Bagas langsung menyuruh menantunya untuk duduk, ia mengusap bibir menantunya sambil menghela napas berat, rasanya sangat sakit saat melihat wanita yang di cintainya mendapat kekerasaan.
"Biar Papa kompres."
Setelah mengatakan itu Bagas langsung berdiri, tapi pergelangan tangannya langsung di pegang oleh menantunya.
"Lisa tidak apa-apa Pa, lagi pula Lisa sudah biasa."
Setelah mengatakan itu Lisa langsung melepaskan tangan Papa mertuanya.
"Pa, Lisa minta maaf untuk yang tadi."
Bagas langsung duduk di ranjang samping menantunya.
"Minta maaf untuk apa nak?"
"Minta maaf soal Lisa akan mendapatkan Papa, Lisa benar-benar tidak berpikir seperti itu ko Pa, Papa tidak marah sama Lisa soal itu'kan?"
"Mana mungkin Papa marah soal itu nak, tapi kalau kamu ingin Papa jadi selingkuhanmu juga tidak apa-apa, atau kamu mau Papa hanya ingin menjadi milikmu juga sangat boleh."
Lisa menghela napas pelan sambil menggigit bibir bawahnya saat melihat senyuman dari Papa mertuanya, senyumnya membuat hatinya berdebar tidak karuan, apa lagi sekarang Papa mertuanya tidak memakai kaca mata yang terkesan sudah tua.
"Kamu kenapa nak? Jadi salah tingkah begitu?"
Bagas bertanya sambil tersenyum lebar dan mengacak-acak rambut menantunya karena menurutnya wajah menantunya itu sangat menggemaskan.
"Kenapa Papa berbicara sangat frontal? Apa Papa sudah biasa tidur dengan banyak wanita walau pun tanpa cinta?"
Bagas langsung menyentil kening menantunya saat mendengar pertanyaan tidak masuk akal dari menantunya.
Pltek...!!
"Kamu itu kalau bicara tidak di saring dulu, memangnya Papa semurah itu di pikiranmu?"
Lisa mengusap keningnya sambil tersenyum lebar saat mendengar pertanyaan dari Papa mertuanya, ia tidak menyangka kalau ternyata Papa mertuanya banyak bicara, apa lagi selama 2 tahun Papa mertuanya tidak pernah berbicara, bahkan saat ia sapa pun Papa mertuanya hanya menatapnya sekilas lalu pergi.
"Lisa pikir Papa lelaki seperti itu, mengingat Rafa yang gila bercinta, kalau tidak gila bercinta mana mungkin Rafa sampai bisa menikahi Luna?"
Setelah itu Lisa menghela napas berat.
"Nak, kalau mengingat Rafa dan Luna membuat hatimu sakit, lebih baik kamu mengingat Papa, atau belajar mencintai Papa?"
Lisa menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak habis pikir kenapa Papa mertuanya seperti sedang mengasih kode dan sedang merayunya, jelas-jelas ia sangat tau kalau Papa mertuanya bukan lelaki yang mesum, tapi entah kenapa membuat hatinya sangat nyaman.
Lisa merasa beban berat tadi saat di hina oleh Mama mertuanya hilang seketika saat mendengar ucapan frontal yang tidak masuk akal dari Papa mertuanya.
"Pa, berhenti merayu Lisa, kalau Lisa kebablasan dan menginginkan Papa menjadi milik Lisa bagai mana?"
"Tentu saja boleh nak."
"Iya boleh, tapi nasib Lisa akan seperti Mama, yang akan mengharap cinta dari Papa, tapi Papa sendiri tidak pernah belajar mencintai wanita lain, karena di hati Papa hanya ada Kalisa."
"Andaikan ucapan itu bukan sebuah candaan, Papa pasti mengatakan kalau Kalisa adalah kamu Lisa, kamu wanita yang sangat Papa cintai dari usiamu 5 tahun, dari pertemuan pertama kita di jalan raya dekat taman." batin Bagas
Lisa menghela napas berat saat melihat Papa mertuanya hanya diam saja.
"Maaf Pa, Lisa tidak bermaksud mengingatkan Papa dengan Kalisa."
"Tidak apa-apa nak, kamu mandi dulu sana, Papa juga mau mandi, terus kita sarapan."
"Lisa tidak mau sarapan Pa, Lisa sedang tidak ingin melihat penghuni rumah ini."
"Termasuk Papa?"
"Bukan, maksud Lisa Rafa dan Luna, Lisa masih belum siap beradaptasi dengan mereka."
"Nak, kalau kamu menghindar, itu artinya kamu kalah sebelum berperang, ingat Luna sekarang bukan lagi sahabatmu, dan Papa ingin kamu melakukan sesuatu yang membuat mereka semua menyesal, termasuk Papa ingin kamu perlihatkan pada mereka kalau kamu baik-baik saja."
Bagas menasehati menantunya sambil mengelus kepala menantunya, ia tidak ingin melihat menantunya berlarut dalam kesedihan.
Lisa langsung memeluk Papa mertuanya, yang selalu saja mencoba yang terbaik untuknya, di saat seisi rumah ini sudah tidak lagi menginginkannya termasuk suaminya yang sudah berkhianat, tapi Papa mertuanya ada untuknya.
"Terima kasih Pa, Lisa tidak tau kenapa Papa menjadi baik, tapi yang jelas terima kasih, kalau tidak ada Papa mungkin Lisa akan menjadi wanita yang sangat menyedihkan."
Bagas juga langsung membalas pelukan dari menantunya.
"Sama-sama nak, lagi pula sudah sepantasnya kalau orang tua itu harus membela yang benar, bukan membela yang salah."
Lisa menganggukkan kepalanya, lalu langsung melepaskan pelukannya, ia langsung turun dari ranjang lalu berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju ganti.
Bagas hanya menatap gerak-gerik menantunya sambil tersenyum lebar, entah sudah berapa kali ia tersenyum karena sangat bahagia saat bisa dekat lagi dengan wanita yang di cintainya.
"Kalisa, Papa harap kamu tidak akan membenci Papa, karena sampai kapan pun Papa hanya mencintaimu." batin Bagas
Saat Bagas akan masuk ke dalam kamar mandi karena kamarnya memang memiliki kamar mandi yang biasa di gunakan untuk asisten pribadinya.
"Pa."
Bagas menghela napas berat saat mendengar panggilan dari putra tirinya, ia bersyukur karena putra tirinya baru masuk sekarang.
"Iya kenapa? Kamu mau bertanya kenapa Papa menampar Mama?"
Rafa hanya mengangguk sambil menunduk, ia bisa melihat wajah sangat serius dari Papa tirinya, walau pun biasanya Papa tirinya memasang wajah serius, tapi tidak seperti sekarang.
"Iya maafkan Papa Rafa, Papa tidak bisa mengontrol emosi Papa saat Mama kamu mengatakan kalau Lisa merayu Papa, bahkan Mama kamu mengatakan donat basi pada Lisa sambil menampar Lisa, jelas membuat Papa hilang kontrol, Lisa sudah menderita dengan kehadiran Luna di rumah ini, tapi Mama kamu masih saja ingin melukai hati Lisa."
Sebenarnya Bagas dengan sengaja menampar istrinya bukan karena kehilangan kontrol, tapi karena istrinya semakin keterlaluan menghina menantunya.
Rafa menghela napas berat, ia tidak habis pikir kalau Mamanya sangat keterlaluan, tidak heran kalau Papa tirinya sampai hilang kontrol, Mamanya tanpa rasa iba menghina istri pertamanya habis-habisan.
"Sekarang di mana Lisa Pa?"
Rafa lebih memilih mengalihkan pembicaraan, bagi ia Papa tirinya tidak salah, jadi Papa tirinya tidak perlu minta maaf.
"Lisa sedang mandi nak, Papa juga tadinya mau mandi."
"Apa?!!"
Rafa berteriak dengan wajah terkejut saat mendengar jawaban dari Papa tirinya.
"Jangan berpikir macam-macam, Papa mau mandi di kamar mandi asisten Papa, Papa tidak gila Rafa, mana ada Papa mau mandi sama istri kamu!"
Rafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum malu karena sudah berpikir macam-macam.
"Kamu itu gila Rafa, jangan samakan kamu dan Papa, Papa berbeda, bukan seperti kamu yang suka bercinta dengan wanita selain Lisa."
"Iya Maaf Pa."
"Iya sudah Papa mau mandi dulu."
"Iya Pa."
Setelah putra tirinya keluar dari kamarnya Bagas langsung pergi ke kamar mandi, ia juga mandi dengan terburu-buru karena putra tirinya datang ke kamar hingga membuat ia mandi terburu-buru, ia takut kalau menantunya sudah selsai mandi.
Setelah selsai mandi Bagas langsung keluar memakai handuk yang dililit pada tubuhnya. Lisa yang mendengar suara pintu, ia langsung menoleh ke arah pintu, saat melihat Papa mertuanya hanya memakai handuk, ia menelan ludahnya dengan kasar saat melihat perut kotak-kotak milik Papa mertuanya.
"Kenapa otakmu menjadi mesum?" batin Lisa
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
〈⎳ HIATUS
Romantis banget. Sumpah aku bayangin Bagas itu Hangeng Super junior
2023-06-22
1