Dihari minggu yang cerah ini, sepertinya, Eleena sedang membantu Sinta mempersiapkan barang-barang yang ingin mereka bawa untuk piknik bulanan. Eleena dan Sinta sibuk memasukkan minuman dan makanan untuk mereka makan di sana sedangkan Arjuna sedang memeriksa keadaan mobil apakah baik-baik saja atau tidak. Kalau tidak baik, mereka bisa menggunakan mobil lain, koleksi mobil keluarga Dirgantara itu banyak.
"Coba periksa lagi, El," suruh Sinta memasukkan selai coklat ke dalam keranjang berwarna coklat yang diatasnya ada pita berwarna merah.
"Roti, piring, pisau, selai, buah-buahan, bubur, snack, cokelat, permen, bunga, nasi, ayam goreng, ikan goreng, saus sambal, meat, keju, mayones. Itu aja Bun, ada yang lain?" Eleena bertanya pada Sinta setelah dia menyebutkan satu persatu makanan yang sudah ada di dalam keranjang.
Sinta mengacungkan jempolnya, "Udah, itu aja. Bawa keranjangnya. Biar Bunda bawa tas kamu," ujar Sinta. Seperti yang dibilang Eleena membawa keranjang piknik, dan Sinta membawa tas putrinya dan menenteng tikar untuk mereka duduk nantinya.
"Banyak banget ya, sini ayah bantu." Arjuna mengambil alih keranjang dari Eleena, menaruh keranjang itu di mobil. Dia juga mengambil tikar yang dipegang Sinta, menaruh tikar di dalam bagasi mobil mereka.
"Udah semua, kan?" Sinta dan Eleena mengangguk. "Ayo kita berangkat!" seru Arjuna bersemangat.
Mobil mereka keluar dari pekarangan rumah. Mobil yang berisi 3 orang di dalamnya dan juga canda tawa yang membuat suasana perjalanan kali ini menyenangkan.
"Yah, di taman yang biasa, atau beda taman kali ini?" tanya Eleena, saat mobil mereka berhenti karena lampu merah.
"Sayang, kali ini kita ke taman kesukaan Bunda. Waktu bunda masih gadis dulu, bunda sering ke taman itu," jawab Sinta.
"Oh ya? Bareng sama omah, opah juga, Bun?"
Sinta menggeleng, "Nggak Sayang, sama temen-temen bunda. Tempatnya cantik banget, apalagi sekarang sudah direnovasi, makin bagus El." Eleena bertepuk tangan, dia tidak sabar ingin tiba di taman kesukaan Sinta dulu.
Arjuna melajukan mobilnya kembali, dan bisa dilihat raut wajah Arjuna berubah sejak Sinta menceritakan tentang taman itu. Dia tidak menyukai taman pilihan Sinta kali ini, tapi Arjuna tidak bisa menolak permintaan istrinya. Arjuna tahu persis, apa saja yang sudah terjadi di taman itu, dan kenapa Sinta sangat menyukai taman itu.
...*****...
Seorang lelaki datang dari belakang menutup mata gadisnya yang sudah menunggu dia sejak lama. Lelaki itu tersenyum, bahkan saat gadisnya bersuara untuk ia menurunkan tangannya dari kedua matanya.
"Jangan marah, Sin," bisik lelaki itu. Suara dari gadis itu seketika menghilang. Dia menerbitkan senyum dari wajah cantik miliknya.
"Iseng banget Ram," ucapnya. Rama muda menurunkan tangannya dari mata Sinta, dia memeluk gadis itu dari belakang. "Maaf kalau aku terlambat. Biasa, harus buat alasan dulu biar mama percaya." Sinta melepaskan tangan Rama yang melingkar dipinggangnya. Gadis itu membawa Rama duduk ditikar yang diatasnya sudah dipenuhi dengan berbagai macam makanan.
"Kamu niat banget sih." Rama mengambil sepotong roti, menaruh selai di atas roti itu. "Kan, kita mau piknik," balas Sinta, menyenderkan kepalanya kebahu Rama.
Sinta menggenggam tangan Rama yang asik memakan rotinya. "Ram, aku cinta sama kamu," ucap Sinta tiba-tiba.
"Aku juga," balas Rama dengan kondisi mulutnya yang penuh dengan makanan. Sinta memukul lengan Rama. "Habisin dulu makanannya baru ngomong." Rama tertawa, dia mengambil botol minum dan meneguk minuman dari sana.
"Kamu bilang cinta sama aku masa nggak aku balas." Sinta mendengus, dia mengambil sapu tangan yang ia bawa. "Kayak anak-anak ya, makan aja belepotan." Sinta mengelap selai yang menempel disekitar bibir Rama.
"Namanya ada selainya," balas lelaki itu. Rama membetulkan duduknya, dia menggenggam tangan Sinta erat. "Sin, kamu tahu betapa besar rasa sayang aku sama kamu?" Sinta menunduk malu. "Sin, kalau diizinkan aku mau hidup sama kamu untuk waktu yang lama. Untuk selamanya, selamanya Sinta."
Ingatan Sinta tentang masa lalu langsung datang begitu saja saat Sinta menginjakkan kakinya kembali ke taman ini. Memang ini taman yang sama, tapi sekarang banyak perbedaan, interior jadul yang dulu eksis sekarang diubah mengikuti zaman yang berkembang.
"Masuk." Arjuna memegang tangan Sinta yang membawa tas menggunakan tangan kirinya sedangkan tangan kanan Arjuna ia gunakan untuk membawa tikar.
"Tamannya cantik ya," puji Eleena. Arjuna menggelar tikarnya, dan Eleena meletakkan keranjang yang ia bawa di atas tikar. Gadis itu mulai berputar-putar di taman, menghirup udara pagi yang segar.
"Bunda, tamannya bagus."
"Kenangannya juga," gumam Sinta yang berhasil didengar Arjuna yang ingin mengambil tas dari tangan istrinya. Arjuna mengambil kasar tas dari tangan Sinta membawa wanita itu kembali sadar akan hidupnya.
"El, makan dulu!" seru Arjuna. Eleena berlari kecil menghampiri orang tuanya. Sinta dengan senyuman yang terpampang diwajah menyajikan makanan untuk suami dan anaknya.
Eleena, Arjuna dan Sinta makan bersama sambil berbincang dan sesekali tertawa. Eleena menceritakan pengalamannya pada ibu dan ayahnya termasuk pengalaman menjengkelkan yang ia terima karena ulah Wisnu.
"Pokoknya, El sebel banget sama dia. El nggak pengin ketemu sama dia lagi Bun, tapi kita satu kampus. Jadi mustahil kalau nggak ketemu."
"Hindari aja dia," saran Arjuna meneguk air dari botol minum. "Penginnya juga gitu Yah." Eleena memanyunkan bibirnya, kekesalan yang tidak ingin Eleena rasakan sekarang kembali hanya karena mengingat bagaimana tingkah Wisnu padanya.
"Manis banget anak ayah." Arjuna mengacak-acak rambut Eleena gemas. "Ayah, rambut El berantakan," gerutunya. Arjuna memohon maaf sambil tertawa, dia membawa anak gadisnya itu bersandar di bahunya. "Anak ayah tersayang," ucap Arjuna.
Eleena tidak tahu apa kebaikan yang dulu ia lakukan di masa lalu, sampai-sampai dia mendapat orang tua sebaik Arjuna dan Sinta.
"Bentar ya Ar, aku mau nyari toilet," izin Sinta. "Jangan lama-lama." Sinta mengangguk. Kaki Sinta mulai melangkah mencari di mana toilet berada. Waktu 20 tahun lalu taman ini tidak memiliki toilet, jadi Sinta agak kesulitan untuk menemukan di mana toiletnya berada.
Sinta akhirnya menemui penjaga taman ini. "Pak, toilet di mana ya?" tanya Sinta pada penjaga yang baru saja mengarahkan seorang pengunjung juga.
"Oh, itu dari air mancur lurus aja Bu. Nanti ada bacaannya toilet."
"Makasih ya Pak," ucap Sinta. Wanita itu mulai mengikuti arah yang diucapkan oleh penjaga tadi. Dan benar saja, tidak perlu waktu lama Sinta menemukan toilet.
Keadaan toilet yang ramai, membuat Sinta agak kesusahan untuk masuk dan keluar. Toiletnya sempit dan terbatas sedangkan pengunjung di taman ini sangat banyak.
"Kayaknya dulu nggak seramai ini deh ni taman. Kenapa sekarang jadi ramai banget ya, aneh," omel Sinta merapikan ujung bajunya yang kusut.
Langkah Sinta terhenti, saat matanya menangkap siluet seseorang dari kejauhan. Siluet tubuhnya yang sangat familiar bagi Sinta.
"Rama," ucap Sinta. Seakan bisa mendengar suara Sinta, Rama sedikit menambah laju jalannya.
Entah ini permainan takdir atau bukan, mata Rama bertemu kembali dengan mata Sinta. Setelah 20 tahun Sinta menghindari Rama dan keluarganya, kini malah dengan sengaja takdir membawa ia kembali bertemu dengan cinta sekaligus luka pertama Sinta.
Mata Rama dan Sinta tak bisa lepas dari satu sama lain. Mereka bertatapan dari jarak 1 meter. Banyak orang berlalu lalang di depan mereka, tapi pandangan mereka tetap tidak bisa lepas.
"Sinta," gumam Rama. Rama memberanikan diri untuk mendekati Sinta, tapi Sinta memundurkan langkahnya saat Rama melangkah maju.
"Aku benci kamu." Hanya dari gerakan bibir Sinta saja, Rama tahu apa yang dikatakan oleh Wanita itu.
"Sin, apa kamu merindukanku?" batin Rama. Seakan mendengar suara hati Rama, Sinta dengan jelas menggeleng sembari mengucap, "Tidak."
"Aku benci permainan takdir ini, aku benci bertemu denganmu lagi. Tapi kenapa aku melihat wajahmu lagi sekarang?!" batin Sinta dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Rencana takdir tidak akan pernah bisa ditebak, Sinta."
"Tapi kenapa, dari sekian banyak orang di dunia aku bertemu denganmu lagi. Kenapa?!"
"Sin, aku mencintaimu."
"Aku membencimu. Sangat. Jika dulu aku bilang rasa cintaku besar sekarang kamu bahkan nggak akan bisa ngukur seberapa besar kebencianku padamu."
Dengan mulut yang tetap diam, tapi mata dan hati mereka berdua seakan bertemu dan mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa diungkapkan lewat mulut manusia.
"Sinta!" Suara Arjuna mengalihkan perhatian Sinta. "Kamu dari mana aja? Aku sama El nyari kamu dari tadi." Raut wajah khawatir bisa terlihat jelas diwajah Arjuna. Namun mata Sinta sama sekali tidak melihat ke arahnya. Mata Sinta masih terpaku pada Rama.
Arjuna menengok ke depan, dan itu kesalahan yang ia perbuat. "Rama dan Sinta bertemu lagi?" Arjuna menarik tangan Sinta membawa wanita itu pergi dari hadapan Rama sekarang juga. Dan Eleena yang baru sampai ke sana langsung menghampiri kedua orang tuanya.
Rama tersenyum hambar. "Aku salah ya, kalau aku mengira hidupmu tidak akan berjalan tanpaku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments