Perintah Wisnu

Seperti malam-malam yang lain, Wisnu dan ketiga temannya saat ini berada di bar yang sama. Meneguk alkohol yang sudah tersaji. Lidah mereka merasakan sensasi rasa yang berasal dari alkohol itu. Dan seperti biasa juga, yang mengajak ke tempat ini adalah Wisnu.

Para laki-laki itu sudah terlena oleh kenikmatan alkohol dan juga pandangan indah dari para gadis cantik. Seperti Arfin yang sedang duduk di tengah dua gadis yang sedang menggodanya, dan kali ini Arfin ditemani Baim yang melakukan hal yang sama.

"Ternyata enak juga ya bareng sama cewek cantik," ucap Baim pada Arfin yang duduk tak jauh darinya.

"Kan udah gue bilang dari dulu," balas Arfin meneguk minumannya.

Dan di sini Wisnu tak melepas pandangannya dari Arfin sejak tadi. Sejak awal mereka bertemu di bar sampai sekarang. Dan Gilang menyadari apa maksud dari tatapan yang diberikan Wisnu pada Arfin.

"Lo beneran sama rencana itu?" tanya Gilang di tengah ributnya suasana bar. Wisnu mengangguk tapi pandangannya masih tak lepas dari Arfin.

"Lo yakin?" tanya Gilang lagi, karena menurutnya rencana Wisnu itu gila.

"Apa yang gue ucapin itu akan terjadi, tanpa terkecuali," jawab Wisnu mantap.

Gilang hanya bisa menghela napas pasrah karena kalau Gilang menolak rencana konyol Wisnu ini, hidupnya akan berakhir dengan konyol juga ditangan Wisnu.

Arfin yang sibuk menggoda dan bercanda dengan para gadis di sekelilingnya merasakan mata Wisnu yang terus menatapnya sejak tadi. Arfin melirik Wisnu, tatapannya tajam, mengerikan.

"Baim," panggil Arfin memukul lengan Baim. Baim menoleh, "Apa?"

"Lo tau nggak kenapa Wisnu natap ke arah gue?" tanyanya. Baim melihat ke tempat duduk mereka, dan benar tatapan tajam Wisnu mengarah pada Baim.

"Nggak tau," balasnya.

"Apa gue ada salah ya sama Wisnu?" tanya Arfin mulai cemas. "Mungkin, ada hal yang berkaitan sama lo," jawab Baim.

Arfin berdiri, berjalan ke meja mereka meninggalkan para gadisnya. Melihat Arfin yang pergi Baim juga ikut pergi.

"Gue pergi dulu ya bidadari cantik." Para gadis itu tertawa karena Baim.

"Kenapa?" tanya Arfin langsung.

"Apanya?" balas Wisnu yang bingung pada pertanyaan Arfin.

Arfin duduk di sebelah Wisnu, menepuk pundak lelaki itu. "Kalau gue ada salah gue minta maaf," ucap Arfin.

"Lo salah karena udah belain cewek rese itu."

Arfin terkekeh. "Lo marah sama gue karena masalah di kantin? Aneh lo Wis." Arfin geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan amarah temannya ini.

"Sejak kapan lo deket sama cewek itu?" tanya Wisnu, mendiamkan kekehan Arfin.

"Kenapa?"

"Jawab aja!"

Arfin melirik ke arah Gilang dan Baim, namun kedua lelaki itu hanya bisa menggeleng saja.

"Sebenarnya gue nggak sengaja ketemu sama dia waktu kita ke bar beberapa hari lalu. Dia nabrak gue, dia itu cewek yang gue ceritain sama kalian waktu itu. Gue penasaran sama dia dan—"

"Kapan lo deket sama dia," potong Wisnu lantang.

"Sejak kemarin. Gue saling follow sama dia di Instagram. Dan gue iseng DM dia dan dia ternyata fast respon, dari situ gue mulai deket sama dia. Dan gue ketemu sama dia baru tadi kok," jelas Arfin.

"Lo suka sama dia?" Kali ini Gilang yang bertanya.

Arfin terdiam sejenak. Ia bingung harus menjawab apa karena dia juga bingung akan perasaannya sendiri. Kejadian di taman tadi terputar kembali di pikiran Arfin. Bagaimana Eleena yang memberinya kata-kata indah, memberikannya sebuah sandaran dan kata-kata semangat.

Bahkan tadi juga Eleena mentraktir Arfin ice cream untuk meredakan kesedihannya.

"Nih." Eleena menyodorkan segelas ice cream rasa coklat yang ia beli untuk dirinya dan Arfin.

"Thanks." Arfin menerimanya dengan senyuman, dan dengan mata yang sedikit sembab karena tadi habis menangis.

Mereka berdua duduk di taman yang berada di depan kampus. Bukan taman kampus tetapi taman di depan kampus. Taman ini bahkan lebih ramai daripada taman kampus sendiri. Eleena mengajak Arfin untuk berjalan-jalan ke sini, karena di sini lebih indah.

"Lo tau, kalau gue galau gue sering makan ice cream," ucap Eleena, sembari merasakan sensasi dingin dari ice cream yang dia makan. "Lo suka rasa coklat?" tanya Eleena pada Arfin karena dia melihat Arfin belum memakan ice creamnya sedikitpun.

"Oh suka kok."

"Dimakan dong kalau suka. Kan udah gue traktir, kalau dikasih orang itu dimakan suka nggak suka, sekedar menghargai aja." Arfin buru-buru memakan ice creamnya setelah Eleena mengatakan itu. Dia tidak ingin Eleena merasa tersindir karena sikapnya.

"Eh pelan-pelan juga, itu dingin," peringat Eleena, melihat cara makan Arfin yang terburu-buru. "Belepotan ya makannya." Eleena mengeluarkan tisu basah dari dalam tas nya. Memberikannya pada Arfin. "Nih, bersihin dulu yang belepotan."

"Bersihin dong," canda Arfin. Namun Eleena benar-benar melakukannya. Gadis itu membersihkan ice cream yang belepotan di pipi Arfin dengan tisu basah yang berada di tangannya.

"Jantung gue." Detak jantung Arfin berdetak sangat kencang yang mungkin bisa saja orang lain mendengarnya. Padahal niatnya tadi bercanda tapi Eleena melakukannya dengan serius. Apakah Arfin salah tingkah sekarang? Dia tidak bisa menyembunyikan senyumannya.

"Ma-makasih," ucap Arfin sedikit terbata. Eleena mengangguk.

"Fin, lo suka sunset nggak?" Eleena bertanya lagi.

"Suka, tapi gue lebih suka langit malam," jawabnya.

Eleena ber-oh mendengar jawaban Arfin. "Kenapa?" tanya Arfin.

Eleena menggeleng, "Enggak ada. Nanya aja. Berarti lo suka cewek yang suka langit malam juga kayak lo?"

"Nggak juga. Selama dia buat gue nyaman, gue suka kok."

Eleena memasukkan ice cream kemulutnya. "Kayak siapa?"

"Kayak lo." Eleena dan Arfin saling bertatapan selama beberapa saat. Sebelum akhirnya Eleena tertawa lepas.

"Lucu lo." Eleena memukul lengan Arfin. Arfin hanya tersenyum, melihat senyuman Eleena saja dia sudah merasa damai.

"Woi!" Wisnu menjentikkan jarinya di depan Arfin. Menyadarkan lelaki itu dari lamunannya tadi.

"A-Apa?" Arfin seperti orang kebingungan sekarang.

"Apa yang lo pikirin?" tanya Gilang, "Bukan apa-apa."

"Lo mikirin cewek rese tadi?" Arfin tak bisa menjawab pertanyaan Wisnu ini.

"Fin, gue tau segila apa lo sama cewek-cewek, dan gue yakin lo bisa bantu gue kali ini," ujar Wisnu, menghabiskan minuman yang ada digelasnya.

"Bantu apa?"

"Buat cewek rese tadi malu." Arfin menatap Wisnu tak menyangka.

"Lo deketin dia dan renggut kehormatannya," lanjutnya. "Lo gila?!" umpat Arfin.

"Lo nggak suka sama dia, kan? Bisa lah lo bantu gue," balas Wisnu. "Ya tapi nggak gini juga caranya. Kalau gitu lo gila!" Arfin tak terima dengan ide konyol dari Wisnu ini.

"Fin." Wisnu menepuk pundak Arfin. "Ini kesempatan emas lo, gue nggak nyuruh lo langsung kok, lakuin aja pelan-pelan. Buat dia jatuh cinta sama lo, sampai dia sendiri yang rela lakuin hal itu bareng lo."

"Tapi—"

"Lakuin aja Fin. Kesempatan nggak akan datang dua kali, dan pembalasan gue harus terjadi," potong Wisnu.

Rasa bersalah timbul dari benak Arfin. Meskipun dia belum melakukan itu, tapi rasa bersalah itu lebih dulu muncul. Apakah harus Arfin menuruti perintah Wisnu.

"El, sorry," batin Arfin.

Episodes
1 Prolog
2 Putra Tunggal Aksanta
3 Gadis cantik di bar
4 Laki-laki sombong
5 Keributan kecil
6 Keluarga
7 Rencana Arfin
8 Lelaki itu lagi
9 Arfin Fano Alyas
10 Perintah Wisnu
11 Malam Eleena
12 Kartu Wisnu
13 Kedekatan Arfin dan amarah Wisnu
14 Melinda menyukai Arfin?
15 Taman
16 Lumpur dan Eleena
17 Surat pemanggilan
18 Tentang masalah kemarin
19 Pertemuannya dengan seseorang
20 Kepercayaan Eleena
21 Kegundahan Arfin
22 Bertemu kembali
23 Bar
24 Malam bersama Arfin
25 Perjodohan?
26 Makan malam
27 Waktu bersamanya
28 Ide Rama
29 Arfin mundur
30 kecemburuan Putra Aksanta
31 Keisengan Wisnu
32 Kerjasama Rama
33 Drama makan malam
34 Tertangkap
35 Bantuan Eleena
36 Tidak asing
37 Malam hari di Kediaman Aksanta
38 Bunga untuk dia
39 Nomor Eleena
40 Perjodohan lagi
41 Menghindar
42 Panas
43 Kisah di kala hujan
44 Pacar Wisnu
45 Perjalanan kencan Putra Aksanta
46 Perjalanan kencan Putra Aksanta part 2
47 Sarapan di kediaman Aksanta
48 Kerikil dan Pertengkaran kecil
49 Waktu yang tak disengaja
50 Gadis itu baik
51 Sesuatu di Rooftop
52 Bujukan Arfin
53 Perjalanan ke rumah Eleena
54 Foto di nakas
55 Bunga untuk siapa?
56 Selalu Rama bukan Juna
57 Jangan bongkar identitasmu
58 Makan malam di kediaman Aksanta
59 Perlakuan romantis Putra Aksanta
60 Jepitan Eleena
61 Usulan
62 Obrolan bersama Arfin
63 Valentine
64 Kencan tanpa disengaja
65 Kencan tanpa disengaja part 2
66 Kencan tanpa disengaja part 3
67 Mengenal lebih dekat
68 Tentang Wisnu
69 Air mata di halte
70 Bersama di bar
71 Kemarahan Arjuna
72 Hujan hari ini
73 Pembicaraan bersama
74 Sakit
75 Kekhawatiran Eleena
76 Suatu Malam
77 Ungkapan perasaan Melinda
78 Undangan
79 Makan malam di kediaman Dirgantara
80 Ketidaksengajaan di makan malam
81 Cinta
82 Permintaan di bar
83 Dibohongi
84 Cinta menurut Sinta
85 Menghindar
86 Waktu bersama
87 Keributan hari ini
88 Kebingungan
89 Pertanyaan baru
90 Ketahuan
91 Ajakan ke mall
92 Mall hari ini
93 Kafe dan Arfin
94 Rumah Arfin
95 kebenaran Eleena
96 Terkejut
97 Eskrim dan Arfin
98 Pesona Putra Aksanta dan teman-temannya
99 Perseteruan
100 Menyesal
101 Today...
102 Let's break up
103 Rindu
104 Siapa itu?
105 Kecemasan
106 Eleena menghilang
107 Diculik
108 Semakin panik
109 Pencarian
110 Penyelamatan Eleena
111 Patah hati
112 Kebetulan
113 Acara Penting
114 Aksanta atau Agustama?
115 Satu persatu mulai terungkap
116 Rencana berujung Cinta
117 Pengakuan cinta
118 Perayaan patah hati
119 Fakta baru
120 Kesedihan Wisnu
121 Undangan Eleena
122 Ulang tahun Eleena
123 Air mata di ulang tahun
124 Malam keributan
125 Tragedi
126 Kritis
127 Penyesalan dan ancaman
128 Terungkapnya kebenaran
129 Penyakit
130 Lucu
131 Foto
132 Fakta Eleena
133 Kemarahan Sinta
134 Rumah Aksanta dan kegilaan di sana
135 Hari pertama di rumah Aksanta
136 Cinta Rama pada Sinta
137 Kebencian Sinta untuk Rama
138 Orang itu petunjuk
139 Perlakuan kasar Aksanta
140 Rumah Agustama
141 Semua itu rencana licik
142 Bar dan Rama
143 Setelah kebenaran itu
144 Perihal melepaskan
145 Berpisah
146 Ingin kembali berteman
147 Bebas
148 Tidak akan kembali bersama
149 Today with you
150 Perihal mengikhlaskan
151 Pesta Putra Aksanta
152 Semua yang terbaik
153 Will you marry me?
154 Gaun
155 Cincin dan Cinta
156 Janji suci pernikahan
157 Epilog
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Prolog
2
Putra Tunggal Aksanta
3
Gadis cantik di bar
4
Laki-laki sombong
5
Keributan kecil
6
Keluarga
7
Rencana Arfin
8
Lelaki itu lagi
9
Arfin Fano Alyas
10
Perintah Wisnu
11
Malam Eleena
12
Kartu Wisnu
13
Kedekatan Arfin dan amarah Wisnu
14
Melinda menyukai Arfin?
15
Taman
16
Lumpur dan Eleena
17
Surat pemanggilan
18
Tentang masalah kemarin
19
Pertemuannya dengan seseorang
20
Kepercayaan Eleena
21
Kegundahan Arfin
22
Bertemu kembali
23
Bar
24
Malam bersama Arfin
25
Perjodohan?
26
Makan malam
27
Waktu bersamanya
28
Ide Rama
29
Arfin mundur
30
kecemburuan Putra Aksanta
31
Keisengan Wisnu
32
Kerjasama Rama
33
Drama makan malam
34
Tertangkap
35
Bantuan Eleena
36
Tidak asing
37
Malam hari di Kediaman Aksanta
38
Bunga untuk dia
39
Nomor Eleena
40
Perjodohan lagi
41
Menghindar
42
Panas
43
Kisah di kala hujan
44
Pacar Wisnu
45
Perjalanan kencan Putra Aksanta
46
Perjalanan kencan Putra Aksanta part 2
47
Sarapan di kediaman Aksanta
48
Kerikil dan Pertengkaran kecil
49
Waktu yang tak disengaja
50
Gadis itu baik
51
Sesuatu di Rooftop
52
Bujukan Arfin
53
Perjalanan ke rumah Eleena
54
Foto di nakas
55
Bunga untuk siapa?
56
Selalu Rama bukan Juna
57
Jangan bongkar identitasmu
58
Makan malam di kediaman Aksanta
59
Perlakuan romantis Putra Aksanta
60
Jepitan Eleena
61
Usulan
62
Obrolan bersama Arfin
63
Valentine
64
Kencan tanpa disengaja
65
Kencan tanpa disengaja part 2
66
Kencan tanpa disengaja part 3
67
Mengenal lebih dekat
68
Tentang Wisnu
69
Air mata di halte
70
Bersama di bar
71
Kemarahan Arjuna
72
Hujan hari ini
73
Pembicaraan bersama
74
Sakit
75
Kekhawatiran Eleena
76
Suatu Malam
77
Ungkapan perasaan Melinda
78
Undangan
79
Makan malam di kediaman Dirgantara
80
Ketidaksengajaan di makan malam
81
Cinta
82
Permintaan di bar
83
Dibohongi
84
Cinta menurut Sinta
85
Menghindar
86
Waktu bersama
87
Keributan hari ini
88
Kebingungan
89
Pertanyaan baru
90
Ketahuan
91
Ajakan ke mall
92
Mall hari ini
93
Kafe dan Arfin
94
Rumah Arfin
95
kebenaran Eleena
96
Terkejut
97
Eskrim dan Arfin
98
Pesona Putra Aksanta dan teman-temannya
99
Perseteruan
100
Menyesal
101
Today...
102
Let's break up
103
Rindu
104
Siapa itu?
105
Kecemasan
106
Eleena menghilang
107
Diculik
108
Semakin panik
109
Pencarian
110
Penyelamatan Eleena
111
Patah hati
112
Kebetulan
113
Acara Penting
114
Aksanta atau Agustama?
115
Satu persatu mulai terungkap
116
Rencana berujung Cinta
117
Pengakuan cinta
118
Perayaan patah hati
119
Fakta baru
120
Kesedihan Wisnu
121
Undangan Eleena
122
Ulang tahun Eleena
123
Air mata di ulang tahun
124
Malam keributan
125
Tragedi
126
Kritis
127
Penyesalan dan ancaman
128
Terungkapnya kebenaran
129
Penyakit
130
Lucu
131
Foto
132
Fakta Eleena
133
Kemarahan Sinta
134
Rumah Aksanta dan kegilaan di sana
135
Hari pertama di rumah Aksanta
136
Cinta Rama pada Sinta
137
Kebencian Sinta untuk Rama
138
Orang itu petunjuk
139
Perlakuan kasar Aksanta
140
Rumah Agustama
141
Semua itu rencana licik
142
Bar dan Rama
143
Setelah kebenaran itu
144
Perihal melepaskan
145
Berpisah
146
Ingin kembali berteman
147
Bebas
148
Tidak akan kembali bersama
149
Today with you
150
Perihal mengikhlaskan
151
Pesta Putra Aksanta
152
Semua yang terbaik
153
Will you marry me?
154
Gaun
155
Cincin dan Cinta
156
Janji suci pernikahan
157
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!