Tak Jadi Pergi

Akhirnya Juliette dan juga Jeni nampak keluar dari dalam kamar, keduanya nampak melangkahkan kaki mereka menuju ruang keluarga. Keduanya begitu penasaran dengan sosok pria yang hendak masuk ke dalam kamar Juliette.

Saat tiba di dalam ruang keluarga, ternyata di sana tidak ada siapa pun. Pelayan saja bahkan tidak ada, karena memang mereka biasanya akan berkumpul di belakang jika pekerjaan rumah sudah selesai.

"Kalau bokap gue pulang, harusnya dia ada di sini," ujar Juliette.

Memang sudah menjadi kebiasaan, jika Josua ada di kediamannya, pria itu akan menghabiskan waktu bersama dengan putrinya. Hal itu dia lakukan sebagai bentuk perhatiannya terhadap putri semata wayangnya.

Josua akan sibuk dalam setiap harinya, karena dia harus mengurus kerajaan bisnisnya. Maka dari itu, Josua akan memanjakan putrinya dan menuruti semua keinginan dari putrinya ketika dia sedang memiliki waktu untuk bersama.

Bahkan, Josua tidak jarang menemani putrinya sebelum tidur. Jika Juliette sudah tertidur dengan pulas, barulah pria itu akan kembali ke dalam kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya.

"Coba lihat ke luar, Jul. Kalau ada mobil bokap elu, berarti dia udah pulang," usul Jeni.

"Hem! Elu bener, gue liat ke depan dulu kalau gitu."

Juliette dengan cepat melangkahkan kakinya menuju halaman rumah, benar saja di sana ada mobil ayahnya yang terparkir.

"Mobil bokap gue ada, Jen. Itu artinya dia udah balik," ujar Juliette dengan senang.

Hanya Josua yang dia punya, berdekatan dengan ayahnya itu selalu saja bisa membuat membuat Juliette merasa bahagia.

"Tapi, kenapa dia tidak ada?" tanya Jeni.

"Ayo ke lantai dua, mungkin dia lagi ganti baju."

Juliette menarik tangan sahabatnya dengan lembut, lalu dia mengajak sahabatnya itu untuk naik ke lantai dua. Lantai dua dijadikan tempat pribadi oleh Josua. Dia akan melakukan aktivitas apa pun di lantai dua.

"Daddy!" teriak Juliette ketika dia sudah sampai di lantai dua.

Wanita itu terus saja melangkahkan kakinya menuju kamar utama yang ada di lantai dua, Jeni tidak bisa melakukan apa pun karena wanita itu terus saja menarik tangannya.

"Daddy! Buka pintunya! Juli tau kalau Daddy udah balik, Daddy!" teriak Juliette seraya menggedor pintu kamar utama.

Tidak lama kemudian, pintu kamar utama nampak terbuka. Josua keluar dari dalam kamarnya hanya dengan menggunakan celana bahan saja.

"Ada apa, Sayang?" tanya Josua.

Juliette tidak menjawab pertanyaan dari ayahnya, gadis itu malah memeluk ayahnya tersebut. Wajah gadis itu terlihat begitu riang sekali, karena jika ayahnya ada di rumah, itu artinya pria itu tidak jadi pergi ke manapun.

"Ditanya kok ngga jawab? Ada perlu apa sampai berteriak-teriak?" tanya Josua dengan tatapan matanya yang tertuju kepada Jeni.

Jeni menatap wajah Josua dengan kagum, pria itu benar-benar terlihat masih muda dan sangat tampan. Dia merasa tidak percaya jika pria itu sudah memiliki anak gadis seperti Juliette.

"Daddy ngga jadi pergi?" tanya Juliette seraya mengurai pelukannya.

"Nggak, Daddy khawatir sama kamu. Makanya pekerjaan Daddy langsung dihandle sama Jhon," jawab Josua.

Semenjak ibunda Josua meninggal, pria itu tidak pernah meninggalkan Juliette untuk pergi ke luar kota. Karena dia takut jika putrinya itu tidak akan nyaman tinggal sendirian di rumah besarnya.

Namun, tadi pagi dia nekat ingin pergi ke luar kota. Karena orang kepercayaannya yang mengurus kantor cabang berkata ada kasus yang serius, tetapi dia merasa beruntung karena ternyata asisten pribadinya bisa menghandle perusahaan cabang itu.

"Uuuh! Daddy memang terbaik, kenalin temenku, Dad. Namanya Jeni," ujar Juliette yang langsung menarik lembut tangan Jeni untuk berjabat tangan dengan tangan ayahnya.

Josua langsung membalas uluran tangan Jeni, tidak ada senyum di bibir Joshua. Pria itu hanya terdiam seraya menatap wajah Jeni dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.

"Ehm! Saya, Jeni, Om. Maaf karena tadi sudah mengusir Om, habisnya Om asal masuk aja sih." Jeni menunduk setelah mengatakan hal itu.

Jeni terlihat tidak berani menatap wajah Josua, pria itu memang masih terlihat begitu muda dan juga berwibawa. Namun, tatapan mata itu terlihat begitu menyeramkan bagi Jeni.

Selain itu, Josua juga nampak bertelanjang dada. Rasanya Jeni tidak terbiasa melihat akan hal itu, dada pria itu nampak begitu bidang dengan bahunya yang nampak lebar.

Otot tangan pria itu nampak menonjol dan terlihat kuat, belum lagi dengan perutnya yang terlihat membentuk kotak-kotak. Menurut Jeni itu adalah pemandangan yang begitu indah, tetapi dia merasa canggung untuk melihatnya.

"Tidak apa-apa, justru saya yang minta maaf. Karena saya juga salah, saya memang terbiasa asal masuk ke dalam kamar Juli."

Josua terus saja menjabat tangan Jeni, pria itu juga terus saja menatap wajah Jeni. Seperti ada sesuatu yang lain dari wajah gadis itu, melihat akan hal itu Juliette nampak merasa aneh dan langsung berdehem beberapa kali.

"Ehm! Daddy, Jeni. Bisakah kalian melepaskan jabatan tangan kalian? Apa mungkin ada lemnya?" tanya Juliette

Jeni yang mendengar akan hal itu dengan cepat menarik tangannya, tetapi tetap saja wanita itu menunduk tanpa berani menatap wajah Josua.

"Sorry, Om. Jeni ngga maksud apa-apa," ujar Jeni.

"Tidak apa-apa," jawab Josua seraya menolehkan wajahnya ke arah Juliette. "Daddy tadi bawain es krim kesukaan kamu, makanlah dengan Jeni."

"Es krim coklat dengan taburan kacang almond dan juga kacang mede, Dad?" tanya Juliette dengan binar bahagia di wajahnya.

Josua sampai terkekeh dibuatnya, karena hanya dengan dibeliin es krim saja Juliette akan merasa begitu senang. Gadis itu tetap saja selalu terlihat seperti putri kecil baginya, putri kecil yang selalu terlihat begitu lucu dan menggemaskan.

"Hem! Memangnya es krim seperti apalagi yang kamu suka?" jawab Josua dengan pertanyaan.

"Uuuh, Daddy sangat baik. Ayo kita makan sama-sama," ujar Juliette yang langsung menarik lengan ayahnya dengan tidak sabar.

"Tapi, Jeni. Daddy belum pakai--"

"Ck! Nanti saja pakai bajunya," ujar Juliette yang dengan cepat melangkahkan kakinya menuju dapur.

Josua hanya bisa menggelengkan kepalanya mendapatkan perlakuan seperti itu dari putrinya, sedangkan Jeni hanya bisa mengekori langkah keduanya dari belakang.

Sebenarnya Jeni merasa aneh saat melihat wajah Josua, pria itu terlihat begitu tampan dan pastinya sangat kaya. Kenapa hanya itu masih melajang, pikirnya.

Rasanya di luaran sana tidak mungkin ada wanita yang tidak melirik pria seperti Josua, karena dilihat dari sisi manapun pria itu begitu sempurna.

Namun, tanpa Jeni ketahui, Josua begitu mencintai istrinya. Dia juga merasa sangat bersalah karena sudah membuat istrinya hamil di usianya yang masih muda, jika saja Josua bisa bersabar, pasti istrinya itu tidak akan meninggal di usianya yang masih muda, pikir Josua.

"Waah! Daddy! Thanks!" pekik Juliette karena ternyata ayahnya membelikan es krim dalam ukuran yang besar.

Wanita itu dengan lincah mengambil tiga wadah kecil, lalu menyendok es krimnya dan memindahkan es krim tersebut ke dalam tiga wadah yang sudah diambil.

"Ini pasti sangat enak, ayo kita makan." Juliette mengajak ayah dan juga sahabatnya untuk memakan es krim coklat itu.

"Juli, tapi aku---"

"Jangan sungkan, makanlah!" ujar Juliette setengah memaksa.

"Oke," jawab Jeni.

Jeni mengambil sendok kecil, lalu dia memisahkan kacang almond dan juga kacang mede ke pinggiran. Setelah itu, barulah dia menyendok es krim coklatnya dan menyiapkannya ke dalam mulutnya.

Apa yang dilakukan oleh Jeni, tentunya tidak luput dari penglihatan Josua. Karena Juliette begitu asik menikmati es krimnya sampai tidak memperhatikan sekitarnya.

"Kenapa kamu memisahkan es krim dan juga kacangnya?" tanya Josua.

"Ehm! Saya ngga suka kacang almond dan juga kacang mede, Om." Jeni menjawab pertanyaan dari Josua dengan tidak enak.

Pria yang sudah menduda dengan sangat lama itu nampak menatap mata Jeni dengan dalam, pria itu tampak begitu enggan walaupun hanya untuk berkedip.

"Juni," panggil Josua lirih.

"Maaf, Om. Nama saya Jeni, bukan Juni." Jeni tersenyum canggung setelah mengatakan hal itu.

Terpopuler

Comments

v taehyung

v taehyung

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau komen tapi komen apa jdi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aj dech

2024-09-25

0

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

si Om nyama2 in aja kaya nm anaknya ikutan bulan aja 😅

2024-07-05

0

sherly

sherly

Juni apa nama mama si Juli ya

2024-05-05

5

lihat semua
Episodes
1 Jujur
2 Kaget
3 Tak Jadi Pergi
4 Kebiasaan yang Sama
5 Ajakan Untuk Menikah
6 Niat Jahat
7 Mabuk
8 Curhat
9 Biar aku, antar.
10 Ngomong dulu sama Juli, Om.
11 Dipecat
12 Ketahuan Ulah Josua
13 Meminta Restu
14 Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15 Aku sih, yes.
16 Bertemu Saingan
17 Pura-pura
18 Modus
19 Merasa Direndahkan
20 Ketakutan Jeni
21 Dewa Penolong
22 Terpesona
23 Oke, gue setuju.
24 Anterin Julian pulang, Om.
25 Mengadu
26 Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27 Om minta ini aja, boleh?
28 Juli, elu kenapa?
29 Come on, Mommy!
30 Kenapa ditutup mata akunya?
31 Aku mau punya adik lima.
32 Om sudah tidak sabar, Jeni.
33 Ke mana perginya, Jeni?
34 Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35 Daddy dulu, Dad kangen.
36 Nanti malem, pasti Juli bales.
37 Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38 Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39 Penasaran
40 Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41 Negoisasi
42 Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43 Sudah siap kerja?
44 Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45 Kalau hamil, terlalu beresiko.
46 Kok gue jadi sedih, ya?
47 Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48 Merasa Kasihan
49 Daddy! Kenapa diam?
50 Kamu nggak boleh ngomong juga.
51 Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52 Edukasi Kehamilan
53 Kadonya mana?
54 Tolong jaga putraku, Juli.
55 Kenapa aku dihukum?
56 Kesedihan John
57 Pesan Untuk John
58 Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59 Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60 Sering Kontraksi
61 Sedihnya Juliette
62 Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63 Kenapa mereka sangat tega?
64 Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65 Penjelasan
66 Nikah itu bukan mainan loh!
67 Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68 Kesel Tapi Demen
69 Kaget
70 Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71 Sudah dua bulan loh!
72 Pengakuan
73 Ungkapan Hati Juliette
74 Pergi
75 Cemburu Tanpa Alasan
76 Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77 Yes, aku mau.
78 Pengakuan Jia
79 Banyak Hal Yang Tak Terduga
80 Pengakuan Jeni
81 Otewe Sah
82 Sah Yang Bikin Resah (End)
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Jujur
2
Kaget
3
Tak Jadi Pergi
4
Kebiasaan yang Sama
5
Ajakan Untuk Menikah
6
Niat Jahat
7
Mabuk
8
Curhat
9
Biar aku, antar.
10
Ngomong dulu sama Juli, Om.
11
Dipecat
12
Ketahuan Ulah Josua
13
Meminta Restu
14
Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15
Aku sih, yes.
16
Bertemu Saingan
17
Pura-pura
18
Modus
19
Merasa Direndahkan
20
Ketakutan Jeni
21
Dewa Penolong
22
Terpesona
23
Oke, gue setuju.
24
Anterin Julian pulang, Om.
25
Mengadu
26
Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27
Om minta ini aja, boleh?
28
Juli, elu kenapa?
29
Come on, Mommy!
30
Kenapa ditutup mata akunya?
31
Aku mau punya adik lima.
32
Om sudah tidak sabar, Jeni.
33
Ke mana perginya, Jeni?
34
Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35
Daddy dulu, Dad kangen.
36
Nanti malem, pasti Juli bales.
37
Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38
Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39
Penasaran
40
Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41
Negoisasi
42
Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43
Sudah siap kerja?
44
Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45
Kalau hamil, terlalu beresiko.
46
Kok gue jadi sedih, ya?
47
Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48
Merasa Kasihan
49
Daddy! Kenapa diam?
50
Kamu nggak boleh ngomong juga.
51
Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52
Edukasi Kehamilan
53
Kadonya mana?
54
Tolong jaga putraku, Juli.
55
Kenapa aku dihukum?
56
Kesedihan John
57
Pesan Untuk John
58
Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59
Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60
Sering Kontraksi
61
Sedihnya Juliette
62
Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63
Kenapa mereka sangat tega?
64
Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65
Penjelasan
66
Nikah itu bukan mainan loh!
67
Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68
Kesel Tapi Demen
69
Kaget
70
Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71
Sudah dua bulan loh!
72
Pengakuan
73
Ungkapan Hati Juliette
74
Pergi
75
Cemburu Tanpa Alasan
76
Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77
Yes, aku mau.
78
Pengakuan Jia
79
Banyak Hal Yang Tak Terduga
80
Pengakuan Jeni
81
Otewe Sah
82
Sah Yang Bikin Resah (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!