BSM Bab. 17
Dua jam berlalu. Sepasang mata Theo masih awas mengamati situasi di depan panti asuhan. Mercy berwarna putih masih terparkir di depan panti, namun yang ia tunggu-tunggu masih tak kunjung menampakkan wujudnya.
Sesekali melirik gelisah ke arloji di pergelangan kirinya, perasaan Theo mulai tak enak sedari tadi. Masalahnya, si Antonio datang ke panti itu hanya didampingi oleh asistennya saja. Tapi sampai sekarang, belum juga tampak wujud kedua pria itu keluar dari dalam panti. Ia pun mulai curiga, apa jangan-jangan jadwal kunjungan Antonio ini hanya manipulasi saja? Mungkinkah ini adalah cara Antonio untuk menghindari wartawan?
“Kenapa laki-laki itu belum keluar juga ya?” gumam Theo sambil terus memperhatikan panti dari balik jendela mobil.
“Apa tidak sebaiknya kita temui saja langsung orangnya? Kalau kita hanya menunggu seperti ini terus, kapan kita bisa ketemu dengan si Antonio itu?” usul Feli.
“Mana mungkin Antonio mau bertemu dengan wartawan. Yang ada, dia pasti bakal menghindar. Lebih baik seperti ini dulu. Kita awasi dia secara diam-diam. Dengan begini, kita juga bisa mencaritahu kegiatan Antonio di luar pekerjaannya.”
“Bukannya itu asistennya?” Tiba-tiba Feli menunjuk ke luar. Di mana terlihat asisten Antonio keluar dari panti seorang diri.
“Serahkan ini padaku.” Membenahi rambutnya, Feli kemudian membuka dua kancing teratas kemejanya. Lalu ia memulas bibirnya dengan gincu berwarna merah. Sebuah ide tiba-tiba terbersit di kepalanya.
“Kamu mau ngapain?” tanya Theo heran juga kebingungan. Lagak Feli terlihat seperti seorang wanita yang hendak menggoda lelaki.
“Mencari info tentang si Antonio itu. Aku kesal, perhatian kamu terkuras habis sama si Antonio itu.”
“Fel, jangan macam-macam Fel. Bisa-bisa kita kehilangan narasumber.”
“Tidak akan, Kak Theo sayang. Bukankah Antonio menyukai wanita? Kita akan lihat apa dia bisa mengabaikan wanita cantik dan seksi seperti aku ini.”
“Tapi bukan begini caranya, Fel.”
“Kamu diam saja di sini, Kak. Serahkan semuanya pada Felina.” Menarik tuas, Feli lekas turun dari mobil.
“Fel, Feli.” Theo ingin menghentikan Feli. Namun Feli tak menggubrisnya sedikitpun. Gadis itu malah nekat menghampiri asisten Antonio yang terlihat sedang membuka pintu mobil. Sedangkan Antonio sendiri belum terlihat keluar dari panti asuhan itu. Sungguh, ia dibuat cemas seketika oleh kenekatan Feli.
Sementara di luar sana, dengan melenggak-lenggokkan pinggulnya, Feli berjalan bak seorang model profesional. Ia menghampiri asisten Antonio yang tampak terpana melihat seorang wanita cantik dan seksi berjalan mendekatinya.
“Permisi,” ujar Feli dengan sok bergaya wanita elegan. Ia merasa yakin jika si asisten itu terpana oleh pesonanya. Lihat saja, laki-laki bertubuh jangkung itu tersenyum-senyum melihatnya. Lalu dia bersiul sembari menyapukan pandangannya dari kaki sampai kepala dengan genitnya.
“Hai cantik.” Laki-laki itu mencoba merayu. Feli pun mulai melancarkan aksinya. Dalam urusan rayu merayu, Feli memang ahlinya.
“Halo, Bang. Abang ganteng banget sih.” Feli mengedip-ngedipkan sebelah matanya merayu laki-laki itu. Ia terlalu yakin jika ia bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang Antonio menggunakan caranya ini.
****
Sementara di lain tempat. Kevin sudah menduga jika kepergiannya ke panti asuhan atas perintah Ryan itu sudah diketahui wartawan. Sehingga setibanya di panti asuhan Kasih Bunda, ia tak bisa berlama-lama.
Setelah mengobrol sebentar dengan pengurus panti, Kevin pun pamit. Dengan menggunakan pintu belakang ia pergi dari panti asuhan itu secara diam-diam menggunakan taksi online. Sementara rekannya, yang berperan sebagai asisten gadungan itu ia tinggalkan di panti. Hanya untuk mengelabui wartawan. Agar wartawan mengira jika dirinya masih berada di panti asuhan itu.
Berhasil lolos dari pantauan wartawan, Kevin kini berada di kantor AFECTO, sedang duduk di depan Ryan.
“Apa yang dia inginkan dariku?” tanya Ryan tak mengerti mengapa wartawan yang satu ini sangat ingin sekali meliput tentang dirinya.
“Aku rasa wartawan yang satu ini lebih tertarik pada kehidupan pribadimu daripada prestasimu. Mungkin saja dia sudah tahu kalau Antonio Gonzales suka bermain perempuan,” jawab Kevin memberikan opininya.
Kesuksesan AFECTO menguasai pasar global itu melambungkan nama Antonio Gonzales sebagai orang dibalik kesuksesan itu. Namun tak banyak yang mengetahui siapa Antonio sebenarnya. Usianya yang terbilang muda itu lantas mengundang rasa penasaran banyak media ingin meliput tentangnya.
“Bahasamu terlalu kasar. Aku tidak sebejat itu, Man.”
Kevin tergelak. Memang jika dipikir-pikir, Ryan tidak sebejat itu kepada wanita. Sejauh ini bukan dirinya yang mengejar-ngejar wanita. Yang terjadi justru sebaliknya.
“Tapi kenapa kamu mengirimiku foto wartawan itu?” tanya Ryan kemudian teringat foto Theo yang dikirimkan Kevin kepadanya beberapa saat lalu. Tak ada yang menarik dari foto itu sebetulnya. Ia hanya ingin tahu saja maksud Kevin mengirimkan foto itu kepadanya.
“Hanya iseng. Itu foto yang tidak sengaja diambil oleh satpam saat aku memintanya untuk mengawasi wartawan itu. Soalnya dia masih gigih ingin meliput tentang kamu. Tapi, kok bisa-bisanya disaat-saat seperti itu dia masih punya kesempatan untuk ...” Kevin memeragakan ciuman dengan tangannya.
“Gila kan?” sambungnya.
“Biarkan itu menjadi urusannya. Dan sekarang, cepat kamu lakukan apa yang aku perintahkan. Cari tahu tentang perempuan itu.”
“Siap, Man. Urusan seperti ini serahkan saja padaku. Secepatnya akan aku kabari kamu. Oke, kalau begitu aku...”
Tok tok tok
Ucapan Kevin terjeda oleh suara ketukan pintu. Ryan yang hendak pamit bergegas berdiri, lalu berjalan menuju pintu. Sembari berkata, “Biar aku saja.”
Lekas Kevin membuka pintu itu. Begitu pintu terbuka, seorang wanita berambut blonde sebahu, dengan mini dress berwarna biru langit itu berdiri dengan senyum merekah tercetak di wajahnya.
Kevin menaikkan kedua alisnya kaget. Tak perlu bertanya siapa wanita cantik dengan dandanan tebal itu, ia sudah bisa menduganya. Wanita ini adalah salah satu dari sekian banyak wanita yang mengejar-ngejar Ryan. Memang pesona seorang Ryan tak bisa diragukan lagi.
“Aku mau bertemu Ryan,” ujar wanita itu.
“Silahkan, Nona. Tuan Ryan sedang menunggu di dalam.” Memiringkan tubuhnya, Kevin memberi jalan pada wanita itu. Ia pun segera meninggalkan ruangan Ryan begitu wanita itu masuk.
“Hai Honey, i miss you so much,” sapa wanita itu melebarkan senyumnya.
“Silahkan duduk, Alice.” Ryan membuka tangan kanannya, mempersilahkan wanita cantik yang bernama Alice duduk pada kursi yang tersedia di depan mejanya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Alice malah mendekati Ryan. Menaruh tas branded-nya di meja, lantas duduk di pangkuan Ryan. Sembari mengalungkan kedua tangannya mesra di pundak Ryan.
Hal seperti itu sudah kerap terjadi, sehingga Ryan tak terkejut atau merasa risih lagi.
“Hanya seperti ini sambutan yang aku dapat darimu? Mana Ryan-ku yang biasanya selalu menyambutku spesial. Aku jauh-jauh datang kemari hanya untuk kamu, sayang. Aku bahkan sudah membuat banyak alasan untuk mengelabui suamiku hanya demi kamu. Aku sangat merindukanmu, sayang.” Sembari membawa jemarinya mengusap lembut wajah Ryan. Kemudian mulai mendekatkan wajahnya perlahan-lahan.
Dengan berani Alice mengambil peran lebih dulu. Ia mendaratkan kecupan di bibir Ryan. Menyesap penuh kasih bibir itu dengan sedikit agresif. Mungkin lantaran Alice yang terlalu pandai memainkan perannya memancing hasrat Ryan, sehingga Ryan pun membalas kecupan itu dengan sama bergairahnya. Membuat Alice senang dan malah kian menggebu-gebu.
Yang membuat Alice lebih senang lagi, Ryan mengangkat tubuhnya, mendudukkannya di atas meja. Dengan lincahnya Alice meraih tengkuk Ryan, lalu mengecup kembali bibir Ryan dengan mesra. Gairah Alice semakin terbakar begitu jemari Ryan mulai liar menyusup dibalik dressnya, mengusap paha mulusnya.
Namun tiba-tiba saja Ryan mengakhiri cumbuannya. Sebentuk lengkungan pun terukir di bibirnya. Sinis disertai tatapan remeh.
“Kamu ingin melanjutkannya di tempat lain? Kalau begitu biar aku pesan kamar hotel terbaik untuk kita,” ujar Alice sembari meraih tasnya, mengambil ponsel, lalu mulai membuka sebuah aplikasi.
Belum sempat Alice memesan kamar hotel, tiba-tiba saja Ryan merebut ponsel itu dari tangan Alice, menyimpannya kembali ke dalam tas. Kemudian ia berkata,
“Alice, mulai sekarang kita jalani saja kehidupan kita masing-masing. Diantara kita tidak ada hubungan yang spesial. Jadi, tolong jangan pernah temui aku lagi.”
Alice pun terdiam dengan menampakkan raut kekecewaannya. Sungguh ia tak menyangka Ryan berbuat seperti ini kepadanya. Mengakhiri hubungan mereka secara sepihak. Ia tak terima.
★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Julik Rini
Rian tempat pelampiasan wanita bersuami/Awkward//Awkward//Awkward/
2024-09-24
0
auliasiamatir
sasar ..aja
2023-12-21
0
Putra Al - Bantani
hadir kak
2023-10-24
0