Feels like family 2

Saat Julius, Alexander, Aeri, dan Polo terkagum akan kekuatan sihir Yuki, mereka mendekatinya dengan penuh keterpukauan. Alexander takjub berkata, "Sangat menakjubkan, Kek. Sihirmu sudah pantas membuatmu menjadi petualang peringkat S+." Julius, Aeri, dan Polo mengangguk setuju, karena itu adalah fakta yang tak dapat disangkal. Aeri pun memuji, "Kamu benar-benar luar biasa, Kakek."

Polo bergabung dalam pujian, "Kakek, kamu memang luar biasa! Tak heran kamu bisa mengalahkan troll dengan mudah." Yuki tersenyum dan menjawab dengan riang, "Haha, itu belum apa-apa, Nak. Musuh itu terlalu mudah."

Julius dengan serius berkata, "Tapi, Kek, jangan merendahkan dirimu sendiri. Kami semua melihat dengan mata kami sendiri betapa luar biasa kemampuanmu." Alexander, Aeri, dan Polo juga memberikan dukungan setuju pada Julius.

Yuki membalas, "Baiklah, Nak, aku terima pujianmu." Namun, dalam hatinya, Yuki merasa bahagia mendapatkan pengakuan dari para anggota timnya. Mereka telah menjadi keluarga baginya.

Lalu Julius pun meminta izin kepada Yuki dengan sopan, "Kakek, bolehkah aku mengambil barang-barang yang jatuh dari troll? Jika dijual, mereka bisa sangat berharga. Dan aku ingin membaginya denganmu dan juga anakmu." Julius memiliki mata yang peka terhadap nilai barang dan potensi ekonomi.

Yuki merenung sejenak dan kemudian mengangguk setuju. "Tentu saja, Nak. Aku senang kalian semua bisa mendapatkan uang dari monster sampah ini." Julius bangga pada kemauan kakek tersebut untuk membagikan hasil dengan mereka.

Dengan penuh semangat, Julius bergerak menuju troll yang tergeletak di tanah. Ia menginspeksi tubuh troll dan menemukan beberapa barang berharga, seperti permata langka dan perisai ajaib. Alexander, Aeri, dan Polo pun bergabung membantu dalam pencarian barang.

Saat mereka mengambil barang-barang tersebut, mereka merasakan aura magis yang kuat dari setiap item. Mereka tahu bahwa ini adalah harta yang langka dan bernilai tinggi. Tim mereka merasakan keberuntungan dan semangat petualangan semakin membara.

Setelah mereka selesai mengumpulkan barang-barang berharga, mereka kembali ke Yuki dengan senyuman cerah. Julius dengan gembira berkata, "Kakek, lihatlah apa yang kami temukan! Barang-barang ini langkah dan pasti ada banyak orang yang mau membelinya dengan harga tinggi."

Yuki melihat ekspresi Julius yang bersemangat.

Ia tersenyum dan berkata, "Bagus sekali, Nak. Simpanlah barang tersebut."

Kemudian Alexander berkata dengan antusias, "Marilah kita membawa satu jasad troll ini pulang! Ketika kita tiba, kita bisa menjualnya dengan harga yang tinggi." Julius pun setuju dengan usulan tersebut, melihat peluang keuntungan yang menggiurkan.

Namun, Aeri menegur Alexander dengan tegas, "IDIOT! Bagaimana kita bisa membawa mayat troll seukuran itu pulang? Dasar otak otot!" Aeri menggeleng frustasi, tidak percaya dengan gagasan Alexander. Alexander dan Julius tersadar, mereka terjebak dalam pikiran mereka sendiri dan hanya terfokus pada uang.

Aeri melanjutkan dengan marah, "Kalian berdua harus lebih berpikir dan mempertimbangkan hal-hal seperti ini! Jangan hanya tergila-gila dengan uang semata!" Kritik keras dari Aeri membuat Alexander dan Julius merasa malu.

Polo, yang selama ini hanya menyaksikan kejadian tersebut, tertawa geli. Ia menikmati kekacauan yang terjadi di antara teman-temannya.

Yuki, yang menyaksikan semuanya dengan senyuman, tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia tertawa dengan kencang, menyadarkan semua orang yang ada di sekitarnya bahwa mereka semua menatapnya. Yuki menjawab dengan riang, "Hahaha! Tenang saja, Nak. Aku bisa membantumu." Dengan berkonsentrasi, Yuki mulai merapal sihirnya, mengucapkan kata-kata ajaib [Void Storage]. Ia mengarahkan tangannya ke arah mayat troll, dan dalam sekejap, mayat troll itu terserap ke dalam lubang hitam yang tercipta. Tanpa meninggalkan jejak, mayat troll itu menghilang.

Julius, Alexander, Aeri, dan Polo melihat kejadian tersebut dengan kekaguman yang semakin besar. Mereka terpesona oleh kemampuan sihir Yuki yang begitu luar biasa.

Dengan ekspresi terima kasih, Aeri berkata kepada Yuki, "Terima kasih, Kek, karena telah membantu kami. Kamu benar-benar hebat kek!."

Yuki tersenyum dan menjawab dengan rendah hati, "Tidak ada masalah, Nak. Aku selalu siap membantu kalian semua."

Yuki tersenyum lembut, merasa senang dapat membantu timnya. Ia melihat bahwa mereka bukan hanya teman seperjalanan, tetapi telah menjadi keluarga yang saling mendukung dalam petualangan mereka.

Tim petualang tersebut merasa lebih terikat daripada sebelumnya. Mereka telah melewati banyak bahaya bersama-sama dan belajar untuk saling mengandalkan satu sama lain. Kepercayaan mereka pada Yuki semakin menguat, mengakui kehebatan dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh kakek tersebut.

Dalam keheningan pikirannya, Yuki merenung dengan serius tentang perubahan perilakunya. Sebagai seorang kakek tua yang berpengetahuan luas, ia mempertanyakan apakah perubahan ini hanya efek dari memasuki tubuh Avatar, Zephyr.

Dalam kerinduan yang mendalam, Yuki mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang menghantuinya. Ia merenung dengan tajam, mencoba memahami esensi dari identitas barunya. Apakah perubahan ini hanya sebatas perubahan fisik atau ada alasan yang lebih dalam?

Pikiran Yuki melayang ke masa lalu, ketika ia masih menjadi seorang remaja pelajar yang berusia 14 tahun, sebelum terjun ke dalam dunia game ini. Namun, setelah memasuki tubuh Avatar baru, Yuki merasakan perubahan yang signifikan. Ia menjadi lebih bijaksana, penuh wawasan, dan terkadang sikapnya terlihat seperti kakek tua yang penuh nasihat. Apakah ini hanya ilusi yang ditimbulkan oleh tubuh barunya?

Yuki merenung dalam kebimbangan. Ia menyadari bahwa perubahan ini mungkin lebih dalam daripada sekadar perubahan fisik. Mungkin, Avatar Zephyr telah membawa ke dalam dirinya kearifan dan pengalaman yang tidak dapat dimiliki oleh seorang remaja.

Dalam keheningan yang melingkupinya, Yuki mencoba menggali lebih dalam lagi. Ia menyadari bahwa di balik penampilannya yang terlihat tua, terdapat kekuatan dan kebijaksanaan yang luar biasa. Mungkin, dalam peran seorang kakek, ia dapat memberikan petunjuk dan nasihat yang berharga kepada rekan-rekannya.

Dengan keyakinan yang tumbuh di dalam dirinya, Yuki memutuskan untuk merangkul perubahan ini. Ia akan memanfaatkan kebijaksanaan yang ia dapatkan dari tubuh Avatar-nya untuk membantu timnya dalam petualangan mereka.

Dalam keheningan yang tercipta, Kai, dengan langkah hati-hati, mendekati Yuki yang sedang termenung. Ia melihat ke arah Yuki dengan perhatian, lalu bertanya dengan penuh kekhawatiran, "Apakah tuan baik-baik saja?"

Yuki yang tersadar dari lamunannya, menjawab dengan lembut, "Ah, tidak apa-apa. Aku hanya tengah memikirkan sesuatu." Ia kemudian menegaskan kepada Kai, "Oh iya, jangan panggil aku 'tuan'. Panggil aku 'ayah' mulai sekarang, mengerti?"

Kai, dengan penuh hormat, menjawab, "Baik, ayah."

Senyum tipis terukir di wajah Yuki mendengar panggilan itu. Ia merasa bahagia melihat Kai menghormatinya sebagai sosok ayah. Rasanya seperti penuh arti dan memberikan semangat baru dalam perjalanan mereka.

Yuki dengan penuh kehangatan menyambut perubahan panggilan itu. Ia menyadari bahwa menjadi seorang ayah bukanlah hanya sekadar panggilan, tetapi juga tanggung jawab yang besar dalam membimbing dan melindungi anaknya.

Kai, dengan penuh penghormatan, memberikan salam dan menekuk kepalanya ke arah Yuki. Gestur itu mencerminkan rasa hormat dan pengakuan atas Yuki dalam hidupnya.

Yuki merasakan kehangatan dan kebahagiaan dalam momen itu. Ia menatap Kai dengan mata penuh kasih sayang, merasa terpenuhi sebagai seorang ayah yang dapat memberikan arahan dan dukungan kepada anaknya.

Dalam keheningan malam, Kai memikirkan perkataan Yuki. Apakah tuanku ingin menjadikanku sebagai anaknya? Pikiran itu menggelitik rasa ingin tahu dan keingintahuan dalam hati Kai. Ia bingung dengan gagasan itu dan bertanya-tanya tentang arti sebenarnya di baliknya.

Yuki, dengan kelembutan yang terpancar dari wajahnya, menyuruh mereka semua untuk kembali tidur. Ia mengucapkan, "Kalian semua tidurlah, nak. Biarkan aku yang menjaga kemah ini."

Julius, Alexander, Aeri, dan Polo dengan tulus berterima kasih kepada kakek Zephyr atas segala yang telah dilakukan. Mereka merasa sangat beruntung telah memiliki Yuki dan Kai di sisi mereka. Ekspresi terima kasih terpancar dari wajah mereka, sementara Julius berkata, "Terima kasih banyak, kek. Tanpa bantuanmu, kami semua pasti sudah binasa. Pilihanku membawamu bersama kami adalah pilihan yang tepat dan aku tidak menyesalinya."Julius,sambil tersenyum menghadap Yuki.

Yuki tertawa sambil mengelus jenggotnya. "Haha, tidak usah sungkan, nak. Itulah tugas orang tua untuk melindungi anak-anaknya," ujarnya dengan penuh kehangatan. Ia melanjutkan, "Sekarang, tidurlah, agar kalian semua bisa melanjutkan misi dengan penuh semangat dan tanpa kelelahan."

Julius, Aeri, Alexander, dan Polo memberikan salam perpisahan kepada Yuki. Mereka berterima kasih dan mengucapkan selamat malam dengan penuh hormat. Mereka bergegas memasuki kemah untuk melanjutkan tidur mereka.

Hanya Yuki dan Kai yang tetap berada di luar. Yuki berkata kepada Kai, "Kau juga tidurlah, Kai."

Namun, Kai dengan tekad yang tegas menjawab, "Tapi, aku ingin melindungimu, ayah."

Yuki tertawa gembira dan mengatakan, "Hah, melindungiku? Tidak ada yang bisa mengalahkanku di sini." Suaranya penuh kepercayaan diri.

Kai dengan rendah hati menjawab, "Baiklah, ayah. Aku akan beristirahat. Selamat malam, ayah."

Yuki tersenyum dan berkata, "Baiklah, selamat malam juga. Semoga tidurmu nyenyak."

Dalam keheningan malam yang semakin dalam, Yuki membiarkan mereka semua terlelap, mengisi kekuatan mereka untuk menghadapi petualangan yang akan datang.

Terpopuler

Comments

Hye

Hye

Semangat bro

2023-06-13

1

Exyn

Exyn

Up

2023-06-13

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!