BSM Bab. 3
“Laura?” Theo terkejut melihat Laura sudah berdiri si seberang dengan baki dan pecahan gelas yang berserakan. Ia yakin jika Laura sudah mendengar perkataan ibunya.
Di detik yang bersamaan pula Lely ikut menoleh karena sama terkejutnya dengan Theo.
“Ya ampun, Laura. Kamu ini gimana sih? Ceroboh sekali kamu ini.” Namun bukannya menaruh cemas dengan keadaan Laura, Lely malah mengomel.
“Maaf, Bu. Entah kenapa kepalaku tiba-tiba pusing. Aku jadi tidak berhati-hati. Nanti aku buatin Ibu teh hangat lagi.” Cepat-cepat Laura berjongkok, memungut pecahan-pecahan gelas yang berserakan itu. Tangannya gemetaran. Kentara sekali jika keadaan Laura tidak baik-baik saja.
“Ya sudah. Cepat kamu bereskan itu. Terus kamu buatin Ibu teh hangat. Dan jangan tumpah lagi. Jadi istri kok ceroboh sekali. Gimana mau merhatiin suami kalo merhatiin diri sendiri saja masih tidak becus. Kalau kamu tahu kamu sakit, ya, minum obat dong.”
Laura menulikan pendengaran. Omongan Lely itu ia anggap seperti angin lalu saja. Angin lalu yang menyisakan perih. Aliran darahnya bahkan berdesir nyeri ketika kalimat pedas itu menerpa gendang telinganya.
Omongan seperti itu sudah sering kali ia dengar menyembur bebas dari mulut Lely. Sudah menjadi makanannya setiap kali Lely datang berkunjung. Jadi ia sudah cukup terbiasa dan menganggap omongan Lely seperti kentut. Cukup berbunyi dan meninggalkan bau yang tak sedap, dan akan hilang dibawa angin lalu. Hanya satu yang perlu ia lakukan, yaitu tidak menanggapinya walau sepedas apa pun omongan itu.
“Aw!” Akibat memungut pecahan gelas itu dengan tangan kosong, jemari Laura pun terluka. Darah segar menetes dari jari ujung jari telunjuknya.
Sebagai suami, Theo bergegas bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Laura, berjongkok di depan Laura. Diraihnya jemari Laura yang berdarah. Raut wajahnya terlihat cemas.
“Sudah, biar aku saja yang bereskan ini. Kalau kamu sakit, sebaiknya kamu istirahat. Kamu tidak perlu mengerjakan apa pun. Ayo, ikut aku.” Theo bangun berdiri. Membantu Laura berdiri, kemudian mengajak Laura ke kamar. Meninggalkan beling yang berserakan serta wajah masam Lely yang menyaksikan pemandangan itu.
“Dasar mantu tidak becus,” umpat Lely, membuang muka sekaligus membuang napasnya kasar. Semenjak Laura belum bisa memberinya cucu penerus keluarga Bagaskara sampai hari ini, semenjak itu pula ia telah kehilangan simpatinya kepada Laura.
****
“Seharusnya kamu istirahat saja kalau memang kamu sakit. Tidak perlu melakukan apa pun, dan tidak perlu menyambutku,” kata Theo setelah mengobati luka di jari Laura. Mereka tengah duduk di tepian tempat tidur.
“Ibu benar, aku ini ceroboh. Istri yang tidak becus.” Lirih dan lesu Laura berkata demikian. Walau nyatanya sakit, namun ia pun tak memungkiri perkataan Lely. Bahwa dirinya tak becus. Selain tak becus, ada satu hal lagi yang membuat perasaannya pedih tersayat-sayat adalah kata 'mandul'. Lely memang tak pernah mengatakannya secara langsung. Tapi dari kalimat-kalimatnya, menyiratkan demikian.
Sejujurnya, terkadang pemikiran seperti itu sempat mampir di benak Laura. Perasaannya pun kadang hancur memikirkan mengapa sampai hari ini ia tak kunjung hamil. Hal itu seolah turut membenarkan ucapan Lely. Apakah memang benar dirinya mandul?
“Yang, apa kamu mencintaiku?” tanya Laura tiba-tiba. Membuat sorot mata Theo berubah seketika. Theo bahkan terlihat gugup ketika Laura menatapnya intens.
“Kamu ini bicara apa sih?” Theo salah tingkah ketika Laura menatapnya sendu. Sorot mata Laura tampak menghiba.
“Aku serius, Yang. Tolong jawab dengan jujur. Apa kamu masih mencintaiku?”
Theo menghela napasnya pelan.
“Kamu tadi sudah dengar apa yang dikatakan ibu kan?” Theo balik bertanya. Sebab ia yakin Laura sudah mendengar percakapannya dengan Lely. Dadanya pun terasa sesak, sebab ia tahu seperti apa perasaan Laura saat ini. Sudah pasti Laura tersinggung. Tapi Laura tak pernah menunjukkannya.
Laura tidak menjawab. Kepalanya menunduk lemah sembari ia menghela napasnya pelan.
“Yang, kamu tidak perlu menyembunyikan apa pun dariku. Kalau memang kamu sudah tidak mencintaiku lagi, kamu boleh ninggalin aku. Kamu boleh cari perempuan lain yang--”
“Laura!” Dengan cepat Theo menyela ucapan Laura. Sedikit membentak dan menaikkan nada suaranya, membuat Laura terdiam seketika.
“Tolong jangan berkata seperti itu. Aku tidak mau mendengar kata-kata seperti itu keluar lagi dari mulut kamu,” ujarnya dengan wajah serius.
“Kamu tanya apa aku masih mencintai kamu? Apa kamu sudah mulai meragukan aku?” sambungnya bertanya.
“Aku tidak meragukan kamu, Yang. Tapi apa kata ibu itu mungkin saja benar, kalau aku mandul.”
“Laura, tolong jangan berkata seperti itu. Kamu tidak mandul. Hanya saja Tuhan belum memberi kita kepercayaan untuk menjadi orang tua. Jika sampai saat ini kamu belum hamil, itu bukan karena kamu mandul. Tapi waktunya mungkin belum tepat. Tuhan juga tahu kapan waktu terbaik.”
“Kamu sih enak, tinggal ngomong seperti itu. Sedangkan aku? Kamu tidak tahu seperti apa perasaan aku terus-terusan dikatai seperti itu. Memang ibu tidak pernah mengatakannya secara langsung. Tapi tetap saja, Yang, hatiku sakit.”
Theo diam sejenak. Dipandanginya wajah Laura lekat-lekat. Tak perlu Laura mengatakannya, ia juga tahu seperti apa perasaan Laura saat ini. Hanya saja, sama seperti Laura, ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah.
Namun, bukan berarti ia diam saja selama ini. Telah berbagai macam upaya mereka lakukan, termasuk memeriksakan diri ke dokter. Tetapi, sampai detik ini, tak jua membuahkan hasil.
Meraih Laura ke dalam rangkulannya, Theo mengelus lembut lengan Laura begitu Laura menyandarkan kepala di pundaknya.
“Yang, kamu boleh menikah lagi kalau memang benar aku mandul,” kata Laura memelankan nada suaranya. Jika ditanya, ia sungguh tak ingin melihat pria yang dicintainya bersanding dengan wanita lain. Tetapi apa mau dikata, keadaan masih tak berpihak kepadanya. Ia sungguh tak rela bila harus melepas Theo untuk wanita lain.
“Ra, aku mencintai kamu sepenuh hatiku. Sampai kapan pun akan tetap seperti itu. Walau apa pun yang akan terjadi nanti, aku tidak ingin kita berpisah.”
“Kamu janji?”
Theo mengangguk mantap. “Kamu bisa pegang kata-kataku ini. Walau apa pun yang akan terjadi nanti, aku, Theo Bagaskara akan selalu setia kepada Laura Adriana,” ujarnya sambil mengangkat satu tangannya layaknya sedang bersumpah setia.
Laura pun tersenyum. Seperti itulah Theo, walau terkadang membuatnya kesal juga kecewa, namun paling bisa merebut kembali hatinya. Theo seolah tahu kapan waktu yang tepat untuk merayunya.
“Aku pegang janji kamu, Yang. Jangan sampai kamu ingkar. Karena, kalau sampai ingkar janji, aku tidak akan pernah memaafkan kamu,” kata Laura.
“Iya, iya. Kamu bisa pegang janjiku. Tapi sekarang, kamu istirahat saja. Aku temui ibu dulu.”
Laura mengangguk dengan senyuman. Yang mendapat balasan kecupan di dahinya.
****
Menjaga Laura sudah menjadi kewajiban Theo sebagai suami. Termasuk menjaga perasaan Laura. Seperti halnya yang terjadi beberapa saat lalu, ia harus menjauhkan sejenak Laura dari sang ibu. Sebab perbincangannya yang sempat terdengar oleh Laura itu sudah melenceng jauh. Bahkan sangat menyakiti perasaan Laura.
Meninggalkan Laura di kamarnya, Theo hendak menemui Lely di ruang makan. Namun dering ponselnya menghentikan sejenak langkahnya. Merogoh kantong, Theo mengambil ponsel dari dalam sana. Segera ia menjawab panggilan telepon dari seseorang.
“Halo sayang, i miss you so much. Padahal baru beberapa jam saja kamu pergi, tapi aku sudah sangat merindukan kamu. Kamu tuh ya, pake sihir apa sih sampe aku susah sekali melupakan kamu.”
Kalimat itu terdengar di ujung telepon. Suara manja seorang wanita terdengar merayu mendayu-mendayu. Membuat kedua sudut bibir Theo melengkung manis membentuk segaris senyuman.
“Kamu tuh ya, emang paling bisa merayu,” balas Theo dengan memelankan nada suaranya sembari matanya melirik-lirik waspada ke arah pintu kamarnya.
“Oh ya, tolong untuk sementara ini kamu jangan menghubungi aku dulu. Aku hanya tidak ingin membuat Laura curiga. Saat ini perasaan Laura sangat sensitif. Kamu paham kan apa yang aku maksud?” Sangat pelang Theo berkata, sembari menjauh menuju menuju teras samping. Agar pembicaraannya via telepon dengan seseorang itu tidak terdengar oleh sang ibu yang masih berada di ruang makan.
“I miss you too.” menutut teleponnya, Theo hendak kembali ke ruang makan untuk menemui Lely. Namun ia terkejut begitu memutar tubuhnya, seseorang telah berdiri di depannya, menatapnya penuh kecurigaan.
“Kamu teleponan dengan siapa?”
★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Bilqies
sweet banget siih Theo
2024-05-21
0
auliasiamatir
setia taik kucing mu, semalan kamu di mana preeettttt
2023-10-07
0
auliasiamatir
preeettttt, janji buaya
2023-10-07
0