Keesokan paginya Mao bangun dan menuju ruang sarapan sambil mengajak Dewi dan Liam untuk sarapan.
di tempat sarapan di antara mereka hanya makan dan tidak Banyak bicara,setelah sarapan Mao mengajak Dewi dan Liam ke ruang pertemuan.
"Saudara Liam dan saudara Dewi apa tidak keberatan kalian menunggu kabar dari bawahan ku disini, apa sebaiknya kalian pergi keluar berlatih sendiri dulu"kata Mao yang lagi duduk di hadapan Liam dan Dewi.
"Tidak apa-apa saudara Mao sebaiknya saudara Mao sendiri yang melatih kami agar lebih bisa menguasai pedang"kata Liam
"iya benar Mao "kata Dewi tanpa ada kata saudara dalam kata tersebut.
Mao berpikir dan melihat Dewi yang malu-malu menatap Mao, apalagi Dewi tidak pernah mau memanggil Mao dengan sebutan saudara, Mao hanya tersenyum melihat itu.
Setelah beberapa waktu 4 ketua menuju ke arah Mao,setelah memberi hormat kepada Mao mereka duduk di tempatnya masing-masing di depan Mao , Mao sendiri seperti biasa duduk di kursi biasa tidak di singgasana pemimpin.
"Bagaimana apa kalian sudah menyelesaikan yang aku katakan pada kalian semalam"kata Mao melihat 4 ketua yang baru datang.
"Sudah pemimpin dan semua yang mendengar itu merasa sangat bahagia"Kata Ben sebagai perwakilan ketua lainnya.
"Apa kalian tau kabar dari bawahan langsungku"tanya Mao lagi
"Ketua, setelah mendengar dari kelompok yang melaksanakan tugas tidak jauh dari tempat mereka, tidak lama hari ini mereka akan segera kembali"jawab Ben.
"Baiklah kita tidak tau kapan mereka akan kembali, Lebih baik kalian istirahat atau kalo kalian bisa mengajak dua saudara kita ini berkeliling itu lebih bagus lagi"kata Mao
Waktu sudah beranjak hampir setengah menuju siang saat mereka selesai berbincang,Mao kembali lebih dulu ke kamarnya setelah pamit dengan mereka di ruangan itu. bukan Mao tidak mau menemani Liam dan Dewi keluar untuk berkeliling markas gagak terbang tapi banyak persiapan yang akan di lakukan untuk menuju ke kota tua.
Di dalam kamar Mao duduk di kursi dan melihat keluar jendela tempat latihan sebelumnya dan mulai berpikir bagaimana dia akan melatih anak buahnya agar bisa menjadi lebih kuat.
"apa lebih baik tingkat kesulitannya aku tambah agar mereka semua berpikir cara memakai pedang sekalian"kata Mao sambil membayangkan arena latihan yang akan dia bangun.
sampai waktu sore Mao masih berpikir di dalam kamarnya dan melihat sekeliling kamar itu yang di penuhi oleh peti yang berisi koin emas.
tok tok tok
tok tok tok
suara pintu kamar Mao di ketok menyadarkan Mao akan lamunannya di dalam kamar itu, mendengar itu Mao langsung menuju ke arah pintu untuk melihat siapa yang sudah ada di sana.
"Salam pemimpin"kata Dao dan 3 orang lainnya yang ada di depan pintu.
"kalian sungguh cepat sekali kembali,padahal perjalanan kalian sangat jauh"kata Mao.
"maaf pemimpin, mendengar tentang pembatalan perdagangan itu saya berusaha cepat kembali menggunakan kuda karena mendengar kabar yang di ceritakan oleh saudara win dan Alon"kata Dao.
"Baiklah jadi kalian sudah tau tentang hal itu jadi tidak perlu aku jelaskan kembali, jadi mari ke ruang pertemuan"Kata Mao sambil berjalan.
Mereka menuju ruang pertemuan, Di sana ada Liam Dewi dan 4 ketua sedang duduk berbincang, melihat kedatangan Mao 4 ketua itu langsung memberi hormat. Mao duduk di depan mereka semua sementara Dao dan 3 lainnya duduk berhadapan dengan Mao juga.
"Untuk rencana pembangunan arena latihan, Besok harus sudah selesai, karena bahan arena kemarin bisa kita bongkar dan pakai kembali, jadi besok pagi kita sudah harus mulai membangun arena latihan, bagaimana menurut kalian"kata Mao menatap orang-orang di depannya.
"siap pemimpin"kata 8 orang kecuali Liam dan Dewi.
setelah berbicara cukup lama dan panjang lebar semuanya bubar dan masuk ke kamar mereka masing-masing di kediaman milik pemimpin markas gagak terbang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments