Kebiasaan yang Sama

Mendengar apa yang dikatakan oleh Jeni, Juliette menghentikan aktivitasnya. Lalu, gadis itu menolehkan wajahnya ke arah Jeni dan juga ke arah Josua secara bergantian.

"Ada apa, Dad, Jen?" tanya Juliette yang memang tidak begitu mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya dan juga Jeni.

"Itu, Jul. Bokap elu manggil gue dengan sebutan Juni, padahal nama gue Jeni. Sepertinya bokap elu salah manggil nama," jawab Jeni.

Juliette yang mendengar ucapan dari Jeni langsung menatap wajah ayahnya dengan tatapan iba, Juni adalah nama ibunya. Mungkin saja ayahnya itu sedang begitu merindukan ibunya, pikirnya.

Juliette duduk tepat di samping ayahnya, lalu gadis itu memeluk lengan ayahnya dan mengelus-elus punggung ayahnya.

"Kalau Dad kangen mom, besok kita ke makam mom. Mau Juli anter?" tawar Juliette.

Kebetulan Juliette juga belum ke pusara terakhir ibunya selama satu minggu, dia juga merindukan Ibunya dan ingin berkunjung ke pusara terakhir ibunya tersebut.

"Boleh, kebetulan besok Dad libur kerja." Josua tersenyum lalu mengusap puncak kepala putrinya.

Di saat itu, Juliette malah teringat akan undangan ulang tahun dari Jingga. Juliette merasa jika ini adalah waktu yang tepat untuk meminta izin kepada ayahnya.

"Ehm! Oiya, Dad. Besok aku dan Jeni akan pergi ke acara ulang tahun temen, boleh pergi ngga, Dad?" tanya Juliette ragu-ragu.

Biasanya Josua tidak pernah membiarkan dirinya untuk pergi jauh dari pria itu, jika Juliette pergi maka Josua harus ikut untuk memantau putrinya tersebut.

"Di mana pestanya?" tanya Josua.

"Di rumah temen, itu loh, Dad. Anaknya manajer Dad yang sok berkuasa itu," jawab Juliette.

Juliette memberengut, dia merasa kesal tiap kali mengingat nama Jingga. Karena wanita itu selalu saja bersikap sombong, padahal ayahnya hanya orang yang bekerja sebagai manajer di perusahaan milik Josua.

Juliette sangat dekat dengan ayahnya itu, tentunya apa pun yang terjadi dan siapa pun temannya selalu dia ceritakan kepada ayahnya itu. Termasuk Jeni.

Juliette selalu menceritakan tentang Jeni, tetapi terkadang Josua tidak terlalu menanggapi karena dia sedang memikirkan pekerjaan.

"Kalau di rumah boleh-boleh aja, asal jangan aneh-aneh. Terus, jangan pake baju yang kurang bahan," ujar Josua.

Pria itu teringat kala Jeni hendak mencoba gaun-gaun seksi milik putrinya, pasti keduanya akan memakai baju seksi seperti itu ke pesta ulang tahun Jingga.

Jika Juliette ingin memakai baju seksi seperti itu, Josua merasa tidak masalah. Asal Juliette memakai baju seksi itu di dalam rumah saja, tetapi jika untuk ke luar rumah, Josua tidak akan mengizinkan.

"Dad! Harus seksi dong, pan biar malu tuh si Jingga. Biar ngga sok berkuasa lagi," ujar Juliette.

"Sayang, cantik itu tidak harus pake baju kurang bahan. Apalagi kamu itu perempuan, pake gaun seksi boleh. Tapi jangan yang terlalu terbuka," ujar Josua.

"Iya, iya. Makasih ya, Dad. Tapi tumbenan loh Daddy izinin, biasanya susah banget dapet izin."

Josua tidak menggubris ucapan dari putrinya, dia malah menolehkan wajahnya ke arah Jeni dan menatap wajah gadis itu dengan dalam. Jeni langsung menunduk dengan perasaan bingung, karena Josua lagi-lagi menatap dirinya dengan tatapan yang begitu sulit untuk dia artikan.

"Ehm! Dad, Jeni juga mau nginep. Boleh kan' Dad?" tanya Juliette karena lupa belum meminta izin kepada ayahnya.

"Hem! Menginaplah selama teman kamu mau," jawab Josua.

"Uuuh! Dad memang terbaik," ujar Juliette penuh semangat.

Setelah berbicara dengan Josua, Juliette pergi ke dalam kamarnya. Dia dan juga Jeni langsung mencari pakaian yang pas untuk mereka pakai, keduanya akhirnya memilih gaun malam yang tertutup.

Namun, ketika mereka mencoba gaun itu, mereka terlihat cantik dan tetap terlihat seksi. Karena walaupun gaunnya nampak panjang, tetapi terlihat membalut tubuh keduanya.

"Aih! Ini sudah sangat sore, mending kita mandi," ujar Juliette.

"Boleh, terus kita masak."

"Ngga usah masak, ada bibi. Elu nginep di rumah bokap gue yang super kaya, ngga usah cape ngapa-ngapain," ujar Juliette.

"Oh! Oke," jawab Jeni tidak enak hati.

Dia merasa tidak enak hati karena harus diam tanpa melakukan pekerjaan, lebih tepatnya hanya boleh menemani Juliette dengan kesenangannya.

Beberapa jam kemudian.

"Makan yang banyak, Jen. Jangan sungkan," ujar Juliette ketika mereka makan malam bersama.

Juliette berpikir jika sahabatnya itu pasti tidak pernah makan enak, mengingat sahabatnya itu terlahir dari keluarga biasa saja. Juliette merasa jika ini adalah saatnya sahabatnya itu memakan apa pun yang dia makan.

"Iya,"ujar Jeni canggung karena di sana juga ada Josua.

Jeni pada akhirnya makan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Juliette, tetapi lagi-lagi kelakuan dari wanita itu menyita perhatian dari Josua.

Karena saat wanita itu sedang makan, Jeni menyingkirkan irisan bawang putih yang terdapat pada tumisan yang dibuat oleh bibi.

"Apa yang kamu lakukan, Jeni?" tanya Josua.

Jeni sempat kaget mendengar pertanyaan dari Josua, tetapi dia berusaha tenang dan menatap wajah pria itu dengan tatapan ragu.

"Eh? Maaf, Om. Saya tidak suka bawang putih," jawab Jeni lirih.

Josua terhenyak mendengar jawaban dari Jeni, karena Juni juga sama seperti Jeni. Jika di dalam makanan yang dia makan ada bawang putihnya, wanita itu akan menyingkirkannya.

"Oh, ya Tuhan! Kenapa selalu sama? Apa kamu juga tidak menyukai buah kiwi dan tidak menyukai buah strawberry?" tanya Josua.

Jeni sampai mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan dari Josua, tetapi dengan cepat Jeni menganggukan kepalanya tanda mengiyakan.

"Eh? Kok anda tahu, Om?" tanya Jeni dengan bingung.

Ah! Josua merasa jika saat ini dia sedang dipermainkan, bisa-bisanya dia bertemu dengan seorang gadis yang kelakuannya mirip sekali dengan mendiang istrinya.

"Jangan bilang kalau kamu juga tidak suka pergi ke taman hiburan karena akan merasa pusing ketika melihat semua wahana permainan yang sedang beroperasi?!" tanya Josua.

Jeni menatap Josua dengan matanya yang membola, sungguh dia tidak menyangka jika Josua akan mengajukan pertanyaan seperti itu.

"Ya ampun! Kenapa Om tahu?" tanya Jeni dengan bingung.

Juliette yang sejak tadi diam kini menatap wajah Jeni dengan lekat, dia tidak menyangka jika sahabatnya itu memiliki banyak kesamaan dengan mendiang ibunya.

Berbeda dengan Josua, dia tidak meneruskan makan malamnya, dia langsung pergi begitu saja dari ruang makan. Pria itu nampak melangkahkan kakinya menuju lantai dua, dia nampak masuk ke dalam kamarnya.

Pria itu langsung mengambil foto pernikahannya, foto yang selalu dia simpan di atas nakas di dekat tempat tidurnya.

"Juni, apakah kamu telah bereinkarnasi pada tubuh gadis kecil itu? Jika iya, aku akan berusaha untuk mengejar gadis itu dan tidak akan membiarkan kamu pergi meninggalkan aku lagi," ujar Josua.

Terpopuler

Comments

v taehyung

v taehyung

jangan mau Jen , kalau Josua suka m kamu , Josua harus bener2 cint m kamu bukan karena kamu mirip m mendiang istrinya

2024-09-25

0

Npy

Npy

lah ? /Grin/🤭🤣🤣🤣

2024-06-01

10

Febri Ana

Febri Ana

lanjuuttt thor mantaaappp

2024-03-04

8

lihat semua
Episodes
1 Jujur
2 Kaget
3 Tak Jadi Pergi
4 Kebiasaan yang Sama
5 Ajakan Untuk Menikah
6 Niat Jahat
7 Mabuk
8 Curhat
9 Biar aku, antar.
10 Ngomong dulu sama Juli, Om.
11 Dipecat
12 Ketahuan Ulah Josua
13 Meminta Restu
14 Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15 Aku sih, yes.
16 Bertemu Saingan
17 Pura-pura
18 Modus
19 Merasa Direndahkan
20 Ketakutan Jeni
21 Dewa Penolong
22 Terpesona
23 Oke, gue setuju.
24 Anterin Julian pulang, Om.
25 Mengadu
26 Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27 Om minta ini aja, boleh?
28 Juli, elu kenapa?
29 Come on, Mommy!
30 Kenapa ditutup mata akunya?
31 Aku mau punya adik lima.
32 Om sudah tidak sabar, Jeni.
33 Ke mana perginya, Jeni?
34 Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35 Daddy dulu, Dad kangen.
36 Nanti malem, pasti Juli bales.
37 Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38 Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39 Penasaran
40 Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41 Negoisasi
42 Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43 Sudah siap kerja?
44 Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45 Kalau hamil, terlalu beresiko.
46 Kok gue jadi sedih, ya?
47 Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48 Merasa Kasihan
49 Daddy! Kenapa diam?
50 Kamu nggak boleh ngomong juga.
51 Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52 Edukasi Kehamilan
53 Kadonya mana?
54 Tolong jaga putraku, Juli.
55 Kenapa aku dihukum?
56 Kesedihan John
57 Pesan Untuk John
58 Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59 Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60 Sering Kontraksi
61 Sedihnya Juliette
62 Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63 Kenapa mereka sangat tega?
64 Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65 Penjelasan
66 Nikah itu bukan mainan loh!
67 Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68 Kesel Tapi Demen
69 Kaget
70 Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71 Sudah dua bulan loh!
72 Pengakuan
73 Ungkapan Hati Juliette
74 Pergi
75 Cemburu Tanpa Alasan
76 Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77 Yes, aku mau.
78 Pengakuan Jia
79 Banyak Hal Yang Tak Terduga
80 Pengakuan Jeni
81 Otewe Sah
82 Sah Yang Bikin Resah (End)
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Jujur
2
Kaget
3
Tak Jadi Pergi
4
Kebiasaan yang Sama
5
Ajakan Untuk Menikah
6
Niat Jahat
7
Mabuk
8
Curhat
9
Biar aku, antar.
10
Ngomong dulu sama Juli, Om.
11
Dipecat
12
Ketahuan Ulah Josua
13
Meminta Restu
14
Apakah Boleh Dad Nikah Lagi?
15
Aku sih, yes.
16
Bertemu Saingan
17
Pura-pura
18
Modus
19
Merasa Direndahkan
20
Ketakutan Jeni
21
Dewa Penolong
22
Terpesona
23
Oke, gue setuju.
24
Anterin Julian pulang, Om.
25
Mengadu
26
Aku akan jaga jarak aman, tenang saja.
27
Om minta ini aja, boleh?
28
Juli, elu kenapa?
29
Come on, Mommy!
30
Kenapa ditutup mata akunya?
31
Aku mau punya adik lima.
32
Om sudah tidak sabar, Jeni.
33
Ke mana perginya, Jeni?
34
Cepatlah bersiap, mom sudah menunggu di Villa.
35
Daddy dulu, Dad kangen.
36
Nanti malem, pasti Juli bales.
37
Emang boleh, malam pertama berakhir sendiri?
38
Apa yang sudah Daddy lakukan terhadap, Mom?
39
Penasaran
40
Untuk sekarang iya, tapi tidak untuk nanti.
41
Negoisasi
42
Kenapa jadi Juli yang menguasai istriku?
43
Sudah siap kerja?
44
Cieee! Yang abis liburan, romannya ceria banget.
45
Kalau hamil, terlalu beresiko.
46
Kok gue jadi sedih, ya?
47
Hanya karena muntah, bukan karena yang lainnya.
48
Merasa Kasihan
49
Daddy! Kenapa diam?
50
Kamu nggak boleh ngomong juga.
51
Buka dulu kadonya, baru boleh buka yang lain.
52
Edukasi Kehamilan
53
Kadonya mana?
54
Tolong jaga putraku, Juli.
55
Kenapa aku dihukum?
56
Kesedihan John
57
Pesan Untuk John
58
Juli, maukah kamu mengurus putraku?
59
Aku mau menjadi ibu angkat bagi baby Jidan.
60
Sering Kontraksi
61
Sedihnya Juliette
62
Jonathan Rhys William (Anugerah Dari Tuhan)
63
Kenapa mereka sangat tega?
64
Apa yang dia lakukan terhadap putraku?
65
Penjelasan
66
Nikah itu bukan mainan loh!
67
Kenapa dia jadi aneh seperti itu?
68
Kesel Tapi Demen
69
Kaget
70
Apakah benar kalau nona Juli adalah gadis kecil itu?
71
Sudah dua bulan loh!
72
Pengakuan
73
Ungkapan Hati Juliette
74
Pergi
75
Cemburu Tanpa Alasan
76
Karena baby Jidan sangat merindukan anda.
77
Yes, aku mau.
78
Pengakuan Jia
79
Banyak Hal Yang Tak Terduga
80
Pengakuan Jeni
81
Otewe Sah
82
Sah Yang Bikin Resah (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!