Naga Gaia, terpana dan terkejut, melihat dengan takjub ketika Yuki tetap tegak, tanpa luka sedikit pun. Rasa takut mulai melanda hati naga yang gagah itu.
Yuki, dengan senyuman sinis yang merayap di wajahnya, menghina Gaia dengan kata-kata tajam, "Hanya sebatas itu kekuatanmu, naga yang dijuluki Earth Dragon Lord? Sungguh memalukan!" Tanpa ragu, Yuki melepaskan sihir gelap terlarangnya, [Eternal Pain], yang terkenal akan kekejaman dan keabadian rasa sakit yang dihasilkannya.
Energi gelap membanjiri tangan Yuki dan menyebarkannya dengan cepat ke seluruh tubuh Gaia. Naga itu mulai berkeringat dingin, terguncang oleh rasa takut yang melanda dirinya. Perasaan sakit yang tak terlukiskan tiba-tiba merayap dalam setiap serat tubuhnya, melampaui batas yang bisa ia bayangkan.
Gaia menggeliat dalam penderitaan, erangan naga yang gagah itu mengisi udara. Ia merasakan siksaan tak terhingga yang menjangkiti seluruh tubuhnya. Rasa sakit yang tiada henti mengguncang inti keberadaannya, memaksa Gaia untuk mengakui kekuatan yang dimiliki oleh pria tua di hadapannya.
Yuki, dengan penuh kepuasan, menatap Gaia yang merana. "Apakah kau merasakan itu? Itu hanya permulaan dari apa yang akan kau alami. Aku memiliki kekuatan tak terbatas, dan aku akan memastikan kau merasakan setiap konsekuensi dari keangkuhanmu."
Tubuh Gaia terjatuh ke tanah dengan kelemahan yang tak terbendung. Keangkuhan yang dulu membara telah sirna, digantikan oleh rasa putus asa dan penyesalan yang mendalam.
Rasa sakit yang tak terhingga terus merintangi Gaia, sang Earth Dragon Lord. Tubuhnya terguncang dalam gelombang kepedihan yang melanda setiap serat dagingnya. Naga gagah itu berusaha bangkit, tetapi kekuatan sihir yang dilepaskan oleh Yuki mengikatnya dalam belenggu yang tidak terlihat namun kuat.
Gaia merintih, memasuki medan perjuangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Rasa sakit yang tak terelakkan melumpuhkan kemampuannya untuk melawan. Dalam keadaan putus asa, Gaia mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, memanggil energi bumi yang melingkupi tempat itu.
Namun, upayanya terpatahkan oleh kekuatan Yuki yang tak tergoyahkan. Sihir [Eternal Pain] terus mengalir ke dalam tubuh Gaia, menjalar seperti racun ke setiap saraf, merobek-robek hati dan jiwa naga itu. Gaia merasakan kelemahannya yang terpapar dengan jelas, tidak mampu menandingi kekuatan tak terbatas yang dimiliki oleh pria tua di hadapannya.
Dalam keputusasaan, Gaia mencoba menahan rasa sakit yang membelenggunya. Matanya yang diliputi ketakutan dan penderitaan mencoba menangkap pandangan Yuki. Namun, apa yang ia temui hanyalah keangkuhan kakek tua tersebut yang tak tergoyahkan, senyuman sinis yang memperlihatkan dominasi mutlak.
Hanya dengan kehendak terakhir yang tersisa, Gaia memohon, "Hentikan... berhentilah menyiksaku... aku mengakui kekalahanku dan kesalahanku... aku mohon, berikan belas kasihanmu..."
Yuki, tanpa belas kasihan, menatap Gaia dengan dingin. "Kau telah mencoba menantangku kadal bodoh,Sekarang, kau harus merasakan akibatnya. Rasa sakitmu akan berakhir ketika aku memutuskan."
Saat itu, Gaia merasakan nyala energi yang semakin kuat mengalir ke dalam dirinya. Setiap nafas yang diambilnya terasa berat, penderitaan yang tak terelakkan terus menyergapnya. Ia menyerah pada takdirnya, terjebak dalam belenggu kekalahan yang membara.
Dalam kesadarannya yang semakin terkikis oleh rasa sakit yang tak terperi, Gaia merintih dengan penuh penderitaan. Ia tergeletak di tanah yang kini dipenuhi oleh retakan-retakan yang menganga akibat gerakan yang ia buat saat ia berguling ditanah.
Dengan suara terputus-putus dan gemetar, Gaia memohon ampunan kepada kakek tua yang telah menguasainya. Kata-kata putus asanya memenuhi udara, terhanyut oleh suara angin dan dentuman kehancuran di sekitar mereka.
"Saya... saya memohon... ampun,ampunilah aku," gumam Gaia dengan suara serak. Air mata menyembur dari matanya yang penuh derita, mencampur dengan darah yang mengalir dari luka-lukanya.
