Lelaki itu lagi

Sang Surya mulai menampakkan dirinya dan disebuah rumah besar ada gadis yang sedang menata rambutnya, mengoleskan makeup ke wajah, dan memakai sedikit wangi-wangian.

Tangan gadis itu bergerak mengambil tasnya yang berada di atas kasur. Dia memakainya, mengambil kunci mobil di atas nakas, dan pagi ini Eleena siap pergi ke kampus.

"Bunda, aku pergi dulu." Eleena menyalami Sinta dan tak lupa juga ia menyalami Arjuna—ayahnya sebelum berangkat ke kampus.

"Hati-hati ya sayang, kalau ada apa-apa kasih tau bunda aja," nasehat Sinta padanya.

Arjuna mencium kening putri satu-satunya itu, mengelus surai rambut Eleena. "Jangan pulang telat lagi."

"Iya Ayah." Eleena menjawab cengengesan. "Dadah." Eleena melambaikan tangannya pada Arjuna dan Sinta sebelum membawa mobilnya keluar dari pekarangan rumah.

Eleena berkendara dengan sangat tenang, memakai sabuk pengaman, tidak bermain ponsel, tidak memakai makeup saat berkendara, tidak terlalu mengebut juga. Dan suasana pagi ini sangat damai, Eleena suka suasana seperti ini. Eleena menyetel lagu untuk menemani perjalanannya kali ini. Ia memutar lagu Perfect by Ed Sheeran.

"Baby I'm dancing in the dark with you between my arms, barefoot on the grass listening to our favorite song." Eleena ikut bernyanyi bersama Ed Sheeran yang menyanyikan lagu ini.

Dan ini bagian favorit Eleena.

"Now I know I have met an angel in person and He looks perfect tonight." Eleena tertawa, dia memang suka sekali mengubah lirik lagu. Baginya itu menyenangkan, suara Eleena memang bukan suara yang bagus untuk didengar tapi Eleena suka musik dan nyanyian. Biarkan orang menilai seperti apa yang penting dirinya senang dengan suaranya yang pas-pasan.

Mobil Eleena diparkir dengan baik, pemiliknya keluar dan berjalan untuk masuk ke kelasnya.

"Semoga hari ini nggak ada yang menggangu," gumam Eleena tersenyum lebar.

Ting

Suara notifikasi itu terdengar, Eleena buru-buru memeriksa dan ia menemukan ada DM dari seseorang. Dia tersenyum saat mendapati bahwa DM itu datang dari Arfin.

^^^Arfin:^^^

^^^Nanti ya pas pulang kita ketemu di kantin.^^^

^^^Lo bisa tunggu gue kalau gue belum datang, tapi kalau gue udah sampai duluan gue bakal kabarin lo yaa 😁^^^

Anda:

Oke 👌

Eleena masih dengan senyumannya masuk ke dalam kelas yang sudah ramai diisi oleh mahasiswa yang lain.

Eleena yang menebar senyum di manapun dia berada berbanding terbalik dengan Wisnu yang memasang tampang jutek ke manapun dia berjalan. Wisnu tak peduli dengan tatapan dan senyuman yang diberikan orang-orang padanya.

Wisnu memang begitu, jika sesuatu itu tidak menguntungkan apapun untuknya dia tidak mau terlibat termasuk memberikan senyuman pada orang lain.

Wisnu yang menaruh ranselnya di pundak sebelah kirinya, dan rokok yang berada dimulutnya, itu berhasil membuat jantung para gadis berdetak lebih kencang. Percayalah, Wisnu akan tetap tampan di manapun dia berada, apalagi di kampus. Kalau kalian bertanya pada para gadis di kampus ini siapa mahasiswa tertampan 95% dari mereka pasti akan menyebut nama Wisnu Putra Aksanta. Tapi kalau kalian bertanya pada para lelaki di kampus ini siapa yang tertampan pasti mereka akan menyebut nama mereka sendiri.

Wisnu membuang puntung rokoknya saat matanya melihat ada tempat sampah di sebelahnya. Dan kakinya kembali berjalan untuk membawa Wisnu masuk ke kelas mereka.

"Tuan muda!" seru Gilang, melambaikan tangannya agar Wisnu melihat di mana laki-laki itu berada. Wisnu selalu duduk di dekat Gilang dan Baim, jadi kalau mau tahu dia duduk di mana hari ini Wisnu harus mencari Baim atau Gilang dulu.

"Pagi-pagi udah bau rokok aja," sindir Baim yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang empu. "Canda-canda," ucap Baim ketakutan. Kalau Wisnu sudah marah padanya bisa tamat riwayatnya sekarang juga.

"Arfin ada nelpon lo nggak?" tanya Gilang pada Wisnu yang hanya mendapat gelengan kepala dari lelaki yang saat ini tengah bermain dengan ponsel.

"Kalau lo?" tanya Gilang pada Baim. Dan jawaban Baim sama seperti Wisnu, gelengan kepala.

"Kenapa tu anak nggak bisa dihubungi ya," ucap Gilang. "Gue telponin dari kemarin tapi nggak dijawab, gue chat juga nggak dibales."

"Sekarang udah dibales?" tanya Wisnu. Gilang menggeleng, "Belum Wis. Boro-boro dibales dibaca aja belom," balas Gilang.

"Tu anak emang sok seleb banget," cetus Baim jelas.

"Iya sih, tapi—"

"Udah nggak usah dipikirin. Palingan dia lagi sibuk gaet cewek makanya nggak bales chat lo. Lo tau sendiri Arfin kayak gimana orangnya," potong Wisnu.

"Udah mending mabar sebelum dosen masuk," ajak Baim. Gilang masih agak ragu dan sedikit cemas tentang Arfin tapi yang dikatakan Wisnu juga benar. Jadi ya sudahlah, daripada memikirkan Arfin lebih baik Gilang ikut bermain saja bersama kedua temannya.

...****...

Eleena keluar kelas setelah matkul hari ini selesai. Sesuai dengan janjinya dengan Arfin gadis itu menuju ke kantin. Entah kenapa untuk kali ini ia bersemangat untuk bertemu dengan seorang laki-laki. Mungkin karena Arfin orang baik dan ramah, Eleena sangat menyukai laki-laki ramah daripada laki-laki yang sok cuek dan dingin.

Eleena tiba di kantin kampus, matanya mencari keberadaan Arfin, tapi Arfin tidak terlihat. Oke, sebenarnya Eleena tidak terlalu jelas mengingat bagaimana wajah Arfin, saat di bar waktu itu Eleena tak sebegitu memperhatikan wajahnya dan foto profil Instagram Arfin juga bukan wajahnya, jadi lumayan sulit Eleena untuk mengenali Arfin.

Anda:

Fin, udah di mana?

Gue udah di kantin nih

^^^Arfin:^^^

^^^Bentar lagi gue sampai^^^

Eleena menghela napas. Gadis itu duduk di kursi kantin sambil masih mencari keberadaan Arfin.

"Haus juga ya." Eleena berdiri, menuju tempat yang menjual berbagai minuman.

"Bu, kopinya satu ya."

"Bentar ya neng," balas ibu kantin yang sedang melayani beberapa pelanggan yang lain. Eleena lagi-lagi harus menunggu. Menunggu kopinya dan menunggu Arfin. Gadis itu mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Sambil menunggu kopinya lebih baik Eleena membaca agar tidak bosan.

Tanpa sadar kopi Eleena telah siap. "Ini Neng kopinya." Eleena buru-buru mengambil dan segera membayar kopi yang tadi sudah ia pesan.

"Makasih ya Bu," ucap Eleena. "Iya Neng sama-sama," balas ibu kantin dan lanjut melayani pelanggan yang lain.

Eleena kembali berjalan menuju mejanya namun hal tak terduga terjadi. Seorang laki-laki yang sedang bermain game di ponselnya menyenggol Eleena dan membuat kopi yang sedang dipegangnya jatuh berserakan di lantai.

"Kopi gue!" jerit Eleena yang melihat kopinya telah menyebar di lantai dan jelas sudah tidak bisa diminum lagi.

Wisnu yang menyadari itu, melepas earphonenya dan mematikan ponsel yang ia mainkan.

Eleena mengepalkan tangannya, ia kesal sekarang.

"Lo jalan bisa pakai mata, kan?!" pekik Eleena.

"Itu—"

"Lo lagi?" potong Eleena saat ia sadar bahwa laki-laki yang telah menumpahkan kopinya adalah laki-laki yang sama yang telah menjatuhkan semua buku-bukunya waktu itu.

"Emm, gue—"

"Apalagi alasan lo nabrak gue, hah?!" potong Eleena yang sangat emosi sekarang. "Lo punya mata, kan?" Wisnu mengangguk.

"Jadi apalagi alasan lo? Lo nggak kebelet, kan? Jadi seharusnya lo udah nggak punya alasan buat nabrak orang karena takut lo pup di celana!" sambung Eleena dengan intonasi yang cukup besar. Sehingga orang-orang yang berada di kampus bisa mendengarnya.

Orang-orang mulai menatapi Wisnu dan jelas itu membuat Wisnu malu. "Cewek rese ini bikin gue malu," batin Wisnu.

"Apa maksud lo ngomong gitu? Lo pikir gue cowok apaan?" Pertengkaran dimulai.

"Lo salah kali ini. Jadi minta maaf sama gue!" tegas Eleena.

"Gue bakal gantiin kopi lo ini, jadi lo nggak usah bacot!" Wisnu melangkah mendekati tempat penjual yang menjual kopi. Namun Eleena tak tinggal diam gadis itu melakukan hal yang sama menarik baju Wisnu untuk menghentikan lelaki yang tidak sopan ini.

"Gue nggak butuh lo beliin gue kopi baru. Yang gue mau lo minta maaf sama gue karena udah numpahin kopi gue dan ngasih gue alasan kenapa lo nyenggol gue tadi," ujar Eleena. "Lo jangan ngasih alasan lo kebelet lagi ya, itu udah nggak berlaku!"

Wisnu berdecak, "Maaf." Singkat, tapi Eleena merasa itu tidak ikhlas dan bukan berasal dari rasa penyesalan Wisnu.

"Nggak ikhlas banget sih lo cowok songong!" caci Eleena. Wisnu membulatkan matanya tak percaya dengan perkataan Eleena. "Maksud lo?" tanya Wisnu.

"Cowok kayak lo emang songong! Udah salah bukannya nyesel dan minta maaf malah sok. Denger ya gue udah banyak ketemu sama cowok modelan kayak lo di dunia ini, jadi lo nggak bisa mancing gue dengan sikap sok cuek dan dingin lo itu, nggak mempan di gue tau nggak?!" Emosi Eleena sekarang sudah berada di puncak.

"Lo jadi cewek ribet banget sih," balas Wisnu.

"Gue ribet? Cowok kayak lo yang nggak tau diri! Udah salah bukannya minta maaf malah songong, bukannya bertanggungjawab atas kesalahannya malah kabur gitu aja pakai alasan kebelet terus disenyumin bukannya dibalas. Lo pikir lo keren kayak gitu? Kagak!" jelas Eleena. Emosinya sekarang, membuat Eleena ingat tentang kejadian di kafe waktu itu.

Suara bentakan Eleena memancing perhatian banyak mahasiswa di kampus, baik yang sedang berada di kampus maupun yang hanya sekedar lewat. Mereka tidak bisa melewatkan kesempatan seru untuk melihat orang bertengkar.

Arfin yang baru tiba di kantin melihat kantin penuh keramaian. "Kenapa?" tanya Arfin pada salah satu mahasiswi. "Wisnu berantem sama anak Psikologi."

"Anak Psikologi? El?" Arfin buru-buru menghampiri Eleena dan Wisnu yang masih sibuk bertengkar.

"Lo minta maaf sekarang!" tandas Eleena. "Nggak mau," balas Wisnu.

"Minta maaf nggak akan buat harga diri lo jatuh, malahan kalau lo nggak minta maaf lo kelihatan nggak ada harga dirinya dimata gue!"

"Nggak usah bawa-bawa harga diri gue!"

"Ya udah, makanya minta maaf!" Gue cuma nyuruh lo minta maaf dan itu nggak susah!"

"Lo—"

"Wis!" panggil Arfin yang menghentikan Wisnu untuk memukul gadis di depannya ini. "Udah nggak usah berantem di sini. Bikin malu, lo dilihatin orang-orang," ucap Arfin. Wisnu melihat sekelilingnya dan benar orang-orang sedang melihat dirinya.

"Dia yang bikin malu!" tunjuk Wisnu. "Gue? Sadar deh ya, lo yang buat malu!" balas Eleena.

"Udah-udah, jangan dilanjut. Emang apasih masalahnya? Sampai kalian berdua berantem kayak gini."

"Temen lo tuh, udah numpahin kopi gue bukannya minta maaf malah sok!" jawab Eleena yang masih terlihat penuh emosi.

"Wis, lo minta maaf sama dia." Namun bukannya menuruti perkataan Arfin, Wisnu malah pergi begitu saja dari kantin.

"Gila tu cowok!" pekik Eleena.

"Udah El, sabar aja, Wisnu emang gitu," jawab Arfin.

"Lo siapa? Kok kenal sama gue?" tanya Eleena. Arfin tersenyum, gadis di depannya ini lucu. "Gue Arfin, gue nggak nyangka lo bisa lupa sama gue."

Eleena menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Sorry, gue nggak terlalu hafal sama muka lo," cicit Eleena.

"Ya nggak papa. Btw, gue aja yang gantiin kopi lo." Arfin mengajak Eleena untuk membeli kembali kopi.

"Bu, kopinya dua," kata Arfin yang diberikan anggukan oleh ibu kantin. Satu persatu mahasiswa yang mengerubungi kantin untuk melihat pertengkaran Eleena dan Wisnu bubar.

"Lo jangan marah ya sama Wisnu, dia emang gitu orangnya," ujar Arfin. "Tapi gue masih sebel."

Arfin terkekeh, "Jangan diambil hati masalah yang tadi, mending ngambil hati gue aja." Eleena memukul lengan Arfin. "Ih apaan sih gaje." Arfin berhasil memunculkan senyum Eleena lagi setelah masalahnya dengan Wisnu tadi.

"Kok bisa ya ada cewek seindah lo El," batin Arfin.

Episodes
1 Prolog
2 Putra Tunggal Aksanta
3 Gadis cantik di bar
4 Laki-laki sombong
5 Keributan kecil
6 Keluarga
7 Rencana Arfin
8 Lelaki itu lagi
9 Arfin Fano Alyas
10 Perintah Wisnu
11 Malam Eleena
12 Kartu Wisnu
13 Kedekatan Arfin dan amarah Wisnu
14 Melinda menyukai Arfin?
15 Taman
16 Lumpur dan Eleena
17 Surat pemanggilan
18 Tentang masalah kemarin
19 Pertemuannya dengan seseorang
20 Kepercayaan Eleena
21 Kegundahan Arfin
22 Bertemu kembali
23 Bar
24 Malam bersama Arfin
25 Perjodohan?
26 Makan malam
27 Waktu bersamanya
28 Ide Rama
29 Arfin mundur
30 kecemburuan Putra Aksanta
31 Keisengan Wisnu
32 Kerjasama Rama
33 Drama makan malam
34 Tertangkap
35 Bantuan Eleena
36 Tidak asing
37 Malam hari di Kediaman Aksanta
38 Bunga untuk dia
39 Nomor Eleena
40 Perjodohan lagi
41 Menghindar
42 Panas
43 Kisah di kala hujan
44 Pacar Wisnu
45 Perjalanan kencan Putra Aksanta
46 Perjalanan kencan Putra Aksanta part 2
47 Sarapan di kediaman Aksanta
48 Kerikil dan Pertengkaran kecil
49 Waktu yang tak disengaja
50 Gadis itu baik
51 Sesuatu di Rooftop
52 Bujukan Arfin
53 Perjalanan ke rumah Eleena
54 Foto di nakas
55 Bunga untuk siapa?
56 Selalu Rama bukan Juna
57 Jangan bongkar identitasmu
58 Makan malam di kediaman Aksanta
59 Perlakuan romantis Putra Aksanta
60 Jepitan Eleena
61 Usulan
62 Obrolan bersama Arfin
63 Valentine
64 Kencan tanpa disengaja
65 Kencan tanpa disengaja part 2
66 Kencan tanpa disengaja part 3
67 Mengenal lebih dekat
68 Tentang Wisnu
69 Air mata di halte
70 Bersama di bar
71 Kemarahan Arjuna
72 Hujan hari ini
73 Pembicaraan bersama
74 Sakit
75 Kekhawatiran Eleena
76 Suatu Malam
77 Ungkapan perasaan Melinda
78 Undangan
79 Makan malam di kediaman Dirgantara
80 Ketidaksengajaan di makan malam
81 Cinta
82 Permintaan di bar
83 Dibohongi
84 Cinta menurut Sinta
85 Menghindar
86 Waktu bersama
87 Keributan hari ini
88 Kebingungan
89 Pertanyaan baru
90 Ketahuan
91 Ajakan ke mall
92 Mall hari ini
93 Kafe dan Arfin
94 Rumah Arfin
95 kebenaran Eleena
96 Terkejut
97 Eskrim dan Arfin
98 Pesona Putra Aksanta dan teman-temannya
99 Perseteruan
100 Menyesal
101 Today...
102 Let's break up
103 Rindu
104 Siapa itu?
105 Kecemasan
106 Eleena menghilang
107 Diculik
108 Semakin panik
109 Pencarian
110 Penyelamatan Eleena
111 Patah hati
112 Kebetulan
113 Acara Penting
114 Aksanta atau Agustama?
115 Satu persatu mulai terungkap
116 Rencana berujung Cinta
117 Pengakuan cinta
118 Perayaan patah hati
119 Fakta baru
120 Kesedihan Wisnu
121 Undangan Eleena
122 Ulang tahun Eleena
123 Air mata di ulang tahun
124 Malam keributan
125 Tragedi
126 Kritis
127 Penyesalan dan ancaman
128 Terungkapnya kebenaran
129 Penyakit
130 Lucu
131 Foto
132 Fakta Eleena
133 Kemarahan Sinta
134 Rumah Aksanta dan kegilaan di sana
135 Hari pertama di rumah Aksanta
136 Cinta Rama pada Sinta
137 Kebencian Sinta untuk Rama
138 Orang itu petunjuk
139 Perlakuan kasar Aksanta
140 Rumah Agustama
141 Semua itu rencana licik
142 Bar dan Rama
143 Setelah kebenaran itu
144 Perihal melepaskan
145 Berpisah
146 Ingin kembali berteman
147 Bebas
148 Tidak akan kembali bersama
149 Today with you
150 Perihal mengikhlaskan
151 Pesta Putra Aksanta
152 Semua yang terbaik
153 Will you marry me?
154 Gaun
155 Cincin dan Cinta
156 Janji suci pernikahan
157 Epilog
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Prolog
2
Putra Tunggal Aksanta
3
Gadis cantik di bar
4
Laki-laki sombong
5
Keributan kecil
6
Keluarga
7
Rencana Arfin
8
Lelaki itu lagi
9
Arfin Fano Alyas
10
Perintah Wisnu
11
Malam Eleena
12
Kartu Wisnu
13
Kedekatan Arfin dan amarah Wisnu
14
Melinda menyukai Arfin?
15
Taman
16
Lumpur dan Eleena
17
Surat pemanggilan
18
Tentang masalah kemarin
19
Pertemuannya dengan seseorang
20
Kepercayaan Eleena
21
Kegundahan Arfin
22
Bertemu kembali
23
Bar
24
Malam bersama Arfin
25
Perjodohan?
26
Makan malam
27
Waktu bersamanya
28
Ide Rama
29
Arfin mundur
30
kecemburuan Putra Aksanta
31
Keisengan Wisnu
32
Kerjasama Rama
33
Drama makan malam
34
Tertangkap
35
Bantuan Eleena
36
Tidak asing
37
Malam hari di Kediaman Aksanta
38
Bunga untuk dia
39
Nomor Eleena
40
Perjodohan lagi
41
Menghindar
42
Panas
43
Kisah di kala hujan
44
Pacar Wisnu
45
Perjalanan kencan Putra Aksanta
46
Perjalanan kencan Putra Aksanta part 2
47
Sarapan di kediaman Aksanta
48
Kerikil dan Pertengkaran kecil
49
Waktu yang tak disengaja
50
Gadis itu baik
51
Sesuatu di Rooftop
52
Bujukan Arfin
53
Perjalanan ke rumah Eleena
54
Foto di nakas
55
Bunga untuk siapa?
56
Selalu Rama bukan Juna
57
Jangan bongkar identitasmu
58
Makan malam di kediaman Aksanta
59
Perlakuan romantis Putra Aksanta
60
Jepitan Eleena
61
Usulan
62
Obrolan bersama Arfin
63
Valentine
64
Kencan tanpa disengaja
65
Kencan tanpa disengaja part 2
66
Kencan tanpa disengaja part 3
67
Mengenal lebih dekat
68
Tentang Wisnu
69
Air mata di halte
70
Bersama di bar
71
Kemarahan Arjuna
72
Hujan hari ini
73
Pembicaraan bersama
74
Sakit
75
Kekhawatiran Eleena
76
Suatu Malam
77
Ungkapan perasaan Melinda
78
Undangan
79
Makan malam di kediaman Dirgantara
80
Ketidaksengajaan di makan malam
81
Cinta
82
Permintaan di bar
83
Dibohongi
84
Cinta menurut Sinta
85
Menghindar
86
Waktu bersama
87
Keributan hari ini
88
Kebingungan
89
Pertanyaan baru
90
Ketahuan
91
Ajakan ke mall
92
Mall hari ini
93
Kafe dan Arfin
94
Rumah Arfin
95
kebenaran Eleena
96
Terkejut
97
Eskrim dan Arfin
98
Pesona Putra Aksanta dan teman-temannya
99
Perseteruan
100
Menyesal
101
Today...
102
Let's break up
103
Rindu
104
Siapa itu?
105
Kecemasan
106
Eleena menghilang
107
Diculik
108
Semakin panik
109
Pencarian
110
Penyelamatan Eleena
111
Patah hati
112
Kebetulan
113
Acara Penting
114
Aksanta atau Agustama?
115
Satu persatu mulai terungkap
116
Rencana berujung Cinta
117
Pengakuan cinta
118
Perayaan patah hati
119
Fakta baru
120
Kesedihan Wisnu
121
Undangan Eleena
122
Ulang tahun Eleena
123
Air mata di ulang tahun
124
Malam keributan
125
Tragedi
126
Kritis
127
Penyesalan dan ancaman
128
Terungkapnya kebenaran
129
Penyakit
130
Lucu
131
Foto
132
Fakta Eleena
133
Kemarahan Sinta
134
Rumah Aksanta dan kegilaan di sana
135
Hari pertama di rumah Aksanta
136
Cinta Rama pada Sinta
137
Kebencian Sinta untuk Rama
138
Orang itu petunjuk
139
Perlakuan kasar Aksanta
140
Rumah Agustama
141
Semua itu rencana licik
142
Bar dan Rama
143
Setelah kebenaran itu
144
Perihal melepaskan
145
Berpisah
146
Ingin kembali berteman
147
Bebas
148
Tidak akan kembali bersama
149
Today with you
150
Perihal mengikhlaskan
151
Pesta Putra Aksanta
152
Semua yang terbaik
153
Will you marry me?
154
Gaun
155
Cincin dan Cinta
156
Janji suci pernikahan
157
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!