Emosi yang terpendam

Yuki, yang semakin merasa kesal dan frustasi, menatap resepsionis wanita tersebut dengan tatapan tajam yang mencerminkan ketidaksenangan dan kekecewaan yang mendalam. Wajahnya menggambarkan betapa besar rasa keberatan yang dirasakannya terhadap situasi ini. Wanita resepsionis itu, seolah-olah terjepit dalam keadaan yang sulit, merasakan tekanan dari tatapan tajam Yuki.

Mereka saling bertatap sejenak, suasana terasa tegang di antara keduanya. Yuki, dengan suara yang tetap tenang namun penuh ketegasan, memulai perbincangan yang intens, "Saya telah menghabiskan waktu dan usaha yang begitu besar untuk menyelesaikan quest ini, bahkan rekanku pun telah kehilangan nyawanya dalam perjalanan. Apakah masuk akal jika pencapaian kami tidak tercatat dengan benar? Saya yakin bahwa quest tersebut seharusnya tercatat dengan sempurna. Jadi, saya sangat ingin bertemu dengan pemimpin guild petualang dan membicarakannya secara langsung."

Resepsionis wanita tersebut menelan ludah, merasakan tekanan yang semakin meningkat dari tatapan tajam Yuki dan keinginannya yang tegas. Ia menyadari bahwa situasi ini semakin rumit dan harus segera diatasi dengan bijaksana. Dalam upaya untuk menenangkan Yuki dan mencari solusi terbaik, ia menjawab dengan suara lembut yang bergetar sedikit, "Tuan Zephyr, saya benar-benar memahami rasa kekecewaan dan ketidaksenangan yang Anda rasakan. Saya akan segera mengatur pertemuan Anda dengan pemimpin guild. Mohon bersabar sejenak, kami akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin."

Yuki mengendurkan ekspresinya sedikit, menunjukkan sedikit tanda-tanda penurunan ketegangan. Ia menghargai upaya resepsionis wanita tersebut untuk menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya. Namun, ia tetap mempertahankan sikap waspada dan determinasi yang kuat, karena questnya yang begitu berarti bagi dirinya belum mendapatkan pengakuan yang pantas.

Wanita resepsionis itu segera mengambil langkah untuk mengatur pertemuan Yuki dengan pemimpin guild. Dengan senyuman lemah yang mencoba menenangkan, ia berkata, "Tuan Zephyr, mohon ikuti saya. Saya akan mengantar Anda ke ruang pertemuan pemimpin guild. Semoga pertemuan ini membawa kejelasan dan solusi bagi masalah yang Anda hadapi."

Yuki mengangguk, memilih untuk mengikuti resepsionis wanita itu dengan langkah mantap yang penuh dengan tekad. Hatinya masih penuh dengan keteguhan dan keberanian untuk membuktikan penyelesaian questnya yang tak tergoyahkan. Ia berharap pertemuan dengan pemimpin guild akan membawa kejelasan dan memulihkan rasa keadilan yang tercabik-cabik.

Mereka berjalan melintasi lorong-lorong megah dalam markas petualang yang penuh dengan kehidupan. Sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, petualang-petualang yang berada di sekitar hanya menjadi latar belakang bagi fokus Yuki yang tetap teguh dan tak tergoyahkan.

Mereka pun sampai di pintu pertemuan yang megah, terlihat kokoh dan penuh misteri. Resepsionis wanita tersebut, dengan senyuman sopan, berkata, "Tunggu sebentar, tuan. Saya akan memberitahu pemimpin guild kami tentang kedatangan tuan." Ia melangkah masuk ke pintu kantor ruangan pemimpin guild, meninggalkan Yuki sejenak di depan pintu yang menegangkan.

5 menit berlalu, Yuki menunggu dengan sabar. Pintu kantor itu akhirnya terbuka, dan resepsionis wanita itu muncul kembali. Dengan penuh hormat, ia memberi kabar kepada Yuki, "Silahkan masuk, Tuan Zephyr. Pemimpin markas guild ini memperbolehkan tuan untuk bertemu dengannya."

Dalam ruangan yang megah itu, Yuki memasuki dengan langkah hati-hati, mengamati dengan seksama sosok pria gendut berusia sekitar 40-an yang sedang menikmati makanannya. Tubuhnya yang gemuk dan wajahnya yang mata duitan menunjukkan sikap santai dan kepuasannya. Pakaian mewah yang dikenakannya menambah kesan kemewahan dan kekayaan.

Yuki melihat sekeliling ruangan kantor pemimpin guild yang dipenuhi dengan berbagai perlengkapan petualangan yang mengkilap. Armor perkasa dan pedang mahal terlihat menjulang di dinding-dinding ruangan. Namun, pandangan Yuki segera kembali pada pria gendut yang sedang makan di depannya.

Rasa kekesalan semakin menguat di dalam diri Yuki. Bagaimana mungkin pemimpin guild ini memiliki penampilan yang tidak pantas dan kurang terhormat? Namun, Yuki mencoba meredam emosinya dan memfokuskan pikirannya pada tujuan utamanya.

Pria gendut pemimpin guild itu melihat sosok Yuki yang memasuki kantornya. Ia menyadari kehadiran seorang kakek tinggi dengan pakaian bangsawan yang kaya, matanya berwarna merah dan membawa sabit yang tidak biasa.

Pria gendut tersebut memperhatikan Yuki dengan pandangan yang licik. Ia mengamati penampilan Yuki dan berpikir dalam hatinya, "Hmm, ada seorang bangsawan. Ternyata baiklah, aku akan memanfaatkannya hahaha."

Tanpa terlalu memedulikan kedatangan Yuki, pria gendut itu dengan cuek memerintahkan Yuki untuk duduk dan menunggunya menyelesaikan makanannya terlebih dahulu. Baginya, saat ini adalah jam makan, dan ia tidak ingin terganggu. Ia melanjutkan makan dengan lahap, seolah-olah tidak peduli dengan kehadiran Yuki di ruangannya.

Yuki, meskipun merasa kesal dengan sikap pria gendut tersebut, tetap menjaga sikap tenang dan sabar. Ia mengikuti perintah pemimpin guild dan duduk di kursi yang disediakan, menunggu dengan penuh kesabaran.

Yuki pun duduk dengan kesabaran yang luar biasa, meskipun hatinya masih merasa emosi. Ia mengendalikan emosinya dengan baik, menyadari bahwa penting untuk tetap tenang dalam situasi ini.

Dengan kesabaran yang tak tergoyahkan, Yuki duduk dengan tegak, menahan segala emosinya yang ingin meledak. Setelah 10 menit berlalu, pria gendut tersebut selesai makan dan menyeka mulutnya dengan sapu tangan dengan gerakan anggun ala bangsawan. Kemudian, ia mendekati Yuki dan duduk menghadapinya.

Gideon menghampiri Yuki dan duduk menghadapnya dengan sikap yang sombong. Ia berkata, "Jadi, tuan, apa urusanmu datang ke sini untuk menemuiku?" Sambil menatap sabit Yuki dengan pandangan yang penuh rasa ingin tahu. "Ah ya, aku belum memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku adalah Gideon Archebane. Panggil saja aku Gideon."Sambil mengucapkan namanya, ia melihat dengan seksama sabit yang dibawa oleh Yuki.

Yuki menjawab dengan tegas, "Aku Zephyr petualang pemula, Saya datang ke sini untuk mengkonfirmasi penyelesaian misi dan berharap mendapatkan promosi peringkat. Aku telah menyelesaikan misi tingkat kesulitan C, dan berharap untuk dinaikkan peringkatku menjadi C." Sambil berkata demikian, Yuki menunjukkan relik sabitnya kepada Gideon, memperlihatkan keaslian dan kekuatan magis yang ada padanya.

Pria gendut, Gideon, melihat relik sabit yang ditunjukkan Yuki dengan mata penuh kekaguman. Dalam hatinya, ia tergoda untuk memiliki sabit tersebut sebagai koleksi pribadinya. Namun, ia berusaha menutupi ketertarikannya dan menjawab dengan suara tenang, "Reputasi dan peringkat dalam guild petualang kami tidak ditentukan sembarangan. Namun, jika klaimmu tentang penyelesaian misi ini benar, maka akan ada pertimbangan untuk kenaikan peringkatmu. Aku akan memeriksa catatan misi tuan lebih lanjut."

Dengan nada sinis dan penuh kebanggaan, Gideon melanjutkan, "Hmm, aku telah melihat dokumenmu, tuan. Kau berperingkat F, namun kamu mengaku telah menyelesaikan misi berperingkat C? Apakah kamu mencoba memperdaya kami dengan membuat-membuat misi palsu tersebut?"

Tertawa terbahak-bahak dengan nada yang menghina, Gideon menatap relik sabit dengan pandangan meremehkan. Ia melanjutkan, "Baiklah, jika kamu benar-benar ingin dipromosikan, kamu bisa membayar 1000 keping koin emas sebagai imbalan dan menyerahkan relik sabit tersebut kepada ku. Dalam hal ini, aku akan mempertimbangkan untuk mempromosikanmu menjadi peringkat E. Jadi, bagaimana menurutmu, kakek?"

Dengan rasa kesal yang meluap, Yuki berdiri tegak di hadapan Gideon, meninggalkan bangkunya dengan gerakan tegas. Suaranya terdengar penuh emosi saat ia berkata, "Apakah ini hanya lelucon bagimu? Ataukah aku perlu memukul kepalamu hingga otak kecilmu kembali berfungsi normal?" Sambil mendekati Gideon dengan langkah yang mantap, Yuki mencerminkan emosi yang membara di matanya.

Gideon, dengan nada menantang, menjawab sambil melambaikan tangannya dengan sinis, "Woah, woah, aku pikir aku harus takut dengan ancamanmu karena kau seorang bangsawan? HAH! Jangan buatku tertawa. Aku adalah seorang bangsawan terpandang di kerajaan ini, dan aku tidak akan takut pada seorang tua bangka sepertimu."

Perbincangan antara Yuki dan Gideon berlangsung penuh dengan ketegangan dan keberanian. Mereka saling menantang dan menunjukkan sisi-sisi mereka yang kuat. Emosi membara dan ketajaman kata-kata memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang tegang di dalam ruangan kantor pemimpin guild.

Kesabaran Yuki telah mencapai titik terakhirnya. Dengan kecerdasan dan kecepatan berpikir yang luar biasa, ia segera mengeluarkan sihir kedap suara di ruangan tersebut, memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mendengar perbincangan mereka.

Yuki mendekati Gideon dengan cepat, dan dengan satu tangan ia mengangkat kepala pria gendut tersebut. Gideon yang tadinya santai menjadi kaget oleh tindakan cepat Yuki, dan ia berteriak, "Lepaskan aku, tua Bangka! Jika tidak, aku akan memanggil prajurit untuk menangkapmu, sialan! Kau berani menyakitiku dan mengancamku bangsawan terpandang dikerajaan ini, pastikan bahwa kau akan dihukum mati, tua Bangka! Oleh karena itu, lepaskan aku, bajingan!" Teriakan Gideon penuh dengan ketakutan dan kebencian.

Yuki, yang masih menggenggam kepala Gideon dengan kuat, hanya menjawab dengan dingin, "Manusia serakah sepertimu tidak pantas hidup." Tanpa belas kasihan, Yuki memperkuat genggaman tangannya secara perlahan, membuat Gideon merasakan kesakitan yang semakin parah. Gideon berusaha melepaskan diri dengan memukul tangan dan kepala Yuki, serta menendang tubuh Yuki dengan sekuat tenaga. Namun, Yuki hanya terdiam dengan senyuman jahatnya, tidak merasakan sakit sedikit pun. Gideon menatap mata merah Yuki dengan ketakutan yang semakin memuncak, sedangkan Yuki hanya tersenyum sinis dan berkata, "Tidak ada yang bisa mendengar jeritanmu di sini. Aku telah menggunakan sihir kedap suara. Nikmatilah kematian yang kuberikan."

Rasa takut mulai merasuki Gideon, yang sekarang panik dan gemetaran. Ia menangis, berkeringat, dan berteriak memohon agar dilepaskan. Namun, Yuki mengabaikannya dan memperkuat genggaman tangannya. Gideon berteriak histeris, rasa sakit yang tak tertahankan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merintih dan meminta pertolongan dengan keras, namun tak ada seorang pun yang datang ke kantor Gideon. Ketakutan akan kematian yang tak terelakkan membuat Gideon semakin terpuruk. Darah mengalir dari matanya dan mulutnya, namun rasa sakit di kepalanya tetap tak kunjung hilang. Dengan rasa takut yang tak terkendali, Gideon berteriak dengan keras, "Baiklah, jika kau mau, aku akan mempromosikan peringkatmu dan memberikan apa pun yang kau inginkan. Jadi, lepaskanlah aku!"

Namun, Yuki tetap mengabaikannya dan semakin menguatkan genggaman tangannya. Gideon berteriak histeris, merasakan sakit yang tak terkatakan. Ia memohon pertolongan dengan sangat keras, hingga tenggorokannya terasa sakit dan kering, namun tak ada siapa pun yang datang untuk menolongnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!