Welcome to Ardor

Yuki dan Kai berada di dataran yang dipenuhi dengan bunga-bunga indah. Dalam jarak sekitar 5kilometer, Yuki melihat sebuah benteng yang kokoh, sebuah kerajaan yang mungkin menjanjikan petualangan dan keajaiban di dalamnya. Yuki merasa penasaran dengan apa yang ada di dalam kerajaan tersebut, karena sebelumnya ia tidak pernah merasakan suasana abad pertengahan seperti ini.

Kai, yang masih mencoba memahami situasi, bertanya dengan rasa ingin tahu, "Tuanku, apa yang kita lakukan di tempat seperti ini? Saya sangat penasaran."

Yuki sedikit bingung karena mereka tiba di tempat ini secara acak melalui teleportasi. Namun, Yuki terus berperan sebagai penyihir bijaksana dan tersenyum sambil mengelus jenggotnya. Meskipun ia merasa sedikit keringat dingin mengalir, ia menjawab dengan percaya diri, "Hahaha, Ikut saja dan lihat saja,kau akan segera mengetahuinya."

Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju benteng yang terlihat di kejauhan, dengan langkah mantap dan penuh antusiasme. Mereka tidak sabar untuk melihat apa yang ada di dalam kerajaan tersebut dan mengalami petualangan baru yang menarik.

Saat mereka mendekati pintu masuk kerajaan, seorang pengawas yang berada di sana memperhatikan kedatangan mereka. Pengawas tersebut melihat dua orang yang datang, seorang pria tua dan seorang anak muda, dan dia mulai merasa penasaran dengan tujuan mereka di kerajaan tersebut.

Saat Yuki ingin memasuki pintu masuk gerbang tersebut bersama dengan Kai, namun penjaga yang berdiri di sana menghalangi mereka dengan tegas. Penjaga itu bertanya dengan serius, "Sedang apa yang Anda lakukan di sini, Pak? Dan bolehkah Anda tunjukkan identitas Anda sebelum memasuki Kerajaan Ardor ini?"

Yuki sedikit panik karena ia tidak memiliki identitas yang sah di dunia ini. Namun, dia segera berpikir cepat dan mencoba membuat alibi. Dengan nada yang tegas, ia menjawab kepada penjaga, "Saya seorang pedagang yang baru saja mengalami nasib buruk. Kereta kuda saya dirampok oleh sekelompok bandit, dan saya kehilangan seluruh barang dagangan dan dokumen saya. Saya ingin mengurus dokumen saya di dalam kerajaan ini."

Kedua penjaga tersebut pun skeptis dengan jawaban pria tua tersebut dan seketika itu juga,

Yuki merasa ide cemerlang datang ke pikirannya. Dia memiliki koin emas yang dia simpan di inventory-nya. Dengan cepat, ia mengambil sekantong koin emas tersebut dan memberikannya kepada penjaga dengan harapan itu akan menyogoknya. Penjaga itu melihat jumlah koin emas yang diberikan Yuki,

Mereka sangat tergoda oleh jumlah koin emas yang diberikan oleh Yuki, melihat peluang untuk mendapatkan keuntungan dari situasi tersebut. Dia memandang Yuki dengan tatapan penuh minat, lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Tanpa ragu, penjaga itu memberikan izin masuk kepada Yuki dan menghormatinya. Dan berkata

"Dengan senang hati, Pak Pedagang," kata penjaga dengan nada yang lebih ramah. "Anda dan pendamping Anda boleh masuk ke Kerajaan Ardor. Semoga Anda dapat mendapatkan perlindungan dan menemukan jalan yang lebih baik di sini."

Dengan gerbang yang terbuka lebar, Yuki dan Kai melangkah masuk ke dalam kerajaan. Mereka melewati jalan yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan megah, dengan penduduk setempat yang sibuk beraktivitas di sekitar mereka. Yuki merasa penasaran dengan segala hal yang ada di kerajaan ini, dan dia pun memutuskan untuk menjelajahi lebih lanjut.

Kai, yang setia mendampingi Yuki, menatap ke arahnya dengan wajah penuh kepercayaan. "Tuanku, apakah ada tempat tertentu yang ingin tuan kunjungi di kerajaan ini? Atau ada informasi yang tuan cari?"

Saat Yuki melangkah masuk ke dalam kerajaan, dia merasakan tatapan semua orang yang tertuju padanya. Ia merasa sedikit tidak nyaman dengan perhatian yang diberikan padanya, namun juga merasa bangga karena mendapatkan perhatian tersebut.

Orang-orang di sekitarnya saling berbisik, menyusun teori tentang siapa pria tua dan anak muda tampan tersebut. Beberapa mengira dia adalah seorang bangsawan dari negeri jauh.

Yuki, dengan sikap yang tegap dan wajah yang tampan, melangkah dengan mantap di sepanjang jalan kerajaan. Dia merasa bertanggung jawab untuk mempertahankan citra yang dibangun oleh penjaga gerbang tadi. Dia tahu bahwa penampilan yang berwibawa adalah kunci untuk mendapatkan penghormatan dan kerjasama.

Kai, yang tetap setia di samping Yuki, melihat bagaimana orang-orang bereaksi terhadap kedatangan mereka. Dia tersenyum bangga melihat kepercayaan yang diberikan pada Tuan nya dan siap untuk mendukungnya dalam perjalanan mereka di kerajaan ini.

Dalam kerumunan orang dan tatapan yang penuh perhatian, Yuki dan Kai melanjutkan perjalanan mereka menuju pusat kerajaan, siap menghadapi petualangan dan tantangan yang menanti di hadapan mereka.

Yuki, dengan perhatian terhadap Kai, bertanya, "Apakah kau lapar, Kai?" Dia ingin memastikan bahwa pelayannya juga merasa nyaman dan terjaga kebutuhan makanannya.

Kai, yang sebenarnya tidak menyukai makanan manusia dan merasa jijik untuk memakannya, merasa sedikit ragu dalam menjawab pertanyaan itu. Dia tahu bahwa sebagai pelayan setia, dia harus menyesuaikan diri dengan keinginan tuannya, termasuk dalam hal makanan.

Dengan sedikit rasa sungkan, Kai menjawab dengan lembut, "Sebenarnya, tuanku, aku tidak begitu menyukai makanan manusia. Namun, jika tuan menginginkannya, aku akan mencoba memenuhi kebutuhan makananku."

Yuki memahami perasaan Kai dan tersenyum mengerti. "Tidak masalah, Kai. Aku mengerti preferensimu. Aku akan mencari makanan yang cocok untukmu, sesuatu yang tidak membuatmu merasa tidak nyaman."

Kai merasa lega mendengar respons yang baik dari Yuki. Dia merasa beruntung memiliki tuan yang memperhatikan kebutuhan dan kenyamanannya. Bersama-sama, mereka melanjutkan perjalanan menuju pusat kerajaan, sambil mencari makanan yang sesuai dengan selera Kai.

Dalam perjalanan mereka, Kai memperhatikan betapa peduli dan perhatian Yuki terhadapnya. Dia merasa semakin terikat dengan tuannya, siap untuk menjalankan tugasnya sebagai pelayan yang setia dengan penuh kesetiaan dan dedikasi.

Sambil melanjutkan langkah mereka di kerajaan Ardor, Yuki dan Kai tidak hanya berusaha mencapai tujuan mereka, tetapi juga membangun ikatan kepercayaan dan saling menghormati di antara mereka.

Yuki dan Kai melangkah masuk ke dalam bar restoran yang ramai. Mata-mata segera tertuju pada mereka saat mereka melintasi pintu. Orang-orang yang sedang duduk dan minum di bar berhenti sejenak, memperhatikan kedatangan mereka.

Yuki, dengan sikap yang tenang dan percaya diri, melangkah dengan langkah pasti menuju meja yang kosong. Dia melihat sekeliling dengan wajah tanpa ekspresi, mengabaikan perhatian yang diberikan kepadanya. Beberapa orang masih tetap memperhatikan, tertarik dengan sosok yang tinggi dan berwibawa itu.

Kai, yang mengikuti di belakangnya, merasa sedikit tidak nyaman dengan perhatian yang diberikan padanya. Dia merasa sedikit canggung dan mencoba untuk tetap tenang di samping Yuki.

Yuki memilih meja yang cukup jauh dari keramaian dan mengundang Kai untuk duduk. Mereka duduk dengan posisi yang nyaman, sementara pandangan penasaran masih terus mengikuti mereka dari sekeliling.

Pelayan pria yang ramah mendekati mereka dengan senyum. "Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu untuk Anda?"

Yuki, dengan sikap yang santai, memesan minuman untuk keduanya. Dia tidak terlalu memperdulikan perhatian yang diberikan padanya, tetapi fokus pada tujuan mereka di kerajaan Ardor.

Kai, meskipun masih merasa sedikit tidak nyaman dengan pandangan orang-orang di sekitarnya, mencoba untuk mengikuti tuannya dalam menjaga ketenangan. Dia melihat sekeliling, mencuri pandangan pada orang-orang yang penasaran.

Saat mereka menunggu minuman mereka, Yuki memulai percakapan dengan Kai, membagikan beberapa informasi dan rencana mereka selanjutnya. Mereka berbicara dengan suara rendah, menghindari mencolok di tengah keramaian bar.

Yuki memesan berbagai hidangan lezat, mulai dari daging panggang yang juicy, sup lezat, hingga hidangan penutup manis. Mereka berdua menikmati setiap suapan dengan senyum puas di wajah mereka, sambil terus berbincang dan saling tertawa. Pemandangan mereka yang menikmati makanan lezat tersebut menarik perhatian pengunjung lain di bar, yang penasaran dengan duo yang penuh pesona ini.

Sementara mereka menikmati makanan, seorang pria berotot dan berwajah asing mendekati meja mereka dengan langkah mantap. Dia menatap Yuki dengan pandangan tajam, lalu dengan tiba-tiba meminta uang dengan nada yang tidak sopan. "Hei, kakek tua, sepertinya kau orang kaya. Kalau begitu, serahkan sebagian uangmu padaku!" katanya sambil tertawa sinis.

"Dari mana asalmu berani memeras orang secara sembarangan di sini?" tanya Yuki dengan suara yang tenang namun penuh keberanian. "Aku tidak terbiasa memberikan uang kepada orang yang tidak pantas mendapatkannya."

Kai, yang duduk di samping Yuki, melihat wajah pria bandit tersebut dengan tatapan penuh kemarahan. Dia merasakan emosinya naik, dan api kemarahan berapi-api di dalam dirinya.

Pria bandit itu tertawa keras mendengar kata-kata Yuki. Dia berjalan lebih dekat ke meja mereka sambil terus tertawa. "Hahaha! Kakek tua sombong! Kau akan menyesal telah menghina saya!"

Kai, tak lagi dapat menahan amarahnya, bangkit dari kursinya dengan gerakan yang cepat. Dia melangkah mendekati pria bandit itu dengan langkah mantap. "Cukup! Kau telah melanggar batas dengan mengancam tuanku. Aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja!"

Pria bandit itu, yang awalnya merasa superior, tiba-tiba merasa terkejut melihat keberanian dan kekuatan Kai. Namun, dia tidak ingin kehilangan wajah di depan orang banyak. Dia tersenyum sinis.

"Hei, anak muda sombong! Kau pikir kau bisa mengalahkanku?" katanya sambil menatap tajam ke arah Kai. "Ayo, coba hentikan aku jika berani!"

Kai tidak memperdulikan kata-kata pria bandit itu. Dia melancarkan serangan dengan cepat dan presisi, menghantam pria bandit itu dengan pukulan yang mematikan. Pria bandit itu terkejut saat merasakan kekuatan yang tak terduga dari serangan Kai. Dia terjatuh ke lantai, tersungkur tak berdaya.

Orang-orang di sekitar mereka terkejut melihat adegan tersebut. Mereka menghentikan aktivitas mereka dan memandang ke arah Yuki dan Kai dengan campuran rasa takjub dan kagum.

Yuki, yang sebelumnya hanya menyaksikan dengan tenang, tersenyum puas melihat aksi Kai. Dia meneguk minumannya dengan santai, seolah-olah tidak terpengaruh dengan insiden yang baru saja terjadi.

"Ingatlah, tidak bijak untuk mengganggu orang yang tidak bersalah," kata Yuki dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Kamu telah belajar pelajaranmu. Sekarang pergilah, dan jangan mengulangi kesalahanmu."

Pria bandit itu, dengan wajah yang penuh malu dan kekalahan, mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya dan perlahan-lahan meninggalkan bar tersebut. Dia telah belajar pelajaran yang mahal bahwa tidak semua orang bisa diintimidasi.

Kai, setelah memastikan pria bandit itu pergi, kembali duduk di samping Yuki. Dia masih bisa merasakan adrenalin yang mengalir dalam tubuhnya, tetapi ia merasa lega karena telah melindungi tuannya.

Mereka berdua melanjutkan makan mereka dengan tenang, meskipun masih ada pandangan penasaran dari orang-orang di sekitar mereka. Mereka membiarkan perhatian itu berlalu begitu saja.

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

Hmm

2023-06-12

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!