Seorang wanita melajukan mobilnya di jalan raya. Dia dengan kemarahan yang terpancar dari matanya. Bahkan wanita itu memukul setir mobilnya saat ia harus berhenti karena lampu merah. Sinta benci pada lampu merah, itu menghambat perjalanannya.
"Aku nggak ngerti apa yang coba ditutupi Arjuna sama aku. Dia jarang banget bohongi aku kayak gini," gerutu Sinta.
Sinta kembali mengingat kejadian tadi malam. Setelah Arjuna keluar dari kamar, Sinta mengambil ponselnya. Sinta bukan wanita bodoh yang mudah dibohongi, dia menekan beberapa digit nomor untuk menghubungi orang tuanya. Sinta tidak yakin bahwa ibunya sakit, kalaupun iya, sudah pasti ibunya akan menghubungi Sinta lebih dulu, bukannya Arjuna. Karena Arjuna tidak sepenting itu di hidup ayah dan ibu Sinta. Arjuna hanya berguna untuk menambah kekuatan pada keluarga mereka. Jika anak keluarga Agustama menikah dengan anak keluarga Dirgantara sudah pasti kekuatan mereka akan semakin besar. Ini semua permainan bisnis.
Maka dari itu Sinta agak terkejut, saat Arjuna mengatakan kalau ia mencintai Sinta. Padahal pernikahan mereka ini didasari bisnis bukan cinta kasih, tapi kenapa pria itu bisa mencintainya. Mungkin yang namanya 'Cinta datang karena terbiasa' itu benar.
Sinta berdecak saat ayahnya tak menjawab panggilan Sinta. Sinta kembali mencoba menelepon, tapi kali ini menelepon ibunya. Namun hasilnya tetap sama, tidak ada satupun jawaban dari orang tuanya.
Sinta mengacak rambutnya frustasi, sekarang ia tidak ada alasan untuk menolak pergi ke rumah orang tuanya. Tapi, bukan Sinta namanya jika tidak punya rencana kedua. Wanita itu kali ini menghubungi telepon rumah keluarga Agustama. Besar harapan Sinta agar ada orang yang mengangkat teleponnya ini.
Dan suara dering telepon itu sampai ke telinga Melinda. Melinda menjawab panggilan itu. "Halo, siapa?" tanya Melinda.
Sinta menghela napas lega, akhirnya ada yang menjawab panggilannya. "Mel, ini tante," jawab Sinta.
"Kenapa, Tan?" tanya Melinda acuh.
"Mel, tante mau nanya, nenek kamu sakit?"
Melinda menautkan alisnya, "Enggak lah Tan, tante jangan bercanda. Orang dari kemarin kakek sama nenek energik banget, lagipun tadi dokter baru aja meriksa keadaan mereka. Kakek sama nenek baik-baik aja, Tan. Emangnya kenapa?"
Sinta tersenyum, dugaannya benar kalau orang tuanya tidaklah sakit. "Tadi, om kamu bilang kalau nenek sakit."
Terdengar suara kekehan dari Melinda di seberang sana. "Tante dibohongi sama om tuh. Jangan-jangan om nyembunyiin sesuatu dari tante makanya sampai bohongi tante kayak gitu."
"Tante juga berpikir kayak gitu," balas Sinta. "Ah, udah dulu ya Mel, tante mau tidur. Kamu sama yang lain sehat-sehat kalau ada apa-apa soal kakek, nenek, kamu kabarin Tante aja ya," jelas Sinta.
"Iya Tante." Melinda mematikan telepon itu.
Sinta dibohongi kali ini, dan itu oleh suaminya sendiri.
...****...
"Sekarang, saya mau mendengar sendiri tentang kejelasan masalah ini dari kalian berdua. Dimulai dari anda, Eleena Safira Dirgantara," pinta Konselor Pendidikan.
Eleena mengangguk sopan, tatapan matanya kini berubah tajam saat ia menatap Wisnu.
"Jadi begini, Ibu. Saya bisa pastikan kalau ini semua memang 100% kesalahan Wisnu Putra Aksanta. Karena, ketika saya hendak menuju mobil saya untuk pulang ke rumah, dia dengan sangat amat tidak sopan mengendarai mobilnya dengan kelajuan yang tinggi sehingga mengakibatkan lumpur yang ada di depan saya terciprat ke wajah dan pakaian saya," jelas Eleena.
"Berarti bukan anda dilempari lumpur oleh Wisnu?" Eleena menggeleng. "Bukan Ibu."
"Lantas, mengapa anda mendorong Wisnu sampai dia masuk ke selokan?" Konselor Pendidikan kembali bertanya.
"Karena dia sudah mempermalukan saya, jadi saya pikir saya harus mempermalukan dia juga." Eleena menatap remeh Wisnu.
"Dan bagaimana dengan kamu Wisnu Putra Aksanta." Wisnu menoleh ke arah Konselor Pendidikan. "Mahasiswa yang mencetak masalah bukannya piala. Apa alasan anda menjahili Eleena seperti tadi. Itu hal yang tercela."
"Bu, saya jengkel sama dia. Anak ini sudah mempermalukan saya berkali-kali, bukan hanya sekali. Lagipun waktu itu saya tidak menyangka kalau lumpur akan terciprat sangat banyak ke wajahnya. Ini sebuah ketidaksengajaan, Bu," jawab Wisnu.
"Tidak sengaja?" Eleena tak terima dengan pernyataan Wisnu barusan. "Lo bilang nggak sengaja? Jelas-jelas lo sengaja, bahkan Lo nyiram gue pakai es yang gue beli di kantin."
Perdebatan mulai terjadi antara Wisnu dan Eleena. Mereka saling menyalahkan satu sama lain, padahal selain mereka ada beberapa orang di dalam ruangan itu.
"Berhenti!" teriak Konselor Pendidikan, menghentikan kebisingan yang dibuat Eleena dan Wisnu. "Duduk!" perintahnya. Eleena dan Wisnu duduk.
"Lebih baik melihat kamera cctv kalau ada," saran Arjuna saat Konselor Pendidikan hendak membuka mulutnya untuk menceramahi Eleena dan Wisnu.
"Ide bagus." Konselor Pendidikan, menyuruh staffnya untuk mengambil rekaman cctv di tempat parkir kampus.
"Mari kita tunggu," ucapnya.
Orang-orang di dalam ruangan itu menunggu setidaknya 5 menit untuk melihat rekaman cctv itu saja. Rekaman cctv itu terputar, dan dari sana terlihat jelas kalau memang benar, Wisnu adalah pelaku dan Eleena yang menjadi korbannya.
"Sekarang semuanya sudah jelas. Dan untuk hukuman kamu ditentukan oleh korbanmu, Wisnu," tegas Konselor Pendidikan.
"Hukuman?" Tatapan Eleena adalah tatapan kemenangan. Dia bisa merasakan bagaimana ego Wisnu terluka saat ia harus menerima kekalahan, tapi inilah hal yang disukai Eleena.
"Hukumannya bebas, Bu?" tanya Eleena memancing Konselor Pendidikan. Wanita itu mengangguk, "Hak diberikan sepenuhnya ke anda, sebagai korban."
Kalau bisa tertawa sekarang, Eleena sudah tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana ekspresi menyedihkan dari Wisnu yang harus menerima fakta kalau dia harus benar-benar kalah.
"Hukuman buat lo, DO. Di DO dari kampus," jelas Eleena.
"Nak, jangan nak. Kamu bisa memberikan hukuman yang lain kepada anak saya, tapi jangan DO dia tolong." Melinda memohon pada Eleena untuk mengubah keputusannya.
"Maaf Bu, keputusan saya bulat, anak ibu harus mendapat hukuman yang setimpal. Karena bisa saja, dia akan melakukan hal yang sama pada mahasiswa yang lain nantinya."
"Jaga sikap lo!" bentak Wisnu. "Lo yang harus jaga sikap!" balas Eleena juga membentak.
"Lo—"
"Bu, catat hukumannya, dia harus di DO sekarang juga," potong Eleena.
"Nak, jangan." Meethila duduk bersimpuh di hadapan Eleena.
"Ma, Mama berdiri ayok. Jangan kayak gitu." Wisnu mencoba membuat Meethila berdiri tapi Meethila tetap pada posisinya.
"Nak, saya mohon sama kamu. Nama kamu Eleena, kan. Itu nama yang cantik sama seperti kamu yang cantik. Saya mohon, kasih keringanan untuk hukuman anak saya. Saya janji dia akan berubah dan tidak akan mengusik kamu lagi, dia juga akan meminta maaf sama kamu. Atau kalau perlu, saya akan mencium kaki kamu, Nak."
Eleena spontan mundur saat Meethila membungkukkan tubuhnya hendak mencium sepatu Eleena. "Mama!" Wisnu menarik Meethila untuk berdiri.
"Mama apa-apaan? Jangan mohon kayak tadi. Wisnu nggak suka!"
Plakk
Meethila menampar Wisnu dengan begitu kuat, sampai bagian bibir bawahnya terluka. "Itu tamparan buat kamu, karena udah berani mukul perempuan!" bentak Meethila. Meethila menarik kerah baju Wisnu. "Wis, mama nggak pernah ngajari kamu untuk kasar sama perempuan manapun. Mama nggak pernah, Nak. Kenapa kamu kayak gini. Kamu ini siapa sih?" Meethila mendorong Wisnu.
"Kamu siapa? Di mana anak saya? Yang saya tahu, anak saya adalah laki-laki terbaik, saya membesarkannya dengan penuh kasih sayang, saya selalu mengajarkannya tentang moral-moral kehidupan. Tapi saya tidak pernah mengajarkannya untuk kasar pada seorang perempuan!" Baru kali ini Wisnu melihat Meethila marah sebesar ini padanya.
"Minta maaf," suruh Meethila. Wisnu menggeleng.
Plakk
"Minta maaf! Minta maaf sekarang sama Eleena!" paksa Meethila, menarik Wisnu untuk mendekati gadis itu. "Minta maaf sama dia, minta maaf dengan tulus dan kamu harus janji kalau ini kesalahan terakhir yang kamu lakukan. Cepetan minta maaf!"
Wisnu mengangkat pandangannya, mata yang sudah memerah dan wajah Wisnu yang juga sudah memerah. Wisnu menyatukan kedua tangannya di depan Eleena. "Maaf." Akhirnya kata itu keluar dari mulut Wisnu. "Maaf karena udah bikin kamu malu, aku juga malu sama perbuatan aku sendiri. Aku nggak bermaksud kayak gitu, tapi karena rasa jengkel aku ke kamu, aku ngelakuin hal yang nggak bermoral kayak gitu. Aku nggak tahu, kalau karena ulah aku, Mama akan dipermalukan kayak gini. Aku harap kamu mau nerima permintaan maaf aku, jangan buat mama aku bersimpuh kayak tadi, aku nggak bisa lihatnya." Eleena bisa merasakan ketulusan dari kata-kata yang keluar dari mulut Wisnu. Walaupun Eleena tidak sepenuhnya yakin, lelaki itu menyesal tapi untuk kata-kata Wisnu mengenai ibunya itu sangat jelas, Wisnu tulus.
"Bu, catat hukuman Wisnu." Meethila memohon pada Eleena agar ia merubah keputusannya. "Wisnu Putra Aksanta, dia akan menjalani hukuman, selama satu minggu ke depan, dia akan membersihkan koridor dan tempat parkir kampus. Dia tidak akan membiarkan satu sampahpun berserakan. Dan Wisnu, baru boleh pulang dari kampus setelah satu jam waktu pulang." Di satu sisi Meethila sangat lega dan mengucapkan terimakasih pada Eleena berkali-kali, walaupun disisi lain dia merasa kasihan pada putra semata wayangnya itu.
"Baiklah, itu hukuman untuk anda, Wisnu Putra Aksanta."
Wisnu keluar dari ruangan itu bahkan tanpa dipersilahkan lebih dulu. Wisnu keluar dari ruangan itu mengabaikan panggilan teman-temannya, dan tatapan mahasiswa lain pada dirinya.
Wisnu berjalan menuju tempat parkir, emosi Wisnu membawa lelaki itu ke tempat ini.
Sedangkan dari sisi lain, ada Sinta yang terus menggerutu sepanjang jalan karena ulah dari Arjuna tadi pagi. Bisa-bisanya walau Sinta sudah mengikuti rencana Arjuna tapi dia tetap saja terlambat datang ke kampus anaknya. Arjuna sangat sengaja mengempeskan ban mobil milik Sinta saat Sinta berhenti sejenak untuk membeli makanan di warung terdekat dari kampus.
Ini sangat menjengkelkan. Sinta yang terus mengomel membuat ia tidak fokus pada pandangan di depan. Dan Wisnu yang berlari tanpa melihat-lihat keadaan sekitar. Mobil Sinta menabrak Wisnu yang berlari melewatinya. Sinta langsung mengerem mobilnya. Wanita itu buru-buru keluar menghampiri Wisnu yang terjatuh.
"Kamu nggak papa? Saya minta maaf ya." Sinta membantu Wisnu berdiri. Dia membawa Wisnu duduk di ujung selokan. Awalnya Wisnu takut, takut kejadian kemarin terulang lagi, maka dari itu Wisnu mendudukkan dirinya di tanah.
"Sayang, kamu luka nggak?" Sinta melihat-lihat apakah ada luka yang dialami Wisnu karena ulahnya. Dan itu benar, tangan Wisnu terluka. "Kamu tunggu di sini ya, saya balik lagi." Sinta membuka pintu mobilnya, mengambil kotak P3K yang selalu ia bawa ke mana-mana.
Sinta dengan sigap dan cekatan mengobati luka Wisnu. "Maaf ya Nak, tadi tante nggak lihat kamu di sana." Sinta sesekali meniup luka Wisnu agar lukanya cepat kering. Wisnu menatap Sinta dalam, kenapa perhatian Sinta membuat hatinya hangat.
"Sayang, kamu nggak marah sama tante, kan?" Wisnu menggeleng pelan. "Maaf ya, Nak." Entah sudah ke berapa kali Sinta mengulang hal yang sama.
"Eh ini." Sinta menyentuh bagian bawah bibir Wisnu. Lelaki itu meringis kesakitan. Sinta kembali mengobati luka Wisnu yang ini. Tapi mata Sinta menatap ada lebam dipipi anak laki-laki ini.
"Kok bisa ada lebam, sayang." Sinta mengompres lebam di pipi Wisnu selama beberapa saat walau sang empu meringis kesakitan. "Sabar ya, Nak. Biar sembuh dulu lukanya." Kata-kata penuh cinta dari Sinta membuat hati Wisnu sangat damai. Wisnu tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Tapi entah kenapa rasanya Wisnu ingin sekali memeluk Sinta dan mengatakan bahwa Wisnu sangat merindukannya, padahal Wisnu sendiri tidak mengenali siapa wanita ini.
"Siapa yang nyakitin kamu, Sayang. Dia jahat banget, mukul anak seimut dan sebaik kamu," ucap Sinta, membereskan barang-barang dan kembali memasukkan kotak P3K itu ke dalam mobil. Tangan Sinta meraih sesuatu, dia tadi sempat membeli sesuatu.
"Papa," lirih Wisnu. "Apa?" tanya Sinta duduk di sebelah Wisnu. "Papa yang mukul aku Tan. Dia bilang aku anak nggak berguna, cuma jadi beban aja. Aku emang buruk ya Tan, seharusnya Tante tabrak aku aja tadi." Tanpa Wisnu sadari, air mata turun dari pelupuk matanya.
"Sayang." Sinta memberi Wisnu pelukan, dia tidak bisa melihat pemuda ini bersedih, itu seakan menyakiti hatinya juga. "Nak, kamu jangan sedih ya, mungkin papa kamu bilang itu karena lagi emosi aja. Aslinya tante yakin papa kamu sayang banget sama kamu," tutur Sinta.
"Tante yakin?" tanya Wisnu sedikit serak. "Iya, Nak. Tante yakin." Sinta melepaskan pelukannya, mengusap air mata dipipi Wisnu. "Seorang ayah akan sangat menyayangi anaknya, walau mungkin caranya terkesan agak kasar. Tapi itu semua demi kebaikan anaknya." Sinta tersenyum, menyodorkan botol susu pisang yang tadi ia beli di supermarket. "Kamu suka susu pisang?" Wisnu mengangguk. "Nah, ini buat kamu." Sinta menaruh botol susu pisang itu di telapak tangan Wisnu.
"Minumlah, biar kamu sedikit tenang." Wisnu menurut, dia menyedot susu pisang ini perlahan. Entah ilmu apa yang dimiliki Sinta sampai dia tahu minuman kesukaan Wisnu selain alkohol adalah susu pisang.
"Anak baik." Sinta mengelus surai rambut Wisnu, merapikan rambut Wisnu yang berantakan. Lagi-lagi sikap Sinta melelehkan hati Wisnu.
"Tante, nama Tante siapa?" Wisnu memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa Tante baik banget sama saya."
"Bunda!" Belum sempat Sinta menjawab, panggilan dari Eleena mengalihkan perhatiannya dan Wisnu. Sinta menghampiri Eleena, dan Meethila menghampiri Wisnu yang duduk di tanah.
"Bunda ngapain di sini?" tanya Eleena. "Bunda khawatir sama kamu, Sayang."
"Loh, bukannya kata Ayah, nenek sakit ya?" Arjuna memalingkan wajahnya dari tatapan Sinta. "Oh itu, nenek kamu udah sehat kok," jawab Sinta.
"Kenapa Bunda sama dia?" Eleena menatap tajam dan sinis ke arah Wisnu. "Ceritanya panjang, nanti Bunda ceritain di rumah. Emang kamu kenal sama dia?"
"Dia itu yang bermasalah sama aku, Bun. Dia Wisnu Putra—"
"Sin, kenapa nggak ngasih tau aku mau ke sini?" Arjuna langsung memotong perkataan Eleena saat gadis itu ingin menyebut nama belakang dari Wisnu. "Nggak papa." Arjuna memberi isyarat pada Eleena untuk diam.
Sinta menghampiri Wisnu. "Maafin anak Tante ya, kalau dia buat kamu tersinggung." Eleena menatap tidak percaya Sinta mengatakan hal itu pada cowok tidak tahu malu seperti Wisnu. "Tetap jadi anak baik ya, Sayang." Sinta mengelus surai rambut Wisnu lagi, sebelum menghampiri Eleena dan Arjuna.
"Nyokapnya sebaik ini, kenapa tu cewek rese kagak ya," batin Wisnu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments