Dalam keadaan kehilangan kesadaran, Gideon berjuang untuk melepaskan genggaman tangan yang kuat dari kepalanya. Darah mengalir di matanya, mulut, dan hidungnya menandakan betapa parahnya luka yang ia derita. Dengan pasrah, ia menerima takdirnya yang mengerikan.
Yuki, yang sudah muak dengan permainan ini, menyatakan bahwa waktunya telah habis. Dengan serius, ia mengencangkan genggamannya, dan kepala Gideon pun pecah dengan keganasan. Darah mengalir deras ke lantai, menciptakan pemandangan yang mengerikan. Setelah itu, Yuki melepaskan genggamannya, dan tubuh Gideon tergeletak tanpa nyawa di tanah, dengan kepala yang sudah tak berbentuk.
Melihat gelang identitas petualang di lengannya, Yuki merasa kecewa dan emosi. Ia mencopot gelang tersebut dengan geram dan melemparkannya ke tubuh Gideon yang bersimbah darah. Kekecewaan tergambar jelas di wajahnya.
Tanpa berpaling, Yuki meninggalkan ruangan kantor itu dengan langkah tegap. Ketika ia melintasi pintu keluar, seorang wanita resepsionis yang melihatnya langsung menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan. Wanita itu kemudian kembali duduk di meja resepsionisnya, siap melanjutkan tugasnya.
Dengan langkah mantap, Yuki melangkah keluar dari markas petualang tersebut, sambil memanggil penjaga yang berjaga di depan pintu markas. Suaranya terdengar lantang dan tegas saat ia meminta agar kereta kudanya diambil.
Penjaga markas dengan sigap menanggapi perintah Yuki, "Baik, tuan. Saya akan segera mengambilnya."
Tidak butuh waktu lama, dalam waktu kurang dari dua menit, kereta kuda yang dimaksud sudah sampai di depan markas. Yuki dengan gesit melangkah masuk ke dalam kereta tersebut, sebelumnya memberikan sekantong koin emas kepada penjaga sebagai tanda terima kasih.
Penjaga markas menerima sekantong koin emas itu dengan penuh rasa hormat. Tatapannya penuh kebahagiaan saat ia berkata, "Terima kasih, tuan. Sungguh tak terduga dan luar biasa kemurahan hati tuan."
Kereta kuda melaju meninggalkan markas petualang tersebut, meninggalkan penjaga yang masih memandang kagum tumpukan koin emas yang ada di dalam kantong. Dengan penuh kecermatan, ia membuka kantong tersebut dan melihat kekayaan yang tak terduga. Hatinya dipenuhi rasa terima kasih atas kemurahan hati kakek tersebut.
Dalam pikirannya, penjaga memutuskan untuk menyimpan tumpukan koin emas itu dengan hati-hati. Ia menyadari betapa baiknya kakek tersebut dan ingin memastikan harta yang berharga ini tidak hilang atau terjadi kesalahan apapun. Dengan penuh tanggung jawab, ia merapikan kantong tersebut dan menjaganya dengan penuh kehati-hatian.
Di kaki langit senja yang memancarkan kehangatan keemasan, Yuki melangkah dengan hati yang lega. Dia memutuskan untuk menghabiskan satu malam di kerajaan Ardor. Langkahnya yang mantap dan pasti menghantarkannya melalui jalan-jalan yang ramai dengan kehidupan malam.
Tak lama setelah itu, sang matahari merosot di cakrawala, meninggalkan langit dengan warna oranye dan merah menyala. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memberikan sinar lembut yang mempercantik pemandangan kerajaan di malam hari.
Yuki pun berjalan menuju sebuah penginapan bergaya klasik yang terletak di tengah kota. Bangunan tersebut megah dengan sentuhan arsitektur yang indah dan ornamen-ornamen yang memukau. Terasnya yang luas dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna-warni yang memancarkan aroma yang menyegarkan.
Ketika memasuki lobby penginapan, Yuki disambut oleh seorang pelayan yang ramah dan berperawakan anggun. Dengan senyum hangat, pelayan tersebut menyapa Yuki dengan kata-kata penuh kesopanan, "Selamat datang, tuan. Bagaimana kami bisa melayani Anda malam ini?"
Yuki, yang masih membawa aura keberanian dan kebijaksanaan dari perjalanannya, menatap pelayan dengan kelembutan dan menjawab, "Terima kasih atas sambutannya. Saya ingin memesan sebuah kamar untuk menginap selama satu malam."
Pelayan itu mengangguk hormat dan menunjukkan jalan ke meja resepsionis. Dengan tangkas, ia mengurus segala formalitas yang diperlukan dan memberikan kunci kamar kepada Yuki.
"Jika Tuan memerlukan apapun selama menginap di sini, jangan ragu untuk menghubungi kami," kata pelayan itu dengan ramah sambil memberikan senyuman tulusnya.
Yuki memberikan senyuman balasan dan berterima kasih kepada pelayan tersebut. Kemudian, ia berjalan menuju kamar yang indah dan nyaman yang telah disediakan. Setelah menutup pintu dengan lembut, ia melemparkan dirinya di atas tempat tidur yang empuk dan merasa lega bahwa petualangannya hari ini telah berakhir dengan baik.
Dalam keheningan malam yang terang benderang, Yuki merenungkan apa yang telah ia lakukan ia telah menjadi pembunuh.
Dengan kebingungan yang menghampiri wajahnya, resepsionis wanita memandang jam di dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Ia teringat akan rutinitas harian di markas petualang, di mana Tuan Gideon, pemimpin markas, biasanya akan meninggalkan kantornya pada saat ini dan memberinya perintah untuk membelikan makanan.
