"Pulang yuk!" ajak Eleena, mengusap sisa makanan yang menempel dipinggir bibirnya menggunakan tisu. Arfin memanggil pelayan, melakukan transaksi dan sedikit memberi tips, pada pelayan tadi.
Eleena dan Arfin pulang bersama. Arfin menawari Eleena untuk mengantar gadis itu pulang ke rumah. "Oke, antar gue dengan selamat ya." Arfin membukakan pintu untuk Eleena. "Lo baik, Fin," puji Eleena, duduk di kursi mobil.
"Gue memang orang baik," balas Arfin menutup pintu mobilnya.
Arfin mengendarai mobilnya dengan perlahan, tak seperti biasanya dia yang suka mengebut di jalanan. "Kalau aja lo nggak di sini El, gue bakal ngebut sekarang," batin Arfin, memaksakan wajahnya tersenyum.
"Rumah lo jauh nggak El?" Eleena menggeleng. "Sebentar lagi sampai kok, mungkin 15 menit lagi." Arfin menghela napas, syukur saja rumah Eleena dekat dari kafe jadi Arfin tak perlu bersikap menjadi orang yang menaati aturan lalu lintas.
"Nanti diperempatan lo belok ke kanan ya," ujar Eleena. Arfin mengangguk. "Aman neng."
Mata Eleena menangkap ada botol minum di mobil Arfin. Eleena mengambil botol minum itu, melihat apa minuman yang Arfin taruh di mobilnya. "Ini alkohol?" tanya Eleena, ketika dia melihat warna dari minuman itu sedikit kotor.
Arfin melirik sekilas, "Bukan kok. Itu sebenarnya es yang gue beli kemarin, tapi gue lupa buang. Makanya masih di mobil." Eleena manggut-manggut mempercayai ucapan Arfin. Arfin menghela napas lega, jika Arfin tidak berbohong pasti Eleena tidak mau lagi berteman dengannya, dan Arfin bisa kehilangan kesempatan emas untuk 'bermain' dengan Eleena.
"Fin, lo suka ke bar, kan?" Eleena kembali bertanya. "Apaan sih ni cewek, nanya-nanya mulu," batin Arfin kesal.
"Oh itu, iya sih. Gue nggak terlalu suka tapi Wisnu yang sering ngajak. Dan gue juga nggak terlalu suka minum alkohol. Cuma ikut-ikutan aja," ucap Arfin sedikit gelagapan, karena jika dia salah berbicara bisa selesai semuanya saat ini juga.
Mobil Arfin berhenti di lampu merah. "Mau denger lagu?" Eleena mengangguk. "Boleh." Arfin memutar lagu yang sering dia dengar.
"Selera musik lo bagus. Gue kira lo suka musik pop gitu, ternyata Rnb." Arfin tertawa, "Lagu ini buat gue tenang. Walaupun gue nggak terlalu bisa nyanyi tapi gue suka dengar lagu beginian," ucap Arfin.
"Sama kayak gue, suara jelek tapi pede banget nyanyi," kekeh Eleena. Lampu berubah menjadi hijau, Arfin kembali melajukan mobilnya.
"Lo tau El? Di tongkrongan kita yang paling pintar nyanyi cuma Wisnu," ujar Arfin tiba-tiba. Raut wajah Eleena langsung berubah menjadi sebal mendengar nama orang menyebalkan itu. Tapi itu tidak membuat Arfin berhenti bercerita tentang temannya yang satu ini.
"Bisa dibilang, Wisnu ini paling berbakat di antara kita-kita. Selain sering datang ke bar, Wisnu juga sering bawa kita ke tempat Karaoke. Dia suka banget nyanyi dan suaranya emang sebagus itu. Gue pernah nyaranin tu orang buat ikut ajang pencarian bakat, tapi dia nggak mau. Padahal suara yang sebagus itu rugi banget kalau nggak dipamerin ya, kan." Eleena yang melipat kedua tangannya didada, menggerakkan bibirnya bermaksud untuk tak memperdulikan tentang Wisnu.
"Lo tau juga El, selain bisa nyanyi lukisan Wisnu juga salah satu hal positif yang bisa dilakukan sama anak itu." Oke, untuk kali ini tiba-tiba Eleena merasa tertarik.
"Suara dan lukisan Wisnu yang terbaik. Dia juga bisa main gitar dan pas waktu kita SMA dia aktif banget dibasket. Wisnu pernah famous karena dia pernah jadi kapten basket dulu." Eleena fokus mendengar Arfin bercerita tentang Wisnu, hal itu seakan menariknya untuk mengenal Wisnu lebih dalam.
"Wisnu memang anak yang nakal sih, tapi dia nurut banget sama nyokapnya. Kalau nyokapnya bilang 'nggak' ya Wisnu nggak akan lakuin. Itu salah satu hal positif yang Wisnu punya juga. Alah macet!"
Eleena seperti terhipnotis mendengar beberapa informasi tentang Wisnu dari Arfin tadi. Ternyata Wisnu tidak seburuk seperti yang dipikirkan Eleena. Arfin menurunkan kaca mobilnya, membiarkan angin segar dari luar singgah ke mobilnya.
Mobil Arfin berhenti di sebelah mobil Wisnu. Wisnu yang sedang mengumpat di dalam karena kemacetan yang menimpa dirinya. "Seharusnya gue langsung pulang tadi, nggak usah ke rumah Baim. Ngeselin banget si tuh anak." Wisnu memukul setir mobilnya meluapkan kekesalan yang ia punya.
