Entah harus bagaimana lagi DElano mencari keberadaan Alana saat ini. Delani juga bingung sendiri harus mencari kemana lagi Alana berada. Delano jelas tidak bisa mencari keberadaan Alana, bahkan di tempat orang tuanya.
Berhenti di sebuah club malam, Delano ingin menghilangkan kegelisahan dalam dirinya dengan meminum minuman beralkohol. Delano tidak akan pernah bisa melakukan hal seperti ini jika dia tidak benar-benar sedang frustasi.
"Alana, kamu dimana Sayang.. Kenapa meninggalkan aku seperti ini"
Delano terus meracau nama Alana di bawah sadarnya yang sedang terpengaruh dengan alkohol. Yang ada di fikiran Delano saat ini hanya tentang Alana dan tidak ada lagi yang dia pikirkan selain bukan Alana yang sekarang menghilang entah kemana.
"Aku mencintaimu Alana, kenapa kamu harus pergi meninggalkan aku"
Dario yang baru saja di telepon oleh pihak club malam dan mengatakan jika Delano sedang mabuk berat, membuat dia langsung datang kesini. Dan sekarang Dario melihat bagaimana anaknya yang bena-benar terpuruk dengan keadaan saat ini. Ada rasa bersalah yang begitu besar dalam diri Dario ketika dia sadar jika dirinya yang telah menghancurkan masa depan anaknya dan cintanya.
"Maafkan Daddy Nak"
Dario membawa Delano dnegan di bantu oleh pegawai disana. Membawanya pulang dan menyuruh orang untuk mengantarkan mobil Delano ke rumahnya.
"Alana.. Jangan tinggalkan aku"
Bahkan saat berada di dalam mobil pun Delano masih terus menyebut nama Alana, karena memang dalam fikirannya hanya ada Alana. Dario hanya menghela nafas pelan, dia tidak bisa melihat anaknya yang seperti ini. Delano yang benar-benar terpuruk saat ini karena Alana yang pergi entah kemana.
Maafkan Daddy Nak, karena Daddy telah membuat kamu seperti ii sekarang.
Dan ketika pagi ini Delano terbangun, dia merasa kepalanya yang sangat pusing dan sakit. Delano menatap sekelilingnya dan menyadari jika dia sedang berada di kamarnya di rumah Ayahnya.
"Arghh.. Kepalaku sakit sekali"
Delano memukul-mukul kepalanya yang terasa begitu berat. Pengaruh dari alkohol yang terlalu banyak dia minum. Delano turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah ruang ganti. Berendam untuk menenangkan sedikit saja pikirannya yang kacau dan tubuhnya yang mulai tidak baik-baik saja.
"Alana, kemana lagi aku harus mencarimu"
Rasanya Delano sudah benar-benar bingung dan tidak tahu harus melakukan apa. Mencari Alana kemana lagi, karena sampai hari ini dia belum bisa menemukan keberadaan Alana.
######
Di tempat dan kota yang berbeda, Alana sudah mulai terbiasa dan bisa beradaptasi dengan suasana di kota ini. Setiap pagi dia akan membuat Ibu Ratih untuk menyiapkan beberapa sayuran yang akan di bawah Bapak ke beberapa pasar untuk di suplai ke setiap kios sayuran di beberapa pasar.
"Terima kasih ya Alana karena kamu sudah membantu Ibu"
"Iya Bu, Alana hanya bisa membantu seperti ini saja.Harusnya Alana yang berterima kasih karena Ibu sudah mau menampung Alana disini"
Ibu Ratih tersenyum, dia mengelus lengan Alana dengan lembut. "Tidak papa Nak, karena mungkin anak Ibu juga akan seusia kamu kalau dia masih disini"
"Memangnya anak Ibu ada dimana sekarang?"
"Dia hilang di ibu kota saat dulu ikut Bapak pergi suplai sayuran. Ibu juga bingung harus mencari kemana, sudah lapor polisi namun sampai saat ini tidak ada kabar apapun tentang keberadaan Cahaya"
Alana memnatap Ibu Ratih yang jelas terlihat begitu sedih ketika dia menceritakan tentang Cahaya, anaknya yang hilang puluhan tahun yang lalu.
"Berapa usianya saat dia hilang Bu?"
"Mungkin sekitar satu tahun lebih"
Alana mengangguk mengerti dan dia tidak banyak bertanya lagi karena memang tidak mau membuat Ibu Ratih semakin sedih mengingat anaknya yang hilang itu.
"Jadi mulai sekarang kamu harus calon anak kamu ini, Nak. Karena kehilangan anak itu sangat menyakitkan. Terlepas bagaimana anak kamu ini hadir dalam kandungan kamu"
Alana mengangguk, dia mengelus perutnya sendiri membayangkan bagaimana nantinya ketika anak dia lahir. Alana sudah mempunyai perasaan sayang pada anak di dalam kandungannya.
"Jangan membuat diri kamu stres dengan memikirkan tentang Ayah dari anak kamu ini. Percaya saja pada takdir, semuanya pasti ada ujungnya"
Alana mengangguk, memang dia tidak bisa melawan takdir. Jadi untuk saat ini biarkan saja Alana lebih tenang dan mengikuti saja alur takdir yang ada. Hidup Alana juga sudah benar-benar hancur saat ini. Bagaimana dia yang sudah tersiksa dengan keadaan yang di alaminya selama ini.
Ibu akan kuat untuk kamu, Nak.
######
Deg..
Delano terbangun ketika dia bermimpi yang sangat aneh. Bagaimana Alana yang menemuinya dengan seorang anak kecil yang memanggilnya Ibu.
"Apa maksud dari semua in? Dimana Alana sekarang, aku benar-benar bingung"
Delano meraih sebuah figura foto di atas nakas. Foto dirinya dan Alana ketika dulu mereka masih berpacaran. Delano menatap foto itu dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh Delano sudah tidak bisa terus berpura-pura kuat dengan masalah yang sedang dia hadapi saat ini.
Tangan Delano mengelus foto bagian Alana dalam figura itu. "Sayang, sebenarnya kamu berada dimana? Aku merindukanmu, ayo cepat kembali"
Delano benar-benar sedang berada dalam keadaan yang frustasi dan tidak bisa melakukan apapun selain terus mencoba untuk mencari Alana. Meski dia juga tidak tahu dimana Alana berada disana.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Widi
Apakah Alana anak bu Ratih yg hilang? kalau iya hampir sama dengan Megi donk
2023-04-29
1