Saat Yuki mengeluarkan sedikit sihir dan auranya, atmosfer di sekitar mereka berubah. Udara terasa tegang dan semua mata tertuju pada pertemuan yang menentukan ini. Ketiga kesatria dan para prajurit melihat dengan takjub dan khawatir, tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya.
Yuki, dengan senyum sinis di wajahnya, melihat Gaia yang terbaring lemah di depannya. Ia dengan sengaja menunjukkan ekspresi kepuasan, menikmati momen ini. "Tawaranmu cukup menarik," gumamnya dengan suara beratnya yang terdengar oleh mereka yang berada di sekitar. "Baiklah, aku akan melepaskan sihirku dan kau akan menjadi pelayanku."
Mendengar kata-kata itu, Gaia merasa campur aduk antara lega dan takut. Dia tidak lagi merasakan rasa sakit yang tak tertahankan, namun tubuhnya dipenuhi oleh memar-memar parah akibat sihir [Eternal Pain] yang diberikan sebelumnya. Dia mengerti bahwa menjadi pelayan Yuki tidak akan mudah, tetapi itu jauh lebih baik daripada menderita.
Dengan hati yang penuh harap, Gaia mengangkat tubuhnya yang lemah dan berjalan menuju Yuki. Dia terhuyung-huyung, merasakan kelelahan yang melanda dirinya setelah rasa sakit yang intens. Dengan suara yang terguncang dan lemah, ia berterima kasih dan memohon ampun kepada pria tua itu.
"Terima kasih, tuan, telah mendengarkanku," ucap Gaia dengan suara yang penuh harap. "Aku berjanji akan melayanimu dengan setia dan melaksanakan semua perintahmu, tuanku." Sambil berlutut di hadapan Yuki, ia merasakan ketakutan yang tak terelakkan, namun dalam hatinya masih ada sedikit harapan bahwa keputusannya ini akan membawa kebaikan.
Ketiga kesatria dan para prajurit menyaksikan momen ini dengan bercampur aduk emosi. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi ada rasa lega bahwa pertempuran yang berbahaya telah usai dan Gaia tidak lagi menjadi ancaman.
Yuki melihat Gaia yang masih bertelut di hadapannya dengan ekspresi campur aduk di wajahnya. Dalam hatinya, ia merasa senang karena berhasil mempertajam perannya sebagai Sage tua yang bijaksana. Namun, di balik senyumnya yang sinis, ada juga kepingan belas kasihan yang terselip.
Dalam keheningan yang terasa mencekam, Yuki mengambil nafas dalam-dalam dan memperhatikan Gaia dengan seksama. Meskipun Gaia telah memohon ampun dan bersedia menjadi pelayan, Yuki tahu bahwa masih ada ketakutan dan keraguan yang membayangi hati naga perkasa itu.
Dengan penuh kesabaran, Yuki pun berbicara dengan suara yang tenang dan lembut, mencoba menenangkan Gaia yang terguncang oleh perasaan takut dan harapan yang berkecamuk di dalam dirinya. "Bangkitlah, Gaia," ujarnya dengan bijaksana. "Kau tidak perlu lagi bertelut di hadapanku. Aku menerima tawaranmu untuk menjadi pelayanku, namun jangan lupa bahwa setiap langkah dalam hidupmu memiliki konsekuensi."
Gaia mengangkat kepalanya perlahan, matanya masih dipenuhi kekhawatiran. Wajahnya yang kuat dan gagah kini terlihat lemah, seperti sepotong bangsa yang telah tunduk pada penguasa baru. Meskipun hatinya penuh dengan penyesalan, ia tahu bahwa ini adalah pilihan yang paling baik untuknya saat ini.
"Terima kasih, tuanku," ucap Gaia dengan suara yang penuh penghormatan dan penyesalan. "Aku akan mematuhi perintahmu dengan setia tuanku."
Yuki mengangguk dengan bijaksana, memahami betapa sulitnya langkah yang diambil oleh Gaia. Ia menyadari bahwa naga perkasa ini telah mengubah takdirnya dengan memilih untuk mengabdi sebagai pelayan.
Dalam hati, ketiga kesatria dan para prajurit merasa terkesan dan terheran menyaksikan momen ini. Mereka melihat Gaia yang telah tobat. Sementara itu, Yuki memandang Gaia dengan tatapan yang penuh harapan, menyadari bahwa keputusan ini dapat menjadi awal dari perjalanan didalam dunia baru ini.
Ia melanjutkan perannya sebagai Sage tua yang bijaksana, dan dengan tatapan serius, ia melirik Gaia yang masih bertelut di hadapannya. Suaranya terdengar lembut namun tegas saat ia bertanya, "Apakah kau memiliki kemampuan untuk mengubah bentuk tubuhmu, Gaia? Sepertinya ukuranmu yang besar ini tidak cocok untuk berbaur dilingkungan manusia dan sekitarnya."
Gaia mengangkat kepalanya perlahan, matanya masih dipenuhi rasa takut dan keraguan. Dia merenung sejenak, mencoba mengingat kemampuan dan kekuatannya sebagai Earth Dragon Lord. Dalam hatinya, dia merasa gugup, namun dia ingin memenuhi harapan Yuki dan membuktikan kesetiaannya.
Dengan suara yang gemetar, Gaia menjawab, "Ya, tuanku. Sebagai Earth Dragon Lord, aku memiliki kemampuan untuk mengubah bentuk tubuhku. Aku bisa mengubah diriku menjadi sosok yang lebih kecil atau bahkan menyerupai manusia, jika itu yang kau inginkan."
Yuki mengangguk puas mendengar jawaban Gaia. Dia tahu bahwa dengan kemampuan Gaia untuk mengubah bentuk tubuhnya, mereka akan dapat berinteraksi dengan lebih mudah dan tanpa menimbulkan kepanikan di antara penduduk kerajaan dan sekitarnya.
Yuki, dengan bijak, memberikan instruksi kepada Gaia untuk mengubah bentuk tubuhnya menjadi sosok manusia agar lebih mudah berbaur dengan sekitarnya. Gaia, dengan rasa hormat yang mendalam, menjawab dengan penuh ketaatan, "Baiklah, tuanku."
Matahari terik memancarkan sinarnya di langit cerah saat Gaia memusatkan energi magisnya. Tubuhnya mulai bergetar dan berubah secara perlahan. Kulit bersisiknya perlahan menghilang, digantikan oleh kulit manusia yang halus. Kakinya yang besar dan bertalun-berlekuk berubah menjadi sepasang kaki manusia yang proporsional. Tubuhnya yang besar menyusut, menyesuaikan ukuran manusia yang lebih standar.
Dalam hitungan detik, Gaia telah berhasil mengubah dirinya menjadi sosok manusia yang memukau. Dia memiliki postur yang tinggi dan gagah, dengan rambut panjang berwarna cokelat yang jatuh di sepanjang bahunya. Wajahnya yang kuat dan penuh karakter mencerminkan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Earth Dragon Lord yang sebelumnya.
Yuki melihat perubahan Gaia dengan kekaguman. "Kau luar biasa, Gaia. Transformasimu menjadi manusia begitu sempurna," ucapnya dengan suara pujian.
Gaia, yang masih mencoba mengendalikan kebingungannya dalam bentuk manusia, menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan. "Terima kasih, tuanku. Aku berharap dengan penampilanku yang baru ini, aku dapat lebih efektif dalam melayani dan membantu tuanku."
Albert, Joy, dan Felix, tiga kesatria terbaik Kerajaan Anvil, saling bertatap muka dengan kebingungan yang tergambar jelas di wajah mereka. Mereka bingung dan tercengang dengan kekuatan dan pengaruh pria tua misterius yang mampu membuat naga perkasa seperti Gaia menjadi pelayan yang setia.
Albert, seorang kesatria berwajah tegar dengan janggut yang terpelihara rapi, merenung sejenak sebelum berbicara. "Ini luar biasa. Tidak hanya dia berhasil mengalahkan naga perkasa, tetapi juga mampu membuatnya tunduk dan melayani dengan setia. Kekuatan dan pengaruhnya luar biasa."
Joy, seorang kesatria perempuan yang penuh semangat dengan rambut pirang yang terikat rapi, mengangguk setuju. "Saya pernah mendengar legenda tentang kekuatan yang bisa mengendalikan makhluk-makhluk legendaris, tetapi tidak pernah saya kira akan bertemu dengan seseorang yang benar-benar memilikinya. Siapakah pria tua tersebut sebenarnya?"
Felix, yang cerdas dengan tatapan tajam, menambahkan pemikirannya. "Kita perlu mencari tahu lebih banyak tentang pria tua ini. Kekuatan dan pengetahuannya pasti memiliki sejarah dan latar belakang yang menarik. Mungkin ada catatan atau legenda yang bisa memberikan petunjuk tentang identitasnya."
Ketiganya saling berpandangan, menyadari bahwa mereka harus memahami lebih jauh tentang pria tua misterius ini. Identitasnya dan asal-usul kekuatannya akan memberikan wawasan penting tentang bagaimana mereka bisa memanfaatkannya untuk kebaikan kerajaan.
Dalam keadaan yang bingung dan penuh rasa ingin tahu, ketiga kesatria tersebut pun memutuskan untuk memulai perjalanan mereka untuk mencari informasi dan petunjuk tentang pria tua misterius ini seusai menyelesaikan misi. Mereka percaya bahwa pengetahuan itu akan membawa mereka lebih dekat pada jawaban yang mereka cari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Malmvis
Lanjut
2023-06-11
1
Qodok
Lanjut kk
2023-06-10
1