...~Happy Reading~...
“Gak baik nya itu kenapa?” Ben dan Alvin sama sama kompak untuk menatap Batara, membuat laki laki itu semakin frustasi di buat nya.
“Ya pokok nya gak baik ya gak baik, jangan tanya kenapa! Pokok nya gue mau ganti—“
“Ganti apaan, Pak?” Ketiga laki laki itu seketika langsung menoleh ke sumber suara, dimana ternyata Zefanya datang dengan membawa sebuah toples dan satu kantung plastik.
Pandangan matanya, masih menatap bingung pada majikan nya yang belum sempat menyelesaikan perkataan nya. Dengan begitu santai, Zefanya duduk tepat di sebelah Batara, sambil mengangkat kedua kaki nya ke atas kursi untuk dudu bersila. Dimana hal itu lagi lagi membuat Batara merasa geram bukan main.
“Ngapain lo disini! Ini udah malem! Masuk, tidur!” usir Batara sambil menatap tajam pada Zefanya.
“Dih, si Bapak. Saya kan juga mau malam mingguan, lagian kapan lagi coba bisa ikut gabung sama cowok cowok ganteng,” kata Zefanya tersenyum manis sambil mengerlingkan sebelah matanya kepada Alvin dan Ben.
Tentu saja, Batara merasa darah nya sudah sangat mendidih. Tangan nya mengepal tanpa sadar, hingga membuat rahang nya mengeras. Nafas nya sedikit memburu dengan tatapan marah masih melekat pada Zefanya.
“Bang Alvin, pak Ben, boleh kan ya kalau saya ikut gabung? Gak ada larangan kan? Lagian, apa kalian gak kasihan sama saya? Gak punya temen, apalagi pacar, jadi gak pernah ngerasain malam mingguan, meng-sad banget kan hidup saya,” imbuh Zefanya dengan wajah penuh drama nya.
“Masuk Elaa!” tiba tiba Batara bangkit berdiri dan menunjuk ke arah rumah nya, ia benar benar sudah tidak kuat menghadapi Zefanya.
Bagaimana bisa, gadis itu keluar menemui Ben dan Alvin juga dirinya, dengan penampilan yang menurut nya sangat keterlaluan. Masih dengan pakaian seperti biasa, dimana Zefanya setiap malam akan selalu mengenakan baju Batara yang kebesaran sehingga terlihat seperti daster.
Dan yang lebih parah, Zefanya hanya mengenakan celana short pendek, yang membuat nya terlihat seperti tidak mengenakan celana. Duduk bersila di hadapan para laki laki, dengan rambut basah. Dan satu lagi, jangan lupakan kerlingan mata Zefanya saat menatap dan meminta izin pada Alvin dan Ben.
Ingin rasanya Batara berteriak sekencang mungkin. Dirinya benar benar sangat frustasi, dan ia merasa bahwa dirinya semakin gila menghadapi Zefanya. Memang benar yang di katakan oleh Ben, bahwa semakin kesini, pekerjaan Zefanya semakin baik dan tidak perlu di ajarkan lagi seperti dulu.
Tapi, Batara merasa semakin lama, hati dan perasaan nya yang semakin tak baik baik saja. Itulah yang membuat nya sangat ingin mengganti pembantu baru, karena dia tidak mau terlalu larut jatuh ke dalam perasaan yang sangat aneh menurut nya.
“Pak, saya ingin malam mingguan disini! Saya gak bisa tidur, bosen di kamar sama HP doang.” Kata Zefanya mendongakkan wajah menatap Batara sambil memanyunkan bibir, yang mana bukan terlihat jelek, melainkan semakin menggemaskan.
Tidak! Bukan menggemaskan, tapi—tapi entah lah. Pokoknya Batara tidak menyukai nya, karena itu bisa membuat jantung nya bekerja extra dan semakin tak karuan.
Dan tanpa aba aba, karena tidak mau terus berdebat. Batara langsung mengambil paksa toples yang di pangku oleh Zefanya, dan memberikan nya kepada Alvin. Tak hanya itu, Batara juga langsung mengangkat tubuh Zefanya dan menggendongnya seperti karung beras dari pasar loak, membuat gadis itu terkejut dan memekik.
“Jaga mata kalian! Ingat ini anak orang!” ucap Batara sebelum pergi meninggalkan kedua sahabat nya.
“Pak Bataaaaa! Turunin saya! Saya takut tinggi! Paaaakkkk!” Zefanya terus berseru smabil memukul mukul punggung Batara.
“Diam!”
“Pak Mahabarata, nyebelinnn! Emang nya saya beras, di angkat kaya gini!! Turunin gak! Paakkk! Jangan mentang mentang saya kecil, jadi bapak bisa seenaknya, turunin saya! Bapakkkk turunin! Atau saya teriak!”
“Lo itu udah teriak dari tadi!” balas Batara semakin geram karena mendengar teriakan Zefanya yang tiada henti.
Sementara itu, Ben dan Alvin keduanya hanya diam memaku sambil menatap drama yang baru saja ia lihat. Tentang bagaimana cara interaksi Batara dan Zefanya, yang memang berbeda.
“Vin, kayaknya gue ngerti, kenapa tu anak mau ganti pembantu baru!’ gumam Ben masih dengan pandangan mata lurus ke depan, menghadap rumah Batara.
“Hemm,” Alvin menganggukkan kepala, “Kayaknya aku juga udah mulai nangkep maksud mu.” Imbuh nya sambil memasukkan cemilan milik Zefanya yang di tinggal di sana.
...~To be continue......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Aidah Djafar
Zefaaa🤦😀😂😍
2024-09-07
0
Aidah Djafar
Zevaaa 🤦😀😂😍
2024-09-07
0
Fifid Dwi Ariyani
trussanar
2024-04-05
1