BSM Bab. 9
“Aku pulang,” ujar Laura begitu memasuki LaRisa Bakery. Wajahnya terlihat kusut dan pucat pasi.
Rere yang sedang mengemas cheese cake pesanan pelanggan itu pun perhatiannya teralihkan ketika melihat Laura datang dengan wajah kusutnya.
Bahkan Riri Risma, adik Rere yang ikut bantu-bantu di toko kue itu pun berkerut dahi melihat wajah kusut Laura.
“Kak Laura kenapa? Kok mukanya kusut sekali?” tanya Riri yang sedang duduk di meja kasir.
“Iya, pucat lagi. Kamu kenapa sih?” tanya Rere menimpali.
Laura tak langsung menjawab pertanyaan kakak beradik itu. Terlebih dahulu ia mengambil segelas air putih, meneguknya hingga tandas.
“Re, aku minta maaf ya?” ucap Laura usai meneguk air minum. Sebelum Rere melihat, kemudian bertanya apa yang terjadi dengan mobilnya, alangkah baiknya ia yang memberitahunya lebih dulu. Meskipun ia tahu, sahabatnya itu tidak akan marah.
“Minta maaf kenapa, Ra.”
“Aku tidak sengaja nabrak.”
“Terus?”
“Bumper mobil kamu rusak.” Laura meringis. Sungguh ia tak enak hati mengatakan hal ini kepada Rere, meski ini bukan kali pertama ia merusak mobil Rere tanpa sengaja.
“Maaf, ya? Nanti aku bawa ke bengkel kok. Aku janji.”
Rere menghembuskan napasnya lega sembari mengulum senyum.
“Ya ampun, Ra. Tidak apa-apa. Lagian hanya mobil kok. Masih bisa diperbaiki kan. Dari pada kamu yang kenapa-napa. Itu yang bahaya, Ra.” Rere menggeleng.
Memang seperti itulah sikap Rere terhadap Laura, teramat pengertian. Mereka sudah berteman sejak lama. Bahkan hubungan mereka itu lebih dari sekedar teman. Bagi Rere Laura itu sudah seperti keluarganya sendiri. Begitu pula dengan Laura. Rere adalah satu-satunya teman terbaik yang ia punya.
“Makasih, ya?” Terharu, Laura pun merangkul Rere penuh kasih. Sungguh ia sangat beruntung memiliki teman seperti Rere. Rere memang berasal dari keluarga yang cukup berada. Tapi Rere tidak pernah sekali pun menyombongkan apa yang dimiliknya. Rere berusaha hidup seadanya, sederhana seperti Laura.
“Iya, iya. Oh ya, ada satu pesanan lagi nih yang harus diantar sekarang. Kamu bisa tidak? Tidak apa-apa juga sih kalau memang kamu tidak bisa. Kita bisa sewa kurir.”
“Bisa, bisa. Aku masih bisa, Re.” Laura langsung menyanggupi. Secepat itu moodnya kembali.
“Beneran nih kamu bisa?”
“Bisa, dong. Tapi pakai motor saja. Cuma satu pesanan kan?”
“Kamu yakin?”
“Yakin, Rere. Aku yakin bisa. Kamu meragukan aku ya?”
“Tadi kan kamu habis nabrak. Aku cuma khawatir terjadi apa-apa sama kamu. Ya sudah kalau begitu. Ini pesanannya Pak Kevin Rianto. Dan ini alamatnya.” Rere menyodorkan kue yang sudah dikemasnya rapi sekaligus secarik kertas yang bertuliskan alamat pembeli itu kepada Laura.
“Oke. Aku berangkat dulu ya.” Mengambil kue yang sudah dikemas itu dari tangan Rere. Kemudian beranjak pergi.
“Hati-hati, Ra.”
“Hati-hati, Kak Laura.”
Laura menyunggingkan senyum sembari melambaikan tangan sebelum akhirnya menaiki skuter matiknya lalu melaju pergi membawa pesanan pelanggan menuju sebuah apartemen. Sesuai dengan alamat yang diberikan Rere. Dengan nama pelanggan Kevin Rianto, lantai lima, kamar 287.
****
“Oke Man, aku tidak bisa lama. Aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku. Bye.” Ryan berkata sembari bangun dari duduknya, membetulkan dasi, membenahi blazernya.
“Oke. Hati-hati, kawan. Kapan-kapan kita ketemu lagi. Kalau aku sudah dapat info tentang perempuan itu secepatnya aku kasih tahu kamu,” ujar Kevin sembari bangun dari duduknya. Bertepatan dengan itu bel pintu berbunyi.
Keduanya pun bersama-sama menuju pintu, hendak mengantar Ryan. Sekalian mau membukakan pintu untuk tamu lain yang datang.
“Selamat siang. Apa benar ini tempat Kevin Rianto?” Laura menyapa sekaligus bertanya begitu pintu terbuka. Dan menampakkan dua pria yang berdiri menatapnya.
“Ya. Itu aku,” sahut Kevin.
“Saya dari LaRisa Bakery mengantarkan pesanan Pak Kevin. Silahkan, Pak.” Laura menyodorkan kantong plastik berlogo LaRisa Bakery itu kepada Kevin. Yang diterima Kevin dengan senyuman tipis.
“Thank you.”
“Saya permisi dulu, Pak.” Laura memutar tubuh, bergegas meninggalkan apartemen itu.
Berbeda dengan Kevin yang terlihat biasa-biasa saja, Ryan justru tertegun menatap Laura. Seolah ada sesuatu yang menarik di wajah Laura sampai Ryan tak berkedip menatapnya. Tatapan Ryan itu pun mengikuti sampai Laura menghilang dibalik pintu lift yang dimasukinya. Karena kebetulan unit apartemen Kevin tak jauh dari tempat lift berada.
“Hei, what's up, Man.” Kevin menepuk pundak Ryan setelah Laura berlalu.
Ryan pun tersentak kaget. Lalu gelagapan, dan salah tingkah. Namun perhatiannya masih juga tak fokus kepada Kevin. Dari raut wajahnya seolah pria itu tengah mencari-cari sesuatu yang hilang dari ingatannya.
“Ada apa kawan?” tanya Kevin sekali lagi. Sebab gelagat sahabatnya itu terlihat aneh dan tak biasa. Ryan seolah terlihat seperti baru menyadari sesuatu.
“Sorry, Vin. I have to go.” Buru-buru pamit, Ryan kemudian membawa langkah tergesa-gesanya menuju lift. Bahkan ia terlihat tak sabaran menekan tombol lantai satu.
Entah apa sebabnya, menatap wajah Laura membuat jantung Ryan berdebar-debar. Wajah itu seperti tak asing baginya. Entah di mana dan kapan ia pernah melihat wajah itu.
Tiba di lantai satu, Ryan mengedarkan pandangannya, mencari ke segala penjuru arah sosok Laura. Yang tiba-tiba saja membuatnya penasaran. Tak henti bola matanya merotasi liar mencari bayangan Laura. Sampai akhirnya ia melihat punggung Laura. Ia pun membawa langkahnya cepat, mengikuti Laura dari belakang secara diam-diam sampai ke tempat parkir.
Namun, begitu sampai di tempat parkir, Ryan malah tertegun. Pandangannya tak pernah lepas dari Laura. Apalagi ketika ia melihat plat nomor skuter matik yang hendak ditumpangi Laura itu membuatnya seketika teringat kecelakaan kecil pagi tadi. Ia juga tengah mengingat-ingat kembali wajah yang hanya sepintas lalu dilihatnya itu saat kecelakaan kecil yang sama terjadi siang tadi.
Ryan pun mulai menduga-duga, apa jangan-jangan pengemudi Avanza dan skuter matik penyebab bumper mobilnya penyok itu adalah orang yang sama?
Tapi wajah itu, rasanya Ryan bukan hanya sekali itu saja pernah melihat wajah Laura. Wajah itu seperti tak asing baginya.
Sementara Ryan tengah mengingat-ingat sesuatu, Laura sudah menaiki skuter matiknya. Sudah memakai helm, Laura juga sudah menghidupkan mesinnya, dan tinggal tancap gas saja. Namun tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.
“Tunggu!”
Suara berat seorang pria itu pun mengalihkan perhatian Laura segera. Laura terkejut begitu melihat pria yang tadi berada di apartemen Kevin itu datang menghampirinya.
“Ma-maaf, Anda memanggilku?” tanya Laura memastikan.
Ryan mengangkat tangan kanannya, mengacungkan telunjuknya ke arah Laura.
“Kamu ...” Ryan mengerutkan dahinya, menatap Laura tajam. Membuat Laura salah tingkah juga kebingungan.
“Maaf, apa Anda mengenalku?” tanya Laura lagi. Sungguh pria itu membuatnya takut sampai bulu romanya meremang. Ia bahkan bertanya-tanya dalam hatinya, apakah ia sudah membuat kesalahan? Ataukah mungkin ada masalah dengan pesanan kuenya tadi?
“Maaf, Tuan. Jika ada masalah dengan kuenya, atau jika Tuan ingin komplain, Tuan bisa katakan sekarang. Toko kami akan menggantinya dengan yang baru yang lebih sesuai dengan selera Anda. Atau jika Tuan ingin membatalkan pesanan, toko kami akan mengembalikan uang Anda.” Laura menelan ludah. Rasa takut dan was-was mulai menyelinap. Pria itu terus saja menatapnya. Membuat ia mulai berpikir yang bukan-bukan. Apakah pria itu orang jahat? Jika iya, apa yang harus ia lakukan sekarang? Sungguh sial nasibnya jika benar pria itu adalah orang jahat. Sedangkan ia tidak punya keahlian apa pun dalam membela diri.
“Tu-tuan, apakah Anda...”
“Kamu yang menabrak mobilku tadi siang kan?” sela Ryan cepat.
Laura pun terdiam. Kalimat yang hendak diutarakannya tertelan begitu saja. Kini ia kehilangan kata-kata saat Ryan kembali berkata.
“Kamu juga yang tadi pagi menyalip mobilku sembarangan, sampai akhirnya terjadi kecelakaan beruntun. Kamu orangnya. Kamu masih ingat kejadian tadi kan? Pajero hitam yang kamu tabrak?” Ryan menatap Laura lekat-lekat. Membuat jantung Laura berdetak kencang karena takut.
Oh my god!
Laura pun hanya bisa menelan ludah.
“Kamu harus ganti rugi.”
★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
auliasiamatir
kkkk ya lah Riyan... 🤣
2023-10-27
1
Putra Al - Bantani
hadir kak...
2023-10-17
1
Elisabeth Ratna Susanti
waduh, nah lho
2023-10-08
1