Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?

Jeni sangat kesal sekali dengan apa yang dilakukan oleh Josua, dia juga begitu kesal dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Bisa-bisanya Josua mengatakan hal seperti itu kepada Jeni, wanita yang masih lajang.

Sepertinya otak Josua sudah tersiram tumpukan pasir, sehingga kini otak pria itu terasa ngeres dan perlu dibersihkan. Namun, Jeni tidak tahu cara membersihkan otak pria itu.

"Jangan berisik, Jeni. Lebih baik kita berbicara di dalam mobil saja," ujar Josua seraya menuntun Jeni untuk keluar dari dalam pemakaman dan menuntunnya menuju parkiran.

Sebenarnya Jeni merasa risih dengan perlakuan dari Josua, karena pria itu terkesan memaksa. Namun, Jeni bingung harus bagaimana kabur dari pria itu.

"Jeni mau pulang aja, Om." Jeni berusaha untuk keluar dari dalam mobil pria itu.

Namun, dengan cepat Josua mengunci pintu mobil tersebut. Tentu saja hal itu membuat Jeni tidak bisa turun dari dalam mobil itu, tiba-tiba saja gadis muda itu merasa ketakutan.

"Om mau ngapain? Kenapa pintu mobilnya pakai dia kunci segala?" tanya Jeni penuh dengan kecurigaan.

Josua terkekeh mendengar pertanyaan dari wanita itu, lalu dia memakaikan sabuk pengaman untuk Jeni. Wanita itu menatap Josua dengan penuh kewaspadaan.

"Om cuma mau bicara serius sama kamu, ngga ada maksud lain."

Ada rasa lega yang Jeni rasakan, karena dia sempat mengira jika pria yang sudah menduda selama dua puluh tahun itu akan melakukan hal yang tidak-tidak kepada dirinya.

"Kalau mau bicara ya, bicara aja. Ngga usah dikunci juga pintunya," ujar Jeni dengan bibirnya yang sudah mengerucut.

Josua tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Jeni, dia juga tertawa melihat bibir Jeni yang mengerucut. Kelakuan wanita itu benar-benar mirip dengan kelakuan mendiang istrinya.

Namun, tetap saja dia merasa banyak perbedaan antara Jeni dan juga Juni. Keduanya tidak bisa disamakan, karena memang keduanya merupakan manusia yang berbeda.

"Kalau pintunya ngga dikunci, kamu pasti kabur. Lagian aku ini bukan pria yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan, aku hanya ingin mengajak kamu untuk berbicara dengan serius," ujar Josua.

Walaupun Jeni berkata tidak mau menikah dengannya, tetapi Josua malah semakin menginginkan gadis itu. Terlebih lagi setelah mengetahui jika gadis itu sangat mandiri dan selalu berusaha untuk membiayai hidupnya sendiri.

Josua merasa jika Jeni selama ini pasti mengalami kesusahan, dia ingin membuat wanita itu bahagia dengan menikahinya.

"Baiklah, apa yang ingin Om bicarakan?" tanya Jeni seraya mencoba untuk menenangkan hatinya.

Karena jujur saja berdua-duaan dengan pria itu membuat dirinya takut, walaupun memang pria itu mengatakan tidak akan melakukan apa pun terhadap dirinya.

Karena zaman sekarang memang banyak pria yang terlihat baik tetapi nyatanya tidak baik, mereka mendekat tetapi hanya untuk nekat.

"Aku ingin membahas masalah pernikahan, aku serius mengajak kamu menikah. Apakah kamu bersedia?" tanya Josua.

Josua nampak memandang Jeni dengan tatapan penuh harap, karena jujur saja rasanya Josua tidak ingin melepaskan wanita itu. Dia ingin mengikat wanita itu dengan tali pernikahan.

Uuuh! Mendengar pertanyaan dari Josua, rasanya Jeni ingin sekali menampar mulut Josua. Karena pria itu kembali menanyakan hal yang sama, hal yang rasanya tidak ingin dia bahas.

"Oh ya ampun, Om! Jeni belum mau nikah, Jeni belum mau punya anak. Terlebih lagi Om adalah ayah dari temen Jeni, Jeni takut persahabatan Jeni dengan Juliette akan hancur berantakan."

Pertama, Josua adalah ayah dari sahabatnya. Sungguh Jeni akan merasa sangat lucu jika dia menikah dengan pria itu dan sahabatnya akan menjadi putri sambungnya.

Kedua, jika dia menikah, itu artinya dia harus berhubungan suami istri dengan Josua. Dia akan memiliki anak dan nantinya akan kerepotan, jika sudah seperti itu, pastinya wanita itu tidak akan bisa kuliah lagi, pikir Jeni.

"Nanti Om cari cara agar Juli mau nerima kamu jadi ibu sambungnya," ujar Josua.

Jeni langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil, dia seolah tidak mau memandang pria itu lagi. Pria yang dia rasa begitu keras kepala, karena begitu sulit untuk diajak berbicara.

Pria itu benar-benar tipe pria yang begitu pemaksa, jika ada maunya sepertinya harus dia dapatkan dengan segera tanpa tawar menawar.

"Terserah Om aja, Jeni mau pulang. Om itu pemaksa banget, terus kemarin apa maksudnya tuh borong semua dagangan aku?" tanya Jeni sedikit kesal tapi senang karena dagangannya laris manis.

Dia sungguh sangat senang saat mengecek m-banking miliknya yang sudah terisi penuh dengan uang, dia bahagia karena m-banking-nya memiliki banyak saldo.

"Biar kamu seneng, aku tuh tahu banget kalau kamu itu perempuan baik-baik. Kalau aku ngasih uang secara cuma-cuma pasti kamu akan menolak," ujar Josua.

Bener juga sih! Mana mungkin wanita muda itu mau menerima uang pemberian dari Josua jika secara cuma-cuma, kamu takutnya ada imbalan dari uang yang diberikan oleh pria tersebut.

Namun, dengan membeli semua barang dagangan milik Jeni, itu artinya pria itu membantu perekonomian Jeni dengan suka rela.

"Terima kasih atas kepeduliannya, tapi untuk saat ini Jeni mau pulang. Tolong anterin ya, Om. Jeni harus siap-siap kuliah," ujar Jeni.

Sebenarnya masih ada waktu untuk bersiap pergi kuliah, tetapi pada kenyataannya dia memang sudah tidak sanggup berlama-lama lagi bersama dengan Josua.

"Oke, akan aku antar. Tapi ingat, Om selalu serius dengan ucapan Om. Kalau kamu bersedia, kamu bisa langsung bilang."

"Hem," jawab Jeni hanya dengan deheman saja.

Pada akhirnya Josua mengantarkan Jeni ke kediaman sederhananya, setelah itu dia pulang ke kediaman William. Josua langsung tersenyum ketika dia melihat putrinya sedang duduk di ruang keluarga.

Pria itu dengan cepat menghampiri putrinya, dia duduk tepat di samping putrinya dan mengelus lembut rambut panjang putrinya tersebut.

"Juli, Daddy mau tanya sesuatu sama kamu. Tolong jawab dengan jujur," pinta Josua.

"Aih! Daddy kok aneh kaya gini, nggak biasanya loh datang-datang bilang mau nanya." Juliette menatap ayahnya dengan tatapan heran.

"Daddy serius, Daddy pengen nikah lagi. Apakah Juli keberatan jika Daddy menikah lagi?" tanya Josua.

Juliette begitu kaget mendengar apa yang dipertanyakan oleh ayahnya, matanya langsung membulat dengan sempurna dan bahkan bibirnya menganga dengan begitu lebar.

"Me--menikah lagi?" tanya Juliette.

Selama ini Josua tidak pernah dekat dengan wanita manapun, Juliette sempat berpikir jika ayahnya itu sudah mati rasa. Namun, sungguh dia begitu kaget ketika mendengar ayahnya bertanya seperti itu.

Juliette jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, wanita mana yang sudah bisa menaklukkan hati ayahnya tersebut.

"Yes, Honey. Apakah boleh?" tanya Josua harap-harap cemas.

Terpopuler

Comments

Lisa Halik

Lisa Halik

apakah julitte mau daddy nikah lagi

2024-02-07

1

Nendah Wenda

Nendah Wenda

😲😲terkejutkan juli kalau yang pengen nikahi sahabatnya jadi penasaran

2024-01-30

2

𝐙⃝🦜🍁 comink 🍁🦜

𝐙⃝🦜🍁 comink 🍁🦜

tentu boleh lah dad 🤭😂

2023-12-24

3

lihat semua
Episodes
1 Jujur
2 Kaget
3 Tak Jadi Pergi
4 Kebiasaan yang Sama
5 Ajakan Untuk Menikah
6 Niat Jahat
7 Mabuk
8 Curhat
9 Biar aku, antar.
10 Ngomong dulu sama Juli, Om.
11 Dipecat
12 Ketahuan Ulah Josua
13 Meminta Restu
14 Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15 Aku sih, yes.
16 Bertemu Saingan
17 Pura-pura
18 Modus
19 Merasa Direndahkan
20 Ketakutan Jeni
21 Dewa Penolong
22 Terpesona
23 Oke, gue setuju.
24 Anterin Julian pulang, Om.
25 Mengadu
26 Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27 Om minta ini aja, boleh?
28 Juli, elu kenapa?
29 Come on, Mommy!
30 Kenapa ditutup mata akunya?
31 Aku mau punya adik lima.
32 Om sudah tidak sabar, Jeni.
33 Ke mana perginya, Jeni?
34 Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35 Daddy dulu, Dad kangen.
36 Nanti malem, pasti Juli bales.
37 Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38 Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39 Penasaran
40 Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41 Negoisasi
42 Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43 Sudah siap kerja?
44 Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45 Kalau hamil, terlalu beresiko.
46 Kok gue jadi sedih, ya?
47 Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48 Merasa Kasihan
49 Daddy! Kenapa diam?
50 Kamu nggak boleh ngomong juga.
51 Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52 Edukasi Kehamilan
53 Kadonya mana?
54 Tolong jaga putraku, Juli.
55 Kenapa aku dihukum?
56 Kesedihan John
57 Pesan Untuk John
58 Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59 Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60 Sering Kontraksi
61 Sedihnya Juliette
62 Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63 Kenapa mereka sangat tega?
64 Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65 Penjelasan
66 Nikah itu bukan mainan loh!
67 Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68 Kesel Tapi Demen
69 Kaget
70 Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71 Sudah dua bulan loh!
72 Pengakuan
73 Ungkapan Hati Juliette
74 Pergi
75 Cemburu Tanpa Alasan
76 Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77 Yes, aku mau.
78 Pengakuan Jia
79 Banyak Hal Yang Tak Terduga
80 Pengakuan Jeni
81 Otewe Sah
82 Sah Yang Bikin Resah (End)
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Jujur
2
Kaget
3
Tak Jadi Pergi
4
Kebiasaan yang Sama
5
Ajakan Untuk Menikah
6
Niat Jahat
7
Mabuk
8
Curhat
9
Biar aku, antar.
10
Ngomong dulu sama Juli, Om.
11
Dipecat
12
Ketahuan Ulah Josua
13
Meminta Restu
14
Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15
Aku sih, yes.
16
Bertemu Saingan
17
Pura-pura
18
Modus
19
Merasa Direndahkan
20
Ketakutan Jeni
21
Dewa Penolong
22
Terpesona
23
Oke, gue setuju.
24
Anterin Julian pulang, Om.
25
Mengadu
26
Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27
Om minta ini aja, boleh?
28
Juli, elu kenapa?
29
Come on, Mommy!
30
Kenapa ditutup mata akunya?
31
Aku mau punya adik lima.
32
Om sudah tidak sabar, Jeni.
33
Ke mana perginya, Jeni?
34
Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35
Daddy dulu, Dad kangen.
36
Nanti malem, pasti Juli bales.
37
Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38
Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39
Penasaran
40
Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41
Negoisasi
42
Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43
Sudah siap kerja?
44
Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45
Kalau hamil, terlalu beresiko.
46
Kok gue jadi sedih, ya?
47
Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48
Merasa Kasihan
49
Daddy! Kenapa diam?
50
Kamu nggak boleh ngomong juga.
51
Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52
Edukasi Kehamilan
53
Kadonya mana?
54
Tolong jaga putraku, Juli.
55
Kenapa aku dihukum?
56
Kesedihan John
57
Pesan Untuk John
58
Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59
Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60
Sering Kontraksi
61
Sedihnya Juliette
62
Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63
Kenapa mereka sangat tega?
64
Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65
Penjelasan
66
Nikah itu bukan mainan loh!
67
Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68
Kesel Tapi Demen
69
Kaget
70
Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71
Sudah dua bulan loh!
72
Pengakuan
73
Ungkapan Hati Juliette
74
Pergi
75
Cemburu Tanpa Alasan
76
Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77
Yes, aku mau.
78
Pengakuan Jia
79
Banyak Hal Yang Tak Terduga
80
Pengakuan Jeni
81
Otewe Sah
82
Sah Yang Bikin Resah (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!