Meski begitu.. Rachel dan Raditya tidak mempermasalahkan, Bahkan keduanya tetap berusaha setelah resmi menikah.Berbagai cara medis dan non medis diusahakan Rachel dan Raditya untuk memiliki buah hati.
Namun mereka belum juga dikaruniai keturunan karena Raditya yang mandul sejak awal . Rachel tak mempermasalahkan baginya bertemu Raditya sebuah anugerah terindah yang pernah diberikan Allah padanya.
Sebenarnya sebelum terjadi kecelakaan itu, Raditya dan Rachel berencana mengadopsi dua bayi sekaligus,Tapi takdir berkata lain itu tinggal sebuah rencana.
Raditya meninggal sebelum rencana mengadopsi itu terlaksana.
Rachel menangis mengingat semua kejadian yang menimpa suaminya, Namun Rachel menguatkan diri ini takdir Allah. Rachel harus kuat menjalani hidup setelah Raditya meninggal.
"Mas semoga Allah selalu menjagamu dialammu yang baru. Kamu pria yang baik dimataku dan semua orang yang mengenalmu.Terima kasih Allah telah memberikan suami baik seperti mas Raditya", Bisik lirih Rachel yang berusaha bangkit dari rasa sedihnya.
Rachel pun mencoba terpejam untuk sekedar mengistirahatkan raga dan jiwanya yang lelah.
Dirumah Alena. Alena dan Kirana menyambut Prasetyo dengan penuh cinta seperti biasanya.
"Assalamualaikum.. selamat sore bunda, Putri ayah tersayang", ucapan lembut Prasetyo didepan pintu.
Terlihat Alena dan Kirana menyambut Prasetyo dengan rasa cinta. Pria lembut dan teduh itu.Terlihat Kirana berlari memeluk ayahnya.
"Walaikumsalam salam Ayah", Ucap Alena dan Kirana berbarengan.
"Udah wangi pasti udah mandi ya sayang ", ucap Prasetyo memeluk erat putri tercintanya.
"Udah yah... Ayah yang belum mandi bau asem", Jawab Kirana yang masih memeluk ayahnya.
"Kirana sayang ayahkan capek biar ayah mandi dulu ya sayang", Timpal Alena kepada putrinya yang bergegas mencium tangan suaminya.
"Iya yah mandi dulu ya, mana tasnya aku bawakan", Ujar Kirana lucu.
"Ok.. sayang ini tasnya ayah mandi dulu ya", Jawab Prasetyo kepada Kirana .
Prasetyo lalu bergegas menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.Alena pun tersenyum dan mempersiapkan piyama untuk suaminya.Kirana yang terbiasa mandiri pun ikut mempersiapkan piring , sendok,gelas untuk mereka persiapan makan sebelum magrib.
Sepuluh menit, Prasetyo selesai mandi dan memakai pakaian yang dipersiapkan Alena. Alena dan Kirana sudah menunggu dimeja makan dengan lauk pauk yang sederhana.
"Aduh ratu dan putriku sudah menunggu ayah.Hemm..hemm baunya harum kayaknya enak, makin lama bunda makin pintar masak ya Kin", Ujar Prasetyo memuji masakkan istrinya.
"Iya ayah, bunda memang makin pintar ya kalau masak", Timpal sikecil Kirana.
Alena tersenyum bahagia.Semua terasa bahagia tak ada celah.Namun penyakit gila belanja dan hedonisme yang mulai kambuh didiri Alena. Menggerogoti biduk rumah tangga yang bahagia itu.
"Ahhh.. masakan bunda luar biasa ya Kir", Ujar Prasetyo memuji masakkan istrinya.
"Iya yah. Coba lihat perut ayah makin endut ", Jawab Kirana dengan menunjuk perut Prasetyo ayahnya.
"Iya Kin ayah makin endut tapi ayah masih ganteng kan ", Ujar Prasetyo berkelit.
"Udah ayah Kirana paling ganteng ", Timpal Alena gemas mencubit perut Prasetyo.
Prasetyo memeluk Alena dan Kirana dengan penuh cinta.Terasa hangat.
"Bunda tahun depan kan Kirana udah TK besar dan lebih mandiri, gimana kalau nambah lagi anak. Buat adik untuk Kirana", Ucap Prasetyo manja.
"Horre Kirana mau dibuattin adik sama ayah dan bunda jadi ada temennya dirumah", Jawab Kirana lucu dan lugu khas anak kecil seusianya.
"Belum ayah jangan sekarang nanti", Timpal Alena menolak permintaan Prasetyo dan Kirana.
"Oke.. tunggu sampai bunda siap ya Kin jadi bersabar", Ujar Prasetyo sedikit kecewa.
"Udah ayo bantu bunda beres-beres ini Kin", Ujar Alena mencairkan swasana.
"Ok ..Bun", Jawab Kirana tersenyum manis.
"Ayah keruang tamu dulu ", Ucap Prasetyo lembut.
Lalu Prasetyo keruang tamu dan melihat berita ditelevisi sambil menunggu Alena dan Kirana menyelesaikan tugasnya didapur.Untuk bersiap sholat jamaah magrib.
"Dett...det....det", Suara ponsel pintar Alena yang tergeletak didekat layar televisi membuat Prasetyo mengakat ponsel pintar itu.
"Assalamualaikum ini siapa? ya", Ujar Prasetyo dengan nada sopan.
"Walaikumsalam apa? Anda keluarga Alena ", Timpal sang penelepon.
"Iya saya suaminya memang ada apa? Ya", Jawab Prasetyo penasaran.
"Maaf pak Alena berhutang pada kami lewat aplikasi belanja online dia harus segera membayar atau kami akan polisikan ", Ucap penelepon.
"Memang habis berapa dia ", Tanya Prasetyo.
"Sepuluh juta tapi itu tahap pembelajaan terakhir.Belum tunggakkan kemarin totalnya lebih dari limapuluh juta pak", Jawab sang penelepon.
Dengan tetap tenang dan menahan emosi Prasetyo.Mengngucap kalimat tauhid.Astaufirlau Alaazimm dalam hatinya.
"Baik saya akan melunasi secepatnya ", Ucap tegas Prasetyo.
"Terimakasih atas kerjasamanya pak kami tunggu secepatnya ", Jawab sang penelepon lalu menutup telponnya sepihak.
Prasetyo meletakkan ponsel dengan hati-hati.Prasetyo tak ingin Kirana tau.Prasetyo mengingat putrinya jangan sampai mendengar yang tengah terjadi dan mengingat bulan- bulan belakangan ini, tanpa disadari banyak benda baru dirumahnya yang tak mencolok dan masih dibatas kebutuhannya. Dan terlebih diskon kata Alena.
Namun siapa? sangka barang cuci gudang itu barang-barang bermerk saat Prasetyo mengeceknya.
"Ya Allah bunda," Gumam lirih Prasetyo yang baru menyadari yang diperbuat oleh istrinya dengan nafas panjang untuk berusaha bersabar.
"Ayah..ayo kita sholat tuh Azan berkumandang mau kemasjid atau dirumah", celoteh Sikecil Kirana.
"Em...kita jamaah magrib dirumah aja,tadi dah belajar ", Timpal Prasetyo.
"Udah..bobok lebih awalkan seperti biasanya ok, kata bunda dan ayah aku boleh tidur malam kalau malam minggu ", Jawab Kirana yang paham peraturan rumah.
"Ok Ki..tadi dah wudhu", Ujar Prasetyo.
"Udah tadi sama bunda", Jawab Kirana manja.
"Ok.. ayah wudhu dulu ya sayang,bunda," Timpal Prasetyo yang bersikap biasa dan lembut seperti biasanya .
Lalu Prasetyo bergegas dan berwudhu.Tak berapa lama Prasetyo menyusul Alena dan Kirana yang sudah bersiap untuk sholat magrib bersama.
Prasetyo pun mulai memimpin sholat jamaah magrib dengan hikmah. Dan diakhiri salam oleh Prasetyo diikuti Alena dan Kirana.
"Sayang ayo bobok sama ayah," Ujar Prasetyo lembut pada putri semata wayangnya.
"Iya yah dipeluk sama ayah dan bunda", Jawab Kirana
Prasetyo dan Alenapun memeluk dan tidur seranjang dengan Kirana seperti biasanya.
"Mas Kirana sudah tidur", Ucap Alena manja.
"Iya bun. Ayo kita keruang tamu", Jawab Prasetyo.
"Iya mas", ujar Alena manja .
Alena memeluk Prasetyo, setelah menyelimuti dan mencium Kirana. Alena menggandeng tangan Prasetyo menuju ruang tamu .Lalu keduanya tidur dikasur lantai .
"Len apakah? Kau begitu mencintaiku", Ujar Prasetyo.
"Mas Pras satu-satunya pria dihidupku ", Jawab Alena.
Prasetyo menindih tubuh Alena dan menatap lekat sepasang mata indah istrinya tak ada kebohongan dimata yang amat dicintainya itu.
Prasetyo menyentuh lembut wajah Alena dan menciuminya.Alena seperti candu bagi Prasetyo hampir setiap malam kalau tidak datang bulan pasti mereka bercinta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Sintya Ashari
Terimakasih like y kak
2023-10-25
0