Eleena menatap kaca mobil Wisnu yang tertutup. Gadis itu tidak bisa melihat jelas siapa orang di dalamnya. Tapi matanya seakan tak bisa lepas dari mobil itu. Wisnu yang tak sengaja menoleh ke arah kanan melihat Eleena di sebelah mobilnya. Sama seperti Eleena, Wisnu juga menatap gadis itu selama beberapa saat.
"Kenapa setiap gue natap cewek itu perasaan gue aneh sih," batin Wisnu. Eleena masih menatap ke mobil Wisnu, meskipun mobil Arfin sudah menjauh dari sana.
Tinnn
Wisnu tersadar dari lamunan karena klakson mobil dibelakangnya. Buru-buru lelaki itu menancapkan gasnya pergi dari sana.
...******...
"Thanks ya Fin." Arfin melambaikan tangannya ke Eleena lalu pergi dari rumah Eleena. Eleena masuk ke rumahnya dengan perasaan gembira, dan ia langsung dikejutkan dengan Sinta yang berada di depan pintu.
"Itu siapa?" tanya Sinta. "Bunda bikin kaget," balas Eleena. Eleena pergi meninggalkan Sinta, tapi Sinta menghentikan langkah Eleena dengan memegang pergelangan tangan anaknya itu.
"Itu siapa El? Pacar kamu ya? Kamu udah punya pacar ya, bunda bilangin sama ayahmu nanti," goda Sinta. "Ih Bunda apaan sih." Eleena melepaskan tangan Sinta dari lengannya. Tapi Sinta terus saja mengekori Eleena dari belakang.
"El, kasih tau bunda lah, dia siapa? Bunda kan pengin tau, Sayang." Sinta terus memaksa untuk Eleena memberitahu tentang Arfin padanya. Eleena berhenti, menoleh menghadap Bundanya ini.
"Bunda, itu cuma teman El aja. El ketemu dia di Instagram dan kebetulan kita satu kampus. Makanya kita dekat, dia juga baik tadi aja dia traktir El. Udah ya Bunda, El mau mandi." Eleena masuk ke kamarnya, menutup pintu sebelum Sinta mengeluarkan suara untuk bertanya sesuatu padanya.
Eleena menaruh tasnya asal, merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Rasanya tulang punggung Eleena seperti dipijat, rasanya nyaman. Baru beberapa menit Eleena memejamkan mata, suara dering ponselnya kembali mengganggu.
Eleena mendengus sebal, dia mengambil ponselnya dari tas, mengangkat telepon yang itu dari Melinda. "Tumben banget Mel, nelepon gue." Eleena menjawab panggilan dari Melinda.
"Halo sepupuku sayang." Suara cempreng Melinda langsung menyapa telinga Eleena.
"Kenapa, Mel?"
"Arfin." Eleena menautkan alisnya. "Gue mau tau tentang Arfin," sambung Melinda.
"Why?"
"Gue pikir, gue tertarik sama pesona dia." Kekehan Melinda terdengar menyakitkan untuk telinga Eleena.
"Apa yang mau lo tahu tentang dia?" Eleena mengepit ponselnya diantara telinga dan pundak, sembari menuangkan air ke gelas.
"Lo suka sama dia? Atau, dia udah punya pacar?"
Eleena meneguk air dari gelas sebelum menjawab. "Gue nggak suka sama dia, dan kayaknya he don't has girlfriend. But he's playboy."
"Playboy?"
"Heem, gue pernah ngeliat dia goda cewek di kampus. Dia juga sering ke bar—"
"Lo tau siapa temen-temennya?" Melinda memotong perkataan Eleena begitu saja. Dasar gadis tidak sopan.
"Gue nggak tahu semua. Tapi dia deket sama tiga cowok, salah satunya manusia paling brengsek yang ada di dunia, Wisnu Putra Aksanta."
Melinda tercengang mendengar nama 'Aksanta' keluar dari mulut Eleena. Mata Melinda melihat-lihat keadaan sekitar, dia sedang berada di ruang keluarga jika ada anggota keluarga mereka yang mendengar nama Aksanta, akan terjadi keributan besar.
"Gue nggak peduli sama temennya itu. Thanks ya El atas informasinya." Melinda hendak mematikan panggilan mereka.
"Emang buat apa?" tanya Eleena.
"Ada deh," balas Melinda, mengakhiri panggilannya dengan Eleena.
Eleena melempar asal ponselnya, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Arfin Fano Alyas. I'm coming," gumam Melinda. Tangan gadis itu bergerak menekan beberapa digit nomor.
"Halo sayang," sapa seorang lelaki.
"Gue mau putus," ujar Melinda.
"Loh sayang kenapa? Emang aku ada salah sama kamu? Kalau aku ada salah, aku minta maaf sayang." Suara lelaki itu terdengar memohon pada Melinda.
Melinda mendengus kesal. "Gue mau putus!" final Melinda. "Lo udah nggak guna di hidup gue. Jangan deketin gue lagi, Bye!" Melinda mematikan panggilannya, menekan tombol blocked pada nomor itu. Kisah Melinda dengan laki-laki beban itu sudah berakhir, sekarang hanya kisah Melinda dan Arfin yang akan terjalin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments