Merasa Direndahkan

Berdekatan dengan seorang pria saja belum pernah, apalagi mendapatkan perhatian dan juga mendapatkan kecupan dari seorang pria, Jeni belum pernah merasakannya.

Namun, setelah datangnya Josua ke dalam kehidupannya, bukan hanya kecupan manis yang dia dapatkan. Namun, perhatian yang mengundang kekesalan juga dia dapatkan.

Dia merasa jika Josua itu memanglah tipe pria idaman, pria itu mapan dan tentunya perhatian. Namun, pria itu bertingkah layaknya anak kecil dan sangat menyebalkan. Bahkan, pria itu terkesan memaksakan keinginannya.

"Dia itu kurang ajar sekali, berani sekali mengambil keperawanan bibirku." Jeni mengusap bibirnya seraya menatap wajahnya dari pantulan cermin.

Setelah Josua dan Juliette pulang, Jeni tidak bisa tidur. Dia malah duduk di depan meja rias, wanita itu malah membayangkan apa yang sudah terjadi kepada dirinya. Dari pertama kali bertemu sampai saat ini.

"Haish! Gue harus ngedepin dia kaya gimana coba? Gue harus ngejelasin ke dia kaya gimana lagi coba? Gue kan' belum mau nikah," ujar Jeni.

Gadis itu pada akhirnya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia berusaha untuk memejamkan matanya. Dia berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lelah.

Cukup lama mata itu terbuka, karena bayang-bayang apa yang dilakukan oleh Josua terbayang jelas di matanya. Namun, menjelang tengah malam Jeni bisa tidur juga.

Keesokan paginya.

"Sial! Gue kesiangan!" pekik Jeni.

Wanita itu bangun pada pukul tujuh pagi, sedangkan dia ada kuliah pukul sembilan pagi. Memang sih masih ada waktu dua jam lagi, tetapi tadinya dia berencana akan belanja dulu sebelum pergi kuliah.

Itu artinya dia tidak jadi belanja, tetapi harus langsung bersiap untuk pergi kuliah. Karena setelah mandi dia harus sarapan dan tentunya pergi kuliah dengan menggunakan bis.

"Akhirnya sampe kampus juga," ujar Jeni.

Waktu kini menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, tetapi wanita itu sudah sampai di kampus. Daripada telat, mending datang lebih awal pikirnya.

Jeni nampak duduk di kelas, lalu dia mengambil ponselnya dan bermain dengan ponselnya itu. Tidak lama kemudian, Julian nampak masuk dan duduk tepat di samping Jeni.

"Elu udah dateng, Jen?" tanya Julian.

Pria itu menyimpan kotak bekal berisikan roti isi tepat di hadapan Jeni, Julian juga menyimpan sebotol jus buah.

"Iya, gue udah dateng. Itu apa?" tanya Jeni berbasa-basi, karena pada kenyataannya dia bisa melihat sendiri apa yang Julian bawa.

"Gue bawain sarapan, dimakan ya?" ujar Julian.

Pria itu terlihat begitu perhatian, tapi sayangnya Jeni tidak suka dengan perhatian yang diberikan oleh Julian kepada dirinya.

"Gue udah sarapan nasi uduk, lagian gue itu bukan bule yang suka sarapan roti. Enakan nasi uduk, kalau ngga ya lontong sayur."

"Jangan gitu dong, Jen. Ini bentuk perhatian gue sama elu," ujar Julian sedikit memaksa.

"Julian, gue ngucapin terima kasih banyak atas perhatian elu. Tapi maaf, gue udah sarapan. Kalau gue terima, sayang juga tuh roti. Kaga bakal kemakan sama gue," ujar Jeni memberikan pengertian.

Namun, sepertinya Julian menyangka hal yang lain. Jeni tidak mau menerima pemberian darinya karena lebih memilih Josua, pria yang dia rasa kaya dan juga pastinya berpengalaman.

Dia memang merupakan anak orang kaya, ayahnya adalah seorang pejabat. Namun, dia masih kuliah dan belum berpenghasilan. Pastinya Jeni lebih kepincut dengan pria berduit, pikirnya.

"Oh, oke. Gue paham, elu pasti ngga bakal mau nerima pemberian dari anak ingusan kaya gue. Pasti elu lebih milih om-om yang tadi malam itu, kan?" tanya Julian disertai tuduhan.

Jeni langsung mengerutkan dahinya, dia tidak menyangka jika Julian akan mengatakan hal seperti itu. Jeni jadi merasa menjadi manusia rendahan dengan tuduhan dari Julian.

"Ngga gitu juga, gue emang udah sarapan. Tolong jangan tersinggung," ujar Jeni.

Julian tiba-tiba saja merasa begitu kesal kepada Jeni, dia bahkan langsung menatap Jeni dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita itu memang miskin, tapi wajahnya begitu cantik dengan bodynya yang begitu mulus.

"Halah! Bilang aja kalau om yang malam itu kaya raya, banyak duitnya dan yang pasti elu nerima dia karena dia jago di atas ranjang, kan?" ujar Julian.

Plak!

Tanpa terasa Jeni langsung menampar pipi Julian, dia merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Dia merasa direndahkan sebagai seorang wanita.

"Jaga mulut elu, Julian! Gue emang miskin, tapi gue ngga bakal jual diri demi uang.'' Jeni menatap Julian dengan tatapan penuh amarah.

"Munafik!" teriak Julian yang dengan cepat pergi meninggalkan Jeni.

Jeni hanya bisa menghela napas berat melihat kepergian Julian, pria yang sudah mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat dirinya tersinggung. Namun, malah pria itu yang nampak marah terhadap dirinya.

"Dia itu kenapa? Memangnya salah gue di mana? Apa maksudnya coba bilang kaya gitu?" kesal Jeni dengan air matanya yang mulai luruh, karena dia merasa dianggap sebagai seorang jallang.

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

hati2 Jeni, takut nya Julian cuman napsu doank 🤭

2024-07-06

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Keliatan banget Julian gak ikhlas ke Jeni,Karna Jeni cantik dan body aduhai,makanya dia selalu pepet,setelah dapat dia akan campakkan,Aku pasti kalo bukan Jeni doang ceweknya,Untungnya Jeni gak luluh ama dia..good Jen..👍👍

2024-02-13

4

Nendah Wenda

Nendah Wenda

dasar kalau cinta gak usah hina segitunya Julian

2024-01-30

3

lihat semua
Episodes
1 Jujur
2 Kaget
3 Tak Jadi Pergi
4 Kebiasaan yang Sama
5 Ajakan Untuk Menikah
6 Niat Jahat
7 Mabuk
8 Curhat
9 Biar aku, antar.
10 Ngomong dulu sama Juli, Om.
11 Dipecat
12 Ketahuan Ulah Josua
13 Meminta Restu
14 Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15 Aku sih, yes.
16 Bertemu Saingan
17 Pura-pura
18 Modus
19 Merasa Direndahkan
20 Ketakutan Jeni
21 Dewa Penolong
22 Terpesona
23 Oke, gue setuju.
24 Anterin Julian pulang, Om.
25 Mengadu
26 Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27 Om minta ini aja, boleh?
28 Juli, elu kenapa?
29 Come on, Mommy!
30 Kenapa ditutup mata akunya?
31 Aku mau punya adik lima.
32 Om sudah tidak sabar, Jeni.
33 Ke mana perginya, Jeni?
34 Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35 Daddy dulu, Dad kangen.
36 Nanti malem, pasti Juli bales.
37 Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38 Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39 Penasaran
40 Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41 Negoisasi
42 Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43 Sudah siap kerja?
44 Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45 Kalau hamil, terlalu beresiko.
46 Kok gue jadi sedih, ya?
47 Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48 Merasa Kasihan
49 Daddy! Kenapa diam?
50 Kamu nggak boleh ngomong juga.
51 Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52 Edukasi Kehamilan
53 Kadonya mana?
54 Tolong jaga putraku, Juli.
55 Kenapa aku dihukum?
56 Kesedihan John
57 Pesan Untuk John
58 Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59 Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60 Sering Kontraksi
61 Sedihnya Juliette
62 Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63 Kenapa mereka sangat tega?
64 Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65 Penjelasan
66 Nikah itu bukan mainan loh!
67 Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68 Kesel Tapi Demen
69 Kaget
70 Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71 Sudah dua bulan loh!
72 Pengakuan
73 Ungkapan Hati Juliette
74 Pergi
75 Cemburu Tanpa Alasan
76 Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77 Yes, aku mau.
78 Pengakuan Jia
79 Banyak Hal Yang Tak Terduga
80 Pengakuan Jeni
81 Otewe Sah
82 Sah Yang Bikin Resah (End)
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Jujur
2
Kaget
3
Tak Jadi Pergi
4
Kebiasaan yang Sama
5
Ajakan Untuk Menikah
6
Niat Jahat
7
Mabuk
8
Curhat
9
Biar aku, antar.
10
Ngomong dulu sama Juli, Om.
11
Dipecat
12
Ketahuan Ulah Josua
13
Meminta Restu
14
Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15
Aku sih, yes.
16
Bertemu Saingan
17
Pura-pura
18
Modus
19
Merasa Direndahkan
20
Ketakutan Jeni
21
Dewa Penolong
22
Terpesona
23
Oke, gue setuju.
24
Anterin Julian pulang, Om.
25
Mengadu
26
Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27
Om minta ini aja, boleh?
28
Juli, elu kenapa?
29
Come on, Mommy!
30
Kenapa ditutup mata akunya?
31
Aku mau punya adik lima.
32
Om sudah tidak sabar, Jeni.
33
Ke mana perginya, Jeni?
34
Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35
Daddy dulu, Dad kangen.
36
Nanti malem, pasti Juli bales.
37
Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38
Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39
Penasaran
40
Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41
Negoisasi
42
Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43
Sudah siap kerja?
44
Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45
Kalau hamil, terlalu beresiko.
46
Kok gue jadi sedih, ya?
47
Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48
Merasa Kasihan
49
Daddy! Kenapa diam?
50
Kamu nggak boleh ngomong juga.
51
Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52
Edukasi Kehamilan
53
Kadonya mana?
54
Tolong jaga putraku, Juli.
55
Kenapa aku dihukum?
56
Kesedihan John
57
Pesan Untuk John
58
Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59
Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60
Sering Kontraksi
61
Sedihnya Juliette
62
Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63
Kenapa mereka sangat tega?
64
Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65
Penjelasan
66
Nikah itu bukan mainan loh!
67
Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68
Kesel Tapi Demen
69
Kaget
70
Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71
Sudah dua bulan loh!
72
Pengakuan
73
Ungkapan Hati Juliette
74
Pergi
75
Cemburu Tanpa Alasan
76
Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77
Yes, aku mau.
78
Pengakuan Jia
79
Banyak Hal Yang Tak Terduga
80
Pengakuan Jeni
81
Otewe Sah
82
Sah Yang Bikin Resah (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!