Kaget

"Kok diem aja? Ngga mau masuk ke kamar gue?" tanya Juliette yang melihat sahabatnya itu hanya diam dengan mata yang membulat dengan sempurna.

Jeni menolehkan wajahnya ke arah Juliette, dia tersenyum canggung ke arah wanita itu lalu kembali mengedarkan pandangannya.

"Gila! Kamar elu luas banget, barang-barangnya juga mewah banget. Gue jadi malu deh temenan sama elu," ujar Jeni dengan jujur.

Selama ini dia begitu menghindari orang-orang kaya, karena menurut Jeni, orang kaya itu sangatlah sombong dan selalu berkata dan berbuat semaunya.

Contohnya seperti Jingga, karena merasa menjadi murid yang paling kaya, gadis itu selalu bersikap sombong dan meremehkan orang lain.

"Tapi, gue nggak malu temenan sama elu. Justru gue bangga karena punya temen yang tulus banget kaya elu," ujar Juliette.

Ya, Jeni lebih dari sekedar sahabat bagi Juliette. Karena Jeni terkadang bisa menjadi sahabat bagi dirinya, terkadang bisa menjadi Ibu yang begitu perhatian terhadap anaknya, terkadang juga Jeni sudah seperti teman bergulat bagi dirinya.

"Uuuh! Elu buat gue terharu," ujar Jeni.

"Udah ah, ngga usah lebay. Kita masuk, terus kita coba gaun buat besok malam."

Juliette menuntun Jeni untuk masuk ke dalam kamarnya, lalu dia masuk ke dalam walk in closet dan mengambil banyak gaun untuk dicoba oleh sahabatnya, Jeni.

Beruntung Jeni dan juga Juliette memiliki bentuk tubuh yang sama, tinggi tubuh keduanya juga hampir sama.

"Nih! Gue bawain banyak gaun malam, elu coba aja sendiri. Gue mau ke kamar mandi dulu, perut gue mules," ujar Juliette.

Juliette nampak mengelus perutnya, dia sakit perut dan sepertinya ada yang harus segera dia tuntaskan di dalam kamar mandi.

"Eh? Masa gue ditinggal sendirian!" protes Jeni.

"Ck! Gue mau boker, perut gue sakit ini.''

"Iya, iya. Pergi sana, gue cobain gaunnya, ya?" izin Jeni.

"Iya, buka aja tuh kemeja sama celana jeans yang elu pake. Biar gaunnya cantik pas dipake," ujar Juliette seraya berlari menuju kamar mandi karena perutnya terasa begitu mulas.

"Iya," jawab Jeni.

Jeni memandang banyaknya gaun malam yang ada di atas tempat tidur, dari mulai warna putih hitam sampai warna marun. Begitu banyak pilihan gaun malam yang begitu indah sekali.

"Buset, ini cantik-cantik bener. Gue coba yang ini ah," ujar Jeni seraya mengambil gaun malam berwarna navy.

Jeni membuka kemeja yang dia pakai, dia juga membuka celana jeans yang dia pakai. Wanita itu hanya menyisakan bra dan juga segitiga pengamannya.

"Gaunnya cantik banget, pasti gue juga cantik pake gaun ini," ujar Jeni seraya menatap gaun malam yang dia pegang.

Wanita itu nampak menurunkan resleting gaun tersebut, lalu dia terlihat hendak mencoba gaun itu. Namun, hal itu dia urungkan karena tiba-tiba saja pintu kamar tersebut terbuka.

Jeni begitu kaget karena ada seorang pria yang hendak masuk ke dalam kamar itu, pria yang terlihat tampan dan matang.

"Anda, siapa? Kenapa berani banget masuk ke dalam kamar seorang gadis tanpa ngetuk pintu?!" teriak Jeni.

"Saya adalah--"

Jeni dengan cepat memungkas ucapan dari pria itu, karena pria itu terlihat hendak melangkahkan kakinya untuk menghampiri dirinya.

"Jangan masuk! Diem dulu di situ!" teriak Jeni yang tanpa sadar langsung melemparkan gaun yang sedang dia pegang.

Lalu, wanita itu melompat ke atas tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Pria yang tadinya hendak masuk itu malah berdiri di ambang pintu, pria itu menatap Jeni tanpa berkedip.

"Ck! Tolong anda keluar dulu! Saya mau memakai baju, lagian anda itu siapa sih? Kenapa kurang ajar sekali? Asal masuk-masuk aja ke dalam kamar orang! Pergi sana! Jangan lupa tutup pintunya!" teriak Jeni dengan kesal.

Pria itu masih terdiam seraya menatap wajah Jeni, Jeni yang merasa kesal langsung mengambil bantal dan melemparkannya ke arah pria itu.

Bukan hanya bantal saja, Jeni yang merasa kesal juga melemparkan vas bunga yang ada di atas nakas. Beruntung pria itu dengan sigap menangkap vas bunga tersebut.

"Ah! Iya, maaf. Saya akan pergi," ujar pria itu yang dengan cepat menutup pintu kamar tersebut.

"Huh! Kaget gue, kenapa tuh orang kurang ajar banget ya! Kalau mau masuk tuh harusnya ketok pintu dulu, jadinya kan' ngga kaya gini kejadiannya. Malu kan' gue," ujar Jeni seraya turun dari tempat tidur.

Wanita itu tidak jadi mencoba gaun-gaun cantik yang dibawakan oleh Juliette, tetapi dia kembali mengenakan pakaiannya.

"Jen, elu kenapa tadi teriak-teriak?" tanya Juliette yang sudah selesai menuntaskan hajatnya.

"Itu, Jen. Tadi gue mau cobain baju, malah ada cowok asal masuk aja. Kok bisa sih ada orang kurang ajar kaya gitu? Om, elu ya?" tanya Jeni.

Juliette langsung mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan dari sahabatnya.

"Om? Gue ngga punya om? Yang tinggal di rumah ini cuma ada satu cowok, daddy gue!" jawab Juliette.

"Tapi, Jul. Bokap elu lagi di luar kota, terus tadi siapa yang mau masuk ke kamar ini?" tanya Jeni.

"Entahlah, kalau security ngga bakalan mungkin. Tukang kebun juga ngga mungkin, apa bokap gue ya, ngga jadi pergi?" tebak Jeni.

"Ngga mungkin bokap elu, orang masih muda banget kok. Lebih cocok jadi om elu, Jul."

"Hus! Bokap gue juga masih muda tau, soalnya dulu dia nikah sama mom di usianya yang masih sangat muda," ujar Juliette dengan jujur.

"Maksudnya, bonyok elu nikah karena udah--"

Jeni tidak meneruskan ucapannya, tetapi wanita muda itu malah mengelus-elus perutnya. Jeni seolah mengatakan kalau kedua orang tua Juliette itu menikah karena ibu dari Juliette sudah mengandung terlebih dahulu.

"Iya, mereka itu MBA. Bokap sama nyokap nikah di usia enam belas tahun, jadinya pas nyokap ngelahirin gue, dia yang masih muda dan belum berpengalaman mengalami pendarahan hebat. Nyokap meninggal pas lahiran gue," ujar Juliette dengan jujur.

Jeni merasa begitu iba, dia bahkan langsung memeluk Juliette. Dia mengusap-usap punggung sahabatnya itu, kasihan sekali pikirnya karena tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.

Walaupun Jeni merupakan orang miskin, tetapi dia masih sempat merasakan kasih sayang kedua orang tua yang utuh. Hingga adanya kecelakaan kerja membuat kedua orang tuanya meninggal di saat dia masih sekolah SMA.

"Yang sabar ya, Jul."

"Hem, sekarang mending kita keluar dulu. Gue mau liat keluar, sebenarnya siapa yang mau masuk kamar. Apa beneran bokap gue yang ngga jadi pergi?" ujar Juliette.

Karena rasanya tidak mungkin jika ayahnya yang datang, karena pria itu berkata akan pergi ke luar kota dan akan berada di luar kota dalam beberapa hari.

"Hem, kita keluar dulu aja," ujar Jeni.

Terpopuler

Comments

Nana Niez

Nana Niez

sepertinya seru

2024-04-04

1

Putri Minwa

Putri Minwa

👍👍👍

2024-04-01

3

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Umur 16 tahun udah nikah, Sekarang umur Juliete 20 tahun, Berarti bokapnya sekarang 36 tahun ya..

2024-02-13

3

lihat semua
Episodes
1 Jujur
2 Kaget
3 Tak Jadi Pergi
4 Kebiasaan yang Sama
5 Ajakan Untuk Menikah
6 Niat Jahat
7 Mabuk
8 Curhat
9 Biar aku, antar.
10 Ngomong dulu sama Juli, Om.
11 Dipecat
12 Ketahuan Ulah Josua
13 Meminta Restu
14 Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15 Aku sih, yes.
16 Bertemu Saingan
17 Pura-pura
18 Modus
19 Merasa Direndahkan
20 Ketakutan Jeni
21 Dewa Penolong
22 Terpesona
23 Oke, gue setuju.
24 Anterin Julian pulang, Om.
25 Mengadu
26 Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27 Om minta ini aja, boleh?
28 Juli, elu kenapa?
29 Come on, Mommy!
30 Kenapa ditutup mata akunya?
31 Aku mau punya adik lima.
32 Om sudah tidak sabar, Jeni.
33 Ke mana perginya, Jeni?
34 Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35 Daddy dulu, Dad kangen.
36 Nanti malem, pasti Juli bales.
37 Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38 Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39 Penasaran
40 Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41 Negoisasi
42 Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43 Sudah siap kerja?
44 Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45 Kalau hamil, terlalu beresiko.
46 Kok gue jadi sedih, ya?
47 Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48 Merasa Kasihan
49 Daddy! Kenapa diam?
50 Kamu nggak boleh ngomong juga.
51 Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52 Edukasi Kehamilan
53 Kadonya mana?
54 Tolong jaga putraku, Juli.
55 Kenapa aku dihukum?
56 Kesedihan John
57 Pesan Untuk John
58 Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59 Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60 Sering Kontraksi
61 Sedihnya Juliette
62 Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63 Kenapa mereka sangat tega?
64 Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65 Penjelasan
66 Nikah itu bukan mainan loh!
67 Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68 Kesel Tapi Demen
69 Kaget
70 Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71 Sudah dua bulan loh!
72 Pengakuan
73 Ungkapan Hati Juliette
74 Pergi
75 Cemburu Tanpa Alasan
76 Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77 Yes, aku mau.
78 Pengakuan Jia
79 Banyak Hal Yang Tak Terduga
80 Pengakuan Jeni
81 Otewe Sah
82 Sah Yang Bikin Resah (End)
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Jujur
2
Kaget
3
Tak Jadi Pergi
4
Kebiasaan yang Sama
5
Ajakan Untuk Menikah
6
Niat Jahat
7
Mabuk
8
Curhat
9
Biar aku, antar.
10
Ngomong dulu sama Juli, Om.
11
Dipecat
12
Ketahuan Ulah Josua
13
Meminta Restu
14
Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15
Aku sih, yes.
16
Bertemu Saingan
17
Pura-pura
18
Modus
19
Merasa Direndahkan
20
Ketakutan Jeni
21
Dewa Penolong
22
Terpesona
23
Oke, gue setuju.
24
Anterin Julian pulang, Om.
25
Mengadu
26
Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27
Om minta ini aja, boleh?
28
Juli, elu kenapa?
29
Come on, Mommy!
30
Kenapa ditutup mata akunya?
31
Aku mau punya adik lima.
32
Om sudah tidak sabar, Jeni.
33
Ke mana perginya, Jeni?
34
Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35
Daddy dulu, Dad kangen.
36
Nanti malem, pasti Juli bales.
37
Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38
Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39
Penasaran
40
Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41
Negoisasi
42
Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43
Sudah siap kerja?
44
Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45
Kalau hamil, terlalu beresiko.
46
Kok gue jadi sedih, ya?
47
Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48
Merasa Kasihan
49
Daddy! Kenapa diam?
50
Kamu nggak boleh ngomong juga.
51
Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52
Edukasi Kehamilan
53
Kadonya mana?
54
Tolong jaga putraku, Juli.
55
Kenapa aku dihukum?
56
Kesedihan John
57
Pesan Untuk John
58
Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59
Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60
Sering Kontraksi
61
Sedihnya Juliette
62
Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63
Kenapa mereka sangat tega?
64
Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65
Penjelasan
66
Nikah itu bukan mainan loh!
67
Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68
Kesel Tapi Demen
69
Kaget
70
Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71
Sudah dua bulan loh!
72
Pengakuan
73
Ungkapan Hati Juliette
74
Pergi
75
Cemburu Tanpa Alasan
76
Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77
Yes, aku mau.
78
Pengakuan Jia
79
Banyak Hal Yang Tak Terduga
80
Pengakuan Jeni
81
Otewe Sah
82
Sah Yang Bikin Resah (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!