Perjalanan dan Kepergian

Matahari terbit dan pagi pun tiba. Namun, Aeri adalah yang pertama terbangun. Ia melihat sekelilingnya dan menemukan Julius, Polo, dan Alexander masih terlelap. Aeri merasa kesal dengan keadaan ini.

Dengan langkah perlahan, Aeri mendekati Julius yang masih terlelap dan dengan kasar menyentil hidungnya. Julius terbangun dengan refleks dan langsung berteriak kesakitan, "Itu sakit sekali! Kau bisa bangunkan dengan cara yang lebih halus, kan?" sambil mengusap hidungnya yang terasa sakit.

Aeri dengan tegas berkata, "Dasar bodoh! Sudah pagi, waktunya bangun! Sampai kapan kau mau tidur terus? Kita sedang melakukan misi penting, bodoh!" Alexander dan Polo terbangun mendengar ocehan Aeri.

Julius merasa tergoda untuk memberi reaksi lucu. Ia menyebut Aeri dengan panggilan "Aeri-chan yang imut" sambil bergurau. Aeri merasa malu dan wajahnya memerah. Dengan ragu, ia berkata, "Diam, bodoh!"

Alexander dan Polo yang baru terbangun melihat tingkah lucu Aeri yang memerah, dan mereka semua tertawa bersama.

Julius mencium aroma sedap dari udara. Ia berkata kepada semua orang di dalam kemah, "Apakah kalian juga mencium aromanya? Perutku lapar setelah mencium aroma makanan yang lezat seperti ini."

Aeri, Alexander, dan Polo juga merasakan hal yang sama. Mereka menyatakan keinginan untuk makan.

Julius keluar dari kemah menuju sumber aroma makanan yang menggoda. Di sana, ia menemukan meja yang dipenuhi dengan hidangan lezat. Di sebelah meja itu, berdiri kakek Zephyr dengan Kai di sampingnya. Kakek Zephyr menyapa, "Selamat pagi, nak. Marilah makan, aku sudah menyiapkan berbagai hidangan untuk kalian semua."

Julius menyambut sapaan itu, sementara Alexander, Aeri, dan Polo juga memberikan ucapan selamat pagi. Mereka terpesona melihat makanan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, yang terhidang di meja dengan aroma yang menggoda.

Perut Alexander terdengar bergemuruh dengan malu. Yuki tertawa dan berkata, "Mari makan sepuasnya. Duduklah dan nikmatilah makanan yang sudah kusiapkan."

Mereka semua duduk dan menikmati hidangan lezat yang disediakan oleh Yuki. Julius, Aeri, Alexander, dan Polo memakan hidangan tersebut dengan lahap dan mereka tidak bisa menahan rasa kagum. Mereka berucap, "Ini sangat lezat, kek! Aku belum pernah merasakan makanan sebaik ini. Terima kasih, kek."

Yuki tertawa dengan bangga seperti seorang orang tua yang senang. Ia berkata, "Kalau begitu, habiskanlah makananmu," sambil tersenyum.

Yuki memerintahkan Kai untuk ikut makan dan berkata, "Makanlah, Kai."

Kai menjawab dengan hormat, "Baiklah, ayah."

Kai mencicipi makanannya dan matanya berbinar-binar. Ia berbicara dalam hati, "Aku belum pernah merasakan makanan selezat ini sepanjang hidupku." Ia memakan hidangannya dengan lahap.

Yuki bertanya kepada Kai dengan penuh perhatian, "Apakah kau suka dengan makanan yang kubuat, Kai?"

Kai menjawab dengan penuh kegembiraan, "Ya, ayah! Ini sangat lezat!" Matanya berbinar dengan antusias.

Dalam hatinya, Yuki merenung sambil melihat mereka semua menikmati makanan dengan lahap. Ia merasa puas dan bangga dengan keberhasilannya dalam menciptakan hidangan lezat tersebut dengan skill [Master Chef]-nya. Sebenarnya, Yuki hanya membayangkan makanan yang ia inginkan, namun dengan keahliannya yang luar biasa, makanan itu tercipta dengan sempurna.

Saat mereka selesai makan, Julius, Aeri, Alexander, dan Polo mengucapkan terima kasih kepada Yuki atas hidangan yang lezat. Yuki menjawab dengan senyum, "Sama-sama, nak."

Yuki memerintahkan mereka untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Mereka dengan sigap mencopot tenda kemah dan memasukkannya kembali ke dalam kereta kuda mereka. Setelah setengah jam, mereka siap untuk melanjutkan perjalanan.

Kereta kuda mereka melintasi jalur desa, di mana mereka melihat pemandangan kebun dengan petani yang sedang sibuk menanam berbagai jenis biji dan memanen buah-buahan serta sayuran. Penduduk desa memandang dengan kagum saat kereta kuda mereka melintas.

Saat mereka berada dalam perjalanan, di dalam kereta kuda, mereka semua berbincang-bincang dengan riang. Percakapan mereka dipenuhi dengan tawa dan keceriaan. Mereka berbagi kisah, lelucon, dan harapan untuk petualangan mereka selanjutnya.

Julius bercerita tentang kejadian lucu saat mereka berada di desa sebelumnya, sementara Aeri membagikan cerita tentang teman masa kecilnya yang selalu membuatnya tertawa. Alexander dan Polo juga ikut bergabung dengan cerita mereka, menambah keceriaan di dalam kereta.

Mereka melupakan segala kekhawatiran dan bersenang-senang di dalam perjalanan mereka. Momen seperti ini menguatkan ikatan persahabatan mereka dan membuat mereka semakin dekat satu sama lain.

Akhirnya, kereta kuda mereka terus melaju, meninggalkan desa di belakang mereka. Petualangan mereka belum berakhir, dan mereka siap menghadapi apa pun yang akan datang. Dalam kebersamaan dan semangat yang tinggi, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju tujuan akhir.

Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah menjadi warna jingga yang indah, mereka merasa semakin dekat dengan tujuan mereka.

Akhirnya, setelah perjalanan yang panjang dan penuh liku, mereka tiba di tempat yang mereka tuju. Dengan hati yang penuh semangat dan kebersamaan, mereka siap menghadapi tantangan berikutnya.

Kereta kuda melaju dengan cepat melalui jalur terpencil di tengah malam. Suasana seakan berubah, dan kegembiraan mereka dalam perjalanan yang sebelumnya riang menjadi tergantikan oleh kegelapan dan ketegangan yang mencekam. Angin dingin menerpa wajah mereka, dan suara desingan kereta kuda terdengar semakin mengganggu.

Tiba-tiba, Julius melihat sesuatu yang aneh di pinggir jalan. Bayangan gelap yang terlihat seperti sosok manusia. Hatinya berdebar kencang, namun ia tidak berani memberitahukan yang lain tentang apa yang ia lihat.

Alexander merasa ada yang tidak beres. Ia merasakan kehadiran yang ganjil, seolah ada mata yang memperhatikannya dari kegelapan. Ia mencoba mengusir pikiran tersebut dan berusaha untuk tetap tenang, namun rasa cemasnya semakin memuncak.

Polo merasakan udara menjadi semakin berat dan penglihatannya terasa kabur. Dia merasakan sentuhan dingin yang melekat di kulitnya, seakan ada jari-jari tak terlihat yang menyentuhnya. Dia menjerit ketakutan, mencoba mengusir rasa tak nyaman yang melingkupinya.

Aeri merasa seolah-olah ada sesuatu yang mengintai dari balik pepohonan. Suara bisikan samar terdengar di telinganya, memanggil namanya dengan suara serak. Ia menutup telinganya dengan erat, berusaha melawan kehadiran yang tidak terlihat namun begitu mengganggu.

Yuki, merasa ada kekuatan jahat yang mengancam mereka. Dia melihat bayangan-bayangan gelap bergerak di sekeliling kereta kuda, seperti roh-roh yang haus akan darah. Dia segera menyadari bahwa mereka telah memasuki wilayah terlarang yang dipenuhi oleh kekuatan gelap.

Tanpa mereka sadari, kereta kuda mulai melambat dan akhirnya berhenti di tengah hutan yang lebat. Suasana mencekam semakin terasa saat mereka keluar dari kereta. Suara gemuruh bergema di udara, dan langit mendadak tertutupi oleh awan hitam yang mengancam.

Rasa takut dan ketakutan merayap di dalam diri mereka, menguasai pikiran dan hati mereka. Mereka saling berpegangan, berharap bisa memberi kekuatan satu sama lain. Namun, kegelapan semakin mengintensifkan rasa takut mereka, mengancam untuk menghancurkan semangat dan harapan yang tersisa.

Hingga pada akhirnya, mereka berdiri di tengah hutan yang kelam, terisolasi dari dunia luar, dan terjebak dalam kegelapan yang tak berujung. Tidak ada yang tahu apa yang menunggu mereka di ujung kegelapan ini, tetapi mereka harus bertahan dan mencari jalan keluar dari neraka ini, sebelum terlambat.

Dikejauhan, cahaya rembulan yang samar-samar menerangi relik terbengkalai yang misterius. Bentuknya yang aneh dan aura yang menyeramkan membuat hati mereka berdebar lebih kencang. Relik ini merupakan bagian dari misi mereka yang sebelumnya mereka terima dari seorang klien misterius. Mereka merasa tegang, namun rasa penasaran mereka tak terbendung.

Julius melangkah maju dengan hati-hati, mencoba mendekati relik tersebut. Matanya terpaku pada simbol-simbol aneh yang terukir di permukaannya. "Ini sesuatu yang benar-benar aneh, guys," katanya dengan suara gemetar. "Apa ini benar-benar bagian dari misi kita?"

Aeri mendekat dan menatap relik dengan ketakutan yang jelas terpancar dari wajahnya. "Aku merasakan kehadiran jahat yang kuat dari relik ini," katanya dengan suara lirih. "Sepertinya kita telah terjebak dalam perangkap yang jauh lebih berbahaya daripada yang kita bayangkan."

Alexander menggosok lehernya yang tegang, mencoba mengusir rasa takutnya. "Sudah cukup misteri dan kejutan untuk satu malam," katanya dengan nada gurau agar memecahkan suasana.

Polo mengamati relik dengan pandangan tajamnya, mencoba mencari petunjuk tersembunyi di dalamnya. "Mungkin relik ini memiliki kekuatan gelap yang tak terduga," ujarnya dengan suara serak.

Dalam kegelapan yang semakin menghimpit, Kai mendekati Yuki dengan langkah hati-hati, suaranya bergetar saat ia berbisik, "Tuan, aku merasakan kehadiran iblis di sini."

Yuki menatap Kai dengan pandangan yang datar, tanpa terkejut oleh pernyataannya. "Aku sudah tahu," jawab Yuki dengan tenang. Ia belum pernah melihat iblis dalam kehidupannya sebelumnya, dan sekarang ia merasa penasaran dengan bentuk dan kekuatan mereka.

Yuki ingin mengamati dengan mata kebijaksanaannya sendiri bagaimana wujud dari iblis tersebut. Dengan suara lembut, Yuki mengingatkan Kai, "Kai, sudah kubilang jangan panggilku 'tuan,' ingat?" Ucapannya terdengar rendah, hanya untuk ditangkap oleh Kai, tanpa ingin yang lain mendengarnya.

Mereka berdua berdiri di tengah kegelapan, atmosfer yang gelap dan mencekam memenuhi udara di sekitar mereka. Yuki merasakan getaran yang ganjil, tanda-tanda keberadaan kekuatan jahat yang semakin kuat di sekitar mereka.

"Kai, awaslah," bisik Yuki dengan nada peringatan yang tak terdengar oleh yang lain. "Jaga dirimu, iblis ini bisa sangat berbahaya. Kita tidak boleh lengah sejenak pun."

Kai menatap Yuki dengan mata penuh kepercayaan. "Aku akan melindungimu, Ayah," jawabnya dengan tekad yang mantap.

Yuki tersenyum lembut, menghargai kesetiaan dan tekad yang dimiliki oleh anak itu. "Terima kasih, Kai," ucap Yuki dengan suara rendah, dipenuhi dengan kebanggaan yang mendalam. "Kita harus tetap waspada dan bergerak dengan hati-hati.

Lalu Yuki menatap relik yang berbentuk sabit tersebut dengan serius, relik sabut tersebut memancarkan aura hitam yang menyengat. Ia merasa begitu familiar dengan benda itu, lalu ia ingat sabit itu bernama Soul Sucker, sebuah sabit beratribut gelap level 70 yang hanya bisa didapatkan dengan mengalahkan bos event Shadow Reaper di World of Enigma. Namun, Yuki bingung bagaimana benda tersebut bisa ada di dunia ini. Apakah ada seseorang yang bertransmigrasi ke dunia ini seperti dirinya?

Yuki terdiam, membiarkan pikirannya melayang dalam keraguan. Namun, dalam kebingungannya, Alexander dengan kelakuan cerobohnya menyentuh relik tersebut dan membawanya mendekati Julius, Alexander, dan Aeri. Polo yang ketakutan melangkah mundur, menyadari bahaya yang tersembunyi.

Tiba-tiba, relik itu memancarkan cahaya merah ketika disentuh oleh Alexander. Seketika itu, tangan hitam muncul dari dalam relik, memiliki mulut dan gigi tajam yang dengan ganas menghisap jiwa di sekitarnya. Alexander, Julius, dan Aeri berteriak kesakitan, meminta pertolongan, tetapi sudah terlambat. Tangan-tangan itu mencabik-cabik tubuh mereka dengan kejam, hanya menyisakan potongan tubuh yang tak utuh, penuh dengan darah dan bekas gigitan yang kejam.

Yuki yang tengah terdiam dalam pikirannya akhirnya sadar dengan kejadian mengerikan di depan matanya. Ia melihat Alexander memegang relik itu dan dengan lantang memarahinya, "Dasar bodoh!" Polo, yang takut melihat kejadian tersebut, hanya bisa berkeringat dan pingsan karena ketakutan.

Tanpa ragu, Yuki segera bereaksi dan memanggil Kai, "Kai, hajar makhluk itu dan tolong mereka!" Kai, dengan sigap, berlari mendekati monster itu dan melepaskan sihir tanahnya, Terra Blast. Namun, Yuki yang melihat Kai akan melepaskan sihir tersebut dengan cepat merespon dan dengan lincah memukul kepala Kai dengan pelan ke bawah. Kai terpental dan pingsan seketika.

Yuki menghela nafas panjang, berkata dengan kekecewaan, "Anak ini benar-benar bodoh! Ingin menghancurkan tempat ini dengan sihir konyolnya." Yuki segera bergerak, melepaskan sihirnya ke arah tangan monster itu, Holy Ray. Tangan itu terkena serangan sihir Yuki dan mati seketika, mengakhiri teror yang menyeramkan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!