Bab. 19

BSM Bab. 19

Mendatangi sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota ini, Ryan memilih merubah tampilannya. Menanggalkan jas, menggulung lengan kemeja sampai batas siku, mengenakan topi serta kacamata hitam. Ryan mendatangi salah satu gerai jam tangan bermerek di mall yang ia datangi. Sengaja ia berpenampilan seperti itu agar tak mencolok dan menarik perhatian banyak orang.

Edrick yang pergi menemaninya hanya bisa terheran-heran juga bertanya-tanya dengan yang dilakukan Ryan. Sebetulnya bukan hal yang baru jika tuannya itu membeli sebuah barang branded. Puluhan jam tangan bermerek dengan harga fantastis telah berjejer rapi memenuhi lemari sang tuan. Hanya saja, yang membuat Edrick lebih heran lagi adalah, Ryan membeli sebuah jam tangan wanita.

Sejauh ini, meski hampir tak terhitung jumlah wanita yang pernah dikencani Ryan, tak pernah sekali pun pria itu memberi hadiah. Untuk sesuatu hal yang bersifat romantis, mungkin Ryan berada jauh di bawah standar pria romantis. Sebab pria itu tak begitu peduli dengan hal-hal yang berbau asmara. Hubungannya dengan para wanita itu hanya sebatas pemenuhan kebutuhan biologis semata. Tidak lebih.

Namun kali ini, Edrick tak henti bertanya-tanya dalam hati, untuk siapa gerangan tuannya itu membeli jam tangan. Apakah untuk Paola, adiknya? Ataukah untuk ibundanya tercinta?

Entahlah.

“Katakan saja apa yang ada dalam pikiranmu. Jangan berasumsi sendiri,” ujar Ryan begitu selesai membeli sebuah jam tangan wanita, dan ia mendapati Edrick terbengong-bengong sendiri. Menatap kepadanya dengan wajah bingung.

“Emm ... Maaf, Tuan Ryan.” Edrick sedikit terkejut. Tak ingin menyinggung tuannya, Edrick memilih tak memberi tanggapan. Ia sadar jika ia tak berhak mencampuri urusan pribadi tuannya itu. Walau kali ini baginya terasa aneh dan tak seperti biasanya.

“Aku punya dua wanita dalam hidupku. Salah satu diantara mereka ingin aku berikan hadiah. Apa itu salah?” Ryan tersenyum miring, menebak isi kepala Edrick.

Edrick salah tingkah, Ryan bisa menebak isi kepalanya. Memang tidak salah jika Ryan ingin memberi hadiah kepada adik atau ibunya. Padahal Edrick sempat mengira-ngira siapa gerangan wanita beruntung yang mendapatkan hadiah dari seorang Ryan.

“Jaga baik-baik. Aku ke toilet sebentar.” Ryan mengangsurkan paper bag berlogo jam tangan bermerek itu ke tangan Edrick. Kemudian ia bergegas mencari toilet.

Ryan tengah berjalan cepat, sedikit menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajah tampannya di balik kacamata hitam juga topi, ia menghindari tatapan banyak pasang mata. Langkahnya mengayun cepat menuju toilet dengan wajah tertunduk, sedikit tak memperhatikan jalan. Sehingga tiba-tiba saja, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang baru saja keluar dari toilet wanita.

“Maaf, maaf. Saya minta maaf. Saya tidak sengaja.” Terdengar suara lembut seorang wanita. Meminta maaf dalam kepanjkan. Dan anehnya, suara itu seperti tak asing bagi Ryan.

Mengangkat kepalanya perlahan, Ryan mendapati sebuah wajah yang juga tak asing. Walau baru beberapa kali bertemu, namun wajah itu seolah telah tersimpan rapi di kepala. Bayangannya masih indah melekat di pelupuk mata. Wajah ayu dengan pulasan make up seadanya itu mungkin tak menarik di mata sebagian lelaki. Namun di mata Ryan, laksana rembulan malam. Walau tak bersinar terang, tetapi mampu menyinari sudut hatinya yang gulita.

“Maafkan saya, Tuan.” Wanita itu, Laura, mengatupkan kedua tangannya di depan wajah. Sebagai isyarat permintaan maaf yang tulus.

Ada sedikit keanehan di wajah Laura yang tertangkap pandangan Ryan. Sehingga membuat Ryan melepas kacamata hitamnya. Menatap wajah itu dengan seksama, ia lantas mengerutkan dahi. Mata merah dan sembab, ujung hidung yang juga memerah, menghadirkan kecemasan mendadak dalam hati Ryan. Isi kepalanya menduga, jika Laura baru saja menangis.

Apakah dugaannya itu tak keliru?

Lalu apa yang membuat wanita itu menangis?

Ah, Ryan. Kamu mengada-ada. Begitu Ryan menyangkal isi kepalanya.

Laura terkejut begitu Ryan melepas kacamata hitamnya. Ia sampai salah tingkah saking gugup saat Ryan menghujamnya dengan tatapan nyaris tak berkedip.

“Kita bertemu lagi. Hai, apa kabarmu?” Baru kali ini Ryan lupa caranya merayu wanita. Entah apa sebabnya di depan Laura ia tak ubahnya seperti bujang yang tak berpengalaman mendekati wanita.

“Tuan, soal ganti rugi itu, saya janji, saya akan segera melunasinya. Tuan tinggal kasih tahu saya berapa nominal yang harus saya ganti.”

“Tapi aku datang kemari bukan untuk menagih ganti rugi. Aku hanya kebetulan ingin ke toi...”

“Laura.”

Ucapan Ryan terputus ketika terdengar suara Rere memanggil. Gadis itu datang mendekat. Lekas Ryan mengenakan kembali kacamatanya, sedikit menundukkan wajahnya sampai wajah itu terhalang dibalik topi. Sehingga Rere tak mengenali. Gadis itu mengerutkan dahi melihat ada seorang pria aneh berada di sekitar Laura.

“Aku cari kamu ke mana-mana, loh, Ra. Aku pikir kamu sudah pulang,” ujar Rere.

“Laura, kamu kenapa, Ra?” sambung Rere bertanya sebelum Laura sempat berkata.

“Kenapa apanya?” Laura menghindari tatapan menyelidik Rere. Yang mulai curiga dengan apa yang terjadi kepadanya. Kepergiannya ke toilet umum bukan untuk memenuhi panggilan alam. Melainkan untuk menumpahkan kekesalan, sakit hati, kecewa, juga cemburu yang telah memenuhi rongga dadanya. Sehingga dada itu terasa sesak sampai mendesak air matanya tumpah ruah. Beruntung toilet wanita itu agak sepi, sehingga tak ada yang sempat mendengar isakan tangisnya.

“Jangan bilang kamu habis nangis, Ra,” tambah Rere menebak. Sayangnya tebakannya itu tidak meleset. Tetapi Laura enggan membenarkan.

“Siapa yang nangis, Re. Kamu ngaco. Mataku perih aja. Mungkin karena lelah. Semalaman aku tidak bisa tidur dan malah bermain ponsel sampai larut. Mungkin karena itu mataku lelah, perih, dan malah jadi merah begini,” sangkal Laura. Ia tak ingin Rere memperpanjang masalah sepele ini. Rere itu orangnya terlalu peduli.

“Laura, aku ini sahabat kamu. Kamu tidak bisa menyembunyikan apapun dari aku, Ra.”

“Apaan sih, Re. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Oke? Ayo.” Lekas Laura menarik pergelangan Rere. Menyeretnya menjauh dari tempat itu. Meninggalkan Ryan mematung seorang diri di tempatnya.

Ryan menoleh, memandangi punggung Laura yang mulai menjauh. Sampai punggung itu menghilang dibalik kerumunan pengunjung mall yang lain.

“Pelan-pelan jalannya, Laura. Kamu kayak lagi dikejar orang deh. Oh ya, orang aneh tadi itu siapa? Kamu kenal?” tanya Rere penasaran sembari mengikuti langkah cepat Laura.

“Bukan siapa-siapa, Re. Aku juga tidak kenal.”

“Tapi kalau diperhatikan kayak mirip seseorang deh. Itu tuh, malaikat ganteng yang pernah mampir di toko kita, Ra. Kamu ingat tidak?”

“Lupa. Lagian aku tidak terlalu memperhatikan wajahnya.” Laura hanya enggan saja membahas hal yang tidak penting. Sehingga ia tak terlalu menanggapi ucapan Rere. Lagipula jika ia beritahu Rere bila ia mengenal lelaki itu, bisa-bisa urusannya malah tambah panjang dan ribet. Maklum, Rere itu memang penyuka makhluk halus berwajah tampan. Seperti Ryan misalnya.

Bermaksud hendak kembali ke tempat perayaan ulang tahun Mika, langkah Laura justru terhenti sebelum memasuki tempat itu. Perayaan ulang tahun Mika yang diadakan di area terbuka di salah satu tempat di mall itu, cukup memberikan ruang pandang bagi Laura untuk melihat dari kejauhan.

Di seberang sana, tanpa sengaja sepasang mata Laura menangkap sebuah pemandangan yang tak biasa. Lely, ibu mertuanya tengah akrab mengobrol dengan Feli. Diantara mereka juga ada Theo.

Mereka terlihat asyik dengan obrolannya. Mungkin obrolannya seru, sampai-sampai mereka tertawa-tawa senang. Yang tampak tak biasa di mata Laura adalah Feli sesekali menyentuh lengan Theo dengan mesra. Dari bahasa tubuhnya, seolah-olah menggambarkan ada kedekatan diantara keduanya.

Rasa sesak pun mendadak memenuhi ruang di dadanya. Laura tak ingin berpikir yang bukan-bukan, apalagi sampai menaruh curiga. Namun apa yang terlihat jelas di depan matanya itu menghadirkan rasa yang tak biasa dalam dadanya.

Terpopuler

Comments

auliasiamatir

auliasiamatir

mertua gak ada akhlak

2024-01-01

1

Putra Al - Bantani

Putra Al - Bantani

sesak nafas kak 😓😓😓

2023-10-28

0

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

ikut sesak Dadali, hufftttt

2023-10-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!