Sebuah mobil berwarna putih sudah berada di depan pagar kediaman keluarga Dirgantara. Dia masih menunggu untuk mendapat izin masuk ke dalam. Seorang satpam datang menghampiri, mengetuk kaca mobil itu pelan.
Kaca mobil itu turun menampakkan Arfin yang dari tadi sudah menunggu.
"Silahkan masuk, Mas," ucap sang satpam. Mobil Arfin masuk ke halaman rumah keluarga Dirgantara.
Arfin memang tidak bisa berbohong kalau keluarga Dirgantara itu sangat kaya, rumahnya saja sangat besar. "Pantesan aja bokapnya Wisnu ngebet banget pengin ngalahin keluarga Dirgantara. Orang sekaya ini," gumam Arfin.
Keluarga Aksanta dan Dirgantara memang selalu bersaing dalam hal yang namanya bisnis. Bisa dibilang kedua keluarga ini sangat bermusuhan, tapi tetap saja, keluarga Agustama berada di tengah-tengah mereka. Bahkan Arfin rasa yang sebenarnya bermusuhan itu keluarga Aksanta dengan Agustama. Dulunya nama keluarga Dirgantara bukan nama yang terkenal. Tetapi setelah salah satu anak mereka menikah dengan anak dari keluarga Agustama, kekuatan keluarga Dirgantara bertambah. Dan itu juga menguntungkan untuk keluarga Agustama, kekuatan mereka sama-sama besar sekarang.
"Selamat datang, Nak. Ayo masuk." Sinta menyambut Arfin yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Sinta mengajak Arfin ke meja makan, di mana mereka semua berkumpul untuk sarapan.
"Arfin?" Eleena menatap Arfin heran karena laki-laki itu ada di rumahnya. Arfin hanya cengengesan, dia juga tak tahu apa alasan yang bisa dia jelaskan pada Eleena.
"Duduk, Nak," suruh Sinta. Arfin mengangguk kikuk, dia duduk di sebelah Eleena.
"Kamu udah sarapan?" Arfin tak bisa berbohong, dia belum sarapan dan dia lapar sekarang. "Belum Tante."
Sinta menyiapkan makanan untuk Arfin dengan senang hati. "Ini, silahkan dimakan," ujar Sinta dengan senyumnya yang terus merekah.
"Makasih Tante." Arfin mulai memakan makanan yang disiapkan Sinta untuknya.
"Kenapa ke rumah gue?" tanya Eleena tiba-tiba. "Mentang-mentang udah tau rumah gue, lo datang sesuka hati. Mana nggak ngabarin lagi, itu namanya nggak sopan."
Arfin tersedak makanan yang sedang ia kunyah. Buru-buru Sinta menuangkan air untuknya. Arfin meminum air yang diberikan Sinta untuk menghilangkan batuk dan rasa pedih di tenggorokan karena tersedak.
"El, lain kali jangan kayak gitu. Dia itu tamu," tegur Sinta. Eleena memutar bola matanya malas.
"Sorry, kalau lo nggak suka El. Tadinya mau ngabarin lo, tapi takut lo marah gue datang pagi-pagi," jelas Arfin. "Justru gue makin marah karena lo nggak ngabarin Arfin," balas Eleena tegas.
"Oh, maaf. Lain kali nggak gini lagi." Lelaki malang ini sekarang merasa terpojok karena Eleena.
"Ada agenda apa ke rumah gue?" tanya Eleena lagi. Arfin menelan terlebih dahulu makanan yang ia kunyah.
"Nanyanya nanti aja El, temen kamu masih makan itu," ujar Arjuna. "Iya, kasian dia. Omong-omong nama kamu siapa, Nak?" Arjuna menggelengkan kepala karena sikap istrinya. Dia sendiri yang bilang jangan bertanya, tapi dia juga yang bertanya.
"Hehe, nggak papa kok Om," balas Arfin sopan.
"Nama kamu siapa, Nak?" Sinta menanyakan pertanyaan yang sama lagi.
"Nama aku Arfin Tante. Arfin Fano Alyas."
"Alyas?" Arjuna sedikit terkejut dengan nama belakang dari Arfin. "Kamu, anak bungsu keluarga Alyas?" Arfin mengangguk semangat. "Ayah dan kakak kamu bekerja sama dengan perusahaan saya. Senang bisa bertemu dengan anak bungsu mereka."
Arfin tersenyum, dia merasa terhormat karena Arjuna mengenal keluarganya.
"Kamu ganteng juga ya," puji Sinta. Arfin tersipu malu, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Makasih Tante."
"El nggak boleh banyak nanya sama Arfin, tapi Bunda sama Ayah, boleh. Nggak adil ini." Eleena memanyunkan bibirnya. Sinta dan Arjuna tertawa, sedangkan Arfin, dia terpesona karena keimutan yang terpancar dari Eleena.
"Imut banget," gumam Arfin.
"Lo ngomong apa?" Eleena spontan bertanya pada Arfin, yang lagi-lagi membuat lelaki itu tersentak dan kaget.
"Nggak ada apa-apa," balas Arfin panik.
Arjuna meneguk sisa air di gelas. Dia berdiri mengambil tasnya yang ada di atas meja. "Ayah pergi dulu." Sinta menyalami Arjuna dan Arjuna mencium kening istrinya. Begitu juga yang dilakukannya pada Eleena. Dia juga mencium kening Eleena.
"Ayah, hati-hati," kata Eleena. Arfin juga ikut menyalami Arjuna, dia harus menjadi anak yang sopan.
Eleena berdiri, mengambil ranselnya yang berada di sofa. "Mau pergi, El?" tanya Sinta. "Iya, Bun."
Sinta bergegas memberikan botol minum berisi air pada putri semata wayangnya. "Nih, dibawa jangan ditinggal. Jangan keseringan minum es ataupun kopi loh ya. Nanti kamu sakit," peringat Sinta.
"Iya Bunda, El nurut deh." Eleena mencium pipi Sinta. Arfin ikut menyalami Sinta, sekalian meminta izin.
"Tante, saya boleh izin pergi bareng sama Eleena nggak?" Eleena menoleh ke Arfin. "Boleh kok." Sekarang dia menoleh ke Sinta. "Asal kamu hati-hati dan jaga anak Tante."
"Kalau soal itu Tante tenang aja, saya anak baik-baik kalau sama saya Eleena juga akan baik," ucap Arfin begitu semangat.
"Lucunya." Sinta mencubit pipi Arfin gemas.
"Bun, Bunda percaya sama Arfin? Dia laki-laki." Eleena masih tidak menyangka kenapa Sinta begitu yakin membiarkan dia pergi bersama Arfin. Padahal biasanya Sinta yang paling melarang keras Eleena pergi dengan seorang laki-laki.
"Percaya dong Sayang. Kalau Bunda lihat, dia anak baik-baik, dia pasti bisa jaga kamu. Bunda percaya sama Arfin," jawab Sinta.
Hati Arfin terguncang, rasa bersalah kembali muncul dari hatinya. Eleena begitu baik padanya dan ibunya juga, rasanya Arfin menjadi sangat jahat pada mereka.
"Ya udah Bunda, El pergi dulu." Eleena melambaikan tangan pada Sinta, dan Sinta membalasnya.
Mobil Arfin keluar dari halaman rumah Eleena. Sepanjang perjalanan Arfin sibuk bertengkar dengan hati dan pikirannya. Hati Arfin sangat menolak keras untuk dia melakukan hal sekejam itu pada Eleena yang sudah begitu baik padanya.
Namun, disisi lain akal pikiran Arfin mengatakan dia harus melakukan itu. Untuk keselamatannya sendiri. Tidak mungkin dia mati konyol di tangan Wisnu, dan ini juga kesempatan bagus untuk membayar nafsu dan rasa penasaran Arfin. Apa Arfin harus melakukannya, ini kesempatan bagus dan tidak datang sekali. Eleena gadis baik-baik, Arfin yakin dia bersedia apalagi kalau dia sudah mencintai Arfin, itu akan lebih mudah. Arfin akan melakukannya.
"Enggak!" Arfin mengerem mendadak, tubuh Eleena hampir saja terpental jika dia tidak memakai sabuk pengaman.
"Kenapa, Fin?" Arfin tidak menjawab, dia menepikan mobilnya terlebih dahulu.
"El, gue minta maaf," ucap Arfin. "Maaf kenapa?"
"Panjang kalau diceritain, tapi seberapa besar rasa percaya lo sama gue?"
"Harus banget tahu?" Eleena bertanya balik. Arfin mengangguk mantap.
Eleena mengelus tangan Arfin, "Ada masalah lagi sama bokap lo?" Arfin menggeleng lemas. "Masalah gue bukan cuma sama bokap El, sama yang lain juga," balas Arfin.
"Fin, lo berantem sama Wisnu, kan?" Arfin tak menjawab.
Eleena tersenyum, "Fin, kalau lo mau tahu seberapa besar gue percaya sama lo, itu jawabannya 100%. Gue percaya sama Arfin 100%. Karena, dari yang gue lihat, lo itu yang terbaik, lo yang paling waras di antara semua teman lo. Lo yang udah berani bela gue saat gue lagi diganggu sama Wisnu. Lo yang selalu buat gue ketawa karena ketikan konyol lo. Lo salah satu temen terbaik yang gue punya. Gue percaya sama lo sepenuhnya, Fin."
Arfin tidak bisa untuk tidak merasa bersalah. Matanya berkaca-kaca, hati Arfin serasa sangat terkoyak mendengar pengakuan dari Eleena.
Arfin kembali melajukan mobilnya, dengan perasaan bersalah yang terus menyelimuti Arfin sampai ia tiba di kampus. Bahkan Arfin menghindar dari Wisnu dan yang lainnya. Arfin ingin menghindar dari semua orang sekarang, pikirannya sedang kalut dan Arfin butuh ketenangan. Dan memikirkan untuk melanjutkan semuanya atau berhenti. Arfin tidak bisa mengecewakan Eleena.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments