Melihat kedatangan Mao kedua gadis yang sedang memasak itu menghampiri Mao.
"Apa pemimpin ingin mencoba masakan kami"kata seorang gadis menghampiri Mao
"kalo kalian tidak keberatan"kata Mao seolah masih belum mengeluarkan ketertarikannya kepada masakan itu, tapi di dalam hatinya berkata lain seolah itu kesempatan untuknya mencoba makanan yang enak.
"Baiklah Adik tolong bawakan semangkuk sup itu ke sini"kata gadis itu
Tak lama Gadis yang lebih muda di panggil itu datang membawa mangkuk yang berisi sup yang menyebarkan wangi dan semua orang menatap kecantikan gadis itu walaupun kotor.
setelah memberikan masakan itu Mao mulai duduk dan makan di sana dengan lahap karena masakan yang enak itu, semua orang yang melihat itu menelan ludah.
"kenapa kalian tidak makan"kata Mao melihat sekelilingnya.
setelah mendengar itu semua orang mulai makan dengan makanan yang sudah di siapkan oleh gadi-gadis itu.
di tempat lain juga tak kalah sedap dari masakan 2 Gadis itu.
kedua gadis itu duduk sambil menyiapkan makanan untuk semua orang di sana dan Mao memperhatikannya.
Setelah makan malam Mao kembali ke tempat duduknya.
"Sepertinya tidak baik membiarkan gadis-gadis cantik itu berlatih sekeras itu"gumam Mao dalam pikirannya.
Setelah Mao cukup lama termenung, dia tertidur sambil terduduk.
Mao terbangun cukup pagi, sementara semua orang yang ada di lapangan masih tertidur semuanya,Mao berjalan menuju ke kediamannya mulai memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
setelah cukup lama Mao kembali ke lapangan latihan dan duduk, sementara anak buahnya sudah mulai latihannya, dan hari kedua latihan sama seperti hari pertama belum bisa menyelesaikan tahap pertama dari latihan tersebut.
"sepertinya makanan ini mungkin cukup untuk makan selama beberapa hari, sebaiknya aku juga berlatih"gumam Mao dalam pikirannya sambil melihat tempat-tempat pemanggangan daging.
Mao berjalan Kedalam hutan, yang sedikit jauh dari lapangan tempat anak buahnya latihan, sambil membawa pedang kayu untuk latihan.
di dalam hutan Mao mulai berlatih mempertajam tehnik pedang yang dia dapatkan dari buku dewa kematian, Mao mulai dari tehnik pedang Tebasan kilat dengan secepat kilat Mao menebas beberapa pohon di hutan itu dan meninggalkan bekas.
"tebasan seribu pedang"teriak Mao sambil menebas satu pohon dengan dengan pedang kayu dan kayu yang Mao tebas sudah memiliki beberapa arena terkena tebasan pedang kayu itu.
Begitu juga Mao melatih tehnik pedang Tebasan dewa hampa dengan cepat tanpa terlihat Mao menebas pohon di sekitarnya,lalu Mao mencoba menggabungkan ketiga tehnik pedang menjadi satu dan hasil yang mao dapatkan di luar yang dia bayangkan, kecepatan tangan dan kakinya seperti kilat dan menebas beberapa pohon hingga meninggalkan bekas.
"Sepertinya sudah cukup, untuk melatih tehnik pedang ini, tapi jika aku menggunakan pedang dewa kematian mungkin semua pohon itu akan tumbang"kata Mao yang sudah berhenti berlatih.
berselang beberapa waktu Mao kembali di waktu sore ke lapangan setelah berlatih di dalam hutan, waktu terasa cepat berlalu dari pagi sampai sore saat dia berlatih di dalam hutan.
Mao mengamati hasil perkembangan pelatihan tapi masih belum ada yang bisa melewati tahap pertama arena latihan itu.
"sepertinya besok aku tidak ada yang harus aku lakukan, lebih baik besok aku rencanakan apa yang akan aku lakukan" kata Mao yang sambil duduk di kursi sambil melihat anak buahnya yang sedang latihan.
seperti sebelumnya setelah waktu malam Li dan anak buahnya beristirahat karena mereka latihan dari pagi sampai sore.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments