Pura-pura

Josua menatap sengit ke arah Julian, begitupun dengan pria muda itu. Dia nampak tidak mau kalah, dia memandang Josua dengan tatapan menantang.

"Om itu udah tua, ngga usah nyari yang masih kuliahan. Nyari tante-tante aja sana!" ujar Julian.

Sudah dua tahun Julian mengejar cinta Jeni, tetapi wanita itu begitu sulit untuk didapatkan. Kini, malah datang saingan yang lebih berumur dan juga lebih mapan. Julian semakin takut dan kesal.

"Elu aja sono nyari cewek lain, karena Jeni udah jadi milik gue. Awas aja kalau masih berani deketin Jeni!" ancam Josua.

Juliette yang melihat perdebatan antara temannya dan juga ayahnya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka jika ayahnya itu bisa bersikap kekanak-kanakan seperti itu.

Atau mungkin karena Josua dulu menikah di usia yang masih belia, pikirnya. Sehingga pria itu tidak ada pengalaman untuk mendekati wanita dengan benar setelah umurnya kini yang semakin matang.

"Ck! Dia itu kurang ajar sekali, masa sama yang tuaan ngga mau ngalah!" ujar Josua seraya masuk ke dalam mobilnya.

Lalu, pria itu memakai sabuk pengamannya. Pria matang itu juga sudah bersiap untuk menyalakan mesin mobilnya, tetapi dengan cepat Juliette menahan pergerakan tangan ayahnya.

"Kenapa? Apa Daddy ngga boleh pergi sekarang ke rumah Jeni?" tanya Josua yang seakan tidak sabar ingin segera bertemu dengan wanita pujaan hatinya.

Ya, Josua benar-benar menyukai wanita muda itu. Dia menyukai Jeni sebagai wanita, bukan menyukai Jeni sebagai bayang-bayang dari Juni.

Apalagi setelah tahu jika Jeni ternyata ada yang menginginkan selain dirinya, sungguh tiba-tiba saja hati pria itu merasa takut. Tidak ada saingan saja dia merasa sulit untuk mengetuk pintu hati Jeni, apalagi jika ada saingannya.

"Boleh, Daddy. Sangat boleh, tapi masalahnya yang tahu alamat Jeni itu hanya Daddy. Jadi, jangan biarkan dia mengikuti kita dan menemui Jeni juga." Juliette menunjuk ke arah Julian.

Juliette memang merasa kesal kepada ayahnya, tetapi dia tidak tega juga jika harus membiarkan Julian lebih unggul dari ayahnya tersebut.

"Kamu benar, jangan biarkan dia menemui Jeni. Jadi, kita harus melihat dia pergi dulu. Baru kita temui Jeni, pria itu tidak boleh tahu alamat Jeni." Josua menganggukkan kepalanya.

Josua dan Juliette nampak terdiam seraya memperhatikan Julian, setelah dipastikan pria itu pergi, barulah Josua dan juga Juliette pergi ke kediaman Jeni.

Tentunya sebelum dia pergi, pria itu menelpon John terlebih dahulu. Dia meminta pria itu untuk mengamankan Julian, jangan sampai pria itu bisa menemui Jeni.

"Dad, tolong berhenti di depan."

Juliette melihat ada tukang martabak telor, dia sangat tahu jika Jeni menyukai martabak telur. Namun, Jeni jarang membeli martabak telur karena harganya yang lumayan mahal.

Bagi Jeni, uang untuk membeli martabak telur bisa dia gunakan untuk makan seharian, jadi sayang kalau untuk membeli martabak telur jika dia sedang tidak banyak uang.

"Ada apa memang, Honey?" tanya Josua seraya menepikan mobilnya.

"Mau beli martabak telur buat Jeni," jawab Juliette.

"Kelamaan, nanti Jeni keburu tidur loh." Josua nampak protes dengan wajah kesalnya.

"Daddy itu mau nemuin cewek, harus bawa buah tangan. Masa nemuin cewek dengan tangan kosong sih," keluh Juliette.

Josua mencebikkan bibirnya karena apa yang dikatakan oleh putrinya itu benar adanya, dia harus membawa oleh-oleh untuk mengencani seorang wanita.

'Baiklah, beli yang banyak." Josua memberikan uang kepada Juliette.

Juliette dengan cepat turun dari mobil, tentunya dengan cepat dia membeli martabak manis dan juga martabak telur. Namun, dia hanya membeli dua porsi martabak. Karena kalau terlalu banyak bingung juga siapa yang akan menghabiskan.

"Sudah selesai, ayo cepat berangkat," ujar Juliette ketika sudah masuk ke dalam mobil ayahnya.

"Oke," jawab Josua.

Josua kembali melajukan mobilnya, hingga tidak lama kemudian Josua memberhentikan mobilnya dan mematikan mesin mobilnya.

"Ini rumah Jeni, Dad?" tanya Juliette ketika Josua memberhentikan mobilnya tepat di halaman rumah sederhana.

Namun, walaupun rumah itu terlihat begitu kecil, tetapi halamannya terlihat begitu asri. Banyak bunga yang ditanam di halaman rumah itu, bahkan Juliette melihat ada beberapa sayuran organik yang ada di pinggir rumah itu.

Jeni memang selalu bercerita, jika wanita itu akan masak jika sedang ingin makan. Namun, jika sedang malas atau waktunya mepet dia akan beli lauk matang.

"Yes, ini rumah Jeni. Ayo turun," jawab Josua disertai ajakan.

Keduanya nampak turun dari mobil, lalu dengan tidak sabar keduanya melangkahkan kaki mereka menuju rumah sederhana tersebut. Juliette lalu memberikan martabak yang sudah dia beli kepada Josua.

"Jeni! Ini gue! Elu di dalam, kan?" tanya Juliette seraya mengetuk pintu.

Cukup lama Juliette dan juga Josua berdiri di depan pintu, hingga tidak lama kemudian pintu itu nampak terbuka. Jeni terlihat baru saja mandi, karena rambutnya masih terlihat sedikit basah.

Wanita itu nampak memakai daster tanpa lengan, panjangnya hanya selutut saja. Walaupun wanita itu memakai daster, tetapi tetap saja terlihat begitu cantik dan justru terlihat begitu menggoda di mata Josua.

"Kalian? Untuk apa datang ke sini?" tanya Jeni.

Jeni menghela napas berat, karena lagi-lagi dia harus berhadapan dengan Josua. Entahlah, dikejar duda tampan seperti Josua itu apakah harus membuat Jeni senang atau sedih.

"Aku datang karena ingin melihat keadaan kamu, apakah kamu baik-baik saja atau tidak. Aku juga membawakan martabak untuk kamu," jawab Josua.

"Oh, Om mau lihat keadaan aku?" tanya Jeni.

Josua nampak menganggukan kepalanya tanda mengiyakan, Jeni tersenyum dengan begitu manis lalu kembali dia berkata kepada pria yang ada di hadapannya.

"Sekarang Om sudah lihat aku, kan? Aku baik, jadi Om boleh pulang."

Jeni mengambil martabak dari tangan Josua. "Om boleh pulang, karena aku baik dan terima kasih untuk martabaknya."

Juliette ingin sekali tertawa karena ternyata sahabatnya itu bisa berbuat seperti itu kepada ayahnya, tetapi sekuat tenaga dia menahan tawanya itu.

Jeni yang begitu malas harus berhadapan dengan Joshua terlihat hendak masuk ke dalam rumahnya, tetapi dengan cepat Josua menahan pergelangan tangan Jeni.

"Aku sakit perut, sepertinya mag aku kambuh. Boleh ikut makan di dalam ngga?" pinta Josua.

"Om!" pekik Jeni dengan wajah yang begitu kesal dan juga rasanya dia ingin menangis.

Rasanya begitu sulit untuk menjauhi pria itu, karena selalu saja ada alasan yang terlontar dari mulut pria itu agar bisa berdekatan dengan dirinya.

"Ayolah, Jeni. Aku sakit perut, aku mau dibuatkan makanan sama kamu. Kalau aku pulang dalam keadaan sakit perut, aku takut kenapa-kenapa loh. Aku nyetir soalnya,'' ujar Josua beralasan.

Jeni menghela napas berat. "Masuklah, kita makan martabaknya bareng-bareng. Aku juga sudah membuat sayur bayam dan telur dadar, itupun kalau kalian mau."

"Mau!" jawab Josua dengan cepat.

Kembali Jeni menghela napas berat, karena ternyata menghadapi Josua lebih sulit dari pada menghadapi anak TK.

"Masuklah," ajak Jeni pada akhirnya.

"Yes! Pokoknya harus terus dipepet, jangan sampai lepas apalagi pindah ke lain tangan." Josua tersenyum-senyum seraya berucap di dalam hatinya.

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

semangat O Josua. masa kalah sama Julian

2024-07-06

0

Agung Antarini

Agung Antarini

semangat Pepet terus Om ganteng 🤣🤣🤣🤣

2024-05-03

5

Nana Niez

Nana Niez

/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-04-04

3

lihat semua
Episodes
1 Jujur
2 Kaget
3 Tak Jadi Pergi
4 Kebiasaan yang Sama
5 Ajakan Untuk Menikah
6 Niat Jahat
7 Mabuk
8 Curhat
9 Biar aku, antar.
10 Ngomong dulu sama Juli, Om.
11 Dipecat
12 Ketahuan Ulah Josua
13 Meminta Restu
14 Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15 Aku sih, yes.
16 Bertemu Saingan
17 Pura-pura
18 Modus
19 Merasa Direndahkan
20 Ketakutan Jeni
21 Dewa Penolong
22 Terpesona
23 Oke, gue setuju.
24 Anterin Julian pulang, Om.
25 Mengadu
26 Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27 Om minta ini aja, boleh?
28 Juli, elu kenapa?
29 Come on, Mommy!
30 Kenapa ditutup mata akunya?
31 Aku mau punya adik lima.
32 Om sudah tidak sabar, Jeni.
33 Ke mana perginya, Jeni?
34 Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35 Daddy dulu, Dad kangen.
36 Nanti malem, pasti Juli bales.
37 Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38 Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39 Penasaran
40 Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41 Negoisasi
42 Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43 Sudah siap kerja?
44 Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45 Kalau hamil, terlalu beresiko.
46 Kok gue jadi sedih, ya?
47 Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48 Merasa Kasihan
49 Daddy! Kenapa diam?
50 Kamu nggak boleh ngomong juga.
51 Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52 Edukasi Kehamilan
53 Kadonya mana?
54 Tolong jaga putraku, Juli.
55 Kenapa aku dihukum?
56 Kesedihan John
57 Pesan Untuk John
58 Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59 Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60 Sering Kontraksi
61 Sedihnya Juliette
62 Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63 Kenapa mereka sangat tega?
64 Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65 Penjelasan
66 Nikah itu bukan mainan loh!
67 Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68 Kesel Tapi Demen
69 Kaget
70 Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71 Sudah dua bulan loh!
72 Pengakuan
73 Ungkapan Hati Juliette
74 Pergi
75 Cemburu Tanpa Alasan
76 Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77 Yes, aku mau.
78 Pengakuan Jia
79 Banyak Hal Yang Tak Terduga
80 Pengakuan Jeni
81 Otewe Sah
82 Sah Yang Bikin Resah (End)
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Jujur
2
Kaget
3
Tak Jadi Pergi
4
Kebiasaan yang Sama
5
Ajakan Untuk Menikah
6
Niat Jahat
7
Mabuk
8
Curhat
9
Biar aku, antar.
10
Ngomong dulu sama Juli, Om.
11
Dipecat
12
Ketahuan Ulah Josua
13
Meminta Restu
14
Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15
Aku sih, yes.
16
Bertemu Saingan
17
Pura-pura
18
Modus
19
Merasa Direndahkan
20
Ketakutan Jeni
21
Dewa Penolong
22
Terpesona
23
Oke, gue setuju.
24
Anterin Julian pulang, Om.
25
Mengadu
26
Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27
Om minta ini aja, boleh?
28
Juli, elu kenapa?
29
Come on, Mommy!
30
Kenapa ditutup mata akunya?
31
Aku mau punya adik lima.
32
Om sudah tidak sabar, Jeni.
33
Ke mana perginya, Jeni?
34
Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35
Daddy dulu, Dad kangen.
36
Nanti malem, pasti Juli bales.
37
Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38
Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39
Penasaran
40
Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41
Negoisasi
42
Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43
Sudah siap kerja?
44
Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45
Kalau hamil, terlalu beresiko.
46
Kok gue jadi sedih, ya?
47
Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48
Merasa Kasihan
49
Daddy! Kenapa diam?
50
Kamu nggak boleh ngomong juga.
51
Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52
Edukasi Kehamilan
53
Kadonya mana?
54
Tolong jaga putraku, Juli.
55
Kenapa aku dihukum?
56
Kesedihan John
57
Pesan Untuk John
58
Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59
Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60
Sering Kontraksi
61
Sedihnya Juliette
62
Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63
Kenapa mereka sangat tega?
64
Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65
Penjelasan
66
Nikah itu bukan mainan loh!
67
Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68
Kesel Tapi Demen
69
Kaget
70
Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71
Sudah dua bulan loh!
72
Pengakuan
73
Ungkapan Hati Juliette
74
Pergi
75
Cemburu Tanpa Alasan
76
Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77
Yes, aku mau.
78
Pengakuan Jia
79
Banyak Hal Yang Tak Terduga
80
Pengakuan Jeni
81
Otewe Sah
82
Sah Yang Bikin Resah (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!