Torik duduk di ruang kerja yang sunyi, wajahnya dipenuhi dengan kekecewaan dan kejengkelan. Hatinya terasa berat, karena kepergian Alaska hanya memperumit masalah yang ada di rumah. Dia merasa frustrasi dengan keputusan yang diambil oleh anaknya.
"Dasar Alaska!" gumam Torik dengan nada kesal.
"Bagaimana dia bisa bertindak seperti ini? Rumah ini sudah cukup berantakan dengan masalah keluarga, dan sekarang dia malah kabur! Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran anak bungsu ku itu. Dia masih tetap menjadi anak kecil bagiku."
Torik merenung sejenak, memikirkan betapa rumitnya situasi yang sedang dia hadapi. Alaska telah memilih untuk melarikan diri dari tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga, meninggalkan semua beban dan masalah di rumah. Ini hanya membuat Torik semakin frustrasi.
"Dia harus menyadari bahwa hidup tidak semudah itu, bahwa tidak mungkin dia bisa kabur dari semua ini," ucap Torik dengan suara serak. "Ini hanya akan membuat masalah semakin rumit."
Saat Torik mengingat semua konsekuensi dari keputusan Alaska, dia merasa semakin jengkel. Dia ingin Alaska kembali, menghadapi masalah dan tanggung jawabnya. Dia ingin menyelesaikan segala hal dengan baik dan memulihkan kerukunan di dalam keluarga.
Dalam hati, Torik berjanji untuk berbicara langsung dengan Alaska dan mengungkapkan kekecewaan dan kejengkelannya. Dia ingin menjelaskan betapa pentingnya kehadiran Alaska dalam mengatasi masalah keluarga, dan bahwa melarikan diri hanya akan memperburuk situasi.
Torik berharap bahwa dengan komunikasi yang jujur dan terbuka, Alaska akan menyadari pentingnya hadir dan membantu memecahkan masalah di rumah. Dia berharap dapat membantu Alaska memahami bahwa menghadapi masalah adalah bagian dari hidup, dan hanya dengan menghadapinya, mereka dapat mencari solusi yang terbaik untuk semua pihak.
Tiba-tiba saja kedatangan Andre mengejutkannya. Andre berdiri tegak di ruang kerja ayahnya, Torik. Wajahnya terlihat serius, penuh dengan keputusasaan. Dia merasa ada tanggung jawab besar yang harus dia sampaikan. Dengan suara yang mantap, Andre mulai berbicara tentang Alaska.
"Papa harus tahu, Alaska tidak lagi tinggal di rumah. Dia berada di hutan bersama seorang perempuan," kata Andre tanpa rasa ragu.
Torik mengangkat alisnya, memperhatikan putranya dengan tatapan tajam. "Apa maksudmu, dia tinggal dengan seorang perempuan di tengah hutan? Bagaimana ini bisa terjadi?"
Andre mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan situasinya dengan jelas. "Aku telah menyelidiki dan mengetahui bahwa Alaska bertemu dengan seorang perempuan di sana. Mereka tinggal bersama dan tampaknya memiliki ikatan yang kuat. Aku tidak tahu pasti siapa perempuan itu atau apa hubungan mereka, tetapi Alaska telah memutuskan untuk tinggal di sana."
"Kemungkinan besar, ketika kecelakaan itu terjadi. Perempuan itu menemukan Alaska dan membawa Alaska ke rumah, jadi dari situ mereka bertemu sampai akhirnya Alaska tinggal di sana," lanjut Andre.
Torik mendengarkan dengan serius, ekspresi wajahnya terlihat tegang. Dia berusaha memproses informasi yang baru saja didengarnya. "Kamu yakin tentang ini? Apakah dia baik-baik saja? Apa kamu sudah berbicara dengannya?"
Andre mengangguk singkat. "Aku yakin, Ayah. Aku telah berbicara dengan anak buahku beberapa kali dan melihat sendiri keadaannya di sana lewat kamera pengintai. Alaska tampak bahagia dan merasa bebas di sana. Aku tahu ini mungkin sulit dipahami, tetapi itulah keputusannya. Aku sudah mengirimkan surat dengan sedikit ancaman kepada Alaska. Pasti dia takut dengan ancaman yang aku berikan."
Torik merenung sejenak, mencoba memahami situasi yang rumit ini. Dia merasa khawatir akan keselamatan Alaska dan takut bahwa keputusan yang dibuatnya mungkin berdampak buruk. Namun, dia juga menyadari bahwa sebagai seorang ayah, dia harus menghormati keputusan Alaska.
"Dalam hal ini, aku akan berbicara langsung dengan Alaska. Aku ingin memastikan bahwa dia aman dan menjelaskan konsekuensi dari pilihannya," ucap Torik dengan suara tegas.
Andre mengangguk, merasa lega bahwa ayahnya akan ikut campur dalam situasi ini. Dia berharap pertemuan antara Torik dan Alaska dapat membawa pemahaman dan menemukan solusi yang terbaik untuk semuanya.
"Papa, bagaimana jika papa saja yang memberikan ancaman untuk, Alaska? Aku rasa itu adalah cara terbaik supaya dia mau pulang. Aku yakin dia masih takut dengan, papa," saran Andre.
Torik mendengarkan dengan seksama kata-kata Andre, yang meminta dia untuk memberikan ancaman kepada Alaska melalui surat. Dia merasa ragu dan terbagi antara keinginan untuk menyelesaikan masalah keluarga dengan cara yang damai dan keinginan Andre untuk memberikan efek jera kepada Alaska.
"Apakah ini benar-benar cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini?" pikir Torik dalam hati. Dia merasa tidak nyaman dengan pemikiran memberikan ancaman kepada anaknya sendiri. Namun, di sisi lain, dia juga merasa tekanan dari Andre dan keinginannya untuk membuat Alaska sadar akan konsekuensi tindakannya.
Setelah beberapa saat berpikir, Torik akhirnya memberikan jawaban kepada Andre, "Papa akan mempertimbangkan permintaanmu, tapi papa tidak yakin apakah memberikan ancaman akan menjadi solusi terbaik. Mungkin kita harus mencoba pendekatan lain untuk mendapatkan perhatian Alaska dan membuatnya kembali dengan sukarela."
Torik merasa bahwa mengedepankan komunikasi yang terbuka dan memahami perspektif Alaska mungkin akan lebih efektif daripada mengancamnya. Dia ingin menciptakan ikatan emosional yang lebih kuat dengan Alaska, bukan hanya memaksa dan mengintimidasi.
"Kita harus berbicara dengan Alaska secara langsung, dengan penuh kasih sayang dan kesabaran," kata Torik kepada Andre. "Papa yakin dia akan mendengarkan jika kita bisa membuatnya merasa didengar dan dipahami. Mari kita coba pendekatan itu terlebih dahulu."
Torik berharap bahwa dengan cara tersebut, mereka dapat mencapai pemahaman yang lebih baik dengan Alaska dan mencari solusi yang saling menguntungkan bagi semua pihak. Dia ingin membangun hubungan yang harmonis dan saling mendukung dalam keluarga mereka, bahkan di tengah tantangan yang sulit sekalipun. Andre pamit pergi dari ruang kerja ayahnya.
Torik duduk di ruang kerja, melihat foto Andre yang tersimpan di meja. Wajahnya dipenuhi dengan kebanggaan dan rasa syukur. "Aku benar-benar beruntung memiliki seorang anak seperti Andre," gumamnya dengan senyum menghiasi bibirnya. "Dia telah tumbuh menjadi sosok yang tangguh, berani, dan peduli terhadap keluarga. Melihat perkembangannya membuatku sangat bersyukur."
Torik teringat betapa Andre selalu mendukungnya, baik dalam kesuksesan maupun kesulitan. Dia selalu ada untuk memberikan nasihat bijaksana dan memberikan dukungan tanpa pamrih. "Andre, kamu telah menjadi kebanggaan bagi keluarga kita. Terima kasih karena menjadi anak yang luar biasa dan selalu menginspirasi aku untuk menjadi lebih baik."
Dalam keheningan ruangan, Torik berdoa dalam hati, bersyukur atas kehadiran Andre dalam hidupnya. Dia tahu bahwa cinta dan dukungan mereka akan terus melintasi batas waktu, membentuk ikatan yang tak tergoyahkan di antara mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments