Niat Jahat

Malam ini Jeni tidak bisa tertidur dengan pulas, karena dia terus saja teringat akan apa yang dikatakan oleh Josua. Rasanya apa yang dikatakan oleh Josua dalam mimpi buruk bagi dirinya.

Bisa-bisanya pria itu mengajak dirinya untuk menikah, padahal dia dan juga ayah dari Juliette itu tidak pernah saling kenal. Bahkan, mereka baru kali ini bertemu. Rasanya ajakan untuk menikah itu adalah hal yang begitu tergesa.

Alhasil, pagi harinya Jeni terlihat begitu lesu. Wanita itu nampak mengantuk dan terlihat tidak bergairah dalam menghadapi harinya, saat diajak ke pemakaman saja, Jeni malah terus saja menguap.

Juliette sampai merasa aneh dibuatnya, wanita itu pada akhirnya bertanya kepada sahabatnya tentang apa yang sudah terjadi.

"Jen, elu itu kenapa sih sebenarnya? Tadi malem elu ngga bisa tidur, ya? Kok elu kaya lelah dan ngantuk gitu?" tanya Juliette.

"Eh? Anu, gue emang ngga bisa tidur. Ngga biasa pake AC soalnya," jawab Jeni asal.

Rasanya dia tidak mungkin mengatakan kepada sahabatnya kalau Josua tadi malam mengajak dirinya untuk menikah, karena itu adalah pernyataan yang begitu konyol dari Josua.

"Ya ampun! Harusnya elu ngomong sama gue," ujar Juliette merasa bersalah.

Berbeda dengan Josua, pria itu memang sedang berbicara dengan mendiang istrinya. Karena setiap kali dia datang ke pusara terakhir istrinya itu, Josua selalu saja menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya dan putrinya.

Namun, sesekali Josua akan menolehkan wajahnya ke arah Jeni. Tentu saja hal itu membuat Jeni merasa tidak nyaman, Jeni jadinya lebih sering memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Udah ngga apa-apa, oiya, Jul. Bagaimana dengan kadonya?" tanya Jeni.

Dia tidak punya uang untuk membeli kado, bahkan sejak kemarin dia tidak berjualan online karena terlalu sibuk memikirkan Josua dengan tingkah anehnya.

"Selepas dari pemakaman kita pergi ke toko buat beli kado," jawab Josua.

Jeni tidak mengatakan apa pun lagi, karena tatapan pria itu terus saja tertuju kepadanya. Jeni sungguh tidak nyaman, walaupun memang wajah ayah Juliette itu sangatlah tampan.

"Ngga usah ke toko, Dad. Aku mau ngasih dia kado tas aku aja yang udah kepake, sayang kalau ngasih barang baru sama orang kaya gitu."

"Terserah," ujar Josua pada akhirnya. Karena seperti biasanya, pria itu akan menuruti apa pun keinginan dari putrinya.

Setelah mengunjungi pusara terakhir istrinya, Josua mengajak Juliette untuk pulang. Jeni dan Juliette nampak asik mengobrol dan melakukan apa pun yang keduanya mau.

Berbeda dengan Josua, walaupun pria itu berkata ingin libur dari pekerjaannya, tetapi nyatanya pria itu menghabiskan waktunya di dalam ruang kerjanya saja.

Pria itu keluar dari dalam ruang kerjanya karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dia ingin menemui putrinya dan juga menemui Jeni.

"Kalian sudah siap?" tanya Josua ketika dia masuk ke dalam kamar Juliette.

Jeni mengelus dadanya, karena dia baru saja selesai mengenakan gaun malam yang disiapkan oleh Juliette.

"Sudah dong, Dad. Kita berdua bahkan udah cantik," jawab Juliette.

"Hem! Sangat cantik," ujar Josua seraya menatap wajah Jeni.

Gadis itu memakai gaun malam dengan warna yang sama dengan putrinya, hanya beda model saja. Gaun itu memang nampak menutupi tubuh Jeni, tetapi wanita itu benar-benar terlihat cantik dan juga seksi.

"Oiya, Sayang. Biar Daddy yang antar," ujar Josua. "Kalian tunggu sebentar, Dad ganti baju dulu."

"Dad, tidak usah. Kami bisa minta tolong untuk diantarkan kepada pak sopir," ujar Juliette.

"Tidak mau diantar, itu artinya Daddy batal mengizinkan."

"Daddy!" protes Juliette.

"Keputusan Daddy tidak bisa diganggu gugat," ujar Josua.

"Oke," jawab Juliette menyerah.

Josua pada akhirnya keluar dari dalam kamar putrinya, lalu dia berganti pakaian dan dengan cepat kembali menemui Jeni dan juga Juliette.

"Come on, Baby!" ujar Josua.

"Yes, Daddy!" jawab Juliette.

Josua mengantarkan putrinya dan juga Jeni menuju kediaman Jingga, pria itu hanya mengantarkan putrinya ada sahabatnya itu sampai pintu gerbang rumah Jingga.

"Waktu kalian hanya satu jam, nanti Daddy jemput lagi."

"Hem!" jawab Juliette yang merasa kebebasannya dirampas oleh ayahnya tersebut.

Juliette nampak turun terlebih dahulu dari mobil ayahnya, setelah itu barulah Jeni yang nampak hendak turun. Namun, Josua mencekal pergelangan tangan Jeni dan berbisik tepat di telinga wanita itu.

"Aku tidak main-main dengan ajakan aku untuk menikah, jika sudah setuju segera kabari aku."

Gleg!

Rasanya untuk menelan ludahnya saja terasa susah, seperti ada gundu di dalam leher Jeni. Terlebih lagi saat dia menolehkan wajahnya ke arah Josua, rasanya dia tidak sanggup menatap wajah tampan pria itu.

"Jeni," panggil Josua lirih.

"Tapi Jeni belum mau menikah, Om. Maaf," jawab Jeni yang dengan cepat menepis tangan Josua dengan lembut dan turun dari mobil mewah itu.

Josua hanya bisa menghela napas berat saat mendengar jawaban dari Jeni, setelah istrinya meninggal Josua tidak pernah mendekati wanita manapun.

Justru di luaran sana banyak sekali wanita yang mencoba untuk mendekati dirinya, tetapi pria itu terlalu mencintai istrinya. Josua mulai berpikir, apakah dia harus bersikap seperti anak abege agar Jeni tidak terlihat ketakutan saat berinteraksi dengan dirinya.

"Bokap gue ngomong apa?" tanya Juliette ketika sahabatnya itu sudah turun dari mobil ayahnya.

"Ehm! Anu, katanya kita ngga boleh lama-lama. Nanti dia marah," ujar Jeni asal.

"Haish! Sekalinya diizinin tapi ngga bebas," ujar Juliette penuh protes.

"Udah, yang penting kita bisa datang," ujar Jeni menenangkan hati sahabatnya.

Jeni dan juga Juliette akhirnya masuk ke dalam rumah Jingga, wanita itu sampai terkaget-kaget saat melihat penampilan dari keduanya. Jingga tidak menyangka jika kedua orang yang selalu dia sepelekan itu kini bisa berpenampilan memukau

Bahkan, penampilan dari keduanya mengalahkan penampilan dari Jingga. Jingga bahkan bisa melihat jika baju yang dikenakan oleh keduanya itu sangatlah mahal.

"Kenapa kalian datang dengan gaun yang--"

"Udah ngga usah banyak omong, ini kado dari gue. Selamat ulang tahun, ya! Semoga setelah bertambahnya usia, elu ngga banyak omong lagi. Cape gue nyium bau mulut elu," ujar Juliette.

Sontak saja Jingga terlihat begitu kesal dengan apa yang dikatakan oleh Juliette, karena bisa-bisanya wanita itu berkata seperti itu kepada dirinya.

"Mulut elu tuh yang harus dicuci biar ngga bau, gue itu--"

"Jingga, selamat ulang tahun. Ini kado dari gue," ujar Jeni memungkas ucapan Jingga. Karena takutnya Juliette malah bertengkar dengan Jingga.

"Oke! Kalian nikmatilah hidangan yang ada, bentar lagi juga kita tiup lilin," ujar Jingga.

"Oke," ujar Jeni yang langsung mengajak Juliette untuk menikmati hidangan yang ada di sana.

Setelah melihat kepergian Jeni dan Juliette, Jingga bahkan langsung membuka kado yang diberikan oleh kedua orang tersebut. Matanya langsung membulat karena ternyata kadonya adalah tas dan juga sepatu mahal.

"Gila! Apa mungkin mereka merampok tas dan sepatu ini?" ujar Jingga tidak percaya karena keduanya membawa kado ulang tahun yang berharga baginya.

Wanita itu nampak kesal, tidak lama kemudian dia tersenyum licik karena memiliki rencana jahat untuk keduanya.

"Lihat saja, Jeni, Juli. Elu berdua bakalan gue kerjain," ujar Jingga.

Terpopuler

Comments

sherly

sherly

kalo jadi jeni juga bakalan kesel, baru ketemu dah maksa untuk meried, sabar om jgn buat jeni migran mikirin kelakuan om... heheheh

2024-05-05

5

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

maksa banget..🙄🙄

2024-02-13

3

Nendah Wenda

Nendah Wenda

memang orang udah jahat gak bakal bersyukur apa yang di kasih orang

2024-01-29

2

lihat semua
Episodes
1 Jujur
2 Kaget
3 Tak Jadi Pergi
4 Kebiasaan yang Sama
5 Ajakan Untuk Menikah
6 Niat Jahat
7 Mabuk
8 Curhat
9 Biar aku, antar.
10 Ngomong dulu sama Juli, Om.
11 Dipecat
12 Ketahuan Ulah Josua
13 Meminta Restu
14 Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15 Aku sih, yes.
16 Bertemu Saingan
17 Pura-pura
18 Modus
19 Merasa Direndahkan
20 Ketakutan Jeni
21 Dewa Penolong
22 Terpesona
23 Oke, gue setuju.
24 Anterin Julian pulang, Om.
25 Mengadu
26 Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27 Om minta ini aja, boleh?
28 Juli, elu kenapa?
29 Come on, Mommy!
30 Kenapa ditutup mata akunya?
31 Aku mau punya adik lima.
32 Om sudah tidak sabar, Jeni.
33 Ke mana perginya, Jeni?
34 Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35 Daddy dulu, Dad kangen.
36 Nanti malem, pasti Juli bales.
37 Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38 Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39 Penasaran
40 Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41 Negoisasi
42 Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43 Sudah siap kerja?
44 Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45 Kalau hamil, terlalu beresiko.
46 Kok gue jadi sedih, ya?
47 Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48 Merasa Kasihan
49 Daddy! Kenapa diam?
50 Kamu nggak boleh ngomong juga.
51 Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52 Edukasi Kehamilan
53 Kadonya mana?
54 Tolong jaga putraku, Juli.
55 Kenapa aku dihukum?
56 Kesedihan John
57 Pesan Untuk John
58 Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59 Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60 Sering Kontraksi
61 Sedihnya Juliette
62 Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63 Kenapa mereka sangat tega?
64 Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65 Penjelasan
66 Nikah itu bukan mainan loh!
67 Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68 Kesel Tapi Demen
69 Kaget
70 Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71 Sudah dua bulan loh!
72 Pengakuan
73 Ungkapan Hati Juliette
74 Pergi
75 Cemburu Tanpa Alasan
76 Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77 Yes, aku mau.
78 Pengakuan Jia
79 Banyak Hal Yang Tak Terduga
80 Pengakuan Jeni
81 Otewe Sah
82 Sah Yang Bikin Resah (End)
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Jujur
2
Kaget
3
Tak Jadi Pergi
4
Kebiasaan yang Sama
5
Ajakan Untuk Menikah
6
Niat Jahat
7
Mabuk
8
Curhat
9
Biar aku, antar.
10
Ngomong dulu sama Juli, Om.
11
Dipecat
12
Ketahuan Ulah Josua
13
Meminta Restu
14
Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15
Aku sih, yes.
16
Bertemu Saingan
17
Pura-pura
18
Modus
19
Merasa Direndahkan
20
Ketakutan Jeni
21
Dewa Penolong
22
Terpesona
23
Oke, gue setuju.
24
Anterin Julian pulang, Om.
25
Mengadu
26
Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27
Om minta ini aja, boleh?
28
Juli, elu kenapa?
29
Come on, Mommy!
30
Kenapa ditutup mata akunya?
31
Aku mau punya adik lima.
32
Om sudah tidak sabar, Jeni.
33
Ke mana perginya, Jeni?
34
Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35
Daddy dulu, Dad kangen.
36
Nanti malem, pasti Juli bales.
37
Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38
Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39
Penasaran
40
Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41
Negoisasi
42
Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43
Sudah siap kerja?
44
Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45
Kalau hamil, terlalu beresiko.
46
Kok gue jadi sedih, ya?
47
Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48
Merasa Kasihan
49
Daddy! Kenapa diam?
50
Kamu nggak boleh ngomong juga.
51
Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52
Edukasi Kehamilan
53
Kadonya mana?
54
Tolong jaga putraku, Juli.
55
Kenapa aku dihukum?
56
Kesedihan John
57
Pesan Untuk John
58
Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59
Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60
Sering Kontraksi
61
Sedihnya Juliette
62
Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63
Kenapa mereka sangat tega?
64
Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65
Penjelasan
66
Nikah itu bukan mainan loh!
67
Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68
Kesel Tapi Demen
69
Kaget
70
Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71
Sudah dua bulan loh!
72
Pengakuan
73
Ungkapan Hati Juliette
74
Pergi
75
Cemburu Tanpa Alasan
76
Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77
Yes, aku mau.
78
Pengakuan Jia
79
Banyak Hal Yang Tak Terduga
80
Pengakuan Jeni
81
Otewe Sah
82
Sah Yang Bikin Resah (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!