BSM Bab. 6
“Maaf ya aku terlambat,” kata Laura ketika sampai di LaRisa Bakery. Cepat-cepat ia mengenakan apron yang diambilnya tergantung di sudut dinding setelah menaruh tasnya di meja kecil.
“Tidak apa-apa. Wajar kalau kamu terlambat. Gimana semalam? Honeymoon-nya lancar?” Rere yang sudah mengerjakan pekerjaan Laura sebagian itu tersenyum simpul melirik ke arah Laura. Ia mengerti dan memaklumi mengapa Laura datang terlambat. Sebab kemarin suami Laura baru pulang dari luar kota. Sudah tentu mereka butuh menghabiskan waktu berdua. Belum lagi Laura selalu saja mengeluhkan belum hadirnya momongan dalam rumah tangganya. Sebagai teman, Rere hanya ingin memberi kesempatan saja bagi Laura.
Laura cukup menyunggingkan senyum sebagai jawaban. Tak mungkin ia menceritakan yang sebenarnya kepada Rere jika ia gagal mendapatkan quality time bersama Theo. Malamnya justru berakhir dengan kekecewaan.
“Aku doakan semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kalian. Semoga Tuhan segera mengabulkan keinginan kalian,” kata Rere.
“Amin. Makasih ya?”
Rere tersenyum. Kemudian melanjutkan pekerjaannya mencampur adonan menggunakan hand mixer. Sementara Laura menyiapkan bahan lain untuk pesanan enam buah kue tart.
“Oh ya, hari ini biar aku saja yang antar pesanannya.” Laura menawarkan. Sebab biasanya mereka pergi berdua menggunakan skuter matik atau menggunakan mobil Rere. Tetapi kali ini, Laura ingin mengantar pesanan sendiri saja. Sebab rencananya ia ingin menyambangi Theo sebentar di kantornya. Ia ingin membawakan Theo kue buatannya untuk menunjukkan perhatiannya.
“Yakin kamu bisa sendiri?”
“Yakinlah. Memangnya baru kali ini aku nganterin pesanan sendirian?”
“Ya sudah, tapi pakai mobilku saja. Lumayan banyak ini pesanannya. Nanti kamu kesusahan.”
“Iya.”
Laura dan Theo tidak hidup bergelimang harta. Kehidupan mereka terbilang sederhana. Akan tetapi walaupun begitu, Laura sudah merasa berkecukupan. Laura bahkan sudah bahagia dengan kehidupannya saat ini. Jika mengingat seperti apa kehidupannya dahulu, Laura sudah sangat bersyukur.
Dahulu, Laura hanyalah seorang anak dari keluarga yang berkekurangan. Sehingga untuk menyambung hidup serta untuk membiayai sekolahnya, Laura harus membantu kedua orang tuanya mengais rejeki. Setiap sepulang sekolah, Laura akan pergi menjajakan dagangan kue milik ibunya itu di perempatan lampu merah.
Kehidupan Laura bertambah sulit ketika kedua orang tuanya meninggal dalam kurun waktu yang berdekatan dikarenakan sakit keras. Sehingga Laura harus banting tulang seorang diri dengan mengambil banyak pekerjaan paruh waktu hanya demi menyambung hidup.
Bertemu tanpa sengaja dengan Theo saat Laura bekerja di sebuah minimarket, menumbuhkan ketertarikan Theo di awal perjumpaan. Ketika itu Laura membantu membayar tagihan Theo yang lupa membawa dompetnya. Kebetulan saat itu Laura merupakan kasir di minimarket tersebut.
Padahal itu adalah pertemuan pertama Laura dengan Theo. Namun entah mengapa Laura merasa seolah sudah mengenal lama Theo, sehingga Laura menaruh kepercayaan terhadap Theo. Laura percaya jika Theo adalah pemuda yang baik kala itu.
Berawal dari pertemuan pertama itu, Theo jadi sering mampir ke minimarket tempat Laura bekerja. Entah untuk membeli sesuatu hanya demi bisa bertemu Laura.
Seiring waktu berlalu, Laura dan Theo pun semakin dekat. Kedekatan diantara mereka itu pun kemudian menumbuhkan benih-benih cinta. Hingga akhirnya dari kedekatan itulah, mereka berdua pun memutuskan untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Yaitu dalam ikatan tali pernikahan.
****
Tok tok tok
Theo mengetuk pintu ketika sampai di depan ruangan pimpinan !redaksi.
“Masuk.” Terdengar sahutan dari dalam.
Theo membuka pintu itu perlahan. Menampakkan seorang pria paruh baya bertubuh gempal sedang membuka lembar demi lembar sebuah laporan di depannya.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Theo sembari mengambil duduk di depan meja kerja pimpinan redaksi tanpa menunggu dipersilahkan.
“Gimana, Theo? Kamu sudah berhasil mewawancarai Antonio?” tanya Samsul, pimpinan redaksi, tanpa mengalihkan pandangannya dari laporan di tangan.
“Itu dia, Pak. Ternyata yang namanya Antonio itu sangat susah ditemui. ” Theo menghela napas. Ia menyayangkan waktu seminggunya terbuang sia-sia demi mencari seorang pria yang bernama Antonio Gonzales. Yang bahkan Theo belum pernah melihat seperti apa rupanya.
“Kamu ini gimana sih. Hanya mencari satu orang saja kamu tidak becus. Bisa-bisa program acara kita kali ini batal siar. Kamu tahu kan seperti apa resikonya? Produser bisa marah besar. Kamu mau karirmu jadi taruhannya?”
Ancaman yang sama yang seringkali Theo dengar dari mulut Samsul. Jika sudah begini, Theo bisa berbuat apa lagi.
“Antonio itu most wanted, paling diinginkan oleh berbagai media. Bayangkan, dulu AFECTO hanya sebuah toko kecil yang mensuplay barang dari para pengrajin lokal. Sejak Antonio bergabung, AFECTO mulai mengalami perubahan. Berkat ide-idenya AFECTO berkembang pesat menjadi seperti sekarang ini.”
“Tapi kenapa harus dia? Kenapa bukan orang lain saja, yang lebih mudah ditemui.”
“Perintah ini turun langsung dari produser. Jadi kalau kamu mau protes, silahkan ke produser langsung.”
Theo kembali menghela napas. Ia tak benar-benar tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah melaksanakan perintah. Jika tidak, karir dan pekerjaannya akan menjadi taruhan.
“Dengar, Theo. Kamu akan mendapatkan bonus yang besar kalau kamu bisa mewawancarai Antonio. Apalagi kalau kamu bisa membawa Antonio ke stasiun TV kita ini untuk menyiarkan secara langsung wawancaranya dalam program Bincang Bisnis kita.”
“Kenapa bukan produser langsung yang mengundang dia? Kenapa harus saya, Pak. Saya kan cuma reporter.”
“Nah, itu dia masalahnya.” Samsul menutup laporan di tangannya. Kemudian menyandarkan punggung. Tetapi kemudian ia mencondongkan tubuhnya, memasang wajah serius menatap Theo.
Theo pun mengerutkan dahi melihat tampang serius atasannya itu. Rasa penasaran mendadak merayu pikirannya. Apakah atasannya itu tahu banyak hal tentang Antonio dibanding dirinya. Berjam-jam waktunya terbuang percuma waktunya hanya untuk mencari informasi tentang Antonio Gonzales. Yang pada akhirnya, ujung-ujungnya justru ia tidak mendapatkan apa-apa.
Antonio seperti menutup dirinya dari sorotan media. Baik tentang biodatanya maupun kehidupan pribadinya. Setiap kali ia mencari foto-foto Antonio dalam mesin pencarian internet, yang muncul hanya foto Raul Gonzales, ayah Antonio.
“Sudah dua kali kami mengirimkan undangan kepada pihak AFECTO. Dua kali itu juga undangan kita ditolak,” kata Samsul.
“Mungkin dia tidak ingin kehidupannya di ekspose oleh media. Kita juga tidak bisa memaksa. Kita harus menghargai privasi orang. Apa sih hebatnya Antonio?” Theo sedikit kesal juga kenapa harus Antonio yang menjadi bintang tamu dalam program TV mereka. Mengapa bukan orang lain saja yang lebih bisa menghargai media dibanding Antonio.
“Itu dia. Antonio adalah orang yang sangat berpengaruh di AFECTO Grup. Sejak dia menggantikan ayahnya, AFECTO berkembang pesat dan hampir menguasai pasar di seluruh dunia.”
“Ah, masa sih.”
“Saya akan memberikan kamu bonus tiga kali lipat kalau kamu bisa meliput kehidupan pribadi Antonio. Tentang bagaimana kesehariannya, siapa pacarnya ... Pokoknya gaji kamu naik kalau kamu berhasil meliput tentang Antonio. Apalagi kalau sampai Antonio mau menjadi bintang tamu dalam program TV kita kali ini.”
“Kenapa makin susah saja sih tugasnya. Kenapa bukan orang lain saja. Masih banyak kan pebisnis-pebisnis muda yang lebih baik dari laki-laki itu.”
“Apa kamu sudah tahu ... Kabarnya laki-laki itu suka bermain perempuan. Dia sudah terlibat banyak skandal dengan perempuan-perempuan cantik di setiap kota yang disinggahinya. Tapi sayangnya, hal itu tidak pernah terekspose oleh media.
”Nah, kalau kamu bisa meliput kehidupannya, termasuk skandal-skandalnya, itu bisa menjadi berita teraktual, berita yang paling dicari. Dan rating TV kita sudah pasti akan melejit.”
“Jadi maksudnya kita akan menghancurkan reputasi orang? Sepertinya ini sudah melenceng dari tema program TV kita. Apa Pak Samsul sadar dengan apa yang Pak Samsul katakan barusan? Hal itu bisa juga bisa menghancurkan reputasi AFECTO Pak. Tidak, tidak. Saya tidak mau.” Theo menolak keras. Hal itu teramat bertentangan dengan prinsipnya.
Tugas Theo memang mencari berita dari sumber-sumber yang terpercaya. Theo senang meliput berita tentang seseorang jika itu menyangkut prestasinya saja. Selain dari itu Theo tidak tertarik.
“Ayolah Theo. Ingat, bonus tiga kali lipat plus kenaikan gaji. Gimana?” Samsul mencoba merayu, memanfaatkan keahlian Theo dalam menggali informasi demi keuntungannya.
Theo tampak sedang berpikir keras. Antara mengikuti naluri atau melawan prinsip yang sudah ia buat sendiri. Reward yang ditawarkan tidak main-main. Siapa yang tidak akan tergiur.
“Saya kasih sedikit bocoran, mungkin ini bisa membantu kamu,” kata Samsul.
★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Putra Al - Bantani
salam dari "Terjebak Nafsu" sukses terus thor, yuk singgah ke karya Terjebak Nafsu....
2023-10-12
1
auliasiamatir
semoga kamu gak terjebak yab theo,
2023-10-09
1
auliasiamatir
kasian sama laura ya,
2023-10-09
1