Bab. 14

BSM Bab. 14

Sejam sudah Laura menunggu Theo pulang, ia duduk di depan TV sembari menyaksikan sebuah drama dengan tema yang tengah happening saat ini di kalangan ibu-ibu, yaitu perselingkuhan.

Menyaksikan tayangan itu membuat Laura ngeri sendiri. Sebab perselingkuhan adalah perbuatan yang keji, yang sulit dimaafkan jika hal itu pun seumpama terjadi padanya. Istri mana yang tak sakit hati bila dikhianati oleh orang yang dicintainya sepenuh hati.

Laura semakin terbawa alur drama di TV saat tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi. Laura kaget, lekas ia meraih remote TV. Menonton drama seperti itu bisa-bisa mentalnya rusak dan takutnya ia malah jadi kepikiran. Lalu ujung-ujungnya ia malah berpikir yang bukan-bukan tentang suaminya sendiri. Alangkah lebih baik ia sudahi saja menonton drama seperti itu.

Bangun dari duduknya, Laura kemudian bergegas menuju ruang tamu, hendak membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, tampak Theo berdiri dengan wajah kusut sambil menenteng tas yang berisi kamera. Segera Laura meraih tas dari tangan Theo, membantu membawakannya ke dalam.

“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Theo sembari berjalan masuk.

“Aku nunggu kamu, Yang.”

“Kamu tidak perlu menungguku pulang. Kalau kamu ngantuk, kamu tidur saja. Kamu juga pasti capek kan seharian di toko?” Theo mengambil duduk di tepian tempat tidur begitu memasuki kamar.

Laura menghampiri setelah menaruh tas Theo di atas meja rias. Ia hendak membantu Theo yang tengah memijit pelipisnya. Namun Theo, malah menepis tangan Laura.

“Biar aku bantu, Yang. Kamu sakit kepala kan? Mau aku ambilkan obat?” Bila ditanya, sejujurnya Laura kecewa dengan sikap Theo. Tapi ia tepis jauh-jauh perasaan itu. Mungkin Theo hanya tak ingin merepotkannya saja.

“Tolong siapkan air panas. Aku mau mandi. Bisa kan?” pinta Theo.

“Bisa. Tapi ini sudah larut malam, Yang. Apa tidak sebaiknya besok saja kamu mandinya?”

“Nanti aku tidak bisa tidur kalau badanku lengket semua. Mana bau keringat. Kamu juga pasti tidak akan nyaman kan?”

Laura menghela napas. “Ya sudah. Aku siapkan sekarang ya.” Tidak ada bantahan lagi selain menuruti permintaan Theo. Toh, tidak ada yang aneh dengan permintaan Theo.

Bergegas Laura pergi ke dapur untuk menyiapkan air panas yang diminta Theo. Setelah menunggu beberapa menit, segera ia bawa air panas dalam teko itu ke kamar. Air panas itu ia tuang ke dalam ember, mencampurnya dengan air dingin. Setelah mendapatkan suhu yang pas untuk Theo mandi, ia pun segera menemui Theo.

“Airnya sudah siap,” katanya sembari menghampiri.

Theo bangun dari duduknya. Ia hendak melepas kemeja yang dipakainya. Dengan cekatan, Laura membantu melepas kemeja itu. Theo kemudian lekas masuk ke kamar mandi.

Membersihkan tubuh sepulang kerja itu sebetulnya sudah menjadi kebiasaan Theo. Theo tidak akan tahan dengan tubuhnya yang lengket karena keringat yang menempel fi tubuhnya sepanjang hari.

Akan tetapi, belakangan ini, Theo malah tak memedulikan waktu. Padahal ini sudah larut malam. Laura hanya tidak ingin Theo jatuh sakit nanti jika terlalu keseringan mandi di tengah malam seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi. Laura juga tak ingin berdebat dengan Theo di jam-jam seperti ini. Waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk beristirahat.

Menghembuskan napasnya, Laura mencebik. Kemudian ia melangkah menuju keranjang tempat pakaian kotor di pojok ruangan. Ia hendak menaruh kemeja Theo ke dalam keranjang itu saat tiba-tiba gerakan tangannya terhenti lantaran indera penciumannya menangkap aroma berbeda pada kemeja itu.

Raut wajah Laura pun berubah cemas seketika. Perlahan ia dekatkan kemeja itu ke hidungnya. Lantas mengendus aroma pada kemeja itu. Dahinya berkerut kala ia mencium aroma berbeda dengan aroma parfum yang sering digunakan Theo.

Untuk memastikan penciumannya tidak keliru, Laura kemudian berjalan menuju lemari pakaian. Membuka lemari itu, ia lalu mengambil parfum yang sering digunakan Theo.

Dahi Laura semakin berkerut ketika ia menghidu aroma parfum Theo itu berbeda sekali dengan aroma parfum pada kemeja Theo. Laura membandingkan aroma itu sekali lagi. Dan yang ia dapati, aroma itu jelas berbeda. Seperti aroma parfum perempuan.

Mendadak degup jantung Laura pun tak seirama. Jantung itu berdegup kencang, tangannya gemetar pula. Bahkan dadanya terasa sesak tiba-tiba. Apa jangan-jangan ...

Tidak!

Tidak!

Laura menepis segala prasangka yang mulai merayu pikirannya. Tidak mungkin Theo tega menduakannya. Tidak mungkin Theo berani bermain api di belakangnya. Ini pasti gara-gara drama perselingkuhan yang ditontonnya beberapa saat lalu. Sehingga ia terbawa suasana. Begitu pikir Laura.

“Laura, ada apa?”

Laura pun tersentak mendengar suara Theo. Lekas ia menyimpan kembali parfum Theo ke dalam lemari. Lantas ia memasang tampang biasa-biasa saja meski hatinya berkecamuk prasangka.

Theo yang baru saja keluar dari kamar mandi itu keheranan melihat Laura berdiri mematung di depan lemari sambil memegangi kemejanya.

“Kamu kenapa berdiri di situ?” tanya Theo sembari mendekat.

Tampilan Theo yang masih berbalutkan handuk sebatas paha dan pinggang itu mendadak membuat Laura risih. Padahal Theo adalah suaminya. Pemandangan seperti itu sudah setiap hari terpampang di depan matanya cuma-cuma. Tapi entah mengapa kali ini pemandangan itu seolah terasa asing baginya.

Pikiran Laura mulai dipermainkan oleh imajinasinya sendiri. Tiba-tiba saja ia malah terbayang-bayang Theo sedang bermesraan dengan wanita lain.

Tidak!

Laura menggeleng cepat. Pikiran seperti itu lekas ia singkirkan jauh-jauh. Semoga saja ini hanya efek dari drama yang ia tonton tadi.

“Laura?” Theo mengerutkan dahi menatap Laura. Raut wajah Laura benar-benar terlihat berbeda dari sewaktu menyambutnya tadi.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Theo ingin memastikan.

“Iya, aku baik-baik saja. Tadinya aku mau mengambilkan kamu baju ganti. Ka-kamu mau pakai yang mana?” Laura tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Membuat Theo memicing curiga memperhatikannya. Pandangan Theo lalu bergulir pada kemejanya yang masih dipegang Laura.

Theo terhenyak, wajahnya berubah tegang seketika. Seolah ia baru menyadari sesuatu.

“Laura, apa kamu sakit?” Theo menyambar cepat kemeja itu dari tangan Laura. Kemudian ia menempelkan punggung tangannya di dahi Laura dengan menampilkan wajah cemasnya.

Laura tersenyum. Diraihnya jemari Theo dan menggenggamnya erat.

“Aku tidak apa-apa, Yang. Kenapa kamu kelihatan cemas sekali begitu?” Laura bersikap seolah hatinya baik-baik saja. Padahal prasangka buruk baru saja singgah di kepalanya.

“Siapa yang tidak cemas jika tahu istrinya sakit. Ya sudah, kamu istirahat saja. Aku benar-benar takut kalau terjadi apa-apa sama kamu. Biar aku ambil sendiri saja baju gantinya. Sekarang, kamu istirahat, ya?” bujuk Theo sembari mengelus lembut kedua lengan Laura dengan sikap manisnya.

Laura mengangguk, tak ingin membantah perintah Theo. Ia pun melangkah menuju tempat tidur. Kemudian naik ke tempat tidur, membaringkan diri di sana. Ia coba pejamkan matanya walau rasa kantuk itu belum menghampiri.

Sedangkan Theo, baru bernapas lega begitu saat Laura menuruti perintahnya. Segera ia singkirkan kemeja di tangan, menaruhnya ke keranjang di pojok kamar, sembari ia bergumam.

“Semoga saja Laura tidak menyadarinya.”

****

Dua pelayan saling bertukar pandang. Mereka keheranan ketika tuannya membagikan kue. Entah angin apa yang berhembus sehingga membuat tuannya bersikap aneh malam ini. Sebab tak biasanya Ryan membeli banyak kue di tengah malam seperti ini.

Membuka jaket, melemparnya asal ke tempat tidur, Ryan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur itu.

“Laura,” gumam Ryan dengan senyuman tipis terukir di bibirnya. Di pelupuk matanya masih terbayang-bayang wajah Laura. Yang entah bagaimana caranya mampu mencuri perhatiannya dalam waktu yang singkat.

“Ryan, apa kamu percaya cinta pada pandangan pertama?” gumam Ryan lagi bertanya pada dirinya sendiri.

Dahulu, Ryan sangat percaya akan cinta pada pandangan pertama. Seperti hal yang ia rasakan pada gadis penjual kue di bawah lampu merah beberapa tahun lalu. Dan kini, perasaan yang sama pun ia rasakan. Sehingga membuatnya bertanya-tanya, mungkinkah ia jatuh cinta pada pandangan pertama seperti dahulu?

“Tapi kenapa aku merasa pernah bertemu denganmu sebelumnya?”

Terpopuler

Comments

Mimik Pribadi

Mimik Pribadi

Itu mngkn orng yng sama Ryan secara Laura dlu keliling jualan kue diperempatan lampu merah,saat orng tuanya msh hidup,,,,

2024-10-06

0

auliasiamatir

auliasiamatir

ya karena mungkin dia lah gadis penjual kue itu 🤔

2023-11-29

0

auliasiamatir

auliasiamatir

preeettttt, dasar lelaki DAJAL

2023-11-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!