahnya yang jauh lebih cepat dari gue. Itu kaki kenapa panjang banget yak? Ini karena gue yang memang bocil apa gimana?
Om duda membuka pintu mobilnya buat gue, dengan senang hati gue langsung masuk dong. Kapan lagi gue bisa berduaan sama duda ganteng ini. Wasek!
"Kamu, terluka?" Ucapnya mengernyitkan dahi
Gue mengelus siku gue yang licet dikit ini. "Oh ini, gak apa - apa, om. Luka kecil juga, gak sakit kok." Sahut gue cengengesan
"Sebentar."
Om duda mengambil sesuatu di dalam dasboard mobilnya. Ternyata dia mengambil kotak p3k, dan langsung mengobati luka kecil gue ini. Lagi dan lagi gue terbuai sama perlakuan om duda yang bertanggung jawab banget ini. Haduh Mak! Anakmu jatuh cinta!
Saking asiknya gue menikmati ketampanan yang hakiki ini. Gue sampai gak berasa perih sama sekali. Gue tersenyum gila memandang wajahnya. Rasanya gue mau menciumnya, ya Allah! Dosa banget gue kali ini!
"Selesai." Ucapnya
"Makasih, om." Sahut gue dengan cengiran, walaupun dia gak membalas ucapan gue. Kesel lagi kan gue! Entah terbuat dari apa manusia duda satu ini!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Sarah Yuniani
lhah ini mom dad .. satunya emak ayah .. ziv cocoknya jadi juleha ajaa
2024-10-08
0
Qaisaa Nazarudin
🤣🤣🤣🤣Anak beranak serasa temen,Lo Gue gitu aja ngomongnya, gila nih family bikin ngakak mulu..😂😂😂😂😂😂
2024-04-01
2