BSM Bab. 10
Oh my god!
Laura pun hanya bisa menelan ludah.
“Kamu harus ganti rugi.”
Refleks Laura mengangguk. Lantas turun dari skuter matiknya setelah mematikan kembali mesinnya. Tiba-tiba saja Laura merasa napasnya sesak ketika Ryan berada di depannya, dekat sekali dengannya. Bahkan pria itu menatapnya dengan seksama, seolah ia adalah makhluk teraneh yang pernah ada di muka bumi ini.
“I-iya, Tuan. Aku akan ganti rugi. Ta-tapi...” Laura meraba-raba pinggangnya dengan salah tingkah. Rupanya ia lupa membawa tas kecilnya. Di dalam tas itu ada ponsel, kartu nama, dan dompet berisi uang yang jumlahnya tidak seberapa.
“Tapi apa? Jangan membuat alasan. Apa kamu tahu berapa kerugian yang sudah aku tanggung karena ulahmu?” Ryan semakin intens menatap Laura. Membuat Laura grogi ditatap seorang pria tampan tapi menakutkan itu.
Namun berbeda dengan Ryan. Bukan bermaksud ingin menakut-nakuti Laura, hanya saja menatap wajah Laura seolah memberikan ketenangan dalam hatinya. Bertemu Laura rasanya seperti pertama kali bertemu gadis itu. Gadis penjual kue di bawah lampu merah beberapa tahun lalu. Bahkan debaran itu tak jauh berbeda.
“Maafkan aku, Tuan. Aku pasti akan membayar ganti ruginya. Tapi sekarang aku tidak punya uang. Dompetku ketinggalan. Aku mohon berikan aku waktu, Tuan,” kata Laura disertai cemas juga rasa takut. Takut jika masalahnya akan berbuntut panjang.
Ryan belum menanggapi permohonan Laura. Sembari berpikir sejenak, kedua matanya tak lepas sedetik pun dari wajah Laura. Wajah yang menimbulkan ketertarikan berbeda dalam dirinya. Ya, sangat berbeda dengan wanita-wanita lain yang sering dikencaninya. Ketertarikannya kepada Laura membuat aliran darahnya berdesir dan jantung berdebar-debar.
“Apa jaminannya kalau omongan kamu itu bisa dipercaya,” kata Ryan kemudian.
Laura gelagapan sembari berpikir kira-kira apa yang bisa ia berikan kepada pria itu sebagai jaminan. Beberapa saat berpikir, Laura kemudian melepas arloji yang melingkar di pergelangan kirinya. Arloji itu ia berikan kepada Ryan dengan tangan gemetar.
“Maaf, Tuan. Aku hanya punya jam tangan ini. Anda bisa menyimpan ini untuk sementara,” katanya cemas. Sembari berharap pria itu mau menerimanya.
Ryan menerima jam tangan Laura itu dengan wajah bingung. Dalam benaknya ia berpikir, untuk apa jam tangan murahan seperti itu dijadikan jaminan. Padahal sebetulnya, dengan Laura meminta maaf saja sudah cukup bagi Ryan. Berbeda dengan saat terjadi kecelakaan kecil itu. Hati Ryan mendongkol. Apalagi ketika Amanda membatalkan pertemuan mereka. Hati Ryan bertambah dongkol, juga jengkel.
Akan tetapi, begitu melihat Laura, entah mengapa mendadak hatinya melunak. Ia mengikuti Laura sampai ke tempat parkir karena terdorong oleh rasa penasarannya saja. Dan ayunan langkah kakinya itu tak bisa ia cegah, refleks mengikuti langkah Laura.
“Gimana caranya aku percaya sama kamu hanya dengan jam tangan murahan ini?” Tangan Ryan terangkat, mengayun-ayunkan jam yang menggelantung di tangannya itu di depan wajah Laura.
“Maaf, Tuan. Hanya itu yang aku miliki.”
Ryan menghela napas. Ia tersenyum kecil, membuat aura wajahnya terlihat berbeda. Sampai membuat Laura tertegun. Rasa takut dalam diri Laura itu pun luruh perlahan hanya karena pesona wajah yang sedang tersenyum itu.
Dalam hatinya Laura tak memungkiri, jika pria di hadapannya itu berparas tampan. Wajah blasteran dengan rahang tegas berbulu halus itu tampak mempesona saat tersenyum. Meski senyumannya setipis kertas, namun mampu memukau siapa saja yang memandangnya.
“Tuan, aku harus pergi sekarang. Aku masih punya banyak pekerjaan.” Setengah membungkukkan badannya, Laura pamit. Ia hendak menaiki skuter matiknya saat tiba-tiba Ryan menahan pergelangan tangannya.
“Tunggu,” kata Ryan.
Laura terkesiap. Terasa aneh baginya ketika tangan seorang asing menggenggam pergelangannya. Ia merasa risih orang yang tak dikenalnya itu menyentuh kulitnya.
“Ups. Sorry.” Ryan pun melepas genggamannya ketika Laura menatapnya dengan tegang.
“Namamu. Beritahu aku siapa namamu. Gimana kita bisa bertemu lagi untuk menyelesaikan masalah ini kalau aku tidak tahu namamu,” sambung Ryan.
“La-Laura, Tuan ...”
****
Sudah beberapa jam lamanya Theo menunggu. Hari sudah sore, namun yang ia tunggu-tunggu tak jua menampakkan batang hidungnya. Hanya dengan berbekal sebuah foto yang diberikan Samsul, Theo berusaha mengenali setiap wajah-wajah yang dilihatnya di antara sekian banyak orang yang ada di sebuah toko furniture yang berada di pusat kota itu. Karena menurut kabar yang ia dengar dari Samsul, Antonio Gonzales akan berada di salah satu tokonya itu.
Namun setelah penat menunggu selama berjam-jam, yang bernama Antonio itu tak jua menampakkan wujudnya. Yah, walaupun yang datang nanti hanya duplikatnya saja. Setidaknya ia bisa sedikit mengorek informasi tentang Antonio yang asli.
Dari balik kaca mobilnya, Theo mengamati setiap orang yang berlalu lalang. Baik yang masuk ataupun yang keluar dari toko AFECTO Furniture. Dari setiap wajah yang dilihatnya, tak satupun yang memiliki kemiripan dengan wajah yang ada di foto itu.
“Gimana? Kamu sudah dapat info?” tanya Theo ketika Felina datang, masuk ke mobil, duduk di kursi sebelahnya. Ia ditemani Feli sejak tadi. Sementara ia menunggu di dalam mobil, Feli mencari info di dalam toko itu dengan menanyai beberapa pekerja di sana.
Feli menggeleng. “Aku tidak dapat info apapun. Katanya Antonio batal mengunjungi toko. Katanya dia mengganti jadwal kunjungannya di toko ini ke toko lain di daerah yang lain.”
“Oh ya?” Theo terkejut. Selalu saja seperti ini. Sepertinya yang bernama Antonio itu sangat lihai. Dia seperti belut, yang pandai menghindari wartawan. Atau mungkin saja pria itu bisa mengetahui pergerakan wartawan. Bagaimana bisa dia tahu jika ada wartawan yang sedang mengintainya di toko ini. Sehingga mendadak pria itu merubah jadwalnya.
“Wow. Rupanya laki-laki itu tidak bisa dianggap remeh,” sambung Theo.
“Hanya itu info yang kamu dapatkan? Tidak ada yang lain?” tanyanya kemudian. Mungkin saja Feli mendapatkan informasi lain tentang pria itu.
“Susah mengorek info dari para pegawainya. Kayaknya mereka memang tidak tahu apapun tentang pimpinan mereka. Apalagi skandal-skandalnya.”
Theo diam sejenak, hanya helaan napasnya yang terdengar. Dari raut wajahnya ia tampak tengah berpikir. Feli meneliti raut wajah itu dalam-dalam.
“Yang ...” panggil Feli tiba-tiba dengan nada lembut sembari mengulurkan tangan kanannya, menaruhnya di tengkuk Theo.
Theo terhenyak. Refleks Theo menoleh. “Jangan panggil aku seperti itu. Ingat kita ada di mana sekarang,” katanya memperingatkan.
“Iya, iya, aku tahu. Maaf deh. Tapi Sayang, aku capek. Dari tadi kita di sini mengawasi toko itu. Aku lapar loh Sayang. Kita cari makan, yuk.” Feli berkata dengan nada manja merayu Theo.
“Di dalam toko itu ada food court kan. Kamu tinggal beli saja di situ.”
“Tapi aku maunya kita makan di tempat yang lebih...”
“Fel, kita sedang bekerja. Ingat?”
Feli meniupkan napasnya kesal. Ia tahu, ia tak bisa memaksa Theo jika Theo sedang fokus dengan pekerjaannya. Jika begini, hanya ada satu cara yang ampuh untuk merayu Theo. Dengan cara itu yakin bisa membujuk Theo untuk meninggalkan pekerjaan sejenak, dan menikmati waktu kebersamaan mereka walau sebentar saja.
Perlahan, jemari lentik Feli mulai bergerak turun ke bawah. Dari tengkuk Theo, jemari itu turun perlahan-lahan menyusuri dada Theo, turun ke perut, lalu berhenti di pangkal paha Theo. Membuat Theo menahan napasnya kuat. Lalu menoleh dengan napas yang tertahan.
“Feli, tolong jangan seperti ini,” kata Theo dengan dada kembang kempis. Menahan gejolak yang dipancing dengan sengaja. Jujur ia akui, Feli memang yang paling bisa membangkitkan syahwatnya. Akan tetapi, waktunya kali ini memang tidak tepat.
“Dari tadi kamu tegang, Sayang. Sekarang waktunya untuk kamu rileks.” Feli mulai membuka ikat pinggang Theo, membuka kancing celana Theo, lanjut menurunkan resleting. Ia tahu apa yang disukai Theo disaat suntuk seperti ini.
“Feli, jangan. Please ...” Theo menahan jemari Feli yang mulai nakal. Antara mau dan tidak mau, ia sebetulnya tak kuasa menolak. Akan tetapi ia masih bisa berpikir jernih. Tawaran yang disuguhkan Feli memang teramat menggoda. Tapi tawaran yang diberikan Samsul lebih menggoda. Bonus tiga kali lipat, gaji naik dua kali lipat. Siapa yang tidak ingin. Bagaimana jika tiba-tiba saja Antonio muncul dan ia malah melewatkan kesempatan itu.
“Tidak akan lama, Sayang. Kamu duduk diam saja, biarkan aku yang bekerja.” Feli tersenyum nakal. Lalu tanpa Theo sadari Feli pun mulai melakukan aksinya. Theo seperti terhipnotis saja, sampai ia tak kuasa menolak lagi.
Skip sampai di sini aja ya🤭 Gak ada penggambaran adegan yang detail ya🤭 aku masih polos✌️
★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Santi Haryanti
kyk nya memang dari awal feli udh godain theo yaa
2023-11-26
1
auliasiamatir
isssssssssss, dasar... jalang
2023-10-27
0
Putra Al - Bantani
apalah artinya sebuah nama?
😁😁😁
2023-10-21
0