Saat ini Pak Sigit sedang menyalin ulang soal matematika di papan tulis, dia berbalik untuk melihat para murit, dia melihat Nadia yang sedang tertidur pulas, sambil menyesuaikan kacamata dengan bingkai ema situ.
Sepotong kapur mendarat dengan akurat di kepala Nadia “Nadia maju kedepan selesaikan soal ini.”
Nadia tidak merespon panggilannya, karena dia masih tertidur, teman satu mejanya adalah seoarang gadis dengan wajah tembem dia terlihat sangat menggemaskan, dengan cepat dia membangunkan Nadia.
Nadia mendongak, memebuka matanya yang ngantuk, dia bertanya dengan wajah lesu “Ada apa?.”
“Pak Guru memanggilmu kedepan untuk emngerjakan soal.” Ucap mesya, sesaat dia terpesona dengan Tindakan Nadia.
“Terima kasih sudah membangunkanku.” UCap Nadia, kemudian dia berjalan kearah papan, dia mengambil kapur memperhatikan soal yang tertulis dipapan, dia menautkan alisnya.
Melihat Nadia tidak membuat jawaban untuk waktu yang lama, Pak Sigit berbalik melihat ke bangku siswa dan mulai menjelaskan “Ini adalah soal untuk masuk ke perguruan tinggi beberapa tahun lalu, ini adalah pertanyaan yang paling sulit, tidak masalah jika kamu tidak mengerjakannya, saya sengaja meminta teman satu kelas kalian menjawabnya, untuk mengingatkan kalian …”
Pak Sigit berbalik ingin menujuk Nadia sebagai contoh, namun saat dia melihat ke papan tulis, tatapannya tertuju ke jawaban yang ada disana.
Dia mendorong kacamatanya yang berbingkai ema situ ke pangkal hidung, kemudia berkata “ Mari kita lihat apakah jawaban Nadia benar.”
“Pak Guru apa aku bisa Kembali ketempat duduk saya sekarang?.” Tanya Nadia setelah mengembalikan kapur ketempatnya.
“Silahkan” Sahut Pak Sigit sampil melabaikan tangan saat dia memperhatikan jawaban di atas papan.
Setelah mengoreksi seluruh jawaban, dia bertanya dengan wajah heran “Nadia apa sebelumnya kau pernah belajar di kampus?.”
Soal ini digunakan untuk menguji kemampuan siswa dalam mengaplikasikan ilmu secara komprehensif selama tiga tahun di SMA. Ada banyak langkah dan itu sangat sulit. Jika seseorang menggunakan pengetahuan matematika universitas untuk menyelesaikannya, itu akan mudah dipahami.
Nadia menyelesaikan soal matematika mengunakan rumus Universitas, meskipun nilai matematika Pak Sigit cuput tinggi, dia tidak pernah terpikir memakai rumus ini untuk menyelesaikan soal ini.
"Aku belajar sedikit." Sahut Nadia, Nadia hampir lupa Sebagian beras mengetahuan saat dia berada di bangku sekolah menengah, yang dia ingat Sebagian beras pengetahuan di universitas.
“Pertanyaan ini dijawab dengan sempurna, Nadia untuk kedepannya perhatikan saat guru menjelaskan, Anda harus mendengarkan dengan cermat saat kelas dimulai.”
Para siswa Kelas D memandang Nadia dengan tatapan heran, Beberapa dari mereka pandai matematika, tetapi mereka tidak berharap Nadia bisa menyelesaikannya begitu cepat, apalagi dia menggunakan pengetahuan dari universitas!
Bukankah Nadia murid yang buruk?!
Jika tidak dia tidak akan berada dikelas yang sama seperti mereka.
Pak Sigit menghapus jawaban yang ditulil nadia, karena siswa sekolah menengah tidak perlu mengetahui pengertahuan dari universitas saat ini, setelah memeberi waktu para siswa untuk mengerjakan soal, Pak Sigit Kembali menjelaskan.
Pak Sigit mulai mengajar Murid kelas D dengan serius, pelajaran yang dia sampaikan menarik dan terasa hidup, bahakan untuk siswa klas D yang tidak suka belajar mau tidak mau menikmati setiap penjelasan yang dia sampaikan, dan Nadia sudah tidak meras angantuk lagi, Kelas berlalu dengan cepat.
Setelah itu Nadia pergi kelapangan basket seperti yang sudah di rencanakan dan semua siswa kelas D Juga berada di sana untuk menyaksikan petandingannya dengan Feri.
Sementara Feri berdiri ditengah lapangan sambil memapinkan bola pasket diatas ujung jarinya, setelah itu dia melemparkan bola basket dan masuk ke ring dengan akurat.
Feri tersenyum puas dia menatap Nadia dengan wajah sombongnya, berkata dengan nada songong yang pantas untuk dipukuli “ Nadia kau bisa meminta bantuan orang lain jika kau menginginkannya.”
“Aku tidak butuh itu.” Nadia memperhatikan ring bola basket, itu tidak terlalu tinggi.
Amarah Feri meledak, Tidak, dia harus menekan kesombongan wanita dengan tubuh ramping ini. Jika dia tidak memberinya pelajaran dengan benar, wajahnya mau ditaruh dimana?
"Mulai!"
Wasit bersiul dan pertandingan resmi dimulai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
V-hans🌺
kok beras
2023-05-28
0
qeeraira
pa Sigit bisa mati kutu ini mah 🤭🤭 ada siswa yang ilmunya udah menguasai rumus universitas 😁😁
2023-05-27
2