Ajakan Untuk Menikah

Malam ini Jeni tidak bisa tidur karena terus saja memikirkan kelakuan Josua, di saat Juliette sudah tertidur dengan pulas dia malah duduk di dekat jendela seraya menatap langit malam.

"Gue jadi ngga betah tinggal di sini, padahal di sini enak banget loh. Rumah gede, fasilitas juga mewah. Tapi, gue nggak nyaman sama tingkah bokapnya si Juli," ujar Jeni lirih.

Jeni terus saja menatap langit malam, dia seolah sedang mengadu dan meminta solusi dengan apa yang harus dia lakukan saat ini.

"Ck! Mending gue ke dapur, gue harus minum air hangat agar bisa cepat tidur."

Jeni langsung keluar dari dalam kamar tersebut, lalu dia melangkahkan kakinya menuju dapur. Jeni mencari dispenser karena ingin mengambil air hangat, tetapi nyatanya di sana tidak ada dispenser.

Jeni dengan terpaksa mengambil panci dan menuangkan air dari kran, lalu gadis itu terlihat hendak merebus air. Namun, gadis itu kebingungan karena tidak bisa menyalakan kompornya.

Di rumahnya dia terbiasa menggunakan kompor gas, tetapi kompor di sana ternyata merupakan kompor elektrik. Jeni sampai menggaruk pelipisnya karena merasa bingung.

"Bagaimana cara memakainya? Tombol mana yang harus ditekan?" tanya Jeni kebingungan.

"Kamu bisa tekan yang ini."

Jeni sampai kaget, karena tiba-tiba saja ada seorang pria yang menekan tombol pada kompor yang ada di hadapannya. Tentunya yang lebih membuat Jeni kaget, ternyata Josua yang kini ada di dekatnya.

"Om! Om ngapain di dapur?" tanya Jeni dengan gugup.

"Saya mau minum, lupa tadi ngga nyiapin air. Jadinya harus pergi ke dapur untuk ambil air," jawab Josua.

Jeni sempat memperhatikan penampilan dari Josua, pria itu hanya memakai celana training saja. Josua tidak memakai baju, badannya nampak berkeringat. Sepertinya pria itu baru saja selesai berolahraga.

Josua seolah tidak peduli dengan Jeni yang nampak menatap dirinya dan memperhatikan apa yang dia lakukan, pria itu malah mengambil air dari kulkas dan meminumnya dengan santai.

Setelah meminum airnya, Josua malah duduk di salah satu bangku yang ada di sana dan menatap Jeni. Kembali gadis itu dibuat salah tingkah oleh tatapan dari Josua.

"Kamu mau seduh susu?" tanya Josua.

Karena biasanya Juliette akan meminum susu sebelum tidur, karena dengan seperti itu anak gadisnya akan tertidur dengan pulas.

"Nggak, Om. Saya cuma mau minum air hangat," jawab Jeni.

"Kenapa harus minum air hangat?" tanya Josua.

"Kalau saya tidak bisa tidur, biasanya saya akan meminum air hangat biar bisa cepat tidur."

"Ck! Kenapa lagi-lagi dia memiliki kebiasaan yang sama seperti Juni?" tanya Josua yang hanya mampu dipertanyakan di dalam hati saja.

Dengan seperti itu, Josua semakin yakin ingin mengejar gadis kecil itu. Josua semakin yakin untuk memperistri gadis kecil itu.

"Jeni," panggil Josua lirih.

"Ya, Om," jawab Jeni seraya menuangkan air panas dan menambah air panas itu dengan air biasa.

"Duduklah! Saya mau bicara," ujar Josua.

"Oke," jawab Jeni dengan perasaannya yang tiba-tiba saja tidak enak.

Namun, walaupun seperti itu Jeni tetap menurut. Wanita itu menghampiri Josua dan duduk tidak jauh dari pria itu, wanita itu nampak menunduk karena tidak berani menatap wajah Josua.

"Ada apa, Om? Apa ada yang ingin Om bicarakan?" tanya Jeni dengan sopan.

"Menikahlah denganku, Jeni. Aku jamin kamu pasti akan bahagia."

Mata Jeni langsung membulat dengan sempurna, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Josua kepada dirinya.

Gadis itu sampai mengusap-usap telinganya, dia takut jika dirinya salah mendengar dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.

"Jeni, menikahlah denganku. Aku akan menjamin kehidupan kamu," ujar Josua dengan bersungguh-sungguh.

Tiba-tiba saja gadis itu bergidik ngeri ketika membayangkan harus menikah dengan Josua, karena walaupun pria itu sangat kaya, tetapi pria itu adalah ayah dari temannya sendiri.

"Idih! Nggak mau, Om. Jauh-jauh sana, aku masih suka yang muda."

Pria berusia tiga puluh enam tahun itu nampak kesal mendengar penolakan dari Jeni, tetapi pria itu berusaha untuk menahan emosinya.

"Yakin mau memilih yang masih muda daripada memilih aku?" tanya Josua.

Ah! Jeni merasa benar-benar kaget dengan Josua yang kembali bertanya kepada dirinya, sungguh dia merasa tidak percaya jika pria itu menanyakan hal seperti itu kepada dirinya.

"Iya, Om. Yakin, lagian Om itu ayahnya sahabat aku. Mana mungkin aku jadi ibu tiri bagi sahabat aku sendiri," ujar Jeni yang bingung harus menjawab apa.

"Yang muda itu belum tentu bisa membahagiakan kamu loh, beda dengan yang sudah berumur seperti aku," ujar Josua.

"Aih! Maaf, Om. Kayaknya Om mabok deh, Om itu pria kaya. Pasti banyak perempuan yang ingin menjadi istri Om, jadi jangan minta aku untuk jadi istri Om. Nanti nyesel," ujar Jeni.

"Tidak akan, menikahlah denganku, Jeni."

"Nggak, Om. Jeni takut, lagian Jeni masih kuliah. Jeni masih pengen ngelakuin banyak hal," ujar Jeni yang merasa semakin canggung saja berada di dekat pria itu.

"Aku tidak akan membatasi kegiatan kamu, Jeni. Aku ingin memberikan kamu kebahagiaan, bukan ingin mengekang kamu.''

"Maaf, Om. Jeni ngga bisa," jawab Jeni yang dengan cepat bangun dan hendak pergi dari dapur.

Namun, Josua juga ikut bangun dan menghalangi langkah dari wanita itu. Josua bahkan langsung menyudutkan Jeni sampai terpentok ke tembok, wajah Jeni sampai pias dibuatnya.

"Om, minggir dong, Om. Jeni mau masuk ke kamar," pinta Jeni.

Di dalam ruangan itu tiba-tiba saja dia merasa tidak ada oksigen, dia kesulitan untuk bernapas. Terlebih lagi dia harus melihat tubuh seksi Josua di hadapannya.

"Ngga bisa, kamu harus bilang iya dulu. Baru aku akan melepaskan kamu," ujar Josua.

Dengan bertingkah seperti itu, justru Josua semakin merasa dekat dengan mendiang istrinya. Karena ternyata, jika dilihat dari dekat, wajah Jeni benar-benar mirip dengan Juni.

Jeni yang merasa gugup dan juga takut akhirnya meluruhkan tubuhnya ke atas lantai, lalu wanita itu merangkak untuk menjauh dan langsung berlari menuju kamar Juliette.

"Ya ampun! Kenapa gadis itu konyol sekali?" tanya Josua yang melihat Jeni berlari seraya mengelus-elus dadanya.

Josua langsung tersenyum melihat tingkah dari Jeni, justru dengan bersikap seperti itu Jeni malah semakin mengingatkan dirinya kepada mendiang istrinya.

"Kamu begitu mirip dengan istriku, aku tidak akan melepaskan kamu, Jeni!" tekad Josua.

Terpopuler

Comments

kalea rizuky

kalea rizuky

kasian di nikahin karena mirip mantan istri

2024-09-21

0

Sintia Dewi

Sintia Dewi

kasian jeni dinikahi krna kesamaan dgn mendiang istrinya, klok jeni nantik tau betapa sakitnya dia

2024-04-19

7

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Semoga Jeni menolak,Kalo benerr Josua ikhlas biar dia berjuang terlebih dulu..

2024-02-13

3

lihat semua
Episodes
1 Jujur
2 Kaget
3 Tak Jadi Pergi
4 Kebiasaan yang Sama
5 Ajakan Untuk Menikah
6 Niat Jahat
7 Mabuk
8 Curhat
9 Biar aku, antar.
10 Ngomong dulu sama Juli, Om.
11 Dipecat
12 Ketahuan Ulah Josua
13 Meminta Restu
14 Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15 Aku sih, yes.
16 Bertemu Saingan
17 Pura-pura
18 Modus
19 Merasa Direndahkan
20 Ketakutan Jeni
21 Dewa Penolong
22 Terpesona
23 Oke, gue setuju.
24 Anterin Julian pulang, Om.
25 Mengadu
26 Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27 Om minta ini aja, boleh?
28 Juli, elu kenapa?
29 Come on, Mommy!
30 Kenapa ditutup mata akunya?
31 Aku mau punya adik lima.
32 Om sudah tidak sabar, Jeni.
33 Ke mana perginya, Jeni?
34 Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35 Daddy dulu, Dad kangen.
36 Nanti malem, pasti Juli bales.
37 Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38 Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39 Penasaran
40 Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41 Negoisasi
42 Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43 Sudah siap kerja?
44 Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45 Kalau hamil, terlalu beresiko.
46 Kok gue jadi sedih, ya?
47 Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48 Merasa Kasihan
49 Daddy! Kenapa diam?
50 Kamu nggak boleh ngomong juga.
51 Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52 Edukasi Kehamilan
53 Kadonya mana?
54 Tolong jaga putraku, Juli.
55 Kenapa aku dihukum?
56 Kesedihan John
57 Pesan Untuk John
58 Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59 Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60 Sering Kontraksi
61 Sedihnya Juliette
62 Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63 Kenapa mereka sangat tega?
64 Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65 Penjelasan
66 Nikah itu bukan mainan loh!
67 Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68 Kesel Tapi Demen
69 Kaget
70 Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71 Sudah dua bulan loh!
72 Pengakuan
73 Ungkapan Hati Juliette
74 Pergi
75 Cemburu Tanpa Alasan
76 Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77 Yes, aku mau.
78 Pengakuan Jia
79 Banyak Hal Yang Tak Terduga
80 Pengakuan Jeni
81 Otewe Sah
82 Sah Yang Bikin Resah (End)
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Jujur
2
Kaget
3
Tak Jadi Pergi
4
Kebiasaan yang Sama
5
Ajakan Untuk Menikah
6
Niat Jahat
7
Mabuk
8
Curhat
9
Biar aku, antar.
10
Ngomong dulu sama Juli, Om.
11
Dipecat
12
Ketahuan Ulah Josua
13
Meminta Restu
14
Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15
Aku sih, yes.
16
Bertemu Saingan
17
Pura-pura
18
Modus
19
Merasa Direndahkan
20
Ketakutan Jeni
21
Dewa Penolong
22
Terpesona
23
Oke, gue setuju.
24
Anterin Julian pulang, Om.
25
Mengadu
26
Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27
Om minta ini aja, boleh?
28
Juli, elu kenapa?
29
Come on, Mommy!
30
Kenapa ditutup mata akunya?
31
Aku mau punya adik lima.
32
Om sudah tidak sabar, Jeni.
33
Ke mana perginya, Jeni?
34
Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35
Daddy dulu, Dad kangen.
36
Nanti malem, pasti Juli bales.
37
Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38
Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39
Penasaran
40
Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41
Negoisasi
42
Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43
Sudah siap kerja?
44
Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45
Kalau hamil, terlalu beresiko.
46
Kok gue jadi sedih, ya?
47
Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48
Merasa Kasihan
49
Daddy! Kenapa diam?
50
Kamu nggak boleh ngomong juga.
51
Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52
Edukasi Kehamilan
53
Kadonya mana?
54
Tolong jaga putraku, Juli.
55
Kenapa aku dihukum?
56
Kesedihan John
57
Pesan Untuk John
58
Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59
Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60
Sering Kontraksi
61
Sedihnya Juliette
62
Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63
Kenapa mereka sangat tega?
64
Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65
Penjelasan
66
Nikah itu bukan mainan loh!
67
Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68
Kesel Tapi Demen
69
Kaget
70
Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71
Sudah dua bulan loh!
72
Pengakuan
73
Ungkapan Hati Juliette
74
Pergi
75
Cemburu Tanpa Alasan
76
Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77
Yes, aku mau.
78
Pengakuan Jia
79
Banyak Hal Yang Tak Terduga
80
Pengakuan Jeni
81
Otewe Sah
82
Sah Yang Bikin Resah (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!