BSM Bab. 8
“Saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya tidak sengaja. Saya tadi sedang banyak pikiran. Mohon pengertiannya, Pak. Sungguh, saya tidak sengaja.” Laura menempelkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya sembari memasang wajah memelas sebagai ungkapan permintaan maafnya.
Tabrakan yang terjadi tanpa terduga itu merusak bumper Pajero Sport berwarna hitam itu. Laura sungguh tidak menyangka mengapa ia bisa se-lalai ini mengemudi. Bayangan Theo yang sedang menggandeng tangan Feli itu tiba-tiba saja mengganggu pikirannya. Sehingga membuyarkan konsentrasinya. Akibatnya ia malah menabrak sebuah mobil mewah. Belum lagi bumper mobil Rere yang juga mengalami kerusakan walaupun tidak parah, tetap saja ia harus bertanggung jawab.
“Saya sedang banyak pikiran, Pak. Tadi saya melihat suami saya pegangan tangan dengan perempuan lain. Itulah kenapa saya kurang konsentrasi, Pak. Bapak tahu seperti apa perasaan saya kan? Saya sedang galau, Pak.” Laura tak henti membuat alasan, agar pria di depannya itu memahami keadaannya, kemudian memaklumi. Lalu pada akhirnya memaafkan dan tidak memperpanjang masalahnya.
Pria itu menghembuskan napasnya panjang sembari menatap Laura dengan seksama. Wajah memelas yang diperlihatkan Laura itu sebetulnya membuat iba. Tetapi soal meminta ganti rugi atau tidak, itu adalah keputusan atasannya.
“Saya mungkin bisa memaklumi kegelisahan Anda, Nona. Tapi tuan saya? Sebetulnya ini bukan soal ganti rugi. Tapi Anda sudah membuat tuan saya kehilangan kesempatan besar dalam hidupnya. Apa Anda tahu, tuan saya punya pertemuan penting sekarang. Tapi gara-gara Anda, tuan saya jadi terlambat datang ke pertemuan itu,” kata si pria.
“Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Saya janji saya akan bertanggung jawab. Oh ya ...” Laura membuka pintu mobil, mengambil tas, kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya.
“Ini kartu nama toko kue saya, Pak. Bapak bisa menemui saya di alamat ini. Untuk sekarang ini saya belum punya uang, Pak. Tapi saya pastikan saya akan mengganti kerugian Bapak. Saya janji, Pak. Saya orangnya pantang ingkar janji. Bapak bisa pegang janji saya.” Ya ampun, kata-kata Laura bahkan terdengar menggelikan saking gugup dan takutnya ia.
Mendengar ucapan Laura, si pria itu hampir saja ingin tertawa. Diterimanya kartu nama yang disodorkan Laura kepadanya itu sambil menahan senyum.
Sementara di dalam Pajero Sport berwarna hitam itu, seorang pria tampan berwajah blasteran tengah kesal menunggu asistennya yang sedang menyelesaikan masalah di luar. Berkali-kali ia melirik arloji di tangan.
Pria berwajah blasteran itu jengkel karena beberapa saat lalu ia menerima telepon jika pertemuan pentingnya itu dibatalkan mendadak hanya karena ia telat beberapa menit saja. Dan penyebabnya adalah perempuan yang sedang berhadapan dengan asistennya saat ini.
Menurunkan kaca jendela, pria itu mengenakan kacamata hitamnya. Kemudian berkata,
“Edrick, waktunya sudah habis! Cepat selesaikan masalahnya dan buat saja kesepakatan dengan perempuan itu. Aku tidak punya waktu lagi,” ujarnya melirik sejenak ke arah Laura dan Edrick, asistennya.
Edrick dan Laura terkejut. Refleks keduanya menoleh ke arah sumber suara. Laura hanya melihat kaca jendela yang kembali dinaikkan tanpa sempat melihat pria itu.
“Baik, Tuan,” ujar Edrick.
Mendengar kata kesepakatan, Laura menelan salivanya kelat. Jantungnya berdebar-debar, entah kesepakatan apa yang dimaksud pria itu. Sungguh baru kali ini Laura mendapat masalah seperti ini. Sebelumnya ia aman-aman saja meski seharian bolak-balik di jalanan mengantar pesanan pelanggannya.
“Baiklah, Nona. Saya akan menemui Anda nanti. Kita selesaikan masalah ini saat kita bertemu nanti. Oh ya, jangan panggil saya bapak. Saya belum setua itu.” Edrick kemudian bergegas naik ke mobil setelah mengantongi kartu nama yang diberikan Laura.
Laura masih berdiri mematung ditempatnya memandangi mobil itu mulai bergerak meninggalkan tempatnya.
Sementara di dalam mobil itu, Edrick tak bisa menahan senyumnya mengingat wajah Laura yang ketakutan.
“Gimana? Kamu sudah selesaikan masalahnya?” tanya si pria berwajah blasteran itu.
“Sebenarnya belum, Tuan. Tapi perempuan itu memberikan kartu namanya. Nanti aku yang akan menyelesaikannya dengan perempuan itu.”
“Haaah ... Kenapa hari ini aku sial sekali. Sudah dua kali tabrakan seperti ini terjadi. Kamu antar aku dulu ke tempat Kevin. Setelah itu kamu bawa mobil ini ke bengkel.”
“Tuan tidak jadi ke hotel?”
“Batal. Amanda membatalkan pertemuannya hanya karena aku telat lima menit. Dan semua ini gara-gara perempuan itu.”
Edrick tersenyum tipis. Seolah ia merasa senang tuannya batal bertemu dengan Amanda. Mungkin kecelakaan kecil ini ia anggap sebagai anugerah. Karena Laura sudah membantu menggagalkan pertemuan maksiat antara tuannya dengan perempuan yang bernama Amanda itu. Perempuan yang setahu Edrick sudah berstatus istri orang itu tergila-gila kepada tuannya. Yang memang memiliki paras tampan rupawan.
“Baiklah, Tuan Ryan. Kalau begitu kita ke tempat Kevin.” Tak ingin menanggapi lebih, Edrick pun menambah laju mobil agar cepat sampai di tempat tujuan.
Tak berapa lama Pajero Sport berwarna hitam itu pun sampai di sebuah gedung apartemen mewah. Mobil itu memasuki basemen apartemen, pria yang bernama Ryan turun dari mobil itu.
Dengan mengenakan kacamata hitamnya, Ryan melangkah penuh percaya diri. Menaiki lift, tujuan Ryan adalah lantai lima, di mana unit apartemen Kevin berada. Tiba di depan sebuah unit apartemen berangka 287, Ryan menekan bel pintu beberapa kali. Sampai akhirnya pintu itu pun terbuka. Tampak seorang pria dengan senyum menghiasi wajahnya, berdiri di ambang pintu itu.
“Hi, Man. How are you?” Kevin menyapa dengan antusias begitu melihat siapa tamunya siang itu.
“I'm good, Antonio.”
Kevin tergelak mendengar Ryan menyebutnya Antonio.
“Ya, ya. The fake Antonio.” Kevin tertawa-tawa sembari menggeleng. Peran yang belakangan ini dilakoninya itu terasa sedikit melelahkan sebetulnya. Sebab tidak mudah baginya menghindari wartawan hanya demi sebuah alibi. Alibi yang memang sengaja diciptakan untuk mengalihkan perhatian wartawan. Sementara Antonio yang asli, sedang menikmati kesenangannya.
“Ayo, silahkan masuk Tuan Ryan Antonio Gonzales. Kita bicara di dalam saja.” Kevin memiringkan tubuh, memberi akses untuk Ryan masuk ke dalam apartemennya.
“Oh ya. Ini, lihatlah.” Kevin menyodorkan sebuah foto kepada Ryan begitu mereka mengambil duduk di sofa.
“Itu adalah wartawan yang belakangan ini gigih sekali mencari informasi tentangmu,” kata Kevin.
Ryan, atau yang bernama lengkap Ryan Antonio Gonzales itu mengerutkan dahi memandangi foto tersebut. Wajah wartawan itu seperti tidak asing baginya. Rasanya ia pernah bertemu sebelumnya.
“Namanya Theo. Kamu harus menghindari wartawan itu. Dari semua wartawan, dia yang paling gencar mencaritahu tentang kamu. Sepertinya dia sangat tertarik dengan kehidupan pribadimu,” tambah Kevin.
Ryan tersenyum tipis. Sudah ia duga, wartawan tidak mungkin hanya tertarik dengan berita tentang AFECTO saja. Sudah pasti kehidupan pribadinya pun akan ikut diekspose. Maka dari itu ia meminta bantuan Kevin untuk menjadi duplikatnya. Yah, walaupun wajah Kevin dengan wajahnya sangat jauh berbeda. Tetapi setidaknya, Kevin bisa mengelabui wartawan.
“Tentang perempuan itu, kamu sudah mendapatkan informasinya?” tanya Ryan.
“Kecuali tentang yang satu itu. Sorry, Ryan. Aku tidak menemukan informasi apa pun tentang perempuan yang kamu kagumi itu. Masalahnya, secuil biodata tentang perempuan itu saja kamu tidak tahu. Mustahil menemukan seseorang tanpa biodata yang lengkap, Man. Lebih baik kamu lupakan saja dia. Mungkin saja dia sudah menikah dan punya anak.”
Ryan menggeleng pelan. “ She is my first love.”
“Ya, ya, cinta monyet. Aku paham itu. Terserah kamu deh. Tapi sebagai teman, aku sarankan, lebih baik kamu cari perempuan lain saja. Perempuan yang bisa kamu jadikan pendamping hidup. Dan berhentilah menggauli istri orang, Man. Ingat, masa depan AFECTO Grup ada di tanganmu.”
Ryan menghela napas pelan. Menyandarkan punggung, kemudian memangku satu kakinya. Ia lantas melipat kedua tangannya di depan dada. Sembari melambungkan kembali ingatannya ke masa-masa lampau. Masa di mana pertama kali ia melihat seorang gadis manis penjual kue yang berdiri di bawah lampu merah beberapa tahun yang lalu.
★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Duda Fenta Duda
Thor kok lauranya sering telmi
2024-10-03
1
Salma Suku
Aduh,jodohnya Laurakah si Antonio...
2024-09-21
0
Santi Haryanti
wah wah .. laura first love nya antonio
2023-11-26
0