Dipecat

Saat diantarkan ke rumah sederhana peninggalan ibunya, Jeni sempat kaget karena pria matang itu tahu di mana Jeni tinggal. Saat Jeni bertanya, pria itu hanya berkata bahwa Josua mengetahui apa pun tentang Jeni.

Jeni sampai bergidik ngeri, dia takut jika Josua bahkan mengetahui berapa ukuran dadanya. Namun, jika mengingat Josua memang pernah melihat tubuhnya yang hampir polos, rasanya sangat wajar jika pria itu mengetahui akan hal itu.

Ah! Masa bodo, pikir Jeni. Toh pria itu tidak mungkin melakukan kejahatan, selain dirinya adalah sahabat dari Juliette, Josua juga merupakan orang yang terpandang.

Tidak mungkin orang terkadang ingin melakukan kesalahan, karena reputasinya bisa hancur dalam seketika. Bahkan, perusahaan besar milik keluarga William bisa hancur berantakan gara-gara ulahnya itu.

"Beristirahatlah, jangan pergi keluar rumah." Josua berpesan sebelum Jeni masuk ke dalam rumahnya.

Uuh! Josua terlihat begitu perhatian sekali terhadap Jeni, tetapi wanita itu tidak merasa kegeeran. Terlebih lagi Josua memang sedang gencar mencari celah untuk mendekati dirinya, Jeni tidak akan terbuai begitu saja.

"Ya nggaklah, Om. Aku nggak bakalan keluar, soalnya aku mau dagang."

Josua paham dengan apa yang dikatakan oleh Jeni, karena pria itu sudah mendengar dari asisten pribadinya bahwa Jeni merupakan penjual baju online.

Gadis itu akan menjual berbagai jenis baju, mulai dari kaos sampai baju daster. Semuanya akan dia jual, yang terpenting menghasilkan uang yang halal bagi wanita itu.

Bahkan, Josua sempat mencari tahu akun penjualan milik Jeni. Ternyata wanita itu menjual lingerie seksi ketika dia melakukan live, tetapi wanita itu tetap memakai baju sopan dan hanya mempromosikan dagangannya.

"Hem! Dagang lebih bagus, mau aku bantuin?" tanya Josua.

Jeni nampak terdiam sesaat, jika Josua membantu dirinya, itu artinya pria itu tidak akan pulang. Jeni pasti akan kerepotan jika pria itu tetap ada di sampingnya.

Selain itu, Jeni benar-benar merasa tidak nyaman saat berada di dekat pria itu. Jeni merasa ada sebuah tali yang akan mengikat dia kapan saja dengan sikap dari Josua itu.

"Boleh, Om. Tapi bantu doa aja, oke?" ujar Jeni.

Josua terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Jeni, bisa-bisanya tadi itu mau minta dirinya untuk membantu doa saja. Padahal, dia adalah orang kaya. Jika Jeni meminta modal kepada dirinya saja, Josua akan memberikannya.

"Oke, aku doakan semoga dagangan kamu laris manis. Biar kamu banyak duit dan bisa makan enak," ujar Josua dengan bersungguh-sungguh.

"Haish! Makasih doanya, Om. Tahu aja kalau aku jarang makan enak, pulang gih! Aku males lama-lama liat wajah Om," ujar Jeni.

"Kenapa? Om itu ganteng banget loh, kalau pake baju SMA juga masih pantes," ujar Josua membanggakan dirinya.

"Ieeeeew! Om kepedean, Om ganteng sih. Tapi bikin resah, dah ah. Jeni masuk dulu," ujar Jeni yang dengan cepat masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya dengan rapat.

"Dasar gadis Nakal!" ujar Josua yang langsung pergi meninggalkan Jeni.

Ada hal yang lebih penting dan harus dia lakukan, dia ingin bertemu dengan ayahnya Jingga di sebuah Kafe yang ada di dekat perusahaan William.

Pria itu sudah memberitahukan kepada Joni bahwa putrinya yang bernama Jingga itu sudah membuat kesalahan fatal, Jingga memberikan minuman beralkohol kepada Jeni dan juga Juliette.

"Tuan, tolong maafkan putri saya." Joni langsung menghampiri Josua ketika pria itu masuk ke dalam Kafe.

"Maaf, perbuatan putri anda tidak bisa dimaafkan. Putri anda juga terlihat sangat berkuasa dengan menggunakan jabatan anda, jadi... anda saya pecat." Josua berkata dengan begitu tegas.

Josua memang terkenal sebagai seorang pengusaha yang dingin, dia tidak pernah bersikap ramah dengan orang yang sudah mengecewakan dirinya.

Dia bisa bersikap ramah kepada klien ataupun lawan bisnisnya, tetapi dia akan sangat tegas ketika mengambil keputusan. Apalagi dalam menghadapi seorang penghianat, Josua akan sangat tegas dalam memberikan hukuman.

Jika pria itu sudah mengatakan A, maka keputusan pria itu tidak akan bisa dirubah menjadi B.

"Tuan, saya mohon berikan saya kesempatan untuk bekerja di tempat anda. Saya janji akan membawa putri saya untuk berlutut di kaki anda dan juga di kaki putri anda," ujar Joni.

"Maaf, saya tidak akan bisa memberikan kesempatan. Satu hal yang harus kamu syukuri, Saya tidak mem-blacklist kamu dari perusahaan."

"Tuan," panggil Joni lirih.

"Maaf, besok datanglah ke kantor dan benahi barang-barangmu. Aku sudah tidak memerlukan tenaga anda lagi," ujar Josua.

Joni nampak syok, pria itu sampai jatuh terduduk karena begitu kaget. Sedangkan Josua langsung pergi dari Kafe itu, dia segera melajukan mobilnya menuju kediaman William.

Dia ingin melihat keadaan putrinya, apakah sudah lebih baik atau tidak. Jika Juliette belum bangun juga, Josua perencanaan akan memanggilkan dokter.

"Sayang, kamu--"

Josua nampak membuka pintu kamar putrinya, dia sempat mengira jika putrinya itu masih tertidur. Namun, ternyata wanita itu sudah bangun dan terlihat sudah mandi.

"Syukurlah, ternyata kamu sudah bangun." Josua langsung menghampiri putrinya dan memeluk putrinya tersebut.

"Daddy, aku baik-baik saja. Jeni mana, Dad?" tanya Juliette yang baru sadar jika sahabatnya itu tidak ada di dalam kamarnya.

"Dia pulang, katanya mau dagang. Paling lagi jualan online," jawab Josua seraya mengurai pelukannya.

"Daddy bener, paling dia lagi jualan. Aku mau lihat dia jualan," ujar Juliette ia langsung mengambil ponselnya dan masuk ke aplikasi penjualan.

Josua sempat memperhatikan apa yang dilakukan oleh putrinya, ketika dia melihat Juliette duduk di atas sofa, Josua juga ikut duduk dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh Jeni dari balik layar ponsel putrinya.

"Dia lagi jualan daster, Dad. Uuh! Aku tuh suka banget liat dia kalau lagi dagang gini, ngomongnya pinter banget. Nyerocos mulu dia tuh," ujar Juliette seraya tertawa renyah.

"Tapi, kenapa kamu pake akun palsu untuk menonton acara live-nya dia?" tanya Josua ketika dia menyadari putrinya tidak memakai akun pribadinya.

"Aku takut Jeni akan malu kalau dia ditonton temannya saat live," ujar Juliette.

Sebenarnya itu bukan alasan yang benar, Juliette terkadang akan membeli barang dagangan milik Jeni. Hal itu dia lakukan bukan karena butuh, tapi karena ingin membantu penjualan dari Jeni.

Juliette yakin jika dia membeli beberapa barang dagangan milik sahabatnya, maka Jeni akan merasa sangat senang sekali.

Terkadang dia akan membeli baju atau daster, lalu pakaian itu akan dia berikan kepada pelayan yang ada di rumahnya.

"Oh, gitu. Oiya, Sayang. Kamu mau bikin dia seneng, nggak?" tanya Josua.

Juliette langsung menganggukkan kepalanya, lalu dia menatap wajah ayahnya dengan tatapan penuh tanya.

"Mau, Dad. Caranya bagaimana?" tanya Juliette.

"Borong semua dagangannya," jawab Josua.

Juliette langsung melebarkan senyumnya, karena dengan memborong dagangan sahabatnya, pasti Jeni akan sangat senang.

"Tapi Daddy yang bayarin," ujar Juliette.

Josua menganggukkan kepalanya. "Gampang," jawab Josua.

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

seneng liat cara bergaul nya Julia, ngk sombong walaupun orkai

2024-07-06

0

Nana Niez

Nana Niez

krn gaya bahasanya ringan, dan mudah di dipahami,, jdi aq kasih bintang 5 untuk othor,, biar tambah semangat berkarya nya,,, lanjuuuuutttt

2024-04-04

6

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Ya salam,outhor pasti penggemar hurup J ya..JOSUA,JENNI,JONI,JUNI,JULLIETE,JINGGA..😂😂😂😂😜😜😜

2024-02-13

5

lihat semua
Episodes
1 Jujur
2 Kaget
3 Tak Jadi Pergi
4 Kebiasaan yang Sama
5 Ajakan Untuk Menikah
6 Niat Jahat
7 Mabuk
8 Curhat
9 Biar aku, antar.
10 Ngomong dulu sama Juli, Om.
11 Dipecat
12 Ketahuan Ulah Josua
13 Meminta Restu
14 Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15 Aku sih, yes.
16 Bertemu Saingan
17 Pura-pura
18 Modus
19 Merasa Direndahkan
20 Ketakutan Jeni
21 Dewa Penolong
22 Terpesona
23 Oke, gue setuju.
24 Anterin Julian pulang, Om.
25 Mengadu
26 Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27 Om minta ini aja, boleh?
28 Juli, elu kenapa?
29 Come on, Mommy!
30 Kenapa ditutup mata akunya?
31 Aku mau punya adik lima.
32 Om sudah tidak sabar, Jeni.
33 Ke mana perginya, Jeni?
34 Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35 Daddy dulu, Dad kangen.
36 Nanti malem, pasti Juli bales.
37 Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38 Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39 Penasaran
40 Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41 Negoisasi
42 Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43 Sudah siap kerja?
44 Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45 Kalau hamil, terlalu beresiko.
46 Kok gue jadi sedih, ya?
47 Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48 Merasa Kasihan
49 Daddy! Kenapa diam?
50 Kamu nggak boleh ngomong juga.
51 Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52 Edukasi Kehamilan
53 Kadonya mana?
54 Tolong jaga putraku, Juli.
55 Kenapa aku dihukum?
56 Kesedihan John
57 Pesan Untuk John
58 Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59 Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60 Sering Kontraksi
61 Sedihnya Juliette
62 Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63 Kenapa mereka sangat tega?
64 Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65 Penjelasan
66 Nikah itu bukan mainan loh!
67 Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68 Kesel Tapi Demen
69 Kaget
70 Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71 Sudah dua bulan loh!
72 Pengakuan
73 Ungkapan Hati Juliette
74 Pergi
75 Cemburu Tanpa Alasan
76 Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77 Yes, aku mau.
78 Pengakuan Jia
79 Banyak Hal Yang Tak Terduga
80 Pengakuan Jeni
81 Otewe Sah
82 Sah Yang Bikin Resah (End)
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Jujur
2
Kaget
3
Tak Jadi Pergi
4
Kebiasaan yang Sama
5
Ajakan Untuk Menikah
6
Niat Jahat
7
Mabuk
8
Curhat
9
Biar aku, antar.
10
Ngomong dulu sama Juli, Om.
11
Dipecat
12
Ketahuan Ulah Josua
13
Meminta Restu
14
Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15
Aku sih, yes.
16
Bertemu Saingan
17
Pura-pura
18
Modus
19
Merasa Direndahkan
20
Ketakutan Jeni
21
Dewa Penolong
22
Terpesona
23
Oke, gue setuju.
24
Anterin Julian pulang, Om.
25
Mengadu
26
Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27
Om minta ini aja, boleh?
28
Juli, elu kenapa?
29
Come on, Mommy!
30
Kenapa ditutup mata akunya?
31
Aku mau punya adik lima.
32
Om sudah tidak sabar, Jeni.
33
Ke mana perginya, Jeni?
34
Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35
Daddy dulu, Dad kangen.
36
Nanti malem, pasti Juli bales.
37
Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38
Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39
Penasaran
40
Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41
Negoisasi
42
Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43
Sudah siap kerja?
44
Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45
Kalau hamil, terlalu beresiko.
46
Kok gue jadi sedih, ya?
47
Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48
Merasa Kasihan
49
Daddy! Kenapa diam?
50
Kamu nggak boleh ngomong juga.
51
Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52
Edukasi Kehamilan
53
Kadonya mana?
54
Tolong jaga putraku, Juli.
55
Kenapa aku dihukum?
56
Kesedihan John
57
Pesan Untuk John
58
Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59
Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60
Sering Kontraksi
61
Sedihnya Juliette
62
Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63
Kenapa mereka sangat tega?
64
Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65
Penjelasan
66
Nikah itu bukan mainan loh!
67
Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68
Kesel Tapi Demen
69
Kaget
70
Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71
Sudah dua bulan loh!
72
Pengakuan
73
Ungkapan Hati Juliette
74
Pergi
75
Cemburu Tanpa Alasan
76
Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77
Yes, aku mau.
78
Pengakuan Jia
79
Banyak Hal Yang Tak Terduga
80
Pengakuan Jeni
81
Otewe Sah
82
Sah Yang Bikin Resah (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!