Bab. 18

BSM Bab. 18

Laura meniupkan napasnya resah ketika membuka sebuah pesan chat masuk dari Tia Bagaskara, kakak perempuan Theo yang sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan yang cantik dan imut.

Tia mengundang Laura dan Rere untuk menghadiri perayaan ulang tahun Mikaila, putri Tia yang baru menginjak usia lima tahun. Perayaan ulang tahun Mikaila akan dilaksanakan sore ini di salah satu mall terbesar di kota ini.

Sebetulnya Laura enggan memenuhi undangan itu. Bukan Laura bermaksud tak menghargai, hanya saja ia menjadi resah lantaran teringat Lely, ibu mertuanya. Perayaan ulang tahun itu sudah pasti akan menjadi ajang untuk Lely memamerkan kebahagiaan Tia yang sudah memiliki keturunan. Hal tersebut juga akan dimanfaatkan Lely untuk menyindirnya.

Namun, demi menjaga hubungan agar tetap terjalin dengan baik, mau tidak mau Laura harus mengiyakan ketika Tia memintanya datang. Bersama Rere, ia pergi ke perayaan ulang tahun itu setelah membeli hadiah untuk Mikaila. Dan terpaksa toko kue harus tutup demi memenuhi undangan saudari iparnya tersebut.

“Selamat ulang tahun, Mika.” Berjongkok, Laura membuka satu tangannya, mengundang Mika untuk memeluknya. Sedangkan satu tangannya memegang paper bag yang berisi kado kecil untuk Mika.

Mika, begitu dia sapa. Gadis kecil nan manis itu datang memeluk Laura dengan senang hati. Wajahnya terlihat ceria. Hanya satu wajah saja yang tampak suram ketika melihat kedatangan Laura. Yaitu Lely, ibu mertuanya.

“Makasih Tante,” kata Mika begitu melepas pelukan.

“Ini kado dari Tante buat Mika.”

“Waaah ... Makasih banyak, Tante. Mika senang bisa ketemu Tante lagi.” Sumringah, Mika senang sekali menerima kado dari Laura. Sebelum Laura membuka toko, Mika sering dititipkan Tia kepada Laura jika Tia pergi bekerja. Tapi kini, Laura semakin disibukkan dengan kegiatannya di toko, sehingga Tia memutuskan menitipkan Mika di tempat penitipan anak. Itu pun juka Lely disibukkan dengan segala macam arisannya.

“Makasih ya, Ra. Kamu sudah menyempatkan waktu untuk datang. Oh ya, Kakak pikir kamu bakal datang bareng Theo,” kata Tia. Ia sebetulnya heran, mengapa belakangan ini Laura dan Theo jarang sekali terlihat berdua. Tak seperti awal-awal pernikahan. Bagaimanapun sibuknya Theo, pria itu selalu menyempatkan waktu untuk bersama Laura. Tetapi sekarang, baik Theo maupun Laura, telah disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing.

“Theo sibuk sekali belakangan ini, Kak Tia.” Menyunggingkan senyuman, bersikap seolah semua baik-baik saj, Laura berharap Tia tak banyak bertanya perihal rumah tangganya. Apalagi jika sampai mengungkit soal keturunan. Sungguh Laura tak punya jawabannya. Sebab sampai detik ini pun, ia masih menanti.

“Kamu itu, Ra. Seharusnya kamu sedikit lebih tegas sama suami kamu. Setidaknya, tegur dia. Mintalah sedikit waktu untuk kalian bersama. Dari yang Kakak perhatikan, kalian tuh sudah jarang sekali terlihat berdua. Kalian sudah sama-sama sibuk. Kakak cuma khawatir, jangan sampai hal itu menjadi jurang pemisah diantara kalian berdua. Jaman sekarang ya, Ra, pelakor mengintai di mana-mana.”

Ngeri juga sebenarnya mendengar ucapan Tia. Dan sejujurnya, Laura pun mencemaskan hal yang sama. Sempat terbersit pula dalam benaknya jika mungkin saja Theo memiliki wanita lain. Tetapi kemungkinan itu kecil, sebab Laura masih mempercayai Theo. Laura percaya, tak adanya lagi waktu untuk mereka bersama, itu dikarenakan kesibukan Theo dalam mencapai targetnya. Toh, Theo bekerja keras demi masa depan mereka. Laura masih berpegang teguh pada kepercayaannya itu.

Akan tetapi, bagaimana kelak jika suatu hari nanti Laura mendapatkan kenyataan yang berbeda. Bahwa kepercayaannya telah tergadaikan? Mampukah Laura menerimanya?

“Kak Tia tahu sendiri seperti apa Theo. Dia itu sangat loyal dengan pekerjaannya. Aku sangat bangga dengan Theo. Dia pekerja keras, sangat bertanggung jawab pada keluarga juga pekerjaannya.” Tak ingin dikasihani, hanya alasan itu yang selalu menjadi tameng Laura dalam menyikapi setiap omongan yang menyesakkan dadanya.

Tia tak memberikan sanggahan. Sebab hal itu benar adanya. Theo memang pekerja keras, sangat berambisi. Namun untuk satu hal, Theo justru pasrah pada keadaan. Entah karena dia sudah lelah berjuang, ataukah mungkin dia sudah tidak menginginkannya lagi. Tia dibuat bertanya-tanya. Walau bagaimanapun, Tia juga ingin melihat rumah tangga adiknya itu bahagia, lengkap seperti rumah tangga orang lain.

“Kamu datang sama siapa, Laura?” tanya Lely begitu datang menghampiri.

“Theo mana?” sambungnya sambil celingukan mencari sosok Theo diantara tamu undangan yang lain.

“Aku datang bersama Rere, Bu. Theo sibuk.”

“Kamu sudah kasih tahu Theo kan? Apa dia ngabarin kalau dia bakal datang ke sini?” Lely mengalihkan pertanyaan kepada Tia.

“Sudah, Bu. Katanya dia akan datang. Aku pikir dia bakal datang bersama Laura. Makanya aku heran, Laura sendiri.”

“Mungkin memang adik kamu itu lagi sibuk. Ya sudah, kita tunggu saja.”

“Itu Om Theo datang bareng tante cantik.” Tiba-tiba Mika berkata sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Theo yang terlihat datang berdua bersama Feli. Yang disebut Mika tante cantik. Serentak semua menoleh.

Feli memang terlihat cantik dengan rok ketat sebatas lutut dan memiliki belahan vertikal di bagian paha sebelah kiri. Dipadu dengan kemeja yang terbuka beberapa kancing di bagian atasnya. Sehingga menampakkan belahan dada mulusnya yang dihiasi kalung permata. Walaupun tampilan Feli formal, namun tetap terkesan seksi. Feli memang pandai dalam memilih outfit yang cocok dengan dirinya.

Berbeda dengan Laura, yang tampil apa adanya. Bukan tak memperhatikan penampilan, hanya saja Laura merasa nyaman dengan penampilan sederhananya. Natural dan tidak terlalu memaksakan diri. Hanya sepasang mata jeli yang mampu melihat kecantikan Laura.

“Halo, Mika. Selamat ulang tahun ya, sayang.” Theo membungkuk, memeluk Mika erat. Lalu mengecup pipinya.

“Makasih, Om Theo. Mika senang Om Theo datang. Mika kangeeen banget sama Om,” kata Mika senang.

“Tapi maaf ya, Om tidak membawa hadiah untuk Mika.”

“Tidak apa-apa, Om.”

“Selamat ulang tahun ya Mika cantik,” ujar Feli menyunggingkan senyum manisnya.

“Makasih Tante cantik.”

“Tante punya hadiah kecil nih buat Mika. Semoga Mika suka ya hadiah dari Tante.” Feli menyodorkan tote bag berukuran besar kepada Mika. Yang diterima Mika dengan wajah gembira. Tote bag itu berisi boneka panda kesukaan Mika. Boneka panda berukuran besar. Mika sungguh senang menerimanya.

“Waaah .... Bonekanya besar sekali. Mika suka. Makasih ya, Tante cantik.”

“Iya, sama-sama sayang.”

Jika ditanya, sejujur-jujurnya, ada perasaan cemburu mendera perasaan Laura saat melihat Theo datang bersama Feli. Apalagi Feli itu masih muda, single, dan cantik. Pria mana yang tak kan tergoda dengan kecantikannya.

Bukannya takut Theo tertarik dengan perempuan lain, apalagi perempuan itu seperti Feli. Bukannya juga Laura tak percaya diri. Hanya saja, apa yang dikatakan Tia beberapa saat lalu itu pun patut ia pertimbangkan. Kesenjangan waktu dan kebersamaan diantara dirinya dengan Theo itu jangan sampai menciptakan jarak dan menjadi jurang pemisah suatu hari kelak.

“Waaah ... Siapa perempuan cantik ini? Kenapa tidak dikenalkan ke Ibu, Theo.” Lely berkata, memuji wanita lain, seolah tak ada sosok Laura diantara mereka.

“Emm ...” Theo sedikit terkejut. Ia baru menyadari ada Laura diantara mereka. Diliriknya Laura sejenak, kemudian ia memilih mendekat kepada Laura, merangkulnya mesra.

“Oh ya, Bu, Kak Tia. Kenalkan, ini Feli, rekan kerjaku.” Theo berkata sembari mengeratkan rangkulan di pundak Laura. Seolah memberi isyarat bahwa dirinya hanya milik Laura seorang.

Feli mengulum senyuman manis, semanis wajahnya. Dan yang terlihat paling antusias adalah Lely. Yang terlihat senang Theo datang bersama seorang perempuan cantik.

Pemandangan itu menyesakkan dada, menyusupkan perasaan iri dalam hati Laura. Sekaligus kecewa dengan sikap Lely. Yang seolah menganggap kehadirannya tiada berarti.

Laura hanya bisa menghela napas, mencoba menguatkan hati dalam diamnya. Setidaknya ada Theo saat ini di sampingnya. Yang sudah cukup menguatkannya meski hanya dengan sebuah rangkulan.

“Feli, nama yang cantik, secantik orangnya. Coba seandainya Theo ketemu kamu lebih dulu. Pasti sekarang Ibu sudah menim...”

“Ibu!” Theo menyela cepat, setengah menghardik Lely. Sehingga kalimat Lely pun berakhir menggantung di udara.

“Maaf, aku permisi ke toilet sebentar,” pamit Laura segera beranjak meninggalkan sekumpulan orang yang hendak membuat harga dirinya terinjak.

Terpopuler

Comments

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

kesederhanaan itu justru cantik😍 semangat Laura

2023-10-15

3

Farida Wahyuni

Farida Wahyuni

padahal anaknya yang mandul.

2023-10-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!