BAB 17

Sekitar dua puluh menit lebih perjalanan. Akhirnya Ervin dan Belviana tiba di sebuah taman yang indah.

Milo membantu Ervin untuk duduk di kursi roda. Tanpa di duga, Belviana ikut berinisiatif mengambil selimut yang ada dikursi kemudian menutup bagian kaki Ervin.

Dan hal itu membuat Ervin menaikkan satu alisnya melihat sikap Belviana.

“Sepertinya Tuan dan Nona butuh waktu untuk berdua. Jadi saya akan menunggu di sini.” Ucap Milo tiba – tiba sambil meminta Belviana yang mengambil alih untuk mendorong kursi roda milik Ervin.

“Hem,” ucap Ervin singkat dan mengangguk.

“Apa kamu bisa mendorongnya? Kalau tidak, aku bisa membawanya sendiri,” ujar Ervin sambil menoleh sesaat ke Belviana.

“Ah, akan aku coba kak.” Jawabnya yang mulai mendorong perlahan kursi roda milik Ervin.

Mereka berdua berjalan semakin masuk ke dalam Taman tersebut.

Mata Belviana membelalak tidak percaya melihat taman ini dipenuhi dengan bunga-bunga yang berwarna-warni, menciptakan suasana yang menenangkan dan mempesona. Langit malam yang gelap dihiasi oleh bintang-bintang yang bersinar terang, menambah keindahan pemandangan yang sudah sempurna.

“Oh my! Ini sangat cantik kak!” gumamnya memuji keindahan di depan matanya.

Belviana berjalan perlahan sambil mendorong kursi roda, menikmati setiap momen yang mereka habiskan bersama. Belviana terpukau oleh keindahan taman tersebut. Matanya berbinar saat ia menatap bintang-bintang yang bersinar di langit. Ia merasa seolah-olah ia berada di dunia yang berbeda, tempat di mana segala sesuatu tampak begitu sempurna dan damai.

Ervin, yang melihat kekaguman Belviana, tersenyum lembut. Entah kenapa dia merasa bahagia melihat Belviana tidak lagi memperlihatkan wajah sedihnya.

“Kita ke sana saja,” ujar Ervin sambil menunjuk kursi taman.

“Iya kak,” jawab Belviana lalu mendorong kursi roda milik Ervin sampai ke bangku taman yang di tunjuk Ervin.

“Duduklah,” Ervin menyuruh Belviana untuk duduk dengan nyaman di bangku taman yang terbuat dari kayu.

Belviana duduk dengan nyaman, dia sendiri masih bingung kenapa Ervin mengajaknya ke taman ini.

Ervin mengubah posisi kursi rodanya dengan berada tepat di sisi kursi. Membuat mereka terlihat seperti duduk berdampingan.

Pria itu mengambil selimut yang tadi Belviana membungkus kakinya. Dengan sigap dia menutup pundak hingga punggung Belviana membuat wanita cantik itu terkejut.

“Kak, tidak perlu.” Ucapnya sungkan.

“Tidak perlu membantah. Dan aku kepanasan,” tukas Ervin cuek.

“Terima kasih kak,”

“Jadi, apa kamu sudah jauh lebih tenang?” tanya Ervin tiba – tiba.

Belviana menoleh menatap Ervin, dan mengangguk pelan. “Iya kak, terima kasih.”

“Lalu kenapa kau mengaku sebagai wanita yang di jodohkan denganku? Apa benar kata saudarimu kalau kau yang meminta atau ada alasan lain yang aku tidak ketahui?”

Belviana menghela napas, “Apakah alasannya masih penting Kak? Bukannya Kak Ervin tetap akan melanjutkan perjodohan ini?”

“Hem, kehidupan rumah tangga kita akan bergantung dengan apa jawabanmu nanti.”

Wanita cantik itu terlihat sedikit ragu, apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya atau tetap diam seperti biasa. Alasan lain dia takut berbicara jujur karena takut Ervin akan sakit hati atau tersinggung.

Tapi begitu mengingat kejadian tadi, bagaimana Emilie dan Ibu tirinya menekannya di depan Ayahnya membuat Belviana mengepalkan tangannya begitu kuat.

“Kamu tidak perlu takut akan sebab dan akibatnya nanti. Biar aku yang mengurusnya. Baik dan dalam segi hati maupun meteri.” Imbuh Ervin.

Belviana langsung mengangkat tangan kanannya ke depan wajah Ervin. Dia mencuatkan jari kelingkingnya dan berkata, “Janji Kak Ervin tidak akan marah ? Tidak akan tersinggung ?”

Ervin menatap jari di depannya, bingung harus bereaksi seperti itu. Belviana meraih tangan Ervin dan mengajarnya untuk saling menautkan jari kelingking mereka dan berkata, “Cap!”

Itu adalah janji kalau dia tidak akan marah kepada Belviana setelah mendengar jawaban gadis itu.

Belviana tersenyum tipis. “Ingat ya! Kaka sudah janji tidak akan marah mendengar jawaban aku.”

Ervin menahan tawanya yang ingin pecah melihat sikap Belviana. “Iya aku janji.”

Terpopuler

Comments

anita

anita

gmn gk baper coba ngebayangin mereka

2024-02-01

1

Novi Pokio

Novi Pokio

sow sweet banget sich,,, 🥰🥰🥰

2024-01-30

0

Ney🐌🍒⃞⃟🦅

Ney🐌🍒⃞⃟🦅

🤗🤗🤗🤗

2024-01-03

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!