Namun, ketika harapan terakhirnya melayang begitu saja, Yuki hanya melirik Gaia dengan acuh tak acuh. Tatapan kosong dan dinginnya menyiratkan keputusan tak terbantahkan.
Gaia, yang terluka dan terkalahkan, merasa putus asa. Rasa sakit yang tak wajar yang merajalela dalam tubuhnya menggantikan segala harapan yang pernah ia gantungkan. Ia terperangkap dalam keadaan yang tak bisa ia pahami, kekuatannya yang hebat kini hampa dan tak berdaya.
Terhempas oleh rasa sakit yang tak terperi, Gaia merenung dalam kesedihan dan kekalutan yang dalam. Teriakan putus asa masih terdengar di udara, tapi tak ada belas kasihan yang menyertai. Hanya sisa-sisa kehancuran yang menyaksikan akhir perjuangannya yang tak berdaya.
Dalam penderitaan yang tak tertahankan, Gaia terus memohon ampun dengan suara yang pecah dan penuh kesedihan. Teriakannya mencapai langit, menerobos tembok kehancuran yang melingkupi mereka.
"Demi Tuhan, ampunilah aku!" serunya dengan suara serak, diiringi tangis tersedu yang tak terbendung. Tubuhnya terhuyung-huyung, terkoyak oleh rasa sakit yang melanda setiap serat dan sel di tubuhnya.
Dalam rasa putus asa, Gaia mengulangi kata-katanya dengan suara yang penuh penyesalan. "Ampunilah aku, kakek tua! Tidak maksudku tuan! Ampunilah dan maafkan aku atas kesombonganku tuan," rintihnya sambil meringis karena rasa sakit yang tak tertahankan.
Air mata bercucuran dari matanya yang terpenuhi dengan penyesalan dan penyesakan. Gaia meratap dan berteriak, mencari keringanan dalam rasa sakit yang menghancurkan. Dalam keputusasaan yang mendalam, ia berbicara lagi.
"Ampunilah aku, tuan! Aku mohon! Aku bersedia menjadi pelayan setiamu, tuan penyihir!" serunya dengan suara yang serak dan hampir tak terdengar. Ia berjanji kesetiaan dalam upaya terakhirnya untuk menyelamatkan diri.
Namun, di hadapan kesombongan dan pengkhianatan Gaia, Yuki hanya tetap diam, tak bergeming. Wajahnya dipenuhi oleh ketenangan dingin, tak tertarik dengan permohonan dan janji yang tak berarti. Rasa sakit yang melanda Gaia adalah pemberian yang tak termaafkan.
Para prajurit dan ketiga kesatria terbaik kerajaan, Albert, Joy, dan Felix, terkejut melihat perubahan drastis yang terjadi. Wajah mereka dipenuhi dengan campuran keheranan, kekaguman, dan sedikit keraguan. Mereka tidak bisa mempercayai apa yang mereka lihat dan dengar.
Albert, yang merupakan pemimpin kesatria dan memiliki keberanian yang luar biasa, melangkah maju dengan langkah hati-hati. Ia menatap Gaia yang tergeletak di tanah dengan wajah terpenuhi penderitaan. "Apa yang terjadi di sini?" gumamnya, mencoba mencerna situasi yang berada di hadapannya.
Joy, wanita ksatria yang tangguh dan berkepala dingin, mengamati Gaia dengan tatapan tajam. "Ini tidak masuk akal," katanya dengan suara tegas. "Bagaimana bisa naga perkasa seperti Earth Dragon Lord mengalami kekalahan dan memohon ampun?"
Felix, kesatria muda yang penuh semangat, terpana melihat adegan ini. "Apa yang dilakukan oleh pria tua itu? Bagaimana dia bisa mengubah nasib Gaia dengan begitu cepat?"
Ketiganya saling pandang, mencoba mencari jawaban dari misteri yang sedang terjadi di hadapan mereka. Mereka tahu bahwa ini adalah momen penting yang membutuhkan keputusan yang bijaksana.
Albert menghela nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum berbicara. "Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa pria tua ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Kita harus mencari tahu lebih lanjut tentang dia dan maksudnya di balik semua ini."
Joy menambahkan, "Namun, kita juga tidak boleh lengah. Gaia telah menunjukkan sifat kejam dan sombongnya sebelumnya. Kita harus berhati-hati dan waspada terhadapnya."
Felix, yang penuh semangat dan ingin membuktikan dirinya, berkata, "Aku setuju. Kita harus menggali informasi lebih lanjut tentang pria tua ini dan mengungkap kebenaran di balik kejadian ini. Siapa tahu, mungkin ada sisi lain dari cerita ini."
Dalam kerumunan yang bingung dan campur aduk, para prajurit dan ketiga kesatria terbaik kerajaan itu bertekad untuk menemukan kebenaran di tengah kekacauan yang tak terduga ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments