BSM Bab. 5
Sama seperti sewaktu pergi, ketika kembali pun Theo mengendap-ngendap layaknya pencuri. Dengan sangat hati-hati Theo membaringkan diri di samping Laura, yang masih tertidur saat ia kembali.
Sedikit gerakan di tempat tidur itu pun membangunkan Laura. Ia menggeliat, membuka matanya perlahan. Menoleh ke samping, ia menatap nanar suaminya yang sudah berbaring di sampingnya.
“Sudah jam berapa ini?” tanya Laura serak. Sembari merapatkan diri, kemudian melingkarkan lengannya di perut Theo.
“Tidur saja lagi, ini masih larut malam,” kata Theo menenangkan sembari mengelus lembut lengan Laura.
“Kamu ganti baju?”
“Iya, soalnya tadi aku gerah.”
“Kamu juga pakai parfum? Kamu sudah ganti parfum ya? Wangi parfum kamu beda.”
“Emm ...” Theo terlihat salah tingkah. Bola matanya merotasi gelisah, seakan tengah mencari-cari jawaban yang tepat.
“Cuma perasaan kamu saja, Sayang. Aku tidak ganti parfum kom. Masih parfum yang sama,” ujarnya kemudian setelah beberapa menit terdiam.
“Tapi kok beda. Wanginya mirip parfum perempuan.”
“Sudah, tidurlah. Kenapa kita malah jadi bahas soal parfum sih? Aku ngantuk sekali. Besok harus ke kantor, nyetor laporan ke Pak Samsul. Udah, tidur.” Memejamkan matanya, Theo sebetulnya diserang panik. Laura cukup jeli membedakan wangi parfum yang selama ini ia gunakan. Ia cemas jika Laura menyadari bila parfum yang melekat di tubuhnya itu memang bukan parfumnya. Sehingga mengalihkan topik adalah pilihan yang terbaik.
Laura menurut. Ia pun memejamkan kembali matanya sembari mengeratkan pelukan di pinggang Theo. Theo akhirnya bisa bernapas lega juga bisa tidur nyenyak. Ketegangannya bisa terurai saat Laura kembali memejamkan matanya dan tidak bertanya apa-apa lagi.
Bagaimana jadinya jika tiba-tiba saja Laura menyadari sesuatu. Kemudian Laura akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan, sementara ia belum punya jawaban apa pun yang bisa meredam kecurigaan Laura nantinya. Andai Laura menyadarinya.
Tidak. Jangan sekarang.
Seperti itulah yang ada dalam isi kepala Theo. Sebab ia belum siap untuk segala hal buruk yang akan terjadi di masa depan nanti.
****
Pagi datang menyapa. Laura sudah terlihat sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuknya dan Theo. Walaupun kemungkinan besar Theo tidak akan sempat sarapan bersamanya, ia harus terap menyiapkannya. Paling tidak hanya sebagai bukti perhatian dan baktinya terhadap Theo, suaminya.
“Sarapan dulu, Sayang. Aku sudah siapkan sarapannya,” kata Laura begitu melihat Theo datang.
Theo tampak buru-buru membetulkan kemejanya. Langkahnya pun dipercepat. Namun terhenti ketika mendengar suara Laura memanggil.
“Maaf, Laura. Aku sarapan di kantor saja. Aku buru-buru soalnya. Barusan aku dapat info, katanya Antonio ada di kota ini. Aku harus bisa menemui dia dan mewawancarai dia secepatnya. Soalnya masa depan karirku tergantung pada proyek yang satu ini. Maaf ya, kamu sarapan sendiri dulu bisa kan?” Theo memasang wajah merasa bersalah.
Laura menghela napasnya pelan sembari menghampiri Theo.
“Ya sudah, tidak apa-apa kalau memang kamu se-sibuk itu. Aku doakan semoga wawancaranya kali ini berhasil.”
“Terima kasih, Sayang.” Sembari mengelus lembut sebelah pipi Laura. Kemudian berjalan mendekati meja makan, meraih segelas susu hangat di meja itu dan lekas meminumnya.
“Oh ya, kemarin aku ketemu Feli loh Sayang. Dia membeli lingerie. Padahal kan dia belum menikah.”
“Uhuk ... Uhuk ... Uhuk!” Theo terbatuk-batuk tiba-tiba. Diletakkannya kembali gelas itu di meja.
“Kamu tidak apa-apa, Sayang? Pelan-pelan dong minumnya.” Cemas, Laura bergegas menghampiri Theo. Mengelus punggung Theo dengan lembut sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya.
“Kamu ketemu Feli di mana?” tanya Theo. Wajahnya mulai terlihat tegang. Entah mengapa.
“Di mall.”
“Kamu ke mall? Buat apa?”
Mendengar pertanyaan itu, Laura menghela napasnya pelan. Jujur ada sejumput kekecewaan yang tiba-tiba mengisi ruang di dadanya kala mengingat malam itu. Malam di mana ia telah mempersiapkan diri sebaik mungkin hanya demi menyambut kepulangan Theo. Namun yang ia tunggu-tunggu malah batal pulang.
“Belanja, Sayang. Aku hanya membeli beberapa keperluanku.” Tak ingin memperdebatkannya, Laura memilih melupakan saja kekecewaannya malam itu. Mungkin memang lebih baik begitu daripada nantinya malah akan memicu pertengkaran. Lebih baik ia mengalah dan membuat semuanya baik-baik saja. Toh, jika memang sudah waktunya, Tuhan pasti akan mengabulkan doa-doanya.
“Oh, ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus menyerahkan laporan ke Pak Samsul. Dan aku harus bisa bertemu dengan Antonio. Doakan saja agar aku berhasil mewawancarai Antonio.” Theo tampak lega. Buru-buru pamit, seolah ingin menghindari sesuatu. Atau memang benar ia sedang sibuk.
“Iya, akan aku doakan. Semangat ya.”
Setelah melabuhkan satu kecupan di kening Laura, Theo pun bergegas pergi. Agendanya sangat padat hari ini. Ia harus berhasil mewawancarai Antonio demi kelangsungan karirnya.
Antonio Gonzales merupakan seorang pebisnis muda yang paling dicari saat ini oleh berbagai media. Jika stasiun TV nya berhasil melakukan wawancara eksklusif dan menyiarkannya secara langsung, hal itu akan membuat rating TV nya berada di urutan pertama. Dan sudah pasti pamor stasiun TV nya akan melejit, dan namanya pun ikut melejit. Sebagai orang yang berhasil mewawancarai Antonio. Sebagai imbasnya karirnya pun akan ikut melejit. Ibarat kata, sekali dayung dua pulau terlampaui.
****
Dengan mengendarai skuter matiknya, Laura menyusuri jalanan padat ibukota menuju LaRisa Bakery, tempatnya mengais rejeki. Bukannya Theo tak mencukupi kebutuhan rumah tangga, hanya saja Laura ingin mencari kesibukan.
Dengan punya kesibukan Laura berharap, hati dan pikirannya takkan terbebani lagi dengan belum hadirnya momongan di dalam rumah tangganya. Belum lagi, Lely yang belakangan ini seperti makhluk halus. Yang selalu menghantuinya dengan segala tuntutannya itu.
Laura tak ingin desakan Lely kepadanya untuk segera memiliki momongan itu akan mengganggu mentalnya. Sehingga dengan memiliki kesibukan, ia bisa sedikit melupakannya. Bertemu banyak pelanggan membuatnya terhibur. Apalagi belakangan ini toko kuenya itu sedang ramai-ramainya berkat kepiawaian Rere dalam memasarkan kue-kue mereka secara online melalui media sosial.
Laura merasa beruntung memiliki sahabat seperti Rere. Yang selalu mendukungnya tak peduli apa pun itu. Rere selalu berada di sisinya dalam keadaan apa pun, baik disaat ia sedang sedih ataupun senang. Rere akan menjadi orang pertama tempatnya berkeluh kesah selain Theo. Sebab Rere selalu bisa memahaminya.
Namun akhir-akhir ini, Theo tak lagi sama seperti dahulu. Theo semakin disibukkan dengan pekerjaannya. Bahkan Theo telah melupakan kehangatan ranjangnya.
Sudah beberapa bulan ini, Theo tak pernah lagi menyentuh Laura. Membuat Laura rindu akan kehangatan dekapan Theo. Berbagai pikiran buruk sempat hadir mengusik pikiran Laura, tetapi Laura membuangnya jauh-jauh. Laura masih menaruh kepercayaan kepada Theo, bahwa Theo adalah lelaki setia. Laura hanya berharap agar kesibukan Theo segera berlalu. Agar mereka bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama seperti dahulu.
Jalanan sedang padat-padatnya pagi ini. Padahal Laura harus segera sampai di toko kuenya. Sebab ada pesanan kue yang harus ia selesaikan. Namun sebuah pajero sport berwarna hitam selalu saja menghalangi jalannya ketika ia ingin menyalip. Membuat Laura kesal. Setelah mendapat kesempatan, Laura pun memberanikan diri kembali menyalip pajero sport berwarna hitam tersebut.
Ckiiiiit
Pajero sport berwarna hitam itu mengerem mendadak.
Buk
Disusul bunyi benturan keras di belakang mobil. Suara klakson pun terdengar saling bersahutan di belakang pajero itu. Pengemudi Avanza yang tak sengaja menabrak belakang pajero itu segera turun dari mobil dengan amarahnya. Karena si pajero mengerem mendadak, alhasil bemper Avanza si pengemudi itu penyok parah.
“Woy, turun. Berani-beraninya pake ngerem mendadak segala. Kamu pikir ini jalanan punya moyangmu apa?” Si pengemudi Avanza memuntahkan kemarahannya.
Akibat si Pajero yang mengerem mendadak itu, terjadilah kemacetan mendadak pula di jalanan. Sehingga beberapa pengemudi merasa terganggu.
Sementara di dalam Pajero hitam itu, seorang pria berwajah blasteran terlihat sedang memijat pelipisnya. Kepalanya terasa pening. Ia kesal karena ulah skuter matik berwarna kuning yang menyalip mobilnya sembarangan. Untungnya, ia sempat menghafal plat nomor skuter matik itu. Sehingga ia bisa membuat perhitungan jika bertemu suatu hari nanti.
“Edrick, kamu turun dan cepat selesaikan masalah itu,” titah si pria blasteran yang duduk di jok tengah.
“Baik, Tuan.” Edrick patuh, lalu segera turun dari mobil.
★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
martina melati
semoga antonio yg bantu laura deh... hehehe, yg jd author sp y.../Facepalm//Facepalm/
2024-09-30
1
martina melati
curiga donk... koq gk dtanggapin sih lauraaaa....
2024-09-30
1
martina melati
bsk2 siapi sarapan buat saya aja, laura... ktimbang buat theo toh gk dmkn gk menghargai wkt tenaga dan kerja isteri
2024-09-30
1