BSM Bab. 11
“Kita langsung pulang, Tuan Ryan?” Edrick bertanya dari balik kemudi sembari melirik sekilas kaca spion di atas dashboard.
Setelah membawa si pajero hitam ke bengkel, Edrick kembali ke apartemen dengan Audy R-8 merah untuk menjemput tuannya. Ia keheranan melihat tuannya yang termenung sejak tadi sambil memperhatikan sebuah jam tangan dalam genggamannya.
“Tuan. Tuan Ryan.” Edrick memanggil sekali lagi. Mengagetkan Ryan.
“Dari tadi aku bertanya, Tuan. Apa kita langsung pulang saja? Ataukah Tuan masih ingin pergi ke tempat lain?” sambung Edrick melirik-lirik kaca spion.
“Mobilnya sudah selesai diperbaiki?” Bukannya menjawab pertanyaan Edrick, Ryan malah balik bertanya.
“Belum, Tuan. Besok mungkin sudah bisa diambil.”
“Batalkan. Ambil kembali mobil itu, tidak usah diperbaiki.”
“Loh. Ke...”
“Jangan tanya kenapa. Turuti saja apa kataku.” Ryan memotong cepat kalimat Edrick. Membuat Edrick terheran-heran dengan keputusan tuannya itu.
“Baik, Tuan. Setelah ini aku akan kembali ke bengkel.” Edrick pun hanya bisa menurut walaupun ia bertanya-tanya apa gerangan yang membuat Ryan berubah pikiran. Padahal mobil itu adalah mobil yang sering digunakan Ryan setiap hari pergi bekerja. Sedangkan mobil yang sedang mereka tumpangi saat ini adalah mobil yang hanya digunakan Ryan sesekali untuk pergi berkencan.
Edrick tidak bertanya apa-apa lagi. Edrick memfokuskan diri pada jalanan di depannya. Hari menjelang malam, jalanan ibukota mulai dipadati kendaraan. Beberapa menit kemudian Audy merah itu terlihat memasuki sebuah pekarangan rumah yang luas setelah gerbang di buka oleh seorang satpam.
Edrick segera turun begitu mobil menepi di depan teras rumah megah itu. Bergegas ia membukakan pintu mobil untuk tuannya.
Ryan turun dari mobil itu. Berjalan gontai memasuki rumahnya begitu pintu dibukakan oleh seorang pelayan. Di rumah itu Ryan hanya tinggal bersama para pelayannya. Sedangkan kedua orang tuanya berada di Meksiko.
Ibu Ryan menikah dengan seorang pria Meksiko. Beberapa tahun silam mereka pernah tinggal di kota ini sebelum akhirnya memutuskan pindah ke luar negeri. Waktu itu keadaan keluarganya belum seperti sekarang ini.
Ryan memutuskan untuk kembali tinggal di kota ini setelah AFECTO membuka cabangnya di kota ini. Selain untuk mengawasi toko-toko cabang secara langsung, ada satu alasan mengapa ia kembali ke kota ini. Alasan itu yang membuatnya masih betah sampai hari ini. Padahal ada banyak orang-orang kompeten di AFECTO Grup yang bisa dipercayai untuk mengelola kantor cabang. Tetapi ia malah memilih mengelolanya sendiri.
Hendak menapaki anak tangga, langkah kaki Ryan terhenti manakala dilihatnya dua orang pelayannya menundukkan kepala, berdiri di seberang. Mereka tidak perlu berkata apapun Ryan sudah cukup paham.
Membuang napasnya kasar, Ryan pun buru-buru menapaki anak tangga menuju lantai dua di mana kamar utama berada. Sampai di depan kamar, senyuman tipis terukir di wajahnya. Isi kepalanya sudah bisa menebak, kejutan apa gerangan yang tengah menunggunya di dalam sana.
Begitu pintu ia buka, tampak seorang wanita berpakaian minim dan terbuka tengah duduk di atas tempat tidurnya. Bersandar punggung di head board dengan segelas wine di tangannya. Wanita seksi itu menyunggingkan senyumnya melihat kedatangan Ryan.
“Hi darling. Come here, I've been waiting for you for a long time.” Wanita itu berkata dengan nada sensual. Mengundang Ryan untuk datang mendekat kepadanya. Sedari tadi ia menunggu Ryan pulang sembari menikmati wine.
Sembari melangkah mendekat, Ryan melepas jas, membuka dua kancing teratas kemeja, dan menggulung lengan kemeja sampai batas siku.
Ryan mengambil duduk di tepian tempat tidur. Wanita seksi dengan gincu merah dan make up tebal itu pun beringsut mendekat. Lalu melingkarkan satu lengannya di pundak Ryan. Wanita itu lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Ryan, hendak mengecup bibir Ryan. Tapi Ryan cepat berpaling muka, menghindari bibir nan merah merekah itu.
Wanita itu mendesah kecewa. Baru kali ini Ryan menghindari ciumannya. Biasanya Ryan yang lebih dulu menyerbunya. Namun kali ini, entah mengapa Ryan mendadak berubah.
“Amanda, siapa yang mengijinkan kamu masuk ke kamarku?” tanya Ryan kemudian. Memang sudah dua kali ia pernah mengajak wanita yang dipanggil Amanda itu ke rumahnya ini. Tetapi tidak sekalipun ia menitipkan pesan kepada para pelayannya untuk mengijinkan siapapun masuk ke dalam kamar pribadinya. Termasuk Amanda.
Amanda tersenyum. Ia lantas turun dari tempat tidur, menaruh gelas wine di atas nakas. Kemudian kembali mendekati Ryan, mengambil duduk di sebelah Ryan.
“Aku sangat merindukanmu, Sayang,” ucapnya sembari meraih kancing kemeja Ryan, hendak membukanya. Namun tangan Ryan mencegah jemari Amanda.
Untuk kedua kalinya Amanda terlihat kecewa. Padahal sudah susah payah Amanda mencari-cari alasan untuk menghindari suaminya demi bisa bertemu Ryan. Amanda adalah istri seorang pejabat setempat yang memang memiliki paras cantik dengan tubuh nan molek. Amanda sangat tergila-gila pada Ryan.
Sedangkan bagi Ryan, Amanda hanya salah satu dari sekian banyak wanita yang dikencaninya. Hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk saling mencintai. Di hati Ryan tidak ada cinta bagi wanita-wanita seperti Amanda ini.
“Kamu sudah membatalkan pertemuan kita tadi di hotel. Ingat?” ujar Ryan.
“Maafkan aku. Aku membatalkannya karena aku kesal kamu telat. Dan lagipula, aku memang harus pergi saat itu karena suamiku sedang mencariku. Untuk mengganti waktu kita yang terbuang sia-sia, untuk itulah aku datang kemari. Suamiku sudah berangkat ke luar kota. Sekarang kita bisa bersenang-senang sepuasnya.”
Senyum Ryan terkembang manis di bibirnya. Senyum yang membuat Amanda tergila-gila. Amanda seperti terkena sihir kala melihat senyum itu. Hingga perlahan-lahan Amanda mulai mendekatkan wajahnya, lantas mendaratkan kecupannya di bibir Ryan.
Tidak ada penolakan dari Ryan. Ryan pun tampak menikmati kecupan Amanda. Kecupan yang semula lembut, saling berbalas itu ujung-ujungnya mulai memanas dan menuntut. Amanda sangat agresif. Sembari buas mengecup, jemarinya liar membuka kancing kemeja Ryan yang tersisa. Jemarinya itu mengelana bebas di dada bidang Ryan.
Tanpa Amanda duga, Ryan mendorong tubuhnya sampai terlentang di atas tempat tidur. Membuatnya berada di bawah kungkungan Ryan. Amanda merasa menang karena sudah berhasil merayu Ryan, berhasil menggelorakan kembali hasrat Ryan yang sempat padam.
“Came on, darling. Kita akan bersenang-senang sepanjang malam,” kata Amanda.
Ryan melepas kemeja, melemparnya asal dan jatuh teronggok di lantai kamar itu. Ia mulai mendekatkan wajahnya perlahan-lahan. Amanda yang tak sabaran cepat meraih tengkuk Ryan, menariknya, lantas kembali mengecup bibir Ryan dengan buas.
Amanda kira ia sudah berhasil memenangkan hati Ryan. Atas nama cinta ia rela menyerahkan tubuhnya untuk Ryan. Namun tanpa ia duga, Ryan melepas tautan bibirnya, lalu berkata,
“Amanda, kita akhiri pertemuan kita sampai di sini. Ini yang terakhir kali. Pulanglah dan jangan pernah temui aku lagi.”
Laksana petir yang menyambar di siang bolong ucapan Ryan bagi Amanda. Ia terkejut sampai wajahnya berubah tegang. Kemudian amarah pun mulai merasukinya.
“Apa maksud kamu, sayang?” tanya Amanda.
Ryan bangun, turun dari tempat tidur. Ia kemudian berjalan menuju walk in closet. Membuka lemari, ia mengambil kaos oblong dan lekas mengenakannya. Kemudian ia kembali mendekati Amanda yang sudah duduk di tepian tempat tidur.
“Sayang, kamu marah karena aku membatalkan pertemuan kita tadi? Kalau begitu maafkan aku. Kamu juga harus mengerti keadaan aku saat itu. Keadaan sedang darurat. Aku tidak mau suamiku sampai tahu hubungan kita berdua. Suamiku bisa berbuat apa saja jika dia marah. Aku hanya tidak mau dia menyakiti kamu.” Walaupun marah, Amanda masih berusaha merayu. Ia sudah terlanjur menyerahkan seluruh hatinya untuk Ryan.
“Amanda, kita menjalin hubungan karena sama-sama butuh. Bukan karena cinta. Dan sekarang, aku sudah tidak membutuhkan kamu lagi. Jadi, silahkan pergi. Hubungan kita sudah berakhir. Jangan pernah sekali pun datang menemuiku lagi. Paham?”
Amanda menelan ludahnya kelat. Wajahnya memerah karena menahan amarah. Sungguh Ryan telah mengecewakan dan menyakiti hatinya.
“Ryan Antonio Gonzales, kamu akan menyesali keputusan kamu ini. Akan aku pastikan itu,” ujar Amanda geram.
★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
auliasiamatir
matulllll, ryan udah nemu cinta monyet nya.
jadi amanada di depak
dasar lelaki 😌
2023-10-27
0
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
2023-10-09
1