PHSK 6

Citara menatap langkah kaki Varen yang keluar dari kamarnya setelah percakapan tadi.

Wanita itu segera beranjak dari duduknya lalu memakai pakaian tidur yang sudah tersedia di dalam lemari besar di ruangan mengganti baju.

Begitu selesai, Citara menekan handle pintu. Ia menghela napas dengan berat karena lagi-lagi pintu itu dikunci dari luar oleh Varen.

Citara menghempaskan dirinya di atas kasur, mata indah miliknya tertutup oleh kelopak mata yang sengaja ia pejamkan.

"Kenapa ya hidupku serumit ini? Apa di kehidupan sebelumnya aku pernah menghancurkan sebuah kerajaan? Atau membunuh orang? Hingga aku harus menjalani kehidupan yang berat di masa kini," keluh Citara dalam hati.

Wanita itu mulai merasa bosan karena dirinya sudah terkurung di sini dari waktu pagi hingga menjelang sore.

Tiba-tiba handle pintu itu bergerak dan muncul lah sosok Varen dengan jas putih, persis seperti seorang dokter.

"Enzi mencarimu, sesuai pintanya saat tadi," ucap pria itu dengan wajah datar serta suaranya yang sedingin salju.

Kepala Citara mengangguk tanda mengerti, batinnya berdecak kagum melihat penampilan Varen yang sangat keren di matanya.

"Tidak terlihat seperti umur 40 tahun," batin Citara.

"Hei!" tegur Varen melihat wanita di hadapannya yang melamun.

Citara tersentak kaget, wanita itu menganggukkan kepala dengan gerakan terjeda.

"Aku ada jadwal melakuan operasi. Walaupun aku tidak ada di sini, tapi celahmu untuk kabur tidak ada! Jadi jangan coba-coba atau ... kau akan merasakan hukuman yang lebih parah dari sebelumnya!" ancam Varen tanpa ekspresi.

"Iya, Tuan." Kepala Citara tertunduk.

Mereka keluar beriringan, Varen mengantarkannya sampai ke depan ruangan di mana Enzi belajar.

Tanpa pamit, Varen melenggang pergi begitu saja meninggalkan Citara yang masih berdiri di depan pintu. Citara menarik napas sebelum tangannya mengetuk benda persegi panjang yang ada di depannya.

Cklek!

Pintu besar itu terbuka, muncul lah sosok anak laki-laki yang wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan Varen. Bedanya, Enzi adalah Varen versi anak-anak.

"Mama, silahkan masuk." Enzi menggeser tubuhnya, memberi ruang yang lebar untuk Citara masuk.

Mata Citara menatap takjub begitu ia masuk ke dalam. Tempat ini di-desain seperti ruangan orang kantoran saja, pikir Citara.

"Ini tempat Enzi belajar?" tanya Citara.

Enzi menganggukkan kepalanya, anak itu berjalan lalu duduk di kursi kebesarannya.

Sementara Citara mengikuti Enzi dan berakhir di depan meja putra sambungnya.

"Enzi, tempat ini mirip ruangan bos besar seperti yang ada di film-film ya."

"Ya, Daddy yang membuat ruangan ini sesuai dengan keinginan Enzi." Anak itu bersandar persis seperti pemilik sebuah perusahaan saja gayanya.

"Mama silahkan duduk," ucap Enzi.

"E-eh iya hehehe." Citara menggaruk kepalanya. Ia duduk tepat di hadapan Enzi.

Citara masih tak menyangka, ruangan belajar Enzi lebih mirip ruang kerja orang dewasa. Anak di depannya memang luar biasa.

"Ma, boleh ajarkan Enzi cara mengerjakan soal ini?" tanya Enzi dengan wajahnya yang datar.

"Coba Mama lihat ya." Citara memperhatikan setiap deret tulisan yang ada di buku matematika putra sambungnya.

Kepala Citara mengangguk-ngangguk. Sementara Enzi memperhatikan Citara yang masih berusaha memahami soal-soal di bukunya.

"Hmm ... kalau soal yang nomor satu, kita tinggal kalikan silang. Enzi ada pensil?" tanya Citara.

Enzi memberikan pensil kepada Mama nya. Anak itu memperhatikan setiap gerakan tangan Citara yang menulis di atas buku paketnya.

"Nah seperti ini, jadi kamu ubah dulu jadi seperti ini ... lalu kali silang dan inilah hasilnya."

"Mama pintar, jawaban mama benar," puji anak itu dengan mengangkat kedua ibu jarinya.

"Eh!" Citara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Tampaknya Enzi sudah mengetahui jawabannya, ia hanya mengetes Citara.

Wanita itu kembali mengerjakan beberapa soal yang tersisa dan lagi-lagi Citara mampu menjawabnya dengan tepat dan benar.

"Semua jawaban mama benar," ucap Enzi.

Anak itu seperti guru yang memeriksa jawaban muridnya.

"Enzi sudah tau jawabannya ya?" tanya Citara dengan wajah melongo.

Kepala Enzi mengangguk. "Enzi hanya ingin tau Mama bisa menjawab soal ini atau tidak."

"Emmm begitu ya, kalau soal SD-SMA Mama bisa. Di luar dari itu Mama tidak bisa, Mama kan hanya tamatan SMA," ucap Citara dengan mengulas senyum.

"Banyak orang yang belajar dan lupa. Tapi sepertinya tidak berlaku untuk Mama," ujar bocah kelas 5 SD itu.

"Enzi cara bicaranya sudah seperti orang dewasa saja, kamu pintar sekali, Nak." Tangan Citara terulur untuk mengusap puncak kepala Enzi.

"Eh m-maaf Mama lancang." Citara menarik tangannya.

"Tidak apa, Enzi kan anak mama," sahut anak itu.

Mata Citara berkaca-kaca, hatinya merasa tersentuh. Ia merasa beruntung ada seseorang yang menganggapnya di tempat ini.

"Terima kasih, boleh Mama memeluk kamu?" tanya Citara dengan hati-hati.

Kepala Enzi mengangguk antusias, ia berdiri dari kursi kebesarannya lalu menghampiri Citara yang juga berdiri.

"Enzi senang ada Mama di sini. Mansion ini terlalu sepi dan orang-orangnya tidak asik," keluh Enzi.

Citara mengurai pelukannya dari sang putra sambung. Ia sedikit membungkukkan badan untuk menyamakan tingginya dengan Enzi.

Wanita itu tersenyum dengan lembut, ia senang Enzi bersikap seperti anak seusianya.

Anak itu mengadu persis seperti anak ke ibu kandungnya. Mata Citara berubah sendu, ia merasa kasihan dengan Enzi yang seperti tidak menikmati masa kanak-kanaknya.

"Enzi, Mama punya sebuah permainan," ucap Citara dengan semangat.

Mata Enzi berbinar begitu mendengar ucapan Citara. Bocah berusia 10 tahun itu menatap Citara dengan wajah polosnya.

"Boleh Enzi tau permainan apa itu?" tanya Enzi.

"Tentu saja boleh, Mama selalu membawanya di tas ransel. Sebentar Mama ambil ya."

Enzi dengan setia menunggu Citara kembali. Sementara itu, Citara yang berjalan menuju kamarnya langsung di hadang oleh pria berpakaian serba hitam.

"Nyonya mau ke mana?" tanya salah satu pria berbadan kekar dan wajah yang seram.

"I-ingin ke kamar," jawab Citara gugup.

"Tuan menugaskan kami agar Nyonya tidak kabur dari sini," ucap pria yang satunya.

"Saya cuma mau ngambil permainan ludo dan ular tangga saja kok."

Akhirnya para penjaga itu menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Citara meneruskan langkah yang sempat terjeda. Saat berjalan Citara tidak sengaja berpapasan dengan Farah.

Citara mengangguk kecil dengan seulas senyum di wajahnya. Akan tetapi, Farah malah membuang wajahnya seakan enggan menatap Citara.

Wanita itu meneruskan langkahnya, ia hanya bisa mengelus dada melihat sikap Farah terhadapnya.

Setelah mengambil apa yang ia butuhkan, Citara keluar dari kamarnya dan kembali ke ruang tempat Enzi belajar. Dan hal yang sama terjadi saat Citara melewati pria berpakaian serba hitam itu.

"Saya mau kembali ke ruang belajarnya Enzi."

Begitulah yang diucapkan Citara saat para penjaga itu mulai bergerak untuk menghadangnya lagi.

Cklek!

"Taraaa! Ini dia permainannya." Citara mengangkat kertas ludo dan ular tangga itu dengan riang.

Tanpa sadar, Enzi tertawa riang melihat tingkah mama-nya yang sangat lucu. Anak itu baru saja ingin berjalan ke kursi kebesarannya. Namun, terhenti karena suara Citara.

"Main ludo enaknya di atas lantai. Enzi—"

Belum selesai Citara berbicara, anak itu sudah mengambil posisi duduk bersilah di atas lantai. Hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh anak itu.

Mereka berdua memulai permainannya. Citara mendapat giliran pertama untuk melempar dadu.

"Yes! Mama dapat angka enam." Citara bersorak girang.

Enzi yang tak sabar bergerak ingin mengambil mangkuk kecil serta dadu yang ada di tangan mama-nya.

"Eits, kalau dapat angka enam itu artinya memiliki kesempatan melempar dadu satu kali lagi."

Kepala anak itu mengangguk, dan saat gilirannya tiba. Enzi begitu bersemangat ia melempar dadu dan angka enam ia dapatkan.

Enzi kembali melempar dadu dan ia mendapatkan angka yang sama sampai permainan berakhir.

"Enzi, kamu benar-benar hebat. Baru kali ini Mama melihat ada orang yang mendapat angka enam dari awal permainan hingga selesai, Mama sampai gak kebagian lempar dadu lagi," ucap Citara dengan wajah berpura-pura sedih.

"Semua ada triknya, tapi ini rahasia." Enzi menjawab dengan wajah datarnya.

"Hahhh ...." Citara menghela napasnya dengan berat, putra sambungnya kembali berbicara seperti orang dewasa.

"Ngomong-ngomong apa rahasianya?" tanya Citara mulai penasaran dibuat sang anak.

"Yang namanya rahasia mana boleh diberi tahu. Nanti tidak rahasia lagi namanya," jawab anak itu dengan bijak.

"Ck-ck-ck, seribu jempol untuk Enzi. Mama bangga!" Citara berdecak kagum.

"Terima kasih," sahut Enzi.

"Enzi, Mama senang sekali Enzi menerima Mama dengan baik. Terima kasih ya, Nak." Citara memeluk tubuh Enzi dengan penuh haru.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Alanna Th

Alanna Th

smoga kbahagiaan enzi mlembutkn hati sang monster salju

2025-02-27

1

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

bersyukur aja Tara, ada nak Vareen yg saya sm kamu, jadi ngk stres ada hiburan 🌹

2025-03-16

0

Kartika Tini

Kartika Tini

hidup di sangkar emas

2024-08-19

2

lihat semua
Episodes
1 PHSK 1
2 PHSK 2
3 PHSK 3
4 PHSK 4
5 PHSK 5
6 PHSK 6
7 PHSK 7
8 PHSK 8
9 PHSK 9
10 PHSK 10
11 PHSK 11
12 PHSK 12
13 PHSK 13
14 PHSK 14
15 PHSK 15
16 PHSK 16
17 PHSK 17
18 PHSK 18
19 PHSK 19
20 PHSK 20
21 PHSK 21
22 PHSK 22
23 PHSK 23
24 PHSK 24
25 PHSK 25
26 PHSK 26
27 PHSK 27
28 PHSK 28
29 PHSK 29
30 PHSK 30
31 PHSK 31
32 PHSK 32
33 PHSK 33
34 PHSK 34
35 PHSK 35
36 PHSK 36
37 PHSK 37
38 PHSK 38
39 PHSK 39
40 PHSK 40
41 PHSK 41
42 PHSK 42
43 PHSK 43
44 PHSK 44
45 PHSK 45
46 PHSK 46
47 PHSK 47
48 PHSK 48
49 PHSK 49
50 PHSK 50
51 PHSK 51
52 PHSK 52
53 PHSK 53
54 Istri Penebus Hutang Milik Duda Kejam (Author by :Roro Halus)
55 PHSK 54
56 PHSK 55
57 PHSK 56
58 PHSK 57
59 PHSK 58
60 PHSK 59
61 PHSK 60
62 PHSK 61
63 PHSK 62
64 PHSK 63
65 PHSK 64
66 PHSK 65
67 PHSK 66
68 PHSK 67
69 PHSK 68
70 PHSK 69
71 PHSK 70
72 PHSK 71
73 PHSK 72
74 PHSK 73
75 PHSK 74
76 PHSK 75
77 PHSK 76
78 PHSK 77
79 PHSK 78 (Kepergian)
80 PHSK 79 (Tamat!)
81 PHSK 80 (Kunci)
82 PHSK VISUAL
83 PHSK 81 (Berlumur Darah)
84 PHSK 82 (Harapan Semu?)
85 PHSK 83 (Siksaan)
86 PHSK 84
87 PHSK 85 (Membawamu Kembali)
88 PHSK 86 (Kematian di Depan Mata?)
89 PHSK 87 (Menyerang)
90 PHSK 88 (Bajingann!!!)
91 PHSK 89 (Pembunuh)
92 PHSK 90 (Bersedia?)
93 PHSK 91 (Hubby)
94 PHSK 92 (Ingin Membuat Bayi!)
95 PHSK 93 (Melepasmu)
96 PHSK 94 (Perubahan Sikap Monster Salju)
97 Menikah Dengan Hot Daddy (Author: Kacan)
98 PHSK 95 (Ada Apa?)
99 PHSK 96 (Beruang Kutub)
100 PHSK 97 (Apa yang Hubby Sembunyikan?)
101 PHSK 98 (Kedatangan)
102 PHSK 99 (Ahrggg!)
103 PHSK 100 (Benarkah Dia Suamiku?)
104 PHSK 101 (Let's Make Baby Monster)
105 PHSK 102 (Kebahagiaan Citara)
106 PHSK 103 (You Make Me Crazy)
107 PHSK 104 (Kecanduan)
108 PHSK 105 (Mandi)
109 PHSK 106 (Kekhawatiran yang Berlebihan)
110 PHSK 107 (Peringatan Varen)
111 PHSK 108 (Dia Tetaplah Seorang Monster)
112 PHSK 109 (Berada Dalam Pangkuan Suami)
113 PHSK 110 (TAMAT)
114 Bab Bonus (Iblis Kecil)
115 Bab Bonus (Kebahagiaan)
116 Bab Bonus (Akhir Bahagia)
Episodes

Updated 116 Episodes

1
PHSK 1
2
PHSK 2
3
PHSK 3
4
PHSK 4
5
PHSK 5
6
PHSK 6
7
PHSK 7
8
PHSK 8
9
PHSK 9
10
PHSK 10
11
PHSK 11
12
PHSK 12
13
PHSK 13
14
PHSK 14
15
PHSK 15
16
PHSK 16
17
PHSK 17
18
PHSK 18
19
PHSK 19
20
PHSK 20
21
PHSK 21
22
PHSK 22
23
PHSK 23
24
PHSK 24
25
PHSK 25
26
PHSK 26
27
PHSK 27
28
PHSK 28
29
PHSK 29
30
PHSK 30
31
PHSK 31
32
PHSK 32
33
PHSK 33
34
PHSK 34
35
PHSK 35
36
PHSK 36
37
PHSK 37
38
PHSK 38
39
PHSK 39
40
PHSK 40
41
PHSK 41
42
PHSK 42
43
PHSK 43
44
PHSK 44
45
PHSK 45
46
PHSK 46
47
PHSK 47
48
PHSK 48
49
PHSK 49
50
PHSK 50
51
PHSK 51
52
PHSK 52
53
PHSK 53
54
Istri Penebus Hutang Milik Duda Kejam (Author by :Roro Halus)
55
PHSK 54
56
PHSK 55
57
PHSK 56
58
PHSK 57
59
PHSK 58
60
PHSK 59
61
PHSK 60
62
PHSK 61
63
PHSK 62
64
PHSK 63
65
PHSK 64
66
PHSK 65
67
PHSK 66
68
PHSK 67
69
PHSK 68
70
PHSK 69
71
PHSK 70
72
PHSK 71
73
PHSK 72
74
PHSK 73
75
PHSK 74
76
PHSK 75
77
PHSK 76
78
PHSK 77
79
PHSK 78 (Kepergian)
80
PHSK 79 (Tamat!)
81
PHSK 80 (Kunci)
82
PHSK VISUAL
83
PHSK 81 (Berlumur Darah)
84
PHSK 82 (Harapan Semu?)
85
PHSK 83 (Siksaan)
86
PHSK 84
87
PHSK 85 (Membawamu Kembali)
88
PHSK 86 (Kematian di Depan Mata?)
89
PHSK 87 (Menyerang)
90
PHSK 88 (Bajingann!!!)
91
PHSK 89 (Pembunuh)
92
PHSK 90 (Bersedia?)
93
PHSK 91 (Hubby)
94
PHSK 92 (Ingin Membuat Bayi!)
95
PHSK 93 (Melepasmu)
96
PHSK 94 (Perubahan Sikap Monster Salju)
97
Menikah Dengan Hot Daddy (Author: Kacan)
98
PHSK 95 (Ada Apa?)
99
PHSK 96 (Beruang Kutub)
100
PHSK 97 (Apa yang Hubby Sembunyikan?)
101
PHSK 98 (Kedatangan)
102
PHSK 99 (Ahrggg!)
103
PHSK 100 (Benarkah Dia Suamiku?)
104
PHSK 101 (Let's Make Baby Monster)
105
PHSK 102 (Kebahagiaan Citara)
106
PHSK 103 (You Make Me Crazy)
107
PHSK 104 (Kecanduan)
108
PHSK 105 (Mandi)
109
PHSK 106 (Kekhawatiran yang Berlebihan)
110
PHSK 107 (Peringatan Varen)
111
PHSK 108 (Dia Tetaplah Seorang Monster)
112
PHSK 109 (Berada Dalam Pangkuan Suami)
113
PHSK 110 (TAMAT)
114
Bab Bonus (Iblis Kecil)
115
Bab Bonus (Kebahagiaan)
116
Bab Bonus (Akhir Bahagia)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!