Malam Eleena

Ketika sang bulan muncul menggantikan matahari yang sudah tenggelam untuk menyinari langit malam yang gelap agar menjadi gemerlap bersama dengan bantuan cahaya bintang-bintang.

Dan Eleena berada di balkon kamarnya, segelas teh yang tersaji hangat dimeja dan buku yang sedang ia baca. Bulan dan bintang menemani Eleena yang memakai kacamata untuk membaca.

Lampu yang tidak terlalu terang namun tidak terlalu gelap juga menambah kenyamanan Eleena untuk kembali me-recharge energinya setelah seharian beraktivitas dan bertemu dengan orang banyak. Bertemu dengan banyak orang sangat membuat orang introvert seperti Eleena kehilangan banyak energinya. Dan malam hari Eleena manfaatkan untuk bersantai.

Eleena meneguk teh hangat yang ada di atas meja. Menghilangkan dahaga setelah 15 menit Eleena membaca. Alunan musik yang berasal dari ponsel Eleena menambah ketenangan suasana malam. Eleena yang memakai piyama berwarna pink dengan rambut yang dikuncir asal mampu menarik perhatian kupu-kupu yang lewat di depannya.

"Kupu-kupu? Untuk apa kupu-kupu datang di malam hari?" tanya Eleena, menatap kupu-kupu yang terbang tepat di hadapannya. "Indah." Kupu-kupu itu langsung terbang menjauhi Eleena, terbang semakin jauh hingga akhirnya ia menghilang di kegelapan malam.

Eleena menutup bukunya, mengambil gelas teh nya dan masuk ke dalam kamar. Menutup pintu balkon, kemudian meletakkan buku dan teh nya di nakas.

Eleena mengambil ponselnya, jari-jarinya mulai menjelajahi sosial media. Eleena tertawa karena video lucu, matanya berkaca-kaca karena video sedih dan wajahnya yang serius ketika ada konten edukasi.

"Sayang." Suara dari luar kamarnya mengalihkan perhatian Eleena. Gadis itu bangkit, membuka pintu kamarnya.

"Hai," sapa Sinta melambaikan tangan pada Eleena. Eleena tertawa karena tingkah bundanya yang lucu.

"Kenapa Bun?"

"Emang harus ada alasan ya kalau bunda mau ketemu sama anak bunda?" Eleena menggeleng. "Sini ikut bunda, El." Sinta menarik tangan Eleena, membawa gadis itu ke suatu tempat. Tempat di mana Arjuna sedang sibuk berkutat dengan laptopnya. Arjuna yang memakai kacamata dan kaos biru serta celana pendek coklat.

"Kamu tau besok tanggal berapa?" tanya Sinta pelan. Eleena mengecek kalender dari ponselnya.

"12 April," jawabannya. "Kamu ada kejutan nggak?" Eleena menautkan alisnya heran. Apa yang dimaksud Sinta? Kejutan apa?

"Emang kejutan apa bunda? Dan kenapa juga?" Sinta menepuk jidatnya, yang tua dirinya tapi yang pikun putrinya. Sinta menarik tangan Eleena membawa gadis itu menjauh dari tempat itu sebelum Arjuna menyadari kehadiran mereka.

"Kamu ini." Sinta menjewer telinga Eleena. "Bunda," rengek Eleena kesakitan. Sinta melepaskan jewerannya, memukul lengan Eleena.

"Ih, Bunda kenapa sih?"

"Kok bisa kamu lupa? Besok ulang tahun ayah kamu." Eleena baru teringat sekarang. Tanggal 12 April memang ulang tahun ayahnya.

Eleena menepuk jidatnya. "Duh, kok aku lupa ya. Efek jadi anak Psikologi ketiban tugas banyak nih, makanya gini," omel gadis itu.

"Sekarang gimana?" tanya Sinta serius. "Gimana apanya?" balas Eleena polos. "Kamu mau bunda jewer?" Eleena menggeleng sembari menyengir.

"Beli kue aja kayak biasa," usul Eleena agak takut. "Masa kue mulu sih, sesekali kita kasih kejutan lah."

"Kejutan kayak gimana?" Sinta berpikir sejenak. Senyum nakal muncul dari wajah wanita itu saat dia mendapatkan idenya.

"Kita ucapin ayah kamu tepat jam dua belas malam. Bunda udah tau mana hadiah yang bagus buat dia, kamu juga bisa buat hadiah kamu sendiri. Hadiah hasil tangan kamu jangan beli. Soalnya bunda gitu juga." Eleena mengangguk mendengar ide ini. Sepertinya ini ide bagus.

"Ya udah, bunda mau beli kuenya sebentar, nanti kalau ayah kamu nanya bunda di mana, bilang aja bunda lagi ke rumah temen. Oke?" Eleena mengacungkan jempolnya.

"Sana masuk kamar, buat hadiah kamu." Sinta mengambil kunci mobilnya dari dalam kamar, dan segera pergi dari pekarangan rumah.

Ternyata suara mobil itu terdengar sampai ke telinga Arjuna. Perhatian laki-laki itu kini teralihkan karena suara mobil yang keluar dari rumah mereka.

"El pergi?" Arjuna menutup laptopnya, masuk ke dalam rumah. Arjuna tadi berada di taman rumah, mencari tempat tenang untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.

"El." Langkah Eleena terhenti. Gadis itu membeku sekarang, tiba-tiba panggilan dari Arjuna berubah menjadi menyeramkan untuknya.

"Mau ke mana?" Arjuna menyentuh pundak putrinya. Eleena memejamkan matanya dan berbalik badan. Membuka mata itu perlahan dan berusaha bersikap selayaknya tidak terjadi apa-apa.

"Kamu takut? Takut sama siapa?" Eleena menggeleng kuat. "Nggak ada, nggak ada."

Arjuna bisa melihat keanehan dari Eleena, tapi dia tidak akan bertanya soal itu. "Yang tadi keluar siapa?"

"Bunda." El bodoh.

"Ke mana?" Seharusnya Arjuna tidak perlu tahu kalau Sinta pergi tapi karena kecerobohan Eleena ia harus memberitahukan di mana Sinta berada.

"Bunda lagi ke rumah temennya, Yah," jawab Eleena, berusaha setenang mungkin.

"Kok bilangnya sama kamu, kenapa bundamu nggak izin langsung sama ayah?"

"Duh, ayah jangan banyak tanya dong," batin Eleena. "Bunda nggak tau Ayah di mana mungkin."

"Nggak lah, bundamu udah sering kok liat ayah di taman. Ayah sama bundamu udah nikah 20 tahun El, ayah udah kenal sama bunda sama kayak bunda kenal sama ayah," ujar Arjuna. Eleena semakin bingung menjawab pernyataan Arjuna yang satu ini. Kalau dia diam saja, pasti Arjuna akan curiga tapi kalau menjawab harus menjawab apa, menambah pekerjaan saja.

"Nggak tau Yah, El nggak ngerti soal bunda." Eleena langsung pergi dari ruangan itu menuju kamarnya, kalau ia tidak menghindar yang ada dia terkena pertanyaan-pertanyaan lagi.

Eleena duduk di ujung kasur, termenung memikirkan hadiah apa yang harus diberikan untuk Arjuna. Mata Eleena melihat ke arah jarum jam yang sudah bergerak ke angka 9.

"Udah jam segini, hadiah apa yang bisa dikasih sama ayah. Ayo pikir-pikir." Eleena memukul-mukul kepalanya agar otaknya segera memberinya ide.

"Gue paling suka sama lukisan untuk sastra yang ada di dunia ini," ucap Arfin, memasukkan suapan terakhir ice creamnya. "Lukisan itu indah, tempat menyalurkan perasaan dan bisa menjadi wadah untuk mengabadikan orang yang tersayang. Walaupun gue nggak bisa ngelukis tapi gue sering datang ke pameran seni lukis. Gue selalu puas dan tenang melihat lukisan-lukisan yang dibuat dengan penuh perasaan oleh seniman."

"Thank you so much Arfin, gue dapat ide." Eleena segera mencari di mana ia menyimpan kanvas, pallet, cat dan kuasnya itu. Ia membuka lemari, laci-laci meja tapi tidak ketemu.

"Kenapa disaat genting barang-barang pada hobi ngilang sih?!" Eleena menunduk melihat ke bawah kolong meja dan kasurnya, siapa tahu benda-benda itu berada di sana. Tapi hasilnya tetap sama, mereka tidak ada.

Eleena sedikit berlari menuju balkon. Dia mencari benda-benda itu di balkon dan ketemu. Eleena berkacak pinggang melihat benda-benda itu berserakan di ujung balkon. Eleena mengambil benda-benda itu, matanya melirik ke arah bulan yang bersinar terang.

"Di sini aja deh." Eleena duduk kembali di balkon melukis apa yang ingin disampaikannya ke Arjuna lewat bantuan para bintang dan Arfin tentunya.

...*****...

"Dari mana?" Arjuna langsung memberikan pertanyaan itu begitu Sinta masuk ke dalam rumah. Sinta yang panik berusaha untuk bersikap tetap tenang saat Arjuna semakin mendekatinya.

"Kenapa nggak izin sama aku kalau mau ke rumah teman?"

"Hah? Ke rumah temen? Mana ada." Sinta berusaha mengelak. "El yang bilang sama aku." Sinta beku, dia lupa kalau itu alasan yang ia buat sendiri. Sekarang dia sudah tertangkap basah.

"Oh itu, mungkin El salah denger, aku pergi nyari hadiah buat temen aku, soalnya besok aku mau ke rumahnya. Karena nggak lucu aku ke sana malam-malam," jawab Sinta santai meskipun jantungnya tidak bisa bersantai.

"Hadiah buat temen? Aku nggak ada?" tanya Arjuna mengangkat kedua alisnya. "Ngapain kamu minta hadiah, nggak jelas banget."

"Kamu lupa?" Tampak raut wajah kecewa dari Arjuna. "Lupa apanya? Emang ada apa?" Arjuna menatap lesu Sinta.

"Aku tidur sama El ya, dadah." Sinta melambaikan tangannya, buru-buru pergi dari sana sambil menenteng bungkus kue yang sudah ia beli. Mata Sinta melihat ke arah jarum jam, sudah pukul 22.00 ternyata. Yang artinya dirinya dan Eleena tak memiliki banyak waktu lagi.

"El." Sinta mengetuk pintu Eleena. Tapi tak ada jawaban, dia membuka pintu kamar putrinya dan langsung masuk ke dalam. Dilihatnya Eleena yang sedang bermain dengan warna di balkon. Sinta menutup pintu kamar, menaruh bungkus kue itu di kasur.

"Ngapain?" tanya Sinta, duduk di sebelah Eleena. "Bunda udah pulang? Cepet ya."

"Cepet dari mananya, bunda satu jam di luar nyari kue yang pas buat ayah kamu," keluh Sinta. Eleena terkekeh kecil sambil fokus merapikan detail-detail kecil dari lukisannya.

"Itu, buat ayah kamu ya?" Eleena mengangguk. "Bagus banget, pake hati banget ya anak bunda buatnya." Sinta mengelus-elus surai rambut Eleena.

Sinta menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang sambil menunggu pukul 00.00 untuk memberi kejutan pada Arjuna. yang saat ini sedang tertidur pulas.

...****...

Kedua perempuan ini diam-diam masuk ke kamar yang di dalamnya terdapat Arjuna yang sedang tertidur lelap.

Sinta memberi kode pada Eleena agar lebih tenang. Ia menyalakan lampu kamar mereka, yang dengan cahaya itu Arjuna agak sedikit terganggu. Sinta menepuk pipi Arjuna beberapa kali sampai akhirnya pria itu terbangun.

"Happy birthday to you, happy birthday to you. Happy birthday ayah El, happy birthday to you." Begitu Arjuna membuka mata, nyanyian itu langsung dinyanyikan oleh putrinya untuknya.

"Ayah tiup lilinnya." Namun Arjuna yang masih agak linglung tak langsung melakukan itu. Dia menoleh ke arah Sinta lebih dulu, dan Sinta yang seakan mengerti maksud dari tatapan itu mengedipkan matanya.

Arjuna meniup lilinnya. Eleena memotong kue yang tadi dibeli oleh Sinta. "Ini buat ayah El tersayang." Eleena menyuapi Arjuna setelah itu Arjuna berganti menyuapi anaknya. Eleena memeluk Arjuna. "El sayang banget sama ayah," ucapnya.

"Ayah lebih sayang sama El. El itu hidupnya ayah," balas Arjuna yang berhasil membuat mata Eleena berkaca-kaca.

Sinta juga menyuapi suaminya dan Arjuna melakukan hal yang sama. Kedua pasangan ini, saling tersenyum lebar saat menyuapi satu sama lain.

"Katanya buat temen," sindir Arjuna. "Iya buat temen emang," jawab Sinta.

"Jadi aku teman kamu? Wah aku nggak nyangka." Arjuna tidak mengharapkan jawaban ini dari Sinta yang saat ini sedang tertawa.

"Kamu kan temen aku Jun, temen hidup aku." Arjuna mencium pipi Sinta sesaat setelah kata-kata itu keluar dari mulut istrinya. "Itu ucapan terimakasih aku buat kamu." Arjuna mengedipkan matanya nakal. Eleena hanya bisa terkekeh dan geleng-geleng kepala melihat tingkah orang tuanya ini.

"Jadi, mana hadiah ayah?" Arjuna membuka telapak tangannya, bersiap menerima hadiah dari putrinya.

Eleena mengambil lukisan yang ia taruh di kasur Arjuna saat lampu belum dihidupkan tadi. "Nih." Eleena meletakkan lukisan berukuran kecil itu di atas telapak tangan Arjuna.

"Cantik banget sih lukisan anak ayah," puji Arjuna. Eleena mengibaskan rambutnya bangga. "Oh jelas, orang yang ngelukis aja cantik gini."

"Kamu ini." Arjuna mencubit hidung Eleena gemas. "Makasih ya sayang udah buat kejutan buat ayah. Dan makasih juga buat kamu temen hidup aku udah nyiapin kejutan ini," jelas Arjuna.

"Hadiah kamu mana?" Arjuna menyenggol bahu Sinta. "Nanti aja, tunggu El keluar, soalnya hadiah aku paling istimewa dan kamu nggak akan dapat ini di luar sana."

Eleena jadi bertanya-tanya nih hadiah apa yang dimaksud bundanya. Apa itu sesuai dengan yang dia pikirkan sekarang.

Arjuna mengecup kening Sinta dan Eleena bergantian, memeluk kedua perempuan yang sangat berharga di hidupnya setelah ibunya.

Arjuna melirik ke arah lukisan yang diberikan Eleena. Lukisan yang berisi satu orang anak kecil perempuan yang di kanan kirinya ada sepasang lelaki dan wanita yang memiliki sayap layaknya malaikat. Eleena menganggap Arjuna dan Sinta adalah malaikat yang dikirim oleh semesta untuknya.

"Terimakasih atas semua kebahagiaan yang datang untukku Tuhan," batin Eleena.

Episodes
1 Prolog
2 Putra Tunggal Aksanta
3 Gadis cantik di bar
4 Laki-laki sombong
5 Keributan kecil
6 Keluarga
7 Rencana Arfin
8 Lelaki itu lagi
9 Arfin Fano Alyas
10 Perintah Wisnu
11 Malam Eleena
12 Kartu Wisnu
13 Kedekatan Arfin dan amarah Wisnu
14 Melinda menyukai Arfin?
15 Taman
16 Lumpur dan Eleena
17 Surat pemanggilan
18 Tentang masalah kemarin
19 Pertemuannya dengan seseorang
20 Kepercayaan Eleena
21 Kegundahan Arfin
22 Bertemu kembali
23 Bar
24 Malam bersama Arfin
25 Perjodohan?
26 Makan malam
27 Waktu bersamanya
28 Ide Rama
29 Arfin mundur
30 kecemburuan Putra Aksanta
31 Keisengan Wisnu
32 Kerjasama Rama
33 Drama makan malam
34 Tertangkap
35 Bantuan Eleena
36 Tidak asing
37 Malam hari di Kediaman Aksanta
38 Bunga untuk dia
39 Nomor Eleena
40 Perjodohan lagi
41 Menghindar
42 Panas
43 Kisah di kala hujan
44 Pacar Wisnu
45 Perjalanan kencan Putra Aksanta
46 Perjalanan kencan Putra Aksanta part 2
47 Sarapan di kediaman Aksanta
48 Kerikil dan Pertengkaran kecil
49 Waktu yang tak disengaja
50 Gadis itu baik
51 Sesuatu di Rooftop
52 Bujukan Arfin
53 Perjalanan ke rumah Eleena
54 Foto di nakas
55 Bunga untuk siapa?
56 Selalu Rama bukan Juna
57 Jangan bongkar identitasmu
58 Makan malam di kediaman Aksanta
59 Perlakuan romantis Putra Aksanta
60 Jepitan Eleena
61 Usulan
62 Obrolan bersama Arfin
63 Valentine
64 Kencan tanpa disengaja
65 Kencan tanpa disengaja part 2
66 Kencan tanpa disengaja part 3
67 Mengenal lebih dekat
68 Tentang Wisnu
69 Air mata di halte
70 Bersama di bar
71 Kemarahan Arjuna
72 Hujan hari ini
73 Pembicaraan bersama
74 Sakit
75 Kekhawatiran Eleena
76 Suatu Malam
77 Ungkapan perasaan Melinda
78 Undangan
79 Makan malam di kediaman Dirgantara
80 Ketidaksengajaan di makan malam
81 Cinta
82 Permintaan di bar
83 Dibohongi
84 Cinta menurut Sinta
85 Menghindar
86 Waktu bersama
87 Keributan hari ini
88 Kebingungan
89 Pertanyaan baru
90 Ketahuan
91 Ajakan ke mall
92 Mall hari ini
93 Kafe dan Arfin
94 Rumah Arfin
95 kebenaran Eleena
96 Terkejut
97 Eskrim dan Arfin
98 Pesona Putra Aksanta dan teman-temannya
99 Perseteruan
100 Menyesal
101 Today...
102 Let's break up
103 Rindu
104 Siapa itu?
105 Kecemasan
106 Eleena menghilang
107 Diculik
108 Semakin panik
109 Pencarian
110 Penyelamatan Eleena
111 Patah hati
112 Kebetulan
113 Acara Penting
114 Aksanta atau Agustama?
115 Satu persatu mulai terungkap
116 Rencana berujung Cinta
117 Pengakuan cinta
118 Perayaan patah hati
119 Fakta baru
120 Kesedihan Wisnu
121 Undangan Eleena
122 Ulang tahun Eleena
123 Air mata di ulang tahun
124 Malam keributan
125 Tragedi
126 Kritis
127 Penyesalan dan ancaman
128 Terungkapnya kebenaran
129 Penyakit
130 Lucu
131 Foto
132 Fakta Eleena
133 Kemarahan Sinta
134 Rumah Aksanta dan kegilaan di sana
135 Hari pertama di rumah Aksanta
136 Cinta Rama pada Sinta
137 Kebencian Sinta untuk Rama
138 Orang itu petunjuk
139 Perlakuan kasar Aksanta
140 Rumah Agustama
141 Semua itu rencana licik
142 Bar dan Rama
143 Setelah kebenaran itu
144 Perihal melepaskan
145 Berpisah
146 Ingin kembali berteman
147 Bebas
148 Tidak akan kembali bersama
149 Today with you
150 Perihal mengikhlaskan
151 Pesta Putra Aksanta
152 Semua yang terbaik
153 Will you marry me?
154 Gaun
155 Cincin dan Cinta
156 Janji suci pernikahan
157 Epilog
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Prolog
2
Putra Tunggal Aksanta
3
Gadis cantik di bar
4
Laki-laki sombong
5
Keributan kecil
6
Keluarga
7
Rencana Arfin
8
Lelaki itu lagi
9
Arfin Fano Alyas
10
Perintah Wisnu
11
Malam Eleena
12
Kartu Wisnu
13
Kedekatan Arfin dan amarah Wisnu
14
Melinda menyukai Arfin?
15
Taman
16
Lumpur dan Eleena
17
Surat pemanggilan
18
Tentang masalah kemarin
19
Pertemuannya dengan seseorang
20
Kepercayaan Eleena
21
Kegundahan Arfin
22
Bertemu kembali
23
Bar
24
Malam bersama Arfin
25
Perjodohan?
26
Makan malam
27
Waktu bersamanya
28
Ide Rama
29
Arfin mundur
30
kecemburuan Putra Aksanta
31
Keisengan Wisnu
32
Kerjasama Rama
33
Drama makan malam
34
Tertangkap
35
Bantuan Eleena
36
Tidak asing
37
Malam hari di Kediaman Aksanta
38
Bunga untuk dia
39
Nomor Eleena
40
Perjodohan lagi
41
Menghindar
42
Panas
43
Kisah di kala hujan
44
Pacar Wisnu
45
Perjalanan kencan Putra Aksanta
46
Perjalanan kencan Putra Aksanta part 2
47
Sarapan di kediaman Aksanta
48
Kerikil dan Pertengkaran kecil
49
Waktu yang tak disengaja
50
Gadis itu baik
51
Sesuatu di Rooftop
52
Bujukan Arfin
53
Perjalanan ke rumah Eleena
54
Foto di nakas
55
Bunga untuk siapa?
56
Selalu Rama bukan Juna
57
Jangan bongkar identitasmu
58
Makan malam di kediaman Aksanta
59
Perlakuan romantis Putra Aksanta
60
Jepitan Eleena
61
Usulan
62
Obrolan bersama Arfin
63
Valentine
64
Kencan tanpa disengaja
65
Kencan tanpa disengaja part 2
66
Kencan tanpa disengaja part 3
67
Mengenal lebih dekat
68
Tentang Wisnu
69
Air mata di halte
70
Bersama di bar
71
Kemarahan Arjuna
72
Hujan hari ini
73
Pembicaraan bersama
74
Sakit
75
Kekhawatiran Eleena
76
Suatu Malam
77
Ungkapan perasaan Melinda
78
Undangan
79
Makan malam di kediaman Dirgantara
80
Ketidaksengajaan di makan malam
81
Cinta
82
Permintaan di bar
83
Dibohongi
84
Cinta menurut Sinta
85
Menghindar
86
Waktu bersama
87
Keributan hari ini
88
Kebingungan
89
Pertanyaan baru
90
Ketahuan
91
Ajakan ke mall
92
Mall hari ini
93
Kafe dan Arfin
94
Rumah Arfin
95
kebenaran Eleena
96
Terkejut
97
Eskrim dan Arfin
98
Pesona Putra Aksanta dan teman-temannya
99
Perseteruan
100
Menyesal
101
Today...
102
Let's break up
103
Rindu
104
Siapa itu?
105
Kecemasan
106
Eleena menghilang
107
Diculik
108
Semakin panik
109
Pencarian
110
Penyelamatan Eleena
111
Patah hati
112
Kebetulan
113
Acara Penting
114
Aksanta atau Agustama?
115
Satu persatu mulai terungkap
116
Rencana berujung Cinta
117
Pengakuan cinta
118
Perayaan patah hati
119
Fakta baru
120
Kesedihan Wisnu
121
Undangan Eleena
122
Ulang tahun Eleena
123
Air mata di ulang tahun
124
Malam keributan
125
Tragedi
126
Kritis
127
Penyesalan dan ancaman
128
Terungkapnya kebenaran
129
Penyakit
130
Lucu
131
Foto
132
Fakta Eleena
133
Kemarahan Sinta
134
Rumah Aksanta dan kegilaan di sana
135
Hari pertama di rumah Aksanta
136
Cinta Rama pada Sinta
137
Kebencian Sinta untuk Rama
138
Orang itu petunjuk
139
Perlakuan kasar Aksanta
140
Rumah Agustama
141
Semua itu rencana licik
142
Bar dan Rama
143
Setelah kebenaran itu
144
Perihal melepaskan
145
Berpisah
146
Ingin kembali berteman
147
Bebas
148
Tidak akan kembali bersama
149
Today with you
150
Perihal mengikhlaskan
151
Pesta Putra Aksanta
152
Semua yang terbaik
153
Will you marry me?
154
Gaun
155
Cincin dan Cinta
156
Janji suci pernikahan
157
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!