Modus

Kini Josua sedang duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan, sedangkan Juliette sedang mengambil piring dan juga gelas. Jeni juga tidak tinggal diam, wanita itu sedang memindahkan martabak telur dan juga martabak manis yang dibawa oleh Josua ke atas piring.

Josua nampak memangku dagunya dengan kedua tangannya, tatapan pria itu tidak beralih dari wajah Jeni. Josua benar-benar seperti anak abege yang baru saja merasakan yang namanya jatuh cinta.

Juliette sempat memperhatikan ayahnya, dia sampai menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang kini dia lihat.

"Makan, Om. Jangan lihatin Jeni terus," ujar Jeni seraya menyendok nasi lengkap dengan lauknya. Lalu, dia memberikan piring berisikan nasi tersebut kepada Josua.

"Terima kasih, calon istriku." Josua tersenyum dengan begitu lebar.

Jeni hanya memutarkan bola matanya dengan malas, ketika dia mendengar Joshua menyebut dirinya dengan sebutan calon istri.

Walaupun nasi itu hanya dikasih dasar telur dan juga sayur bayam, tetapi rasanya Josua begitu bahagia. Pria itu bahkan dengan cepat membaca doa dan memakan makanan yang sudah disediakan oleh Jeni.

"Bagaimana rasanya, Om?" tanya Jeni.

"Enak, sangat enak." Josua makan dengan lahap.

Juliette ingin sekali tertawa, tetapi hal itu tidak dia lakukan. Namun, gadis itu malah melakukan hal yang sama seperti ayahnya. Dia memakan makanan yang sudah disediakan oleh Jeni.

Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Josua, makanan yang dimasak oleh Jeni sangatlah sederhana. Namun, dia merasa jika makanan itu begitu enak untuk disantap.

Juliette jadi berpikir, jika yang membuat makanan itu terasa begitu enak bukan karena makanan itu mahal atau murahnya, tetapi karena dia makan dengan orang-orang yang dia sayangi dan menyayangi dirinya.

"Jeni, elu duduk dan makan juga."

Juliette menarik tangan Jeni dengan lembut, hal itu dilakukan agar sahabatnya itu segera duduk di sampingnya dan segera memakan makanan yang sudah Jeni siapkan itu.

"Iya," jawab Jeni.

Jeni duduk di samping Juliette, wanita itu nampak hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Namun, dengan cepat Josua menyuapi dirinya.

"Makan yang banyak ya, calon istriku. Biar ngga kurus banget," ujar Josua.

Jeni sampai kaget dibuatnya, dia bahkan sampai menolehkan wajahnya ke arah Juliette. Sungguh dia ingin melihat reaksi dari Juliette, apakah gadis itu akan marah atau tidak terhadap dirinya.

Namun, pada kenyataannya wanita itu bukan marah. Akan tetapi, Juliette malah tertawa dengan terbahak-bahak. Dia merasa lucu dengan tingkah dari cara daddynya yang mencari perhatian dari Jeni

"Ngga usah liat gue kaya gitu, Jen. Gue setuju kalau elu nikah sama bokap gue, gue bakal seneng banget kalau elu jadi Mom bagi gue," ujar Juliette.

Mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya, Jeni sampai tersedak ludahnya sendiri. Dia tidak menyangka jika sahabatnya itu akan mendukung ayahnya untuk menikahi dirinya.

Josua yang melihat Jeni terbatuk-batuk dengan wajahnya yang memerah langsung mengambil air minum, lalu dia memberikan air tersebut kepada Jeni.

"Minumlah, ngga usah kaget gitu. Juli akan selalu mendukung hubungan kita, kamu pasti tahu sendiri jika Juli adalah anak yang pengertian."

Ah! Jeni sungguh bingung harus mengatakan apa, tetapi satu hal yang tidak dia sangka, kini Juliette terlihat menatap dirinya dengan tatapan penuh harap.

"Elu jadi Mom aja bagi gue, Jen. Gue janji ngga bakalan nakal, kalau elu mau bikin ade buat gue, gue sih oke aja. Asal elu harus ada juga buat gue, jangan ada buat Daddy doang."

Uhuk! Uhuk!

Kembali Jeni tersedak, dia sangat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Juliette. Terlebih lagi gadis itu dengan seenaknya mengatakan hal yang dia rasa sangat tidak sopan.

"Jangan kaget, Sayang. Aku bilang jangan kaget."

Josua langsung menepuk-nepuk punggung Jeni dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk mengusap-usap lengan wanita itu.

"Udah, Om. Jeni udah mendingan," ujar Jeni.

Wanita itu bahkan dengan cepat menepis tangan Josua, karena mendapatkan sentuhan lembut seperti itu membuat tubuh Jeni meremang.

Setelah itu, makan malam pun terjadi dengan canggung. Karena Jeni tiba-tiba saja selalu salah tingkah, terlebih lagi ketika Josua terus menerus menggoda dirinya.

Bahkan, setelah makan malam Josua dengan telaten menyuapi Jeni martabak telur yang dia bawa. Jeni berulang kali menolak, tetapi Josua tetap memaksa.

Jeni sungguh tidak enak hati kepada Juliette, tetapi wanita itu justru merasa senang melihat Josua yang biasanya nampak dingin kini begitu hangat dan sangat perhatian.

"Jeni, kenapa elu ngga nikah aja sama bokap gue? Bokap gue niatnya baik loh," ujar Juliette secara langsung.

"Ehm! Tapi gue belum siap nikah," jawab Jeni.

Jika Jeni menikah dengan Josua, itu artinya dia harus melayani pria itu. Bukan hanya urusan makannya saja, tetapi Jeni juga harus melayani pria itu di atas ranjang.

Namun, nyatanya Jeni belum siap jika dia harus hamil dan memiliki anak. Masih banyak hal yang ingin Jeni lakukan, dia masih ingin bebas.

"Belum siap nikah atau belum siap jadi istri? Atau belum siap jadi istri yang baik?" tanya Juliette.

Karena Juliette juga belum siap untuk menjadi seorang istri, bahkan kalau boleh dia masih ingin dimanjakan oleh ayahnya. Dia ingin menikah nanti setelah dia puas bermain dan bekerja.

"Iya, gue belum siap jadi istri yang baik," jawab Jeni.

"Elu tenang aja, kalau mau nikah ya nikah aja. Untuk urusan elu yang belum siap melayani bokap gue, elu bisa tidur sama gue." Juliette terkekeh setelah mengatakan hal itu.

Berbeda dengan Josua, pria itu nampak mendelik tidak suka mendengar apa yang dikatakan oleh Juliette. Bahkan, Josua langsung melayangkan protesnya.

"Mana ada kaya gitu, pokoknya nanti kamu harus tidur bareng aku. Kamu itu milik aku, boleh main sama Juli tapi sebentar aja," protes Josua.

"Ya ampun! Belum nikah aja udah posesif," ujar Juliette dengan bibir yang mencebik.

"Ck! Kalian itu rese, udah pulang sana. Lagian ini sudah malam, kalian pergilah!"

"Baiklah, kami pulang." Josua berkata dengan wajah lesu, dia nampak enggan walaupun untuk bangun dan pergi dari sana.

Pada akhirnya Josua dan juga Juliette memutuskan untuk pulang, tetapi saat keduanya masuk ke dalam mobil, kunci mobil milik pria itu nampak tidak ada.

"Mungkin kunci mobilnya tertinggal di dalam rumah Jeni," ujar Juliette.

"Hem, kamu benar. Daddy akan mencari kunci mobilnya di dalam rumah Jeni, kamu tunggu di mobil," ujar Josua.

Josua tersenyum menyeringai, karena dia memang sengaja meninggalkan kunci mobilnya. Lalu, dia melangkahkan kakinya menuju rumah Jeni.

Pria itu bahkan langsung masuk ke dalam rumah Jeni tanpa permisi, Jeni yang melihat kedatangan Josua kembali sampai terkaget-kaget dibuatnya.

"Om! Ngapain balik lagi?" tanya Jeni.

"Anu, itu. Sepertinya kunci mobilnya ketinggalan," ujar Josua.

"Oh, tunggu sebentar." Jeni masuk ke dalam ruang keluarga, lalu dia mencari kunci mobil milik Josua. Tentunya tanpa Jeni ketahui, Josua mengikuti Jeni dari belakang.

Tidak lama kemudian Jeni menghela napas panjang, karena ternyata kunci mobil milik Josua ada di atas meja. Dia membalikkan tubuhnya hendak menemui Josua yang ada di ruang tamu, tetapi dia begitu kaget karena tiba-tiba saja Jeni mendapatkan sebuah pelukan dari Josua.

"Aku masih rindu, apa boleh memelukmu lebih lama?" tanya Josua seraya mengambil kunci mobilnya dari tangan Jeni.

Josua memeluk Jeni dengan posesif, Jeni sampai kesusahan untuk bernapas. Wanita itu berusaha untuk mendorong Josua, tetapi Josua malah menunduk lalu mengecup bibir Jeni.

"Om!" pekik Jeni.

"Itu kecupan selamat tidur, aku mencintaimu, Jeni." Josua menatap Jeni dengan dalam.

Mendapatkan tatapan mata seperti itu membuat Jeni salah tingkah, dengan cepat wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Sekarang Om cepat pulang, Jeni mau tidur. Kalau Om ngga pulang, Jeni ngga bisa istirahat."

"Oke, Om pulang dulu. Bobo yang nyenyak, oke."

Josua menagkup pipi Jeni dengan kedua tangannya. Lalu, dia mengecup kening Jeni dengan penuh kasih.

"Jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa langsung kabari Om. Kalau kamu udah siapa nikah sama Om, kamu juga harus langsung hubungin Om. Oke?" pinta Josua.

''Jeni ngga janji," jawab Jeni yang merasa kesal karena Josua bersikap semaunya.

Setelah puas memeluk Jeni, Josua langsung berpamitan kepada wanita itu. Lalu, dia kembali masuk ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan mesin mobilnya.

Juliette sempat memperhatikan wajah ayahnya yang begitu ceria, tidak lama kemudian wanita itu menyadari suatu hal, ayahnya itu hanya berpura-pura kalau kunci mobilnya tertinggal. Padahal, Josua hanya modus untuk bisa menemui Jeni kembali.

"Aih! Dasar LELAKI MODUZ!" ujar Juliette dengan bibir yang mencebik.

Terpopuler

Comments

v taehyung

v taehyung

🤣🤣🤣🤣🤣 gitu donk bang Jo cint m jeni karna jeni bukan karena jeni puny kemiripan m mending istri,,,,🥰🥰🥰

2024-09-26

0

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

kasihan juga Josua, takut jadi jelli udh kelamaan soalnya

2024-07-06

0

Catcold

Catcold

sijeni yg dipeluk n dicium, aku yg baper snyum2 sndri, kok jdi ngarep kyk gt ya😭

2024-02-22

7

lihat semua
Episodes
1 Jujur
2 Kaget
3 Tak Jadi Pergi
4 Kebiasaan yang Sama
5 Ajakan Untuk Menikah
6 Niat Jahat
7 Mabuk
8 Curhat
9 Biar aku, antar.
10 Ngomong dulu sama Juli, Om.
11 Dipecat
12 Ketahuan Ulah Josua
13 Meminta Restu
14 Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15 Aku sih, yes.
16 Bertemu Saingan
17 Pura-pura
18 Modus
19 Merasa Direndahkan
20 Ketakutan Jeni
21 Dewa Penolong
22 Terpesona
23 Oke, gue setuju.
24 Anterin Julian pulang, Om.
25 Mengadu
26 Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27 Om minta ini aja, boleh?
28 Juli, elu kenapa?
29 Come on, Mommy!
30 Kenapa ditutup mata akunya?
31 Aku mau punya adik lima.
32 Om sudah tidak sabar, Jeni.
33 Ke mana perginya, Jeni?
34 Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35 Daddy dulu, Dad kangen.
36 Nanti malem, pasti Juli bales.
37 Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38 Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39 Penasaran
40 Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41 Negoisasi
42 Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43 Sudah siap kerja?
44 Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45 Kalau hamil, terlalu beresiko.
46 Kok gue jadi sedih, ya?
47 Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48 Merasa Kasihan
49 Daddy! Kenapa diam?
50 Kamu nggak boleh ngomong juga.
51 Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52 Edukasi Kehamilan
53 Kadonya mana?
54 Tolong jaga putraku, Juli.
55 Kenapa aku dihukum?
56 Kesedihan John
57 Pesan Untuk John
58 Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59 Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60 Sering Kontraksi
61 Sedihnya Juliette
62 Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63 Kenapa mereka sangat tega?
64 Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65 Penjelasan
66 Nikah itu bukan mainan loh!
67 Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68 Kesel Tapi Demen
69 Kaget
70 Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71 Sudah dua bulan loh!
72 Pengakuan
73 Ungkapan Hati Juliette
74 Pergi
75 Cemburu Tanpa Alasan
76 Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77 Yes, aku mau.
78 Pengakuan Jia
79 Banyak Hal Yang Tak Terduga
80 Pengakuan Jeni
81 Otewe Sah
82 Sah Yang Bikin Resah (End)
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Jujur
2
Kaget
3
Tak Jadi Pergi
4
Kebiasaan yang Sama
5
Ajakan Untuk Menikah
6
Niat Jahat
7
Mabuk
8
Curhat
9
Biar aku, antar.
10
Ngomong dulu sama Juli, Om.
11
Dipecat
12
Ketahuan Ulah Josua
13
Meminta Restu
14
Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15
Aku sih, yes.
16
Bertemu Saingan
17
Pura-pura
18
Modus
19
Merasa Direndahkan
20
Ketakutan Jeni
21
Dewa Penolong
22
Terpesona
23
Oke, gue setuju.
24
Anterin Julian pulang, Om.
25
Mengadu
26
Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27
Om minta ini aja, boleh?
28
Juli, elu kenapa?
29
Come on, Mommy!
30
Kenapa ditutup mata akunya?
31
Aku mau punya adik lima.
32
Om sudah tidak sabar, Jeni.
33
Ke mana perginya, Jeni?
34
Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35
Daddy dulu, Dad kangen.
36
Nanti malem, pasti Juli bales.
37
Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38
Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39
Penasaran
40
Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41
Negoisasi
42
Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43
Sudah siap kerja?
44
Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45
Kalau hamil, terlalu beresiko.
46
Kok gue jadi sedih, ya?
47
Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48
Merasa Kasihan
49
Daddy! Kenapa diam?
50
Kamu nggak boleh ngomong juga.
51
Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52
Edukasi Kehamilan
53
Kadonya mana?
54
Tolong jaga putraku, Juli.
55
Kenapa aku dihukum?
56
Kesedihan John
57
Pesan Untuk John
58
Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59
Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60
Sering Kontraksi
61
Sedihnya Juliette
62
Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63
Kenapa mereka sangat tega?
64
Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65
Penjelasan
66
Nikah itu bukan mainan loh!
67
Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68
Kesel Tapi Demen
69
Kaget
70
Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71
Sudah dua bulan loh!
72
Pengakuan
73
Ungkapan Hati Juliette
74
Pergi
75
Cemburu Tanpa Alasan
76
Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77
Yes, aku mau.
78
Pengakuan Jia
79
Banyak Hal Yang Tak Terduga
80
Pengakuan Jeni
81
Otewe Sah
82
Sah Yang Bikin Resah (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!