Dalam keraguannya, resepsionis wanita melangkah perlahan ke pintu kantor Tuan Gideon. Ia mengetuk pintu dengan lembut, berharap agar Tuan Gideon masih berada di dalamnya. Namun, tak ada jawaban.
Dengan langkah hati-hati, ia membuka pintu dan memasuki ruangan yang sepi. Cahaya lampu yang redup menghiasi ruangan, dan meja kerja Tuan Gideon terlihat berantakan dengan dokumen-dokumen yang berserakan. Ia mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Tanpa disadarinya, resepsionis wanita mendengar suara gemetar dari dalam kantor tersebut. Ia melihat seberkas cahaya yang terpancar dari balik pintu yang terbuka sedikit. Dengan keberanian yang membara, ia menghampiri pintu tersebut dan perlahan-lahan membukanya.
Ketika pintu terbuka sepenuhnya, pandangannya terhenti pada pemandangan yang mengejutkan. Di tengah kantor yang kacau, Tuan Gideon tergeletak di lantai, tubuhnya bersimbah darah dengan kepala yang tidak berbentuk lagi. Mata resepsionis wanita membesar, kebingungan dan ketakutan menyelimuti dirinya.
"Tuhan, apa yang terjadi di sini?" gumamnya dengan lirih dengan ketakutan yang luar biasa.
Tubuhnya gemetar ketika ia mendekati mayat Tuan Gideon. Ia tidak bisa menahan rasa mual yang melanda, namun rasa keterikatan dan tanggung jawabnya sebagai resepsionis menguasainya. Ia segera berteriak dengan sangat kencang dengan melawan rasa mual dan ia pun melihat banyak darah berceceran dilantai yang sudah mulai mengering dan melihat mayat tuan Gideon
Di markas petualang tersebut pun banyak petualang mendengar teriakan resepsionis wanita tersebut,Dalam keheningan yang menakutkan, teriakan resepsionis wanita terdengar melengking di koridor markas petualang. Suara itu memecah kesunyian dan memancing perhatian para petualang yang sedang berada di sekitar. Mereka bergegas menuju sumber suara, hati berdebar dan pikiran penuh kekhawatiran.
Dalam sekejap, pintu kantor Tuan Gideon terbuka lebar dan para petualang memasuki ruangan dengan langkah hati-hati. Mereka tercengang melihat pemandangan yang mengerikan di hadapan mereka. Darah yang mengering dan mayat Tuan Gideon yang tak berbentuk membuat mereka terperangah dan tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Apa yang terjadi?!" seru seorang petualang dengan suara serak, matanya terpaku pada mayat tak bernyawa di lantai.
Resepsionis wanita tersebut merasa sesak dalam situasi yang menakutkan ini. Dia meraba kebingungannya dan mencoba untuk menjelaskan dengan suara yang gemetar, "Tuan Gideon... dia... dia terbunuh...!"
Kata-kata itu menggema di ruangan, memicu kepanikan dan kebingungan di antara para petualang yang berkumpul. Mereka berbisik satu sama lain, mencoba mencari jawaban di tengah kekacauan yang melanda.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi di sini?" seru seorang petualang dengan nada gemetar, ekspresi kebingungan dan kepanikan menghiasi wajahnya.
"Siapa yang bisa melakukan hal seperti ini? Bagaimana bisa?" teriak seorang petualang dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
"Pergi cari bantuan! Cepat!" seru yang lainnya, dengan suara serak karena kegugupan.
Petualang lainnya bergerak cepat, mencoba melihat tubuh Tuan Gideon. Namun, kenyataan yang mengerikan menghantam mereka kepala nya sudah hancur.
Resepsionis wanita, masih gemetar dan terisak di sudut ruangan, berusaha menjelaskan apa yang ia saksikan. Suaranya penuh ketakutan saat dia mencoba mengatur kata-kata untuk menjelaskan situasi yang mengerikan ini.
"Ketika saya datang ke kantor Tuan Gideon, saya menemukannya seperti ini. Tubuhnya bersimbah darah, kepala yang hancur, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan," ucapnya dengan suara lirih yang penuh dengan rasa takut.
Para petualang saling bertatapan, raut wajah mereka mencerminkan kebingungan dan kekhawatiran. Mereka mencoba memahami apa yang bisa menyebabkan kematian yang mengerikan ini. Pikiran dan spekulasi mulai mengisi benak mereka, mencari petunjuk dalam kekacauan yang ada di sekitar mereka.
Dalam keheningan yang tegang, seorang petualang yang penuh keberanian mengangkat suaranya, mencoba menenangkan situasi yang mencekam.
"Kita harus tetap tenang dan berkumpul. Kami harus menghubungi pihak berwenang dan mengumpulkan bukti-bukti yang ada di sini. Ini adalah kejahatan yang mengerikan, dan kita harus mencari tahu siapa yang bertanggung jawab," ucapnya dengan suara mantap.
Petualang lainnya menyetujui usulan tersebut, mengikuti arahan petualang yang bijaksana itu. Dalam kerumunan dan kekacauan yang terjadi, mereka saling bekerja sama untuk menjaga keamanan dan mengumpulkan bukti yang bisa membawa keadilan bagi Tuan Gideon.
Dalam kegelapan yang memenuhi kantor tersebut, kebingungan dan ketakutan terus menyelimuti setiap langkah mereka. Mereka terus bertanya-tanya, siapa pelaku di balik kematian mengerikan ini? Dan apa motif di balik aksi keji